
Naydelin tersenyum manis untuk Ray yang tadi mengira dirinya adalah Evelyn istri nya Ray dan juga sepupunya karena sekilas Nay mirip sekali dengan Evelyn.
"Hai..Rupanya kau nyaris tertipu olehku yang kau kira aku ini Evelyn, ya ?" Tanya Naydelin yang kini berdiri dengan anggun di hadapan Ray.
" Hmmm..Lalu dimanakah istriku yang barusan duduk di sampingku ? " Tanya Ray nada datar.
"Dia tadi permisi untuk membelikan mu makan malam di kantin rumah sakit." Jawab Naydelin tersenyum kepada Ray.
Ray mengabaikan Naydelin dengan dirinya itu memilih berbaring dengan menyelimuti dirinya ini dengan selimut lalu memejamkan sepasang matanya untuk tidur kembali.
"Umm...Kau ini kalau di perhatikan dari dekat terlihat cukup manis juga ya? " Tanya Naydelin di dekat ranjang pasien tempat Ray berbaring.Dan gadis ini menggerakan jemarinya untuk sentuh pipinnya Ray.
Ray menepis jemari Naydelin yang menyentuh pipinya dengan menutup dirinya dengan selimut tetapi Naydelin malah ikut berbaring di samping nya dengan memeluknya dari belakang sampai Ia melihat dari kaca jendela Eve tampak marah.
"Hei..! Elo bisa sopan gak sih sama Gue ? " Tanya Ray membentak Naydelin.
Ray melempar selimut hingga jatuh dan berlari mengejar Eve yang sudah meninggalkan kamar pasien dengan wajah memerah karena marah tanpa mempedulikan panggilan Ray dari arah belakang punggung Eve.
" Eve..Please..Jangan salah paham mengenai ku dan Naydelin..! Dia nya aja yang centil kepadaku , Eve..! " Pinta Ray yang menahan pintu lift untuk mencegah Eve masuk ke lift dan meninggalkan dirinya dengan rasa salah paham kepadanya.
__ADS_1
"Gausah jelasin kepadaku, Kak Ray..! " Kata Eve yang melewati bawah lengan Ray untuk masuk ke lift.
Ray mengikutinya dan menutup lift di belakang nya lalu menghadapi Eve yang membuang muka tak mau menatapnya. Ia dengan sabar sekali meraih wajah Eve untuk Eve menatapnya.
"Eve..Apakah kau merasa cemburu dengan hal tadi yang di lakukan oleh Nay kepadaku? " Tanya Ray dengan tatapan selidik kepada Evelyn.
" Iya..! " Jawab Eve.
" Itu artinya dirimu telah benar -benar jatuh cinta kepadaku setelah hampir dua tahun lamanya kita menikah..! " Kata Ray yang menundukkan wajahnya dan mencium bibir Eve dengan lembut luar biasa.
"Aku tidak tahu apakah aku telah jatuh cinta pada mu, Kak Ray ? Sebab , Aku sudah menjadi istrimu dan mama bagi anak -anakmu yang tak mungkin aku tak marah melihat mu di peluk oleh wanita lain dan wanita lain itu adalah sepupuku sendiri..! " Kata Eve yang membiarkan Ray yang menciumi rahangnya dengan lahapnya seakan Ray begitu kelaparan sekali.
Di saat itulah ponsel nya Ray berdering di saku celana piyama Ray. Lalu, Ray membuka hpnya dan menjawab panggilan telepon dari Lukas yang mengabari Mama Jenny telah meninggal dunia karena sakit kista di batang otaknya di rumah sakit Kota Tangerang.
" Mama..! Mamaku..! " Ucap Ray yang menghela napas begitu berat sambil memejamkan mata nya yang akan meruntuhkan air matanya apabila di bukanya mata nya itu.
" Kak Ray..Tabahkanlah hatimu..! " Kata Eve yang memeluknya erat untuk memberikan kekuatan untuknya.
Di rumah duka daerah Tangerang.
__ADS_1
Ray bersama dengan Eve melayat untuk melihat jenazah Mama Jenny yang terbaring kaku di dalam peti jenazah dalam balutan kebaya yang bercorak bunga -bunga dan warna keunguan yang menjadi warna kesukaan Mama Jenny di masa hidupnya.
" Ray..! " Panggil Lukas yang segera menyambut Ray dan Eve dengan pelukan untuk Ray dan jabat tangan untuk Eve.
Lalu, Ray berjumpa dengan Doni Wildan yang duduk tenang di dekat peti jenazah Mama Jenny tetapi Doni berpura-pura tak melihat Ray dan Eve dengan pria paruh baya ini sibuk menikmati kuaci dan kacang kulit sebagai camilan malam di rumah duka.
"Papa..Apakabar mu, Pa ? " Sapa Ray yang tetap memanggil Doni dengan sebutan Papa.
"Kau bisa lihat sendiri betapa Papa mu ini harus kehilangan Mama mu yang sangat Papa cintai ini, Ray. Ahh, andai waktu bisa diputar kembali di saat Mama mu masih hidup..Maka Papa pasti akan memberikan lebih banyak waktu Papa mu untuk menemani Mama mu dengan mengajak nya jalan-jalan ke luar kota atau ke luar negeri.. Tapi, sayang sekali Papa tak mempunyai waktu untuk hal itu apalagi uang yang sebanyak uang mu..!" Jawab Doni Wildan dengan menangis tersedu -sedu begitu Ray menghampirinya.
"Ouhhh...! " Kata Ray yang merasa bersalah atas dirinya yang terlalu sibuk dengan urusan kerja dan kehidupan pribadinya itu sehingga Ray tak bisa meluangkan waktu untuk mengajak Mama dan keluarga Mama Jenny menikmati waktu mereka dengan berwisata bersama dengannya untuk menjalani keakraban dan kebersamaan mereka sekeluarga.
"Sudahlah, Ray..Kau jangan merasa tak enak hati gitu karena Papa memahami mu yang sekarang sudah berrumah tangga dan memiliki kesibukan mu tersendiri bersama dengan Eve dan anak -anakmu yang masih kecil -kecil banget..!" Kata Doni Wildan dengan sikap seakan dirinya ini adalah Papa yang bijaksana dan pengertian luar biasa kepada Ray.
" Ah, ya Pa. Makasih banyak atas pengertian dari Papa barusan kepadaku..Tapi, Ray harap meski Mama sudah pergi ke Surga, kita masih satu keluarga yang saling menyayangi satu sama lain nya, jadi Ray harap Papa serta Kak Lukas enggak merasa sungkan kepada Ray, jika kalian ada masalah yang mengharuskan Ray memberikan bantuan apa pun juga akan Ray berikan dan juga lakukan dengan tulus hati..!" Kata Ray dengan sopan dan ramah serta hormat kepada Doni.
"Ahhhh..Ya, Ray...Makasih juga...Kamu memang seorang anak yang baik dan penyayang keluarga mu..! Papa sungguh beruntung memiliki kamu ini sebagai putra tiri Papa Doni Wildan dan saudara nya Lukas dan William Wildan...! " Kata Doni sambil menangis semakin keras di hadapan Ray yang merasa kasihan kepadanya telah berikan pelukan hangat untuknya.
William mengamati Papa nya yang pintar sekali bersandiwara di hadapan Ray yang di tipu oleh Papa nya itu dari tempat duduk nya yang berada di sisi seberang kanan peti jenazah Mama Jenny dengan perasaan mengkal sekali kepada Papa nya itu.
__ADS_1
Bersambung...!!