
Raymond membeku di sepanjang acara keluarga besar dari Mama Jenny hingga acara itu berakhir dan akhirnya Ray dan Delia bisa kembali ke rumah nomor 208 dengan tenang dan nyaman.
" Del , rapi -rapilah dahulu lalu tidur karena esok pagi Kakak akan mengantarkan kamu ke sekolah mu yang baru." Kata Ray kepada Delia sesampai mereka berdua di depan rumah nomor 208.
Pintu gerbang di buka oleh Eve yang mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumahnya dari ruang tv, kala itu Eve belum bisa tidur karena Eve sisngnya kebanyakan tidur.
" Hai , Eve trims ya sudah bukain pintu untuk Kak Ray dan Delia." Kata Ray tersenyum manis kepada Eve.
" Masuklah." Kata Eve seraya memberikan kunci gembok gerbang kepada Ray yang terakhir masuk ke rumah.
" Eve , tunggu sebentar.." Kata Ray menahan Eve di teras.
" Apa ? "
" Diam di situ." Kata Ray melangkah ke depan Eve dan memandangi Eve dengan lekat -lekat.
" Apa sih ? " Tanya Eve mengerutkan alisnya.
" Ada sesuatu di sudut kiri bibirmu, Eve." Jawab Ray mengulurkan jemarinya menyentuh bibir Eve yang lembut.
" Ada apa di bibir ku ? " Tanya Eve polos.
" Tadi ada sisa chiki taro di bibirmu yang sudah ku bersihkan." Jawab Ray nada ringan kepada Eve.
Eve pun percaya dengan ucapan Ray itu , lalu Eve berjalan masuk ke dalam rumah menuju ke kamar Eve yang berada di sebelah kamar tidur Tante Nabila.
__ADS_1
Ray mengikuti di belakang dan melihat isi dalam kamar Eve dari puncak kepala gadis itu lalu Ray tersenyum senang dapat mengetahui isi dalam kamar gadis pujaan hatinya itu.
Kemudian Ray naik lantai atas dan merapikan diri sebelum Ray berbaring di tempat tidur di kamar khusus untuknya. Di dalam kamar, Ray mengingat kembali saat Ia menyentuh bibir lembut Evelyn melalui jemarinya.
" Aih , bisa Gue bayangkan betapa manisnya dan lembut bibir Eve dari jari Gue tadi sentuh bibir Eve "Kata Ray tersenyum sendiri.
Pagi hari berikutnya, Ray mendatangi Evelyn di teras sebelum Ray pergi kerja dan mengantarkan Delia ke sekolah. Ray terpesona dengan seulas senyuman indah Eve di pagi hari itu yang menyapa dirinya.
" Hai met pagi Kak Ray." Sapa Eve riang.
" Hai dan met pagi juga untuk mu , Eve." Sapa Ray tersenyum di kulum.
" Kau kenapa Ray ? " Tanya Tante Nabila kepada Ray dengan raut wajah heran melihat Ray malu -malu gitu.
" Engga napa -napa kok Tante." Jawab Ray cepat kepada Tante Nabila seraya membantu Delia untuk pakai sepatu sekolah.
" Iya , Ma. Hari ini Eve mau pergi lamar kerja ke tempat kerja nya Thomas. Tuh , Thomas nya udah datang untuk jemput Eve agar kami bisa pergi bersama -sama ke tempat kerja nya." Jawab Eve kepada Tante Nabila sambil menunjuk kepada Thomas cowok rumah nomor 201 yang sudah menunggu Eve di pintu gerbang bersama dengan mobil merek Xenia silver.
" Oh ,baiklah Eve. Hati -hatilah di jalan dan semoga sukses ya lamaran kerjamu." Kata Tante Nabila kepada Eve yang menyalami tangan Tante Nabila untuk berpamitan.
" Del..Ayo cepat kita akan terlambat untuk kamu bisa sampai di sekolahmu." Kata Ray pada Delia dengan nada tergesa -gesa untuk mengusir rasa tak nyaman hatinya melihat Eve dan Thomas yang berpamitan kepada Tante Nabila.
