
Eve mengernyitkan cuping hidungnya mencium aroma belimbing yang menurutnya sangat bau dan tak enak di makan sampai Eve berlarian ke toilet untuk memuntahkan belimbing yang ada di mulutnya di wastafel.
"Ugh..! Sungguh belimbing ini sudah busuk dan tak layak untuk di makan oleh ku..! " Kata Evelyn yang memutuskan untuk membuang semua buah belimbing itu ke tempat sampah dapur.
" Nyonya Eve, untuk malam ini menu makan malam untuk Tuan Ray apa? " Tanya Bibi Sri yang mendatangi Eve di ruang tv.
" Di kulkas ada udang dan sayur brokoli'kan? " Tanya balik Eve sambil berbaring miring di sofa ruang tv kepada Bibi Sri.
"Ya, ada..! " Jawab Bibi Sri segera.
" Ya, sudah buatlah udang rebus asin dan tumis brokoli untuk makan malam nya Kak Ray..! " Jawab Eve sambil menguap.
"Kalau untuk Tuan Muda Rich dan Nona Renata sudah Saya buatkan nasi tim ayam wortel untuk makan malam mereka. Kalau Nyonya sendiri mau makan malam apa ?" Tanya Bibi Sri yang menggeleng kepala melihat kelakuan Eve yang menguap lebar -lebar tanpa menutup mulut.
" Aku mau makan misua telur kuah saja, Bi." Jawab Eve yang sudah memejamkan sepasang matanya lalu terlelap pulas di sofa ruang tv.
Bibi Sri tak lagi mengganggu aktivitas siang hari Eve yang biasanya tidur siang selesai nonton film dan makan siang serta ngemil buah -buahan segar sehabis memberikan asi untuk Rich dan Rena yang kini sudah berusia satu tahun.
" Kak Sri, apa kamu tak memperhatikan keadaan Nyonya Eve untuk pagi hari dan siang hari ini yang terlihat seperti orang sedang isi lagi deh cuma Nyonya belum sadar tentang kondisinya yang sepertinya sedang hamil lagi..!" Kata Bu Fatma yang berbisik kepada Bibi Sri sambil mengajak bermain Richard di kursi mainan bayi.
"Oh, sepertinya pengamatan mu benar apa , Fat. Hmm, aku baru sadar sekarang setelah kamu kasih tahu aku mengenai sikap dan prilaku dari Nyonya Eve setengah hari ini..! " Kata Bibi Sri yang segera pergi ke kotak obat p3k untuk ambil alat tespack dan menaruhnya di meja tv untuk Eve bangun bisa melihat dan melakukan tes untuk memastikan kondisi Eve sekarang ini.
__ADS_1
" Moga di lihat dan di perhatikan oleh Nyonya Eve setelah Ia bangun tidur siang..!" Kata Bu Fatma yang mengenal sifat cerobohnya Evelyn kepada Bibi Sri yang berdiri di samping kakinya yang di tekuk di lantai.
" Ya, semoga saja..!" Kata Bibi Sri yang segera pergi ke dapur untuk menyiapkan menu makan malam sesuai pesanan Nyonya Eve untuk makan malam keluarga kecil dari Tuan Raymond nya.
*******
Lisa berjalan dengan tergesa-gesa menaruh sampel baju yang akan di rombak oleh bagian menjahit di pabrik konveksi tempat Lisa bekerja sekarang dan gadis sangat menyukai pekerjaan barunya.
" Mbak Ayu..Ini kemeja kotak -kotak yang kamu minta bawakan ke tempat kerjamu..!" Kata Lisa menaruh tumpukan bahan kotak -kotak ke atas mesin jahit seorang rekan kerja nya.
" Ya, Lis.Makasih..!" Kata Mbak Ayu rekan kerja Lisa.
" Lis, sini tolong bantu aku untuk ambilkan alat -alat jahit dari gudang dan bawakan kepadaku di sini..!" Kata seorang rekan kerja Lisa yang lain di bagian merapikan pergelangan tangan dan kaki pakaian.
