Rahasia Suamiku

Rahasia Suamiku
80. Bertemu Adit


__ADS_3

Di siang hari, Mama Rafiqah mengajak Riri pergi ke sebuah toko ponsel. Wanita itu memilihkan benda pintar itu untuk putrinya. Riri sempat menolak saat melihat berapa harganya. Namun, Mama Rafiqah tetap memaksa dan membelikan ponsel itu. Mau tidak mau Riri pun akhirnya menerimanya.


Kedua wanita itu menikmati waktu sambil berjalan-jalan di mall. Sudah lama Riri tidak mengajak wanita paruh baya itu jalan-jalan. Mereka juga membeli beberapa pakaian. Andai saja Maysa juga ikut, pasti semakin menyenangkan.


“Kalau kakak kamu tahu kita berbelanja di luar, pasti dia akan marah pada kita karena membeli baju di tempat lain. Kita malah tidak pernah datang ke butiknya,” ucap Mama Rafiqah.


“Nggaklah, Ma. Kakak juga pasti mengerti kenapa kita belanja di sini. Kakak juga nggak pernah maksa buat kita beli baju buatannya.”


“Iya, Mama cuma nggak enak saja. Mama nggak pernah beli baju buatannya.”


“Mama, kan, sudah punya baju buatan Kak Maysa.”


“Itu dia, setiap kali Mama mau beli, kakakmu malah memberi gratisan. Jadinya Mama nggak mau beli lagi ke sana. Kasihan dia masak sudah capek-capek buat malah dikasih sama Mama," ucap Mama Rafiqah membuat Riri tersenyum.


“Mungkin Kakak berpikir jika keuntungan Kakak sudah banyak jadi, buat Mama biar gratis saja. Kak Maysa juga percaya jika kita baik pada orang tua, Tuhan pasti membalasnya lebih. Mama sendiri yang sering mengajarkan seperti itu.”


Mama Rafiqah mengangguk. Dia memang mengajari putrinya seperti itu, tetapi wanita itu sendiri juga kasihan pada Maysa, jika hasil kerja kerasnya diberikan padanya. Dia hanya bisa mendoakan agar usaha putrinya semakin maju.


“Permisi, Bu. Dengan Ibu Rafiqah dan Nona Riri?” tanya seseorang yang menghadang jalan mereka.


Mama Rafiqah dan Riri saling berpandangan, seolah bertanya siapa pria itu. Riri mengangkat bahunya karena dia juga tidak mengenalnya. Dilihat cara pria itu, pasti atasannya bukan orang sembarangan.


“Benar, saya Rafiqah dan ini putri saya Riri. Ada apa, ya? Saya sepertinya tidak mengenal Anda. Apa saya sudah menyinggung Anda?”


“Bisa tolong ikut kami sebentar, Bu. Atasan kami ingin bertemu dengan Ibu, hanya sebentar saja.”


“Atasan kamu? Atasan kamu siapa?” tanya Mama Rafiqah yang sudah mulai was-was.

__ADS_1


Dia takut jika kejadian kemarin akan terulang hari ini lagi. Dalam hati wanita itu bertanya, apakah atasan pria ini adalah keluarga dari wanita kemarin. Jika benar, Mama Rafiqah harus benar-benar mempersiapkan diri untuk apa pun yang terjadi.


“Sebaiknya Ibu ikut saja. Ibu tidak perlu khawatir, kami tidak akan berbuat jahat kepada Ibu dan putri Ibu.”


“Ma, sebaiknya jangan. Aku takut jika ini jebakan,” bisik Riri pada mamanya.


Mama Rafiqah membenarkan apa yang dikatakan putrinya. Namun, dalam hati dia penasaran, siapa yang ingin bertemu dengannya? Tidakkah cukup kejadian kemarin di rumah, kenapa sekarang ingin bertemu lagi? Apakah sekarang dia membawa keluarga lainnya.


“Baiklah, di mana atasan kamu.”


“Ma, jangan!”


“Tidak apa-apa, ada Mama bersama kamu, kita hadapi sama-sama. Sekalipun kita menghindar hari ini, suatu hari nanti kita juga pasti akan menghadapinya jadi, kita ikuti alur saja. Lagi pula ini tempat umum, mereka tidak mungkin berani macam-macam terhadap kita.”


“Atasan saya ada di restoran seberang. Mari, ikuti saya!”


