
Lukas hanya bisa menangis untuk musibah yang menimpa mereka dengan memeluk pohon di sisi pantai sungai Cisadane seraya mendoakan agar arwah Papa nya tenang.
" Wil, kamu pergi kemana dengan perasaan hati mu sedang kacau balau begini? " Tanya Ray yang memerhatikan William meninggalkan area sungai Cisadane dengan mengendarai sepeda motor.
" Aku ingin menemui Sarah di rumah duka." Jawab William dengan nada singkat kepada Ray lalu melaju dengan kecepatan tinggi tanpa menengok kembali kepada Ray dan semua orang di tepi sungai Cisadane dan jembatan yang menjadi ramai.
"Kakak Lukas, sebaiknya kita pulang ke rumah dan merapikan barang -barang pribadi Papa Doni dan Tante Hilda agar kau dan anak-anak mu yang menempati rumah itu tidak teringat tentang kejadian ini. " Kata Ray memberikan saran pada Lukas.
" Kau tak perlu mengurusi ku, Ray. Kau urus saja diriku dan keluarga mu di mulai hari ini kita bukan lagi saudara. " Kata Lukas dengan nada pahit kepada Ray yang menarik napas begitu berat rasanya.
Lukas meninggalkan Ray di jembatan dengan adik tirinya itu di kerumuni oleh para polisi dan warga sekitar yang menanyakan tentang Doni dan kasus pria itu nanti nya.
" Karena terdakwa sudah tiada maka kasusnya di tutup sama di sini dan kami menyatakan bahwa kasusnya telah selesai. Terima kasih banyak dan selamat tinggal untuk Anda dan keluarga Anda. Semoga hidup kalian semua selalu berada di dalam perlindungan Tuhan yang Maha Esa. " Kata pihak kepolisian daerah Kota Tangerang kepada Ray.
" Iya, Pak. Terimakasih banyak Saya ucapkan kepada Anda sekalian. " Jawab Ray menjabat tangan Polisi dengan hormat dan sopan lalu Ray mengendarai mobil sport nya menuju ke arah Ibukota Jakarta.
Sementara itu, Eve berjalan dengan perasaan hatinya begitu merasa gelisah sekali memikirkan Ray suaminya yang telah pergi ke Tangerang selama dua hari satu malam tanpa memberinya kabar sama sekali sehingga Eve merasa tak tenang selama beberapa hari ini di rumah.
Begitu Ia mendengar suara mobil sport Ray tiba di parkiran rumahnya. Ia segera keluar rumah untuk melihat Suaminya pulang ke rumah dalam keadaan sehat dan selamat.
" Kak Ray.. Apa yang telah terjadi pada William di Tangerang? Kenapa sampai membuat mu pergi kepadanya selama dua hari satu malam sampai aku gelisah memikirkan mu dan William juga?" Tanya Eve dengan wajahnya di liputi kecemasan kepada Ray yang baru saja keluar dari mobil.
__ADS_1
"Nanti saja aku ceritanya ya, Sayang? Karena aku ingin mandi lalu istirahat dahulu di kamar. " Kata Ray yang terlihat begitu letih dan sedih oleh Eve.
" Iya, Kakak Ray. " Jawab Eve memahami suami nya.
" Terimakasih sayang. " Kata Ray mengecup bibir Eve dengan lembut sebelum melangkah menuju ke dalam rumah.
Eve yang mengerti perasaan yang di alami oleh suaminya itu memilih untuk pergi ke dapur dan membuatkan menu makan malam untuk Ray dengan sesuai selera nya Ray.
" Nyonya Eve, ada sedang membuat menu makanan apa ?Apakah ada yang bisa Saya bantu untuk Anda di dapur? " Tanya Bibi Sri yang baru saja keluar dari ruang laundry di belakang rumah kepada Eve.