Lisa pun pergi ke gudang untuk mengambilkan alat -alat jahit yang di taruh di rak paling atas di gudang. Lisa yang merasa kesulitan itu melihat ada tangga lipat yang terbuat dari besi di sudut gudang. Lisa pun mengambil tangga dan taruh tangga di bagian pinggiran rak lalu Lisa menaiki tangga untuk mengambil alat -alat jahit yang di taruh di rak paling atas di gudang.
Namun saat Lisa ingin meraih alat -alat jahit itu tiba-tiba rak bergoyang dan alat -alat jahit itu nyaris jatuh mengenai kepala Lisa dan Lisa pun salah langkah untuk turun dari tangga.
" Hyaa..! " Jerit Lisa kaget dirinya akan jatuh dari tangga dan tertimpa alat -alat jahit yang jumlah nya banyak dan berat.
" Hati -hatilah..! " Seseorang dengan sigap sekali menahan jatuh nya alat-alat jahit itu ke kepala Lisa dan menahan tangga sehingga Lisa dapat terselamatkan dari kecelakaan kerja.
__ADS_1
"Ahhh..! Terimakasih banyak, Teman..!" Kata Lisa menarik napas lega dan melihat penolongnya itu adalah Kakak sepupunya Benny Wildan yang Ia ketahui bernama Lukas Wildan.
" Lisa..! " Panggil Lukas Wildan terkaget -kaget saat pria muda usia tiga puluh tahun ini tahu gadis yang di selamatkannya itu adalah Lisa si gadis preman yang tinggal satu gedung rusun Mawar dengan sepupunya yaitu Benny Wildan.
" Hai, Kakak Lukas Wildan..Terimakasih banyak kamu sudah menolongku..!" Kata Lisa dengan senyum lebar yang mempesona Lukas Wildan.
" Ya, sama -sama Lis..! Ohya, kau mau ambil ini 'kan ?" Tanya Lukas Wildan gugup kepada Lisa sembari menunjuk ke alat -alat jahit di atas rak paling tinggi di gudang.
" Iya, Kak Lukas, aku mau ambil alat -alat jahit itu untuk Mbak Tina yang menyuruhku untuk ambil alat -alat jahit di gudang..!" Jawab Lisa dengan senyum manis nya kepada Lukas Wildan yang semakin gugup namun pria ini berusaha keras untuk mengalihkan rasa gugupnya dengan cara pria ini mengambilkan alat -alat jahit di rak yang paling atas untuk Lisa.
" Wah..Sekali makasih banyak ya untuk jasamu hari ini kepadaku..! Aku janji untuk lain hari aku akan mentraktir mu makan siang enak sebagai tanda terimakasihku untukmu, Kak Lukas." Kata Lisa tanpa malu -malu memukul bahu Lukas Wildan dengan akrab sekali sambil mengambil alat -alat jahit dari tangan Lukas Wildan lalu Lisa meninggalkan Lukas di gudang tanpa perduli terhadap Lukas yang merasa dadanya akan copot saat itu juga ketika Lukas di beri dua kali senyuman manis Lisa yang bebas.
" Astaga apakah Aku sedang jatuh cinta kepada Lisa si gadis preman tetangganya Benny di rusun Mawar ?" Pikir Lukas yang memegangi dada nya sendiri dengan wajah memerah sekali bagai tomat matang.
*******
Jeremi Song tengah sibuk merapikan barang -barang pribadinya dari lemari ke kopernya yang di taruh nya di atas ranjangnya untuk persiapan dirinya kembali ke Korea Selatan bersama adik nya yaitu Irene Song.
" Hai, Kak Jer , apakah kamu masih sibuk? " Sapa seorang gadis muda usia delapan belas tahun yang berdiri di pintu kamar nya Jeremi Song dengan senyuman semanis artis idola nya Jeremi yaitu Jennie Blackpink.
" Tamara..! Sejak kapan kamu ada disana? Aku kok sampai gak tahu kehadiran mu di pintu kamarku ! " Kata Jeremi yang merasa kehadiran Tamara seperti malaikat yang menolongnya di saat dirinya kesepian pasca kehilangan Istri dan putranya sekitar satu tahun yang lalu.
__ADS_1
Bersambung..!!