
" Wah, aku sangat senang melihatmu tersenyum bahagia seperti ini, Amelia. " Kata Irene Song dengan wajah bersahabat kepada Amelia Dansen.
" Sama-sama, Irene.Baiklah, aku pergi ke toko lain ya. " Kata Amelia Dansen yang merasa tak nyaman dengan kebisuan Edgar Purnomo yang bertemu dengannya di toko pakaian hamil yang sama dengan toko yang di kunjungi oleh pria itu dan istrinya.
" Ah, Amelia. Kamu ikut kami saja ke toko baju hamil merek ini agar kita bisa memakai baju hamil kembar. " Kata Irene Song mencegah Amelia Dansen pergi dengan melirik kepada suaminya yang berdiri diam di sampingnya.
Edgar yang merasa lengannya di senggol oleh Irene Song segera sadar dan berdiri di depan Amelia Dansen lalu berkata. " Amelia Dansen, kau dengar kata Irene barusan untuk mu beli baju hamil yang sama dengan baju hamil yang akan di beli oleh Irene. " Kata pria ini yang cepat -cepat membayarkan sejumlah pakaian hamil untuk Irene Song dan Amelia Dansen di toko yang sama.
Lalu, Edgar mengajak keduanya untuk makan malam bersama di restoran makanan Itali di salah satu dari mal ternama di Ibukota Seoul, Korea Selatan.
"Andai setiap hari seperti ini, maka hidupku akan bahagia dengan kehadiran kedua orang istriku yang cantik-cantik di depan ku. " Batin Edgar.
" Amelia, kapan-kapan kita ajak double date yuk dengan kamu mengajak suami mu untuk kencan bersama dengan kami berdua? " Ajak Irene Song dengan senyuman ramah kepada Amelia Dansen yang merasa tangannya berkeringat dingin di saat ini.
" Ah, ya Irene. Asalkan suamiku tidak sibuk dengan pekerjaannya di luar kota ya?! " Jawab Amelia Dansen tersenyum kepada Irene Song seraya melirik ke arah Edgar yang menundukkan wajahnya dengan malu sendiri.
Setelah itu, Edgar juga di minta tolong oleh Irene Song untuk mengantarkan Amelia Dansen pulang bersama dengan mereka agar Irene Song mengetahui dimana Amelia Dansen tinggal.
" Irene, tak perlu merepotkan suami kamu karena aku bisa pulang sendiri kok dengan taxi. " Kata Amelia Dansen segera menolak tawaran baik dari Irene Song kepadanya untuk menolong dirinya sendiri dan Edgar.
" Ahh, kamu gak perlu merasa sungkan untuk meminta bantuan kami, Amelia. Karena kita di sini sama-sama orang Indonesia yang tinggal di luar negeri yang berarti kita harus saling bantu -membantu satu sama lainnya. " Kata Irene Song dengan senyuman baik hatinya kepada Amelia Dansen yang berdebar jantungnya karena gadis ini merasa malu sendiri juga.
__ADS_1
" Iya, Irene. Tapi, aku tak bisa menerima tawaran baik mu itu untuk meminta suamimu untuk antarin aku pulang ke rumah ku bersama dengan mu karena hari sudah larut malam dan itu sangat menyusahkan kalian di tambah kamu ini sedang hamil yang mengharuskan kamu untuk cepat-cepat pulang dan beristirahat di rumah kalian setelah capek berbelanja di mal selama dua jam lebih. " Kata Amelia Dansen dengan nada halus menolak tawaran baik dari Irene Song.
" Irene, dia bilang dia bisa pulang sendiri ke rumahnya, jadi kau perlu memaksanya lagi. " Kata Edgar dengan cepat memotong perdebatan keduanya untuk Ia bisa terhindar dari bencana di dalam rumah tangganya dengan Irene Song.