Di sana tampak seorang pria duduk seorang diri. Riri yang berada di belakang Mama Rafiqah pun sangat terkejut. Pria yang sudah beberapa hari tidak dia temui dan sejak kemarin tidak berkomunikasi, kini duduk di depannya. Siapa lagi kalau bukan Adit.


“Ma, Ayo kita pulang! Nggak ada untungnya kita ada di sini,” ajak Riri sambil menarik tangan mamanya. Otomatis Mama Rafiqah pun ikut ketarik. Namun, orang yang tadi memanggilnya segera menutup pintu dan menguncinya dari luar.


“Tolong buka pintunya. Kami ingin keluar!” teriak Riri sambil menggedor-gedor pintu.


Mama Rafiqah begitu terkejut dengan reaksi putrinya. Dia merasa Riri terlalu berlebihan, tapi wanita itu yakin pasti ada sesuatu di sini. Pikirannya langsung tertuju pada pria yang tadi duduk, kini berjalan mendekati mereka.


“Ri, jangan seperti itu, malu dilihat orang,” tegur Mama Rafiqah. Namun, tidak dihiraukan oleh Riri.


“Maaf, Bu. Boleh saya bicara sebentar,” ucap Adit yang mendekati Mama Rafiqah.

__ADS_1


“Kamu mau bicara apa?”


“Sudah, Ma. Jangan ladenin dia, jangan percaya apa yang dia katakan.”


“Kenapa kamu bicara seperti itu? Itu tidak sopan," tegur Mama Rafiqah lagi dengan menatap putrinya.


“Apa Mama tahu siapa dia?” tanya Riri sambil menunjuk ke arah Adit. “Dia itu suami dari wanita yang kemarin datang ke rumah kita, yang sudah membuat kekacauan di rumah. Dia tidak pantas kita baiki, Ma. Lebih baik kita pergi dari sini, Mama tidak usah terlalu baik sama dia.”


Mama Rafiqah terkejut. Ternyata ini pria yang sudah membuat dirinya salah paham pada putrinya. Wanita itu mengakui jika Adit pria yang gagah dan tampan. Pantas saja Riri jatuh cinta padanya, tetapi apa yang dilakukan pria itu membuat nilai yang Mama Rafiqah berikan berkurang.


Dia paling tidak suka pada pria yang mempermainkan perasaan wanita. Apalagi mempermainkan sebuah status pernikahan. Mama Rafiqah tidak bisa membayangkan bagaimana masa depan Riri jika bersama dengan pria itu. Mantan istrinya yang kaya saja ditelantarkan, apalagi putrinya yang bukan siapa-siapa.


"Jadi kamu yang namanya Adit. Saya rasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Sebaiknya kamu minta anak buah kamu untuk membukakan pintu. Kami masih banyak kegiatan yang harus segera diselesaikan," ucap Mama Rafiqah dengan menatap Adit.


"Bu, saya mohon beri saya waktu untuk bicara sebentar saja. Saya perlu menjelaskan semuanya pada Ibu agar tidak ada kesalahan pahaman lagi."


"Apalagi yang kamu inginkan? Tidak cukupkah kamu menyakiti hati putriku dengan menjadikannya seorang pelakor? Sekarang kamu masih ingin menjelaskan apalagi?"


"Saya sungguh-sungguh tidak ada maksud seperti itu. Saya benar-benar mencintai anak Anda dari lubuk hatiku yang paling dalam. Tolong percaya padaku!"


"Apa benar seperti itu? Seharusnya Jika kamu benar-benar mencintainya, kamu tidak akan memberi masalah padanya. Seharusnya kamu selesaikan dulu masalah sama dengan istrimu itu. Jangan melemparkan kotoran pada muka kami. Kami memang orang miskin, tapi kami juga punya harga diri. Tidak seenaknya kamu orang kaya bisa menginjak-injak harga diri kami."


"Tidak seperti itu. Saya mencintai Riri karena dia juga yang membuat aku menjadi pria yang baik. Aku mohon Ibu merestuiku. Saya berjanji akan menyelesaikan masalahku dengan Risa, tapi jangan pisahkan kami, Bu!" Adit memohon dengan berlutut di depan Mama Rafiqah dan matanya juga berkaca-kaca.


"Mohon maaf, Nak, tapi sampai kapan pun Ibu tidak akan pernah merestui kalian. Jika kalian menikah, seumur hidup Riri akan dicap sebagai pelakor."


.

__ADS_1


.


__ADS_2