
Cahaya rembulan terpancar dari langit yang cerah dan terlihat indah dari balkon kamar rumah yang berwarna biru langit dan di beranda balkon rumah itu ada seorang wanita muda yang berkali -kali menghela napas panjang dan berat sekali seakan -akan wanita itu ada beban yang sedang melanda hidupnya.
"Bagaimana caraku untuk mendapatkan cintanya Ray kembali?" Tanya Sheila yang sibuk berpikir keras untuk merebut kembali Ray dari istrinya Ray yang menurutnya sama sekali tidak layak untuk Ray.
" Kamu sedang bicara apa sih, Shei?" Tanya pria di belakangnya.
"Suzuki bisakah kamu tidak perlu datang lagi ke rumahku ?!" Ujar Sheila masam kepada Suzuki pria asal Jepang yang pernah menjadi suaminya itu.
"Tidak bisa..! Sebab aku masih punya andil yang besar di dalam proyek yang akan di bangun oleh Ray bersama dengan sepupuku yang tak lain ialah William Wildan yang masih memiliki hubungan erat dengan Ray." Tukas Suzuki mengangkat dagu Sheila dengan jarinya.
"Uh, bilang saja kalau kamu masih tak rela untuk ku minta cerai darimu sesudah pernikahan yang kita lakukan beberapa tahun lalu merupakan ide buruk mu supaya Aku mau menipu Ray dengan ide cemerlang mu yang ingin mengambil dokumen rahasia kerja Ayahmu yang berada di tangannya Ray." Kata Sheila mendengus sebal kepada Suzuki mantan suaminya itu.
"Cerdas sekali kau..! Pokoknya Aku ingin Raymond kalah di bidang bisnis pembangunan ruko di kota Balikpapan ini agar Ray si anak tak tahu di untung itu tak lagi merasa sombong." Kata Suzuki dengan nada benci kepada Ray yang di dengar oleh Sheila.
"Sampai kapanpun kamu tak kan pernah dapat menang dari Ray yang amat jenius di bidang apa pun yang di kerjakannya dengan amat serius dan sungguh hati untuk memajukan anak -anak muda di negeri ini di dalam pembangunan di seluruh Indonesia." Kata Sheila dengan nada bangga pada Ray yang sudah di ketahuinya dengan jelas sekali sampai Suzuki dengan marah merengkuh wajah Sheila dengan cengkeraman kasar di rahang halus Sheila.
"Jangan pernah sekali -kali kamu membanggakan Raymond Gilberto Xu di hadapanku lagi atau kamu akan menyesal pernah memuji si bocah gila dan menyebalkan itu di depanku..!" Ancam Suzuki.
Sementara itu di lokasi pembangunan ruko yang masih berlangsung itu Ray sangat sibuk dengan melakukan pekerjaannya secara bersungguh hati sekali sampai para pekerjanya pun memuji cara kerja Ray yang sangat meringankan beban kerja mereka semua.
__ADS_1
" Ray, kamu sungguh tipe Bos yang ringan tangan banget dengan kamu mau terjun langsung dengan tangan mu sendiri mengaduk semen dan kamu pun mengangkut baja bersama dengan mereka." Kata William Wildan dengan terkagum -kagum di senyuman kepada Ray yang baru saja selesaikan pekerjaan itu dengan senyuman iklas yang amat besar sekali.
" Wah jangan memujiku dengan seperti itu dong, Will.Aku cuma pengen pekerjaan kita semua bisa cepat selesai dalam waktu tiga atau empat bulan ke depan agar kita semua bisa segera balik ke Ibukota Jakarta." Kata Ray yang membersihkan air keringatnya dengan saputangan.
"Ya, ya supaya kamu bisa berjumpa lagi dengan Eve istrimu itu..." Ucap William Wildan dengan nada menggoda Ray.
" Nah ,itu kamu tahu Wil..Sehari tak jumpa Evelyn bagiku bagaikan setahun apalagi Aku akan lama di kota Balikpapan ini..Aduh rasanya berat sekali rasa rinduku kepadanya.." Kata Ray dengan wajah penuh kerinduan sekali terhadap Evelyn yang jauh darinya.