" Kak Ray ,kok gak ucapin semoga sukses untuk Eve ? " Tanya Eve yang merasa Ray mengacuhkan dirinya.
" Oh , moga sukses ya Eve untuk lamaran kerja dan semoga kamu berhasil di terima kerja di tempat kerja yang kamu inginkan." Jawab Ray yang ceria kembali di tanya oleh Eve.
__ADS_1
" Oke , Kak Ray. Makasih dan tunggu kabar baik dari Eve ya sore nanti di rumah." Kata Eve yang mendekati Ray di depan sepeda motor Ray.
" Iya, Eve. Kakak tunggu kabar baik darimu di rumah sore nanti." Kata Ray senang Eve menilai dirinya lebih penting daripada Thomas untuk hal -hal lain yang berhubungan dengan pribadi Eve di rumah nomor 208.
" Kalo gitu , dah Kak Ray . Eve pergi dulu ,ya? "Eve menyalami Ray untuk meminta izin pamit kepada Ray.
Ray menanggapi dengan cepat bahkan Ray tak sungkan memberikan kecupan di dahi Eve untuk doa nya agar Eve selalu di berikan keselamatan dan kebahagiaan di sepanjang harinya Eve.
Eve terdiam sejenak merasakan sentuhan pada Dahi nya dari Ray. Gadis ini mengangkat tatapan matanya untuk melihat sepasang bola mata Ray yang menatapnya begitu dalam.
" Ehh..Kenapa Kak Ray memandang ku seperti itu sih ? " Tanya Eve di dalam hatinya namun gadis ini mengabaikan rasa aneh di hatinya saat Eve dapat merasakan getaran yang tak masuk akal melalui sorotan mata Ray untuknya.
Tante Nabila dan Ziko saling pandang melihat hal ini. Mereka berdua apalagi Tante Nabila yang bisa menemukan rasa sayang yang besar terpancar dari sepasang mata Ray kepada Eve.
" Sepertinya Ray ada hati dengan Eve ," Batin Tante Nabila yang di suarakan oleh Ziko dengan polos.
" Wahh Kak Ray rupanya jatuh cinta kepada Kak Eve..!" Seru Ziko blak -blakan sampai Ray merah dan cepat mengajak Delia naik ke motornya lalu menjalankan motornya keluar dari rumah nomor 208.
" Emmm..Cowok sok itu rupanya menyukai Eve ! Uh , Aku gak akan biarin Eve jatuh ke tangannya..! Eve pokoknya harus jadi pacar ku dan milik ku agar Mama dan Papa ku tahu pilihan hatiku ialah gadis yang sangat sederhana dan baik hati juga mengagumkan yang tiada ada lawannya di mana pun juga." Batin Thomas , pria kacamata ini juga ada rasa pada Eve tanpa di ketahui oleh Eve dan keluarganya Eve.
Evelyn yang tak merasa aneh dengan seruan Ziko yang mengatakan Ray jatuh cinta kepadanya itu menanggapi dengan santai dan wajahnya datar saja.
" Kak Ray jatuh cinta kepadaku karena Ia nilai Aku ingin adik nya saja bukan seperti cowok yang suka dan jatuh cinta kepada cewek. Sebab, Aku ini cuma gadis biasa yang tahu diri dan gak mungkin cowok seperti Kak Ray bisa jatuh cinta kepadaku. Itu 'kan cuma ada di novel atau komik." Kata Eve nada biasa saja seraya masuk ke mobil Xenia nya Thomas.
Setelah mobil Xenia menghilang dari depan pintu gerbang rumah nomor 208. Tante Nabila dan Ziko saling bertukar pandang satu sama lainnya dan mereka bisa mencerna ucapan Eve mengenai rasa suka Ray terhadap Eve nilai Eve sebagai rasa suka seorang Kakak laki -laki terhadap adik perempuan.
__ADS_1
Bersambung...!!