
Ray menemani William kembali ke rumah tempat tinggal nya adik tiri nya itu untuk membantu adik tiri nya merapikan semua barang-barang pribadi Sarah untuk di kemas di dalam peti jenazah dari Sarah.
" Kakak Ray, menurut mu siapakah orang yang sudah tega menodai Sarah dengan keji?" Tanya William sambil menaruh kotak tata rias Sarah di dalam koper.
" Entahlah, yang jelas orang itu harus di hukum seberat-beratnya sesuai dengan perbuatannya yang tidak ke perikemanusiaan. " Jawab Ray yang tidak sengaja menemukan handphone milik Sarah yang tergeletak di bawah ranjang.
" Wil, lihat! Bukankah handphone ini punyanya Sarah? " Tanya Ray yang berbaring miring untuk mengambil handphone Sarah yang berada di bawah ranjang Sarah.
" Eh, ya benar Kak.. Coba Kakak ambil hapenya supaya kita tahu ada sesuatu yang bisa kita gunakan untuk mengetahui pelaku kejahatan fisik dan mental Sarah." Jawab William sangat berharap banyak untuk menghukum orang yang sudah menyebabkan kematian calon istrinya itu.
Ray berhasil mengambil handphone Sarah tetapi Ia tak bisa membuka handphone Sarah karena ada kode atau password HP-nya yang tak di ketahui oleh Ray.
" Aku tak bisa membuka hape Sarah, Wil. Ada pasword nya." Kata Ray memberitahu William.
"Coba sini aku lihat.. " Kata William meminta HP Sarah dari Ray yang duduk dilantai dengan raut wajahnya tampak kebingungan.
Ray memberikan handphone Sarah kepada William yang cepat mengambilnya dan duduk di lantai untuk konsentrasi membuka password HP-nya Sarah.
Ray memilih duduk di ranjang dan tak sengaja Ia menemukan gunting kuku dan tali tambang yang tersangkut di tiang ranjang. Ray pun mengamati ranjang dengan sangat teliti sekali lalu wajahnya Ray sangat marah sekali usai menemukan arloji milik Doni Wildan, Ayah tirinya itu.
" Ternyata Papa Doni yang sudah melakukan hal tak senonoh terhadap Sarah.. " Kata Ray yang tanpa sadar mengutarakan kemarahannya itu dan terdengar oleh William.
" Apa?? Apa yang barusan Kakak Ray katakan tadi? Kakak tadi mengatakan bahwa Papa Doni yang telah memperkosa Sarah ?!" Tanya William dengan wajah berang.
__ADS_1
" Ya, Wil. Lihatlah arloji ini dengan cermat oleh mu, bukankah arloji ini milik Papa Doni Wildan yang selalu di pakai nya sehari-hari.. " Jawab Ray dengan yakin.
William pun tak sengaja berhasil membuka hape Sarah dan menemukan video Sarah yang telah memberitahukan rahasia kejahatan Doni Wildan selama ini terhadap Sarah dibelakang William.
" Bajingan tua yang harus ku beri pelajaran atas perbuatannya yang tidak mencerminkan pribadi orang tua yang bijaksana dan layak dihormati..! " Kata William dengan geraham bergeretak karena pemuda ini terlalu marah.
William tanpa memperdulikan panggilan Ray dari belakang telah pergi mengendarai motor nya dengan kecepatan tinggi untuk pergi ke rumah Doni Wildan di Perumahan Anyelir.
Doni saat itu sedang di interogasi oleh Lukas yang menanyakan soal kedekatan Doni Wildan dengan Hilda Mama mertua Lukas yang kini telah di ketahui oleh Lukas bahwa Hilda sedang hamil anaknya Doni Wildan.
"Luk, kau ini bicara apa sih pulang -pulang tanpa angin dan badai kau menuduh Papa mu dengan foto hasil USG kehamilan Hilda yang telah di kirim oleh Ray si anak busuk hatinya itu yang tak pernah menyukai kita bahagia dan tenang?" Tanya Doni Wildan dengan rahang mengeras dan suara marah kepada putra pertamanya itu.
