
Chiko Gilberto Xu membawakan parsel untuk keluarga Pak Hendrawan dengan niatnya untuk melamar Amanda putri kesayangan dari Pak Hendrawan untuk menjadi istrinya.
" Pak Hendrawan, aku telah datang ke rumahmu untuk memenuhi persyaratan mu sebagai niat baik aku untuk serius dalam membina hubungan dengan putri mu , Amanda. Aku dengan tulus ingin melamarnya dari mu dan istrimu. Apakah kamu dan istrimu bersedia untuk memberikan restu untuk aku bisa menikahi Amanda putri kalian? " Kata Chiko Gilberto Xu tanpa basa basi menyatakan keinginan hatinya untuk melamar Amanda kepada Pak Hendrawan.
" Hmmm, jika kamu memang serius untuk membina hubungan lebih baik lagi dengan putri ku, Amanda. Baiklah, aku setuju saja yang utama kamu bisa menjaga putriku dengan sangat baik dan penuh tanggungjawab untuk selamanya. " Kata Pak Hendrawan yang menerima parsel untuk lamaran Chiko kepada Amanda.
" Terimakasih atas kesediaan bapak Hendrawan dan istri yang telah memberikan izin untuk aku melamar Amanda putri mu itu. " Kata Chiko Gilberto Xu dengan senyum sopan kepada Pak Hendrawan.
" Lalu kapan kamu mau membawa orangtua mu ke rumah ku untuk bertemu dengan ku agar kami bisa membahas rencana pernikahan kamu dan putriku? " Tanya istri Pak Hendrawan kepada Chiko Gilberto Xu dengan nada selidik.
" Aku sudah tak mempunyai orangtua lagi, Bu. Aku seorang anak yatim-piatu yang hanya bisa melamar Amanda putri mu dengan aku sendiri saja yang datang ke rumah mu dan menentukan hari pernikahan aku dan Amanda. " Jawab Chiko Gilberto Xu dengan nada sedih untuk membuat orangtua Amanda bisa luluh hatinya dan dapat menyerahkan Amanda kepadanya dengan iklas.
" Ah, kasihan sekali kamu Chiko. Baiklah, kami akan serahkan keputusan untuk rencana hari pernikahan mu dan Amanda dengan meminta keputusan mu saja. " Kata Pak Hendrawan yang merasa bahwa Chiko Gilberto Xu adalah pria baik-baik yang bisa mencintai dan menjaga putri nya.
" Hmm, aku sih memutuskannya secepatnya saja, Pak. Untuk aku dan Amanda bisa menjalani kehidupan pacaran secara halal. " Kata Chiko Gilberto Xu yang mendapatkan senyuman cerah dan bahagia dari Amanda kekasihnya yang duduk di sofa panjang di sampingnya.
" Wah, bagus sekali pemikiran mu itu, Chiko. Baik, Aku dan istri akan menunggu konfirmasi dari mu untuk hari dan tanggal serta dimana kamu dan Amanda melangsungkan pernikahan kalian berdua." Kata Pak Hendrawan yang sudah percaya penuh kepada Chiko Gilberto Xu.
" Aku sudah menentukan hari , tanggal dan di mana kami akan melangsungkan pernikahan kami, Pak Hendrawan. Yaitu, pada hari minggu depan tanggal delapan November dan tempat nya di hotel Olive Garden di daerah kemang. " Kata Chiko Gilberto Xu yang sudah memberikan pernyataannya untuk serius menikah dengan Amanda kepada Pak Hendrawan.
__ADS_1
" Oh, baiklah. Kalau begitu kami akan segera mempersiapkan Amanda dan segala sesuatu yang di perlukan oleh Amanda di pernikahannya minggu depan dengan mu. " Kata Pak Hendrawan yang tersenyum senang dengan calon menantunya yang sangat bijaksana dan penuh karismatik itu.
Sesudah mendapatkan restu dari orangtuanya Amanda. Pria ini segera pamit pulang untuk mempersiapkan segala sesuatu untuk rumah yang akan di tinggali olehnya dan Amanda.
Chiko Gilberto Xu pulang ke rumahnya yang berada di kawasan perumahan pondok Indah. Ia melihat istrinya yang bernama Rainy Yen telah menunggunya di teras rumah dengan senyum.
