
Perbincangan yang di antara Mama mertua nya dan Mama nya sendiri telah di dengarkan secara jelas oleh Irene yang sedang menyuap camilan ke mulutnya karena Ia sudah merasa kelaparan.
" Sis, gimana menurut mu kalau Irene ini aku carikan pasangan yang ideal untuknya?" Tanya Mama mertua Jeremi Song sambil menikmati camilan tahu sumedang dan minum es teh manis.
" Ya, boleh juga Sis. Asalkan orang yang akan di jodohkan ke Irene harus di lihat dahulu oleh Irene yang menilai cocok atau tidak cocoknya karena Irene yang menjalaninya..!" Jawab Mama nya Irene dengan sopan.
" Itu sih sudah pasti, Sis..! Kamu gausah cemas kalau Aku akan mencarikan cowok yang nggak sesuai dengan selera nya Irene..!" Kata Mama mertua Jeremi Song menyetujui pendapat dari Mama kandung Mama Jeremi.
Irene hanya mendengarkan percakapan tersebut dengan perasaan penuh kegalauan hatinya yang masih mengenangkan mantan kekasih yang telah memutuskannya begitu saja dan membuat dirinya begitu merana.
" Jo, kenapa kamu memutuskan ku begitu saja tanpa satu kesalahan apapun yang pernah aku lakukan kepadamu ?" Berkali -kali Irene terus -menerus mempertanyakannya di benaknya.
Jeremi masih sangat kehilangan istri dan anak nya yang membuat Jeremi begitu menderita kesepian dan kesedihan yang begitu mendalam sampai Ia berkali-kali menginginkan waktu bisa terulang kembali agar Ia bisa melindungi istri dan putranya itu dari musibah kebakaran yang terjadi di unit apartemennya yang berada di Kota Seoul, Korea Selatan.
" Andai waktu bisa di putar kembali ke hari itu di mana hari aku bisa melindungi Regina dan Bimo dari musibah kebakaran itu..! " Batin Jeremi ikut menangis.
*********
__ADS_1
Doni menarik lengan Hilda untuk di ajaknya ke tempat rahasia mereka untuk membahas satu masalah yang mengganjal di benak mereka yang tak bisa mereka ungkapkan di depan Lukas dan kedua orang cucu mereka.
" Hil...Kamu mau sampai kapan selalu hindari aku seakan -akan kamu tak mau berjumpa aku kekasihmu sendiri..?! " Tanya Doni dengan nada suara begitu tersiksa dengan sikap Hilda yang dingin kepadanya.
" Don..Cukup..! Ku minta kita harus akhiri semua ini sebelum menambah beban Lukas dan anak -anak mu yang lain jika kita masih meneruskan hubungan kita berdua ini..! " Kata Hilda yang tak mau menatap Doni.
" Ohya ? Begitukah maksud mu? Aku tak yakin kamu menginginkan kita putus hubungan cinta kita berdua yang sudah mendalam satu sama lainnya..?" Tanya Doni yang merengkuh Hilda dengan erat.
" Doni..! Aku tak mau meneruskan hubungan kita yang salah..! " Kata Hilda yang berusaha keras untuk memberontak dari pelukan dan sentuhan Doni yang tak mau mendengarkannya.
" Tapi, Aku masih mau meneruskan hubungan kita yang menurut ku sama tidak salah..! Karena kau janda dan aku duda..! Jadi, kita bebas untuk meneruskan hubungan asmara kita yang sempat tertunda di masa kita Sma dahulu yakni di masa kita muda dahulu. Semua itu karena kamu yang memilih menikahi cowok pilihan Babe mu itu..! " Kata Doni yang melancarkan aksinya itu kepada Hilda yang di baringkannya di ranjang di kamar tidurnya sendiri.
" Hil..Kau menolak di mulutmu tapi tubuhmu ini mengharapkan ku sekali...! " Kata Doni yang kini menjilati rongga mulut dan tubuh Hilda yang masih seksi dan indah seperti gadis muda saja.