" Pa, Lukas gak bicara asal untuk sesuatu yang sangat penting untuk kehidupan kita semua bisa tenang lagi! Lihat lah bukti kuat untuk Papa harus bertanggung jawab atas perbuatan Papa terhadap Mama Hilda..! Papa harus menikahi nya untuk nama baik keluarga kita..! " Jawab Lukas dengan suara tegas kepada Doni Wildan.
Plak!
" Kau semakin keterlaluan ya Lukas sama Papa mu sendiri..! " Kata Doni Wildan yang kemudian bicara kepada Hilda.
" Lihat dia mungkin saja hamil dengan pria lain di belakang kita semua namun dia dengan licik telah menipumu dengan foto sialan itu yang kau dapatkan dari Ray bocah kurang ajar itu..!" Kata Doni yang mendatangkan kemarahan besar di hati Hilda yang menampar Doni.
Plak!
" K..Kau memang laki-laki biadap yang tak ada rasa manusiawi! Kau merayuku dengan Kata -kata manis mu untuk mendapatkan ku dan juga untuk aku bisa menutupi kejahatan mu terhadap istrimu Jenny yang kau bunuh di rumah sakit dan kau juga telah lebih dahulu membunuh putri nya Jenny dengan mendorong anak itu ke jalanan di saat sebuah mobil melintas di jalan raya depan rumah mu sendiri..! Dan, sekarang kamu tak mau mengakui perbuatan mu kepadaku! Kau telah menghamili ku tapi kau tak mau bertanggung jawab! HHH.. matilah kau Doni..!" Teriak Hilda yang dengan marah melemparkan asbak kepada Doni.
__ADS_1
Prank!
Doni menepis asbak hingga benda beling itu jatuh ke lantai di hadapan Hilda yang segera di tarik Lukas untuk menghindari amarah Doni yang ingin membalas Hilda dengan pot bunga di meja tamu.
" Hei, Papa...! Jangannn..! " Teriak Lukas yang menyambar pot bunga di tangan Doni sehingga pot bunga menjadi rebutan keduanya dan Hilda ketakutan sekali lalu lari keluar rumah dan tak sengaja bertemu dengan William yang baru saja sampai di rumah itu.
" Tante Hilda, kenapa kau lari seperti orang lihat hantu dari rumah? " Tanya William menahan Hilda di pintu masuk.
" Aku tak tahan lagi..! " Teriak Hilda yang menepis tangan William dengan kencang hingga Hilda bisa keluar dari rumah di tengah kegelapan malam yang gelap dan terguyur hujan deras dan angin kencang.
Ssssshhh..!
" Tante Hildaaa..! " Teriak William mengejar Hilda yang terus berlari keluar dari perumahan Anyelir dan tak melihat adanya kontainer yang melintasi jalan raya dengan kecepatan tinggi.
Lalu..
Braakk...!
"Tidakk! Tante Hilda..! " Jerit William yang lihat mobil kontainer menabrak dan melindas tubuh Hilda hingga hancur di jalanan.
" Heiii..! Berhenti..! Kau sudah menabrak orang tua di jalanan...!! " Teriak William dengan histeris ke arah mobil kontainer dan tubuh hancur Hilda.
Supir mobil kontainer di kejutkan dengan suara batu batako yang memukul keras mobilnya dan kaca mobilnya pecah oleh batako yang telah di lemparkan oleh seorang pria muda yang berdiri di atas mobil sport yang kap atasnya terbuka dan menghalangi jalan nya dengan berani.
__ADS_1
" Eiii.. Apakah kau sudah gila ya berani untuk menghalangi jalan mobil ku?!" Teriak supir mobil kontainer dengan marah sekali kepada Ray.
Bersambung..!!