
Ray menghadapi makan siangnya di meja makan di ruangan lain di rumah duka dan Ia tak bisa menghadapi makanan ini karena perasaannya sangat sedih sekali karena kehilangan Akongnya yang sangat di sayanginya itu.
" Kak Ray, ikan sashimi nya untuk ku ya ?" Tanya seorang sepupunya yang lain yang mendatangi nya di tempat duduknya.
" Iya, George. Silakan kamu ambil sashimi nya untuk mu. " Jawab Ray membelai rambut pendek adik sepupunya itu kepada George Xu.
"Wah, makasih banyak Kakak Ray kamu emang kakak yang paling baiiiikkk sedunia. " Kata George Xu dengan suara cempreng nya itu pada Ray.
" Iya, ya George. " Jawab Ray memeluk sepupu nya dengan kasih sayang.
Lalu George Xu pergi ke tempat duduknya dan mulai menikmati makan siangnya dengan ceria sambil dengerin musik pake headset di hape nya yang selalu aktif.
Ray menghela napas lalu menyentuh makanan nya dengan makan perlahan-lahan untuk Ray bisa menjaga kesehatan nya untuk menjadi para anggota keluarga nya sesuai pesan terakhir dari Akong nya.
" Ray, kamu harus bisa menemukan kakak mu Chiko dan Kakak kembar mu Kak Rita selain itu bantulah untuk mengurus perusahaan Akong di kota Harbour City, Hongkong. " Pesan Akong nya di HP nya yang barusan di bacanya melalui Ahma yang menyalin nya untuk Akong nya.
" Kak Rita kembaran ku dan Ia tinggal di luar kota bersama dengan keluarganya karena Ia sudah ber rumah tangga dan hidup nya amat bahagia menurut informasi yang aku dapatkan dari Kak Lukas. " Kata Ray di benaknya sambil menikmati makan siangnya.
" Lalu kembaran Delia itu Natusha ada di kota Bandung. Tapi Bandung'kan luas ? Dimanakah ku bisa menemukan adik ku itu? " Pikiran Ray sungguh kalut sekali.
" Hai, Kakak Ray..! " Sapa Tiffany Xu sepupunya yang lain yang tinggal di kota Praha, Ceko.
__ADS_1
" Hai, Tif, apa kabar mu belakangan ini di Ceko? Apakah kamu sudah punya pacar di sana ?" Tanya Ray tersenyum ramah kepada Adik sepupu nya yang lain.
" Ah, buruk sekali nasibku yang baru putus dari pacarku yang selingkuh dengan Guru les privat ku sendiri. " Jawab Tiffany Xu dengan nada lesu kepada Ray.
" Jangan sedih itu tandanya itu cowok gak cocok untuk masuk ke dalam keluarga Xu kita." Kata Ray menepuk-nepuk kedua pipi chubby Tiffany.
" Iya, Kakak Ray kamu benar sekali. Ah, sekarang ini aku sedang sibuk dengan dunia seni ku loh sebagai supermodel top Eropa. " Kata Tiffany Xu memamerkan kebolehan nya sebagai model top Eropa kepada Ray yang tertawa melihat cara adik sepupunya berjalan ala model di catwalk di depannya.
" Hahahaha kau ada -ada saja tapi bagus kok jadi supermodel top Eropa, Tif. Karena kamu itu berbakat sekali di dunia modeling. " Kata Ray memuji keistimewaan bakat adik sepupunya itu.
" Ray, apakah kamu masih ingat kepada Ku?" Sapa seorang gadis muda dengan kecantikan ala gadis blasteran antara gadis Eropa dan Asia yang datang bersama dengan sepupunya yang lain kepadanya di ruangan lain di rumah duka.
" Estelle Guo ?" Tanya Ray kurang yakin dengan ingatan nya terhadap gadis cantik itu.
