
Benny berdiri dengan wajah merah padam karena emosi yang amat besar terhadap Sally yang sudah melempar piring isi nasi kuning ke arah Mia yang mengakibatkan wanita itu nyaris terluka pada kulit wajahnya yang nyaris terkena pecahan piring yang isinya berhamburan ke rambut Mia Renata sampai ke lantai di ruang makan.
" Sally, Kau sungguh keterlaluan ya jadi orang?!" Bentak Benny yang sudah mengangkat tangannya untuk menampar wajah Sally.
Tetapi, tangan Benny di tangan oleh Mia Renata yang menatapnya untuk mengatakan dirinya tidak boleh memukul Sally meskipun dirinya semarah apapun jua.
" Aaahhh..!! " Teriak Benny yang meluapkan emosi nya dengan berteriak sekencang mungkin lalu Ia menggendong Susan di tangan kiri dan Mia di tangan kanan untuk di bawa ke kamar untuk Ia bisa memeriksa keduanya tanpa mempedulikan Sally yang meraung -raung di ruang makan.
" Huahuhuhuhu...Benny kamu sunggut tidak ada hati nurani sama sekali kepadaku..!" Raung Sally menangis pilu.
Benny memperhatikan setiap inci kulit Susan yang ternyata sama sekali tidak ada luka sedikitpun. Ia pun menatap Mia untuk memeriksa keadaan fisik wanita itu tetapi Mia menolak untuk di periksa oleh nya dengan mengambil salep luka yang ada di genggaman tangannya itu.
" Aku bisa sendiri, Kak Ben.Sebaiknya Kamu pergi kerja sekarang juga dengan tak lupa kamu antar Susan ke sekolahnya,ya?!" Ucap Mia Renata yang menatapnya dengan penuh kesabaran.
" Ahmm..Ya, Mia." Jawab Benny menghembuskan napas begitu berat lalu menggendong Susan yang kemudian di ajaknya anak itu keluar dari kamar ke garasi mobil Avanza warna silvernya yang ada di parkiran depan beranda rumah itu Lestari nomor 89.
Mobil sudah terdengar keluar secara mulus dari beranda rumah Lestari nomor 89 menuju ke arah keluar dari perumahan tersebut dan meninggalkan Sally yang menangis pilu di ruang makan dan Mia Renata yang merapikan ,membersihkan dan juga mengobati luka goresan di lengannya dalam diam membisu di dalam rumah sederhana itu.
Perumahan Citra Garden, Jakarta Barat.
Sepada motor merek Honda Beat warna biru tua memasuki perumahan tersebut dan berhenti di depan rumah yang sangat sederhana sekali di kawasan perumahan tersebut dan rumah itu yang ada tulisannya,yakni ' Rumah Flamboyan Kuning nomor 7'.
__ADS_1
" Istriku, bagaimana menurut kamu pakaian yang aku belikan tadi untuk mu di pasar pagi?" Tanya David kepada Agnes Cinora Wang yang membuka helm nya dan helm yang di pakai putra tirinya itu yang bernama Yogi Yudistiro.
"Hmm cocok banget untuk ku Sayang.Aku sangat menyukainya,"Jawab Agnes Cinora Wang dengan senyum manisnya kepada David Yudistiro yang masih duduk di motornya.
" Wah,makasih Sayang jika kamu menyukai segala hadiah yang ku berikan kepadamu.Baiklah ,aku berangkat kerja dahulu ya sekarang." Kata David Yudistiro mengecup bibir Agnes Cinora Wang dan mengecup pipi Yogi Yudistiro sebelum pria muda itu menjalankan motornya meninggalkan rumah itu menuju keluar dari perumahan Citra Garden.
" Yogi,masuklah ke rumah lalu makan siang dan ganti seragam mu dengan pakaian rumah mu lalu tidur siang di kamar mu.Karena Mama mau pergi kerja." Kata Agnes Cinora Wang yang memberikan perintah kepada Yogi Yudistiro yang mengangguk patuh kepadanya.