Mereka berdua kembali melakukan hubungan intim untuk kedua kalinya sampai larut malam hari tanpa sepengetahuan Lukas yang tinggal satu rumah bersama dengan mereka dan putri serta putra nya Lukas yakni Marisa Zevanya dan Edo Wildan.
Sementara itu di perumnas 1 kota Tangerang yang menjadi tempat tinggal William Wildan dan kekasihnya yang bernama Sarah sedang sibuk mengurusi persiapan hari pernikahan mereka yang di langsungkan pada bulan depan setelah hari ke empat puluh sembilan meninggalnya Mama Jenny.
__ADS_1
" Sar..Kamu sudah mempersiapkan souvenir kita atau belum ?" Tanya William sambil menaruh label nama di kartu- kartu undangan pernikahan mereka kepada Sarah.
" Sudah, Aku malah sudah menaruh souvenir -souvenir itu di kardus dalam kamar kedua di dekat dapur..!" Jawab Sarah yang terlihat baru sajs selesai menjemur pakaian di lantai atas kepada William.
" Ok..Yaudah kamu sebaiknya istirahat saja dan makan siang karena ku lihat kamu dari pagi sekali sudah sibuk banget mondar -mandir agar urusan pekerjaan rumah tangga agar kamu tak jatuh sakit di hari pernikahan kita nanti..! " Kata William mengangkat wajahnya untuk menatap Sarah sambil tangannya yang memegang pulpen di arahkan kepada Sarah yang berdiri di batas pintu dapur dan ruang makan.
" Ah , ya Sayangku..Kau jangan terlalu khawatir gitu dong karena Aku paling tahu menjaga diri ku tentang kesehatanku sendiri...! " Jawab Sarah dengan senyuman manis nya kepada William.
" Aduduh cantiknya kesayanganku kalau senyum semanis ini dan menggodaku untuk memakan mu setiap saat...!" Kata William yang berjalan mendekati Sarah dan memberikan ciuman di bibir Sarah.
" Kau belum dapat izin untuk memakanku ya sebelum Aku sah menjadi istrimu di ikatan janji dan sumpah suci mu di hadapan Sang Buddha di Vihara Padumuttara tempat kita melangsungkan pemberkatan pernikahan..!" Kata Sarah dengan halus namun tegas menolak keinginan William yang ingin berhubungan intim dengannya itu.
" Aku tahu betapa kau begitu taat pada agama mu itu dan memegang teguh prinsip mu yang membuatku semakin mengagumi dan mencintai mu, Sayang." Kata William yang menerima sikap dan prinsip teguh Sarah.
" Sayang, apakah Kamu sudah mempelajari dan menghafal serta memahami lima sila ajaran Sang Buddha yang kau dengar di kebaktian di Vihara Padumuttara selama berapa kali kamu ikut Aku pergi Ibadah dari agamaku? " Tanya Sarah begitu lembut kepada William kekasihnya itu seraya melepaskan dirinya dari pelukan Sang kekasih yang tak lama lagi akan menjadi calon suaminya itu.
" Oh, sudah dong..Buktinya Aku dapat mengerti mu dan juga tahu hal yang baik atau hal yang taj baik yang harus ku cerna dengan benar sebelum aku bertindak..!" Jawab William lembut kepada Sarah sembari kembali duduk di sofa panjang dan menghadapi meja tamu yang berserakan kerta label, plastik dan kartu -kartu undangan di dalam kotak kardus.
__ADS_1
Sarah memberinya senyuman bangga dengan sikap jantan nya itu lalu Sarah berbalik untuk menuju ke ruang makan untuk makan siang menu nasi, sayur asem , ikan teri kacang cabe dan emping serta sambal terasi yang sudah di tata rapi di piring masing -masing di meja makan dan siap di santapnya itu dengan lahap.
Bersambung..!!