
Daun jendela terbuka untuk menyambut sejuknya angin di malam hari yang sangat pengab dan juga panas yang menyesakkan dada bagi siapapun di musim panas yang sangat panjang ini.Hal ini juga di rasakan oleh Regina Putri Bruno yang tangan nya menggenggam alat testpack dengan gemetar sekali.
"Aku hamil lagi..! Astaga,bagaimana caraku bisa menyampaikan kabar ini kepada Jeremi?" Pikiran Regina sudah berasumsi penolakan suaminya itu tentang kehamilan keduanya ini.
Keringat membasahi dahi dan sekujur tubuhnya di kala wanita muda usia dua puluh tiga tahun ini membaca tanda dua garis merah yang tertera di benda bentuk pipih di tangannya itu.
" Reg..Kamu sedang apa di pojok bikin Aku kaget aja tengah malam begini kamu berdiri di pojok di dekat kamar mandi yang lampunya agak sedikit remang-remang?" Tanya Jeremi yang melebarkan kedua mata memandangi dirinya yang tampaklah begitu persis bayangan transparan di tengah malam sampai Jeremi harus menyalakan lampu untuk menerangi mereka berdua agar Jeremi bisa melihat dengan jelas dirinya sedang berdiri di tepi kamar mandi.
" Ahmm..Aku..Aku habis buang air kecil,Jer.Maaf ya kalau Aku mengagetkan kamu..Mari kita balik ke kamar untuk lanjutkan tidur kita." Jawab Regina menggandeng lengan Jeremi sambil tangan kiri nya mematikan lampu ruangan dekat pintu kamar mandi,lalu Ia mengajakan Jeremi kembali ke arah kamar mereka.
Di tempat tidur, Regina sama sekali tak dapat tidur dengan nyenyak di karenakan pikirannya di dera rasa gelisah yang amat besar terhadap masalah yang baru saja datang kepadanya di kala dirinya merasa takut akan terulang kembali pengalaman yang sama untuk kedua kalinya.
" Apa yang harus ku lakukan untuk kehamilan ku yang kedua ini yang sama sekali tak aku inginkan di karenakan aku takut anak kedua ini akan sama seperti Bimo yakni cacat pada pita suaranya di karnakan tak ada urat kecil di kerongongan dalam lehernya?" Pikiran Regina sangat kalut sekali pada malam hari itu sampai Ia tak bisa tidur nyenyak.
__ADS_1
Di rumah sakit Siloam Internasional,Kota Tangerang,Indonesia.
Eve tersenyum manis menyambut kedua orang bayi kembarnya yang di antarkan oleh suster agar Ia bisa memberikan asi untuk petama kalinya itu pada kedua orang bayi kembarnya yang di taruh di kedua lengannya yang memeluk keduanya dengan erat dan kasih sayang.
" Eve,ini putra pertama kita yang bernama Richard Gilberto Xu atau nama panggilannya adalah Xiao Huan atau Huan Huan dan ini putri pertama kita yang bernama Renata Gilberto Xu atau nama kecil nya adalah Xiao Wen atau Wen Wen." Kata Ray di tepi tempat tidur memperkenalkan kedua orang bayi kembar mereka kepada Eve.
" Iya,Kak Ray...Wah nama yang bagus dan keren untuk mereka." Kata Eve yang menunduk untuk mencium kening kedua bayinya.
"Emm..Kenapa Aku tak suka dengan nama yang kau berikan kepada mereka?,Toh mereka berdua adalah anak -anakmu yang wajib dan berhak di berikan nama kepada mereka adalah kamu yang menjadi Papa mereka,Kak Ray? Aku sih sebagai Istri dan Mama mereka hanya menyetujui dan mengikuti mu saja." Jawab Eve begitu lembut dan penurut sekali kepada Ray yang semakin sayang dan cinta terhadap Eve.
" Eve,jangan lupa untuk minum sup ayam jahe mu untuk kamu cepat pulih dan bisa pulang ke rumah agar jauh lebih nyaman merawat anak -anakmu di bandingkan di rumah sakit." Kata Mama Jenny yang datang untuk menjenguk Eve dan kedua cucu kembarnya begitu Ia mendapatkan kabar Evelyn sudah melahirkan dari Ray yang menghubunginya melalui telepon di Wa.
" Iya,Ma..Makasih..Tapi,Eve gak mau pulang ke rumah Mama Jenny nanti Eve akan merepotkan Mama Jenny,maka Eve pikir lebih baik kalau Eve pulang ke rumah Mama Nabila karena di sana ada Bibi Sri,Bu Fatma dan Pak Alex juga kakak Emma yang akan membantu Eve merawat sikembar di masa nifas Eve selama empat puluh hari." Kata Eve halus menolak untuk menginap selama empat puluh hari di rumah Mama mertuanya itu.
__ADS_1
"Tetapi,Eve..Bukankah di rumah Mama Jenny..Kau bisa di rawat oleh Mama yang sudah seperti Ibu mu sendiri dan lagpula mereka cucu -cucunya Mama Jenny yang berhak untuk merawat mereka berdua di bandingkan Mama mu?," Ucap Papa Doni Wildan dengan tatapan matanya kepada Eve yang segera menengok kepada Ray agar Ray lah yang memutuskan untuk Eve.
"Eve dan anak-anak akan pulang ke rumah kami di Jakarta Utara.Mereka akan di rawat suster dan babysiter yang sudah aku persiapkan dengan baik untuk mereka." Kata Ray yang mengambil jalan tengah dan terbaik untuk Eve dan kedua orang bayi kembar mereka.
"Ah,ya seterah kau sajalah Ray toh kamu punya banyak uang yang mempermudahkanmu untuk menyediakan segala fasilitas dan pelayanan yang terbaik untuk Istri dan anak -anakmu..,Ya Papa sih cuma menyarankan yang menurut Papa paling enaknya saja sebagai orang tua mu." Kata Papa Doni Wildan mengangkat bahunya dengan wajah biasa saja kepada Ray.
"Makasih Pa atas saran yang baik untuk ku dan keluarga kecilku namun bisakah Papa gak pernah membahas tentang aku banyak uang dengan cara bicara Papa tadi kepadaku seakan Papa merasa Aku tidak sopan dan menghargai niat baik dari Papa yang bersedia untuk memberikan tempat tinggal sementara bagi Eve dan kedua anakku di rumah Papa?!" UCap Ray yang tersenyum kecil dan halus membalas sindiran manis dari Papa Doni Wildan terhadapnya.
Doni Wildan tak bisa membalas perkataan anak tirinya itu dikarenakan lengannya telah di tarik oleh Jenny untuk dia diam dan tak pernah lagi ikut campur urusan rumah tangga Ray dan Evelyn di hadapan Ray.
" Jangan membuat Ray tersinggung dengan kata -kata mu yang kau lontarkan secara halus untuk menyindir Eve dan keluarganya di hadapan Ray setelah apa yang pernah kau lakukan dahulu pada Delia..!Apakah kau mau Ray tahu dan marah lalu mengirimmu ke penjara nusakambangan yakni tempat kaum kriminal tingkat tinggi?!" Desis Jenny di telinganya sampai Ia melirik tajam pada Jenny dan ketika Ia melirik kembali kepada Ray yang sibuk mengurusi Eve yang menidurkan bayi -bayi kembar mereka terbersitlah rasa takut yang tiba-tiba datang kepadanya terhadap Ray yang bisa melakukan apa pun bila pria usia dua puluh enam tahun itu marah besar.
Bersambung...!!
__ADS_1