"Emm ya sih apalagi Ku dengar kalau Evelyn saat ini sedang hamil muda ya?" Tanya William Wildan tersenyum memahami perasaan yang di dera oleh Ray pada saat itu.
" Iya, dan kehamilan Eve kali ini cukup membuatku khawatir banget karena Ia begitu lelah dan rapuh di bebani dengan kehamilan yang ekstra menyita segala aktivitasnya yang harus di lakukannya di tempat tidur." Jawab Ray terlihat mencemaskan Eve di pandangan mata nya William Wildan.
"Iya, Kamu benar sekali Will.Makasih ya kamu ini sungguh adik yang sangat baik untukku." Kata Ray merangkul William Wildan dengan penuh kasih sayang.
Di Perumahan Pik, Jakarta Utara.
Evelyn benar -benar melakukan segala aktivitas nya itu di atss tempat tidur karene Evelyn sungguh amat lelah sekali dengan pusing,mual dan muntah yang mengganggu kegiatan hariannya Evelyn baik di pagi hari maupun malam hari.
" Aku harus bisa untuk menjadi seorang mama yang kuat dalam melindungi anak -anakku sejak dini yakni sejak mereka ada di rahimku yang kecil ini dengan bentuk mereka yang sebutir buah jeruk yang amat mungil sekali." Kata Evelyn di siang hari itu tampak menyeka keringatnya yang dingin.
__ADS_1
" Eve, kamu harus coba makan bubur kacang ijo yang Kakak Erna buatkan untukmu biar kamu gak haus terus." Kata Kakak Erna yang selalu rutin datang ke rumahnya Eve untuk membantu Evelyn di masa -masa rentan kehamilannya Eve.
" Iya,Kak Erna makasih. Eve lagi mau minum sari buah markisa yang di kirimkan oleh Kakak Yesi di kota Jambi tempo hari." Kata Evelyn dengan nada suaranya begitu letih dengan mual dan pusing.
"Emm baiklah.Kamu itu habis minum sari buah markisa harus makan bubur kacang ijo lalu kamu tidurlah kembali dan janganlah main hp terus -menerus nanti mengganggu kesehatan mu dan janin -janinmu itu." Kata Kakak Erna kepada Evelyn seraya memasak makan malam untuk Evelyn di hari itu jua dengan tentunya sesuai dengan saran Dokter Wina untuk kebaikan Evelyn dan janin -janin di kandungannya Eve.
" Nyonya, baju warna kotak -kotak milik Tuan Ray apa benar ingin di sumbangkan kepada Yayasan panti jompo di daerah Sukabumi? " Tanya Bibi Sri dari ruang laundry, saat itu Bibi Sri sedang sibuk menyetrika pakaian.
" Iya, Bi Sri..Emang kenapa ya? " Tanya Evelyn dari ruang tv.
" Emm ,gak napa -napa sih cuma Bibi ingin sekali baju warna kotak -kotak milik Tuan Ray bisa di berikan kepada suaminya Bibi Sri di kampungnya Bibi Sri di daerah tegal." Jawab Bibi Sri dengan nada suaranya begitu berharap agar baju milik Ray bisa di berikan kepada suaminya oleh Evelyn.
"Ya, jika Bibi suka silakan ambil saja baju kotak -kotak Kak Ray untuk suaminya Bibi Sri." Kata Eve sungguh hati kepada Bibi Sri.
" Benar, Nya ? Bibi boleh ambil baju kotak -kotak Ray yang ini untuk suami Bibi Sri di kampung?" Tanya Bibi Sri bersyukur sekali dengan permintaan nya itu di kabulkan dengan baik oleh Evelyn.
" Iya,benar Bi Sri dan jangan khawatir biar Evelyn yang ngomongin ke Kak Ray ya supaya Bibi Sri tenang dan gak di marahi oleh Kak Ray karena baju nya itu Aku kasih kepada Bibi Sri untuk suami Bi Sri di kampung bukan untuk di sumbangkan ke panti jompo" Jawab Evelyn tersenyum manis pada Bibi Sri yang sangat terharu dengan kebaikan hati istri dari Raymond Gilberto Xu itu.
Bersambung..!!
__ADS_1