
Semilir angin yang menggemuruh dan menerpa berbagai daun dan bunga di seluruh pohon yang berada di sekitar Ibukota Seoul, Korea Selatan. Dimana Jeremi Song harus menyaksikan jasad Istri dan putranya harus di kremasi untuk Jeremi bisa membawa mereka pulang ke Indonesia di dalam kemasan guci abu jenazah.
"Jer..Tabah ya..? Aku yakin kamu pasti bisa dan kuat melewati segala cobaan yang berat sekali kau terima di hari ulang tahunmu yang ke dua puluh tujuh tahun di tahun ini." Kata Eugene yang menemaninya di ruang krematorium rumah duka yang masih di dalam satu kawasan dengan area rumah sakit Asan Medical Center.
"Iya, Eugene terimakasih.." Jawab Jeremi Song tanpa mengalihkan perhatiannya terhadap abu jenazah istri dan putranya yang di masukkan ke dalam guci jenazah oleh pihak krematorium.
Jeremi awalnya sanggup mengumpulkan abu jenazah istri dan putranya dengan tangannya sendiri tetapi lambat laun dirinya tumpang dan pingsan karena sesak napas di sebabkan rasa sedih yang tak tertahankan yang menderanya.
Sehingga tugas itu di gantikan oleh pihak rumah duka dan Ia hanya menerima dua buah guci yang berisi abu jenazah istri dan putranya yang amat di cintainya itu.
" Jer, apa rencana mu setelah memulangkan istri dan putramu ke Indonesia ? Apakah kamu akan tetap kembali bekerja dan tinggal di Seoul atau kau akan mencari pekerjaan lain dan tinggal di Indonesia?" Tanya Gunawan teman kerjanya.
"Aku tetap bekerja dan tinggal di Seoul sebab Aku masih punya beberapa kontrak kerja di sini yang harus ku kerjakan dengan sebaik mungkin dan hal itu akan membuatku harus menetap di Seoul selama lima atau sepuluh tahun," Jawab Jeremi Song kepada Gunawan yang merupakan teman kerja di Seoul, Korea Selatan.
" Baiklah, Aku akan mempersiapkan mes untuk mu tinggal di perusahaan Hyundai tempat kita kerja." Kata Gunawan menepuk bahunya untuk dirinya tetap kuat menjalani kehidupan yang penuh misteri ilahi.
__ADS_1
"Ya, Terimakasih banyak Gun. Kamu memang teman terbaikku banget." Kata Jeremi tersenyum kepada Gunawan yang menemaninya berjalan keluar dari rumah duka.
Eugene mengikuti mereka dari belakang seraya mengedarkan pandangan kedua matanya yang menemukan sosok pria yang menarik perhatian nya dan pria itu baru saja berjalan menuju ke rumah sakit Asan Medical Center dengan aura dokter yang gagah perkasa.
"Astaga, gantengnya Dokter Edgar Pramono Kusuma." Gumam Eugene yang mengingat nama di label nama pada saku baju seragam Dokter muda tampan itu.
" Kakak.....!" Seruan seorang gadis cantik telah menyadarkannya ketika gadis itu menghampiri Jeremi Song begitu mereka tiba di parkiran.
"Irene, darimana saja kamu seharian ini? " Tanya Jeremi Song dengan nada lirih kepada Irene.
" Aku habis pergi bersama dengan teman kuliah ku, Kak..Maaf ya Aku gak tahu kalau Kakak...! Hik ah..." Jawab Irene yang tak sanggup menahan tangisnya merasa kasihan kepada Kakaknya.
Dari balik kaca jendela pintu rumah sakit Asan Medical Center, Edgar memperhatikan Irene dan Jeremi Song yang terlihat begitu akrab sekali dan membuat dirinya di hari itu sangat lesu dan tak bertenaga untuk bekerja.
"Ahh, kau baru saja bebas dari Joshua Kim..Tapi sekarang kau sudah menemukan cowok lain begitu cepat sekali dan cowok itu mantan pasien ku sendiri yang baru saja menyandang predikat gelar duda keren yang supertajir yang tentunya lebih menarik bagimu di bandingkan denganku yang hanya seorang Dokter kampung dan miskin bila di bandingkan dengan duda baru itu." Kata Edgar dengan menahan isak tangisnya sampai seorang Dokter wanita yang sedang membawa map dari arah pintu ruangan klinik Anak merasa terheran-heran melihatnya menangis sendirian di depan pintu.
__ADS_1
"Dokter Edgar, betapa hati mu begitu lembut bak tahu acar ketimun sehingga untuk hal kecil saja kau menangis sendirian di sini." Kata Dokter itu menggeleng kepala dengan raut wajah sangat merasa simpati terhadapnya.
"Dokter Song...Anda rupanya ada disini..! Aku mencarimu loh..!" Kata seorang perawat cantik yang menghampiri Dokter Spesialis Anak yang memandangi Edgar dari pintu ruangan klinik nya itu.
" Kimberly , hussstt...Jangan berisik..Mari kita pergi secara diam -diam tanpa di dengar oleh Dokter Edgar..!" Kata Dokter Song yang memberi kode dengan telapak tangannya ke arah perawat cantik bernama Kimberly yang segera menutup mulutnya dengan rapat sambil melirik ke arah Edgar yang menengok tepat kepada mereka.
".." Edgar mengerutkan keningnya menatap lurus