" Iya, terimakasih atas waktunya untuk datang ke rumah duka kota Osaka untuk melayat Akong ku di tempat yang sangat jauh dari negeri mu. " Kata Ray nada ramah kepada gadis cantik yang pernah jatuh cinta kepada nya di masa kuliahnya di London, Inggris.
"Ah, aku tak merasa keberatan kok jika untuk mu Ray. Asal kamu tahu saja aku sangat rindu kamu loh. " Kata Estelle Guo dengan nada memikat kepada Ray.
"Emmm..Jangan kau merasa rindu kepada ku, Estelle Guo sebab aku sejak dahulu gak pernah tertarik dengan mu dan satu lagi kau sudah ada yang punya yaitu sepupu ku yang manis ini. " Kata Ray nada dingin kepada Estelle Guo seraya menggunakan dagunya menunjuk kepada Hawk Xu sepupu nya yang mengalami tunarungu yang di sebabkan kecelakaan saat bermain jetski di Hawaii, Usa.
"Kau tahu'kan dia itu tuli dan tak sempurna kamu Ray. " Kata Estelle Guo di dalam hatinya sambil menggandeng tangan suaminya pergi ke tempat lain di rumah duka karena ekpresi dingin Ray sangatlah menyeramkan baginya.
__ADS_1
******
Benny Wildan menatap seorang gadis cantik yang duduk di seberang meja kafetaria tempat Ia melakukan kencan buta yang di sarankan oleh Bunda nya yang tinggal di Kota Kebumen, Jawa Tengah.
" Hai, kenalkan namaku Benny Wildan. Aku ini seorang pekerja biasa di pabrik roti dan aku juga seorang duda miskin yang belum punya rumah dan mobil untuk masa depan mu jika kamu mau menikah dengan ku sesuai perjodohan yang di anjurkan oleh Ayah mu dan Bunda ku di kota Kebumen. " Kata Benny Wildan dengan terbuka menceritakan tentang dirinya kepada Larasati Valencia gadis cantik yang akan di jodohkan oleh orangtuanya kepadanya.
" Ah, aku merasa tak keberatan kok karena Aku yakin bahwa pernikahan itu berkah yang artinya kamu bakal sukses setelah menikah dengan Ku karena Aku seorang gadis pembawa hoki bagi mu. "Kata Larasati Valencia dengan nada ramah dan yakin kepada penilaiannya terhadap pilihan orangtuanya mengenai cowok ganteng yang di jodohkan kepadanya itu.
"Begitukah menurut mu?" Tanya Benny Wildan yang menatap lurus kepada Larasati Valencia.
" Iya, Kak Benny." Jawab Larasati Valencia nada tegas kepada Benny Wildan.
" Baiklah, kita jalani saja dahulu di mulai dari per pacaran saja untuk kita bisa saling mengenal dan memahami satu sama lain sebelum kita melanjutkan hubungan kita ke jenjang yang lebih baik dan serius lagi untuk kita dewasa di dalam hubungan pernikahan kita nantinya. " Kata Benny Wildan dengan nada suaranya begitu dewasa sekali di telinga Larasati Valencia yang usianya sembilan belas tahun.
" Ya, Kak Benny. Aku mengerti. " Jawab Larasati Valencia dengan nada yang sama bijaksananya dengan Benny Wildan.
" Baiklah, silakan kamu menikmati makan malam sederhana bersama dengan ku di rumah makan sederhana di kota Jakarta yang merupakan kota pertama kali kamu kunjungi. " Kata Benny Wildan menawarkan makanan kencan nya kepada gadis cantik yang selalu menatapnya itu.
" Emm, pikiran ku malah tertuju kepada Lisa si gadis barbar yang sudah satu bulan lebih tak pulang ke rumah susun Mawar. Ah, kenapa aku ini sih yang selalu memikirkan bocah liat itu?" Batin Benny Wildan.
Larasati Valencia menikmati makanannya tanpa berbicara lagi dengan Benny Wildan yang juga diam di depannya sambil menikmati makanan di hadapan pria ganteng usia dua puluh delapan tahun ini.
__ADS_1
Bersambung!