" Aku ingin membuat menu makanan untuk makan malam suamiku, Bi Sri. Oh, makasih Bi Sri tapi tak perlu karena aku bisa menanganinya dengan baik. " Jawab Eve tersenyum ramah pada Bibi Sri yang berjalan ke arah kulkas untuk mengambilkan sayur-sayuran dan bahan -bahan makanan yang di perlukan oleh Eve dan menaruh semua sayuran dan bahan makanan itu di meja dapur.
" Baiklah, Nyonya. Nah silakan Anda gunakan sayuran-sayuran dan bahan makanan yang sudah saya keluarkan dari kulkas. " Kata Bibi Sri tersenyum sopan kepada Eve.
" Sama-sama Nyonya Evelyn yang cantik, " Kata Bibi Sri membalas rangkulan Eve dengan rasa syukur memiliki seorang majikan sebaik dan semanis Eve dalam wajah dan sikapnya.
Ray berbaring di ranjang nya dengan perasaan hatinya begitu kalut sekali mengingat kejadian yang telah terjadi di keluarganya yang tinggal di kota Tangerang.
" Aku masih teringat tentang peristiwa Tante Hilda yang di lindas mobil kontainer dan Papa Doni Wildan yang terjatuh ke sungai Cisadane dan di makan buaya penghuni sungai itu di depan mata ku. " Kata Ray yang meneteskan air mata karena perasaannya sedih sekali.
" Kak Ray.. " Panggil Eve yang mendatanginya di kamarnya dan Eve merangkulnya dari belakang.
__ADS_1
" Eve.. " Kata Ray meraih lengan Eve untuk di taruh di dada nya agar memberikan kekuatan du saat dirinya sedang berduka.
" Tidurlah di pelukanku. " Kata Eve lembut di telinga Ray.
" Iya, Eve. Makasih banyak atas hiburan mu." Kata Ray yang berbalikan badannya untuk Ray dapat berhadapan dengan Eve yang langsung memeluknya dengan kasih sayang yang sangat besar terhadapnya.
Ray terlelap dengan nyaman di pelukan Evelyn sehingga Ray dapat melupakan kesedihan hati nya di hari itu dan terbangun di hari berikutnya di saat Eve membawakannya senampan makanan untuk sarapan pagi nya di kamarnya.
" Selamat pagi suamiku. Mari sarapan pagi dengan menu favorit mu. " Kata, Eve yang telah menaruh nampan berisi semangkuk sup miso dan sepiring telur dadar serta segelas susu rasa almond di pangkuannya.
"Wah pagi-pagi aku sudah di suguhkan sarapan pagi seenak ini olehmu, Sayang." Kata Ray nada terharu dengan pelayanan istimewa yang telah di berikan oleh istrinya itu kepadanya
" Iya, karena aku ingin memberikan segala yang terbaik untukmu, suami ku sayang. " Jawab Eve merengkuh wajahnya dengan kedua tangan yang lembut dan hangat lalu memberikan kecupan di bibir Ray.
" Waduh kalau kau memberikan ku kecupan mu yang manis ini? Maka, aku pun harus memberi mu sebuah hadiah menyenangkan di pagi hari kita. " Kata Ray yang menaruh nampan di meja di samping tempat tidur nya. Lalu membaringkan Eve di ranjang nya kemudian tanpa basa -basi lagi Ray menyelusuri relung tubuh Eve dengan ciuman dan sentuhan selembut sutra halus dan sehangat mentari pagi di seluruh raga dan batin Eve.
******
Lukas merenung di ruang tamu rumah Papa nya yang kini menjadi rumahnya bersama dengan anak-anaknya yang selalu ada untuknya baik di dalam suasana senang maupun susah.
" Papa, jangan merasa sedih lagi ya ? Karena Opa dan Oma sudah tenang di Surga bersama dengan Tuhan. " Kata Marisa Zevanya Wildan putrinya yang berusia enam tahun yang duduk di pangkuannya.
__ADS_1
" Iya, Pa. Kak Icca benar! " Sambung Edo Wildan putranya yang berusia dua tahun lebih dengan nada lembut.
Bersambung..!!