" Nah, Irene. Kau sudah mendengar apa kata suamimu. " Kata Amelia Dansen dengan lirikan pedih kepada Edgar seraya menyetop taxi di pinggir jalan raya, lalu ia cepat -cepat masuk ke mobil taxi untuk menghindari turunnya airmata kekecewaannya terhadap Edgar pria yang di cintainya itu.
" Nyonya, anda ingin pergi ke mana?" Tanya supir taxi kepada Amelia Dansen yang duduk di kursi penumpang.
" Ke alamat ini saja, Pak. " Jawab Amelia Dansen yang memberikan alamat rumah temannya kepada supir taxi dengan memperlihatkan layar HP nya.
"Ah, ya baiklah, Nyonya. " Kata supir taxi yang segera meluncurkan mobilnya dengan cepat dan meninggalkan Edgar bersama dengan Irene Song di parkiran mobil di kawasan mal.
Edgar mengacuhkan Irene Song dengan masuk ke mobilnya dan memberi isyarat untuk Irene Song juga masuk ke dalam mobil, lalu mobil meluncur keluar dari kawasan mal dengan cepat sekali.
******
Jakarta, Indonesia.
Yudha berdiri di dinding depan kamar kedua orangtuanya dengan airmata kesedihan yang mengalir dari sepasang matanya. Ia merasa terluka hatinya mengetahui bahwa orangtuanya sudah mengajukan permohonan cerai ke pengadilan agama Jakarta Selatan karena baiik Papa maupun Mama nya saling bertentangan satu sama lainnya dalam prinsip-prinsip untuk menjalankan sebuah bisnis yang sementara dahulu di rintis oleh almarhum Kakeknya kepada Papa nya.
" Bilang saja kamu ingin tinggal bersama dengan berondong sewaan kamu itu' kan Erni? Ah, kamu mencari alasan dengan mengatakan bahwa aku adalah seorang suami yang pelit sama istrinya sendiri! " Kata Papa nya dengan nada keras kepada Mama nya.
__ADS_1
" Enak saja kamu ngomong, Sugiharto! Aku tak pernah main dengan berondong sewaan mana pun!Aku juga tak pernah minta uang sedikit pun kepada mu semenjak aku tahu keuangan mu di pabrik berkurang drastis karena kamu sendiri yang tak becus menjalankan pabrik warisan dari Papa mu..!" Bantah Mama nya dengan nada yang lebih jelasnya berteriak-teriak kepada Papa nya.
Papa nya dengan emosi memuncak tanpa sadar telah menampar pipi Mama nya hingga Mama nya tersungkur di tempat tidur dan menjerit kesakitan.
" Kau laki-laki pengecut yang bisanya memukul aku istrimu sendiri karena kesalahan dan juga kebodohan mu sendiri...! " Jeritan Mamanya.
" Kamu bilang apa barusan kepada ku, Erni? Ahh!" Teriak Papa nya yang sepertinya akan memukuli Mama nya. Jika, tak ada adiknya yang menjerit-jerit kepada Papa nya untuk tidak pukul Mama nya lagi.
" Papa, berhenti untuk memukuli Mama lagi! Ega mohon sama Papa dengan sangat...!! " Jeritan histeris Ega adiknya yang baru masuk usia lima belas tahun kepada Papa nya.
" Papa...! " Teriak Yudha langsung masuk ke dalam kamar orangtuanya.
" Aaaaahh..! " Teriak Papanya yang segera pergi dari kamar lalu terdengar suara deru mobil di luar rumah yang menandakan bahwa Papanya telah meninggalkan mereka semua pada malam hari itu juga.
" Mama..! " Ega memeluk Mama nya yang cuma bisa menangis ketakutan.
"Ega, sebaiknya kita pergi saja dari rumah ini pada malam ini juga. " Kata Mama nya yang tak pernah memedulikannya juga telah pergi dari rumahnya dengan membawa pergi adiknya juga.
" Tak pernah ada seorang pun di rumah ini yang memikirkan perasaan aku! Mereka semua pergi dari rumah tanpa menghiraukan aku! " Kata Yudha terpukul sekali hatinya itu.
Bersambung!
__ADS_1