" Iya, Mama." Jawab Yogi Yudistiro yang jemarinya di raih jemarinya Mama Regina Wulandari Lin agar masuk ke rumah itu.
" Nes,jangan pulang terlalu malam ya?" Pesan dari Mama Regina Wulandari Lin menengok kepada Agnes Cinora Wang yang berdiri di belakangnya di luar pintu pagar rumahnya itu.
Agnes Cinora Wang berjalan kaki dengan pakai payung menuju keluar dari gerbang perumahan nya tinggal lalu melihat sebuah mobil mewah yang terparkir di dekat patung kuda di depan pintu kecil dari gerbang perumahan Citra Garden.
" Hai, Johan maaf ya Aku terlambat menemuimu. Apakah kamu sudah menunggu ku begitu lama di mobil bagus mu ini?," Sapa Agnes Cinora Wang sambil membuka pintu mobil itu dan masuk lalu duduk di kursi samping kiri seorang pemuda usia dua puluh delapan tahun yang tampaknya adalah seorang yang memiliki aura seorang bos muda.
"Emm,ya enggak apa -apa kok.Aku mengerti kamu dengan baik,Nes.Kamu itu seorang wanita yang sibuk dengan urusan rumahmu yang sangatlah menyita waktu mu." Kata Johan pemuda tampan itu yang tangannya memegang leher Agnes dan mencium lembut leher Agnes.
" Aihh, kau sungguh tak sabar sekali sih..Kita bisa kok melepas rindu di tempat yang paling menurut mu oke punya." Kata Agnes Cinora Wang dengan ******* halusnya karena Johan mencium bibir dan menjelajahi rongga mulutnya dengan penuh selera yang besar.
"Aha,baiklah Sayang." Kata Johan yang mengigit lidah Agnes sebelum menghadap ke setir mobil mewahnya lalu meluncur ke jalan raya.
__ADS_1
Di Perumahan Moderland, Kota Tangerang.
Sosok wanita yang sangat cantik menggandeng tangan balita perempuan usia lima tahun yang amat cantik dan berrambut ikal warna coklat dari sebuah mobil angkutan umum yang berhenti di depan Mal yang berada di kawasan perumahan tersebut.
" Mama,Bolehkah Marisa beli jajanan itu?" Pinta anak perempuan balita usia lima tahun itu kepada wanita cantik itu.
Wanita itu melihat ke arah penjual gulali di depan mal yang di tunjuk oleh anak perempuan balita usia lima tahun itu kepadanya sebelum wanita itu menjawab anak itu.
"Iya,Sayang tentu saja kamu boleh membeli jajan gulali itu tapi kamu gak boleh banyak-banyak beli jajanannya supaya gigimu gak sakit lagi." Jawab Jessica Imanuella Wang dengan penuh kasih sayang kepada Marisa Zevanya Wildan putrinya dengan Lukas Wildan.
"Iya, Mama sayang makasih banyak sudah kasih izin Marisa jajan gulali."Kata Marisa Zevanya Wildan tertawa-tawa riang sambil menikmati gulalinya yang di belikan oleh Mamanya itu.
Di depan rumah yang bercat putih dengan tulisan 'Rumah Wildan Junior' nomor 24.Mereka berdua berjumpa dengan seorang wanita paruh baya yang mendorong kereta bayi laki -laki usia tiga bulan lebih dari dalam rumah itu untuk membuka pintu gerbang bagi keduanya.
" Omaa...!" Seru Marisa Zevanya Wildan dengan suara riang gembira kepada wanita paruh baya itu.
" Ica,cucu Oma sayang.Gimana sekolahmu hari ini di sekolahmu?Baikkah?" Sapa Mama Hilda Ibunda kandungnya Jessica Imanuella Wang begitu halus dan lembut kepada Marisa Zevanya Wildan cucu pertamanya itu.
"Baik ,Oma.Lihat nilai sekolahnya Ica nilainya A semua dan gak ada yang c untuk hari ini." Jawab Marisa Zevanya Wildan dengan menunjukkan buku -buku sekolah TK nya kepada Hilda.
Bersambung..!!
__ADS_1