" Selamat sore, suamiku. " Sapa Rainy Yen yang melayangkan senyuman semanis embun pagi kepada Chiko Gilberto Xu.
" Loh, tumben kamu sore ini menyambut aku pulang kerja dengan dandanan secantik dewi khayangan saja sampai membuat aku pangling melihatmu. " Kata Chiko Gilberto Xu yang maju meraih jemari tangan istrinya lalu di ajaknya masuk ke rumah mereka bersama-sama.
******
Edgar yang mengalami depresi karena masalah rumah tangga yang tak harmonis itu memilih untuk menghabiskan waktunya sehabis pulang kerja di rumah sakit. Ia pergi ke rumah Amelia temannya yang selalu adalah untuknya. Namun, saat itu ia sedang mabuk alkohol yang membuat dirinya tak mempunyai kesadaran sehingga Ia melihat Amelia seperti Irene Song istrinya di dalam bayangannya.
"Irene, aku sungguh tidak tahu gimana caraku untuk menyakinkan dirimu bahwa aku jauh lebih baik daripada Joshua Kim mantanmu itu. Irene, terimalah cinta ku untuk mu..! " Kata Edgar yang memeluk Amelia.
" Edgar, aku menerima cinta mu dengan sepenuh jiwa dan raga ku. Aku percaya dan yakin sekali kepada mu, suamiku. " Kata Amelia Dansen yang membawa Edgar ke kamarnya lalu membuka seluruh pakaian yang dikenakan oleh Edgar dan membuka pakaiannya juga.
" Irene, kau sungguh cantik sekali dengan tubuh mu semulus dan selembut bunga mawar jeju. " Kata Edgar yang membaringkan Amelia Dansen ke tempat tidur. Lalu, di kecup pelan -pelan bibir dan mulut Irene dengan di sertai belaian hangat di jemarinya kepada tubuh Amelia Dansen.
__ADS_1
" Edgar, teruskan.. Aaaahhh...! " ******* yang keluar dari mulut manis Amelia Dansen yang tubuhnya di belai lembut Edgar hingga ia merasa dirinya terbang ke langit ketujuh.
" Irene, kau sebut namaku dengan sangat manis sehingga aku bisa membahagiakan dirimu. " Kata Edgar yang menyelusuri relung tubuh indah Amelia Dansen yang memekik dengan napas tertahan untuk menahan rasa sakit di bagian bawah tubuhnya ketika Edgar memasuki dirinya.
" Aaakhhh...! Edgar, kau sungguh mengagumkan! Oh, tidakkkk...! " Erangan manis Amelia Dansen di bawah tubuh kekar Edgar.
Semalaman mereka bercumbu mesra tanpa di sadari oleh keduanya hingga menjelang pagi hari mereka pun kelelahan dan tertidur pulas di tempat tidur.
"Awww...! " Pekik Amelia Dansen yang terbangun di siang hari sebelum Edgar bangun.
Amelia Dansen perlahan-lahan turun dari tempat tidur lalu berjalan pelan -pelan ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang penuh dengan sisa -sisa pergulatan mesra keduanya.
" Aku? Apa yang sudah Aku lakukan semalaman dengan Edgar Purnomo? Ouh, aku telah bercinta dengan suami orang lain dan orang itu adalah Irene Song wanita yang menjadi sahabat online ku sendiri. " Kata Amelia Dansen yang menutup wajahnya sendiri dengan perasaan malu sendiri.
Edgar menggeliat di ranjang lalu tersentak kaget ketika ia menemukan dirinya di atas ranjang orang lain dan menemukan bercak darah di atas sprei warna hijau muda.
" Hei, apa yang sudah aku lakukan ini? Ranjang siapakah ini? Lalu aku melakukan hal itu dengan siapa? " Tanya Edgar pada dirinya sendiri.
"Ya, kamu telah menodai diriku di ranjang aku sendiri, Edgar. Dan kamu melakukan hal itu dengan ku di luar kesadaran mu sendiri. " Jawab Amelia Dansen yang berdiri di depan dinding dan di dekat pintu kamar mandi dengan berbalut pakaian mandi dan wajah pucat kepada Edgar Purnomo.
__ADS_1
Bersambung!