
Di siang hari yang sangat panas di bulan musim kemarau di Indonesia. Evelyn tampak sangat tak sabar diri untuk pulang dari rumah sakit dengan dirinya sibuk dengan berdandan rapi sekali agar Ia selalu terlihat segar dan bugar oleh para keluarga nya yang akan menyambut kepulangannya itu ke rumahnya dengan sukacita tidak merasa cemas kepadanya.
" Nyonya, perlengkapan Anda untuk pulang ke rumah sudah Saya siapkan dengan sangat baik di dalam mobil Anda." Kata Bibi Sri yang menjemput Eve pada siang hari itu.
" Ya, Bi makasih." Jawab Evelyn dengan senyuman manis di bibirnya.
" Eve, ada telepon nih dari Ray di kota Balikpapan untukmu." Kata Mama Jenny dari kamar mandi di ruang pasien rawat inap kepada Evelyn.
" Oh,makasih Ma." Jawab Eve sopan sekali pada Mama Jenny dengan menerima handphone nya itu dari tangan Mama Jenny lalu menempelkan hp itu ke telinganya.
" Ya, Kak Ray.Ada apa ? Ya, Eve tahu Eve akan dengarkan saran Dokter Wina sebelum Eve pulang ke rumah.Ya, kakak udah makan siang belum di tempat kerja kakak di kota Balikpapan?" Tanya Eve di hpnya kepada Ray yang saat itu sedang dinas kerja di luar pulau Jawa.
Sementara itu di rumah minimalis yang indah di kawasan kota Bogor terlihatlah Sally yang sibuk bolak -balik ke toilet karena Sally merasa mual dan pusing serta muntah untuk sekian kalinya.
" Astaga apa yang telah terjadi pada diriku?" Pikir Sally sambil memegangi pinggangnya yang nyeri.
" Sally, apakah kamu ada di rumah ?" Tanya suara pria yang tak asing bagi Sally dari luar rumah itu.
" Ah, Tommy mau apa dia datang lagi ke rumahku? "Pikir Sally yang membuka tirai jendela kamarnya untuk melihat tamunya yang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya.
"Sally, lihat aku bawakan kamu buah salak dan duku kesukaanmu.Ayo bukakan pintu rumahmu untukku." Kata Tommy menunjukkan bungkusan plastik warna putih isi buah salak dan duku dari pintu gerbang rumah itu.
"Enggak..! Aku gak boleh bukakan pintu rumahku lagi untuk Tommy,jika aku izinkan lagi maka Aku akan mengalami bahaya besar dari suamiku dan keluargaku." Kata Sally dari dalam kamarnya.
__ADS_1
Tommy yang menunggu dengan cukup lama di depan pintu gerbang rumah itu tak sengaja telah bertemu dengan Benny Wildan yang baru saja pulang dari apotek untuk membelikan obat maag untuk Sally.
"Maaf, kamu ini siapakah dan ada urusan apakaj kamu datang ke rumah Saya ?" Tanya Benny nada sopan kepada pria yang berdiri di depan pintu gerbang rumahnya itu.
" Dia itu seorang sales paket online,Mas Benny." Jawab Sally yang langsung keluar dari ruangan dalam rumahnya begitu Sally melihat Benny ada di luar rumah dan bertemu dengan Tommy.
" Oh begitukah, Say? Kamu membeli barang apa dan apakah kamu udah bayar atau belum barang yang kamu beli?" Tanya Benny tersenyum kepada Sally yang merangkul erat lengannya.
" Ya, masker untuk bepergian dan udah kok lewat transferan." Jawab Sally mengajak Benny cepat -cepat masuk ke rumah seraya melirik tajam ke Tommy untuk pergi dari rumah.
" Dasar, wanita bodoh.Ah ,Sally kamu takut banget sih sama suamimu itu yang sangat kampungan itu dan tak ada kelas nya dibandingkan oleh Aku." Kata Tommy dalam hatinya dengan sebal tapi pria itu menuruti kekasih gelapnya untuk pergi dari rumah kekasih gelapnya itu.
Kota Balikpapan, Kalimantan Timur.
" Hai, Ray sudah waktunya untuk makan siang nih? Aku sudah lapar banget nih."Kata William Wildan adik tirinya Ray yang bekerja sebagai wakilnya di proyek itu.
"Iya, Wil.Tunggu bentar Gue harus pergi lihat -lihat bahan semen yang kurang di bagian sana.Kalau kamu udah lapar dan tak tahan lagi untuk makan siang.Ya, kau pergilah sendiri makan siang." Kata Ray menepuk bahu adik tirinya itu seraya pergi ke bagian dari pembangunan proyek itu.
Setibanya, Ray di bagian lain dari pembangunan proyek itu tiba -tiba Ray melihat ada seorang gadis muda membawakan keranjang bambu isi aneka makanan dan minuman untuk makan siang nya itu.
" Pak Ray, ini silakan makan siang Anda sudah ku siapkan untuk Anda." Kata gadis itu membukakan keranjang bambu dan memperlihatkan makanan itu kepada Ray.
" Sheila, darimana kamu tahu kalau Aku ada di sini dan kenapa kamu yang membawakan makan siangku?" Tanya Ray mengerutkan keningnya.
__ADS_1
" Dari Bapak ku, Kakak Ray tolong kamu tidak lihat aku seperti musuh dong? Aku 'kan sudah baik ke kamu dengan membawakanmu makan siang yang semuanya adalah hasil karya ku loh." Jawab Sheila nama gadis itu yang tanpa menghiraukan tatapan mata Ray yang tak suka dengan sikapnya itu terhadap Ray. Gadis ini tetap menata makan siang untuk Ray dengan sikap manis dan senyum yang mengembang di bibirnya.
" Kau makan saja sendiri.Aku tak suka makanan mu itu." Kata Ray yang berbalik arah untuk pergi dari gadis itu.
" Tunggu bentar ,Kak Ray? Apa salahnya sih kalau kamu mencoba makan siang yang kubuatkan ini untukmu ?" Tanya Sheila menahan lengan Ray.
" Salahnya adalah kamu gunakan makan siang mu itu untuk merayuku yang notabene nya adalah Aku ini sudah menikah dan memiliki istri yang cantik di rumahku di Jakarta.Dan, Aku tak pernah mau dan suka makan makanan yang dibuat oleh orang lain yang bukan hasil buatan tangan istriku sendiri." Jawab Ray menepis genggaman tangan Sheila di lengannya.
Lalu Ray meninggalkan Sheila di bagian lain dari pembangunan proyek itu tanpa mempedulikan Sheila yang uring -uringan dengan membuang makanan itu ke tempat sampah dan pergi dengan cepat dari tempat kerjanya Ray.
" Cantik juga tuh cewek tapi sayang Bos kita tak pernah suka apalagi meliriknya." Kata para pekerja di bangunan itu merasa kasihan kepada Sheila.
" Iya, cantik sih cantik tapi kalau Bos gak suka ya harus lapang dada dong dan jangan kecentilan gitu kan kesan nya penggoda suami orang karena kita semua tahu kalau Bos kita sudah menikah dan punya istri yang jauh lebih cantik dan manis di bandingkan gadis itu." Kata William Wildan nada menyindir tajam kepada Sheila yang tak sengaja mendengar sindiran itu saat gadis itu berjalan dan melewati para pekerja itu.
" Hai ,kau ? Kamu ini jangan sok tahu ya dengan urusan Gue dengan Pak Raymond Gilberto Xu Bos kita itu ?! " Ujar Sheila menatap garang sekali pada William Wildan yang memberinya senyuman sinis.
"Memangnya Elo siapa sih ?Gue memang lebih tahu banyak mengenai diri Bos kita ini daripada Elo cewek genit yang tak tahu malu seperti cewek penggoda suami orang." Jawab William Wildan lebih menusuk kepada Sheila yang memerah pada seluruh wajah gadis itu.
" Ka..Kau..! Awas Lo ya ?Gue akan buat Elo tahu siapa Gue nanti ?!" Ancam Sheila menuding jari telunjuknya ke depan hidung Willam Wildan yang menepis jari telunjuknya dengan kasar sekali.
" Gue gak pernah takut sama Elo..!" Balas William Wildan sinis kepada Sheila sebelum akhirnya Sheila pergi dengan marah sekali dari area tempat kerjanya Ray.
Bersambung..!!
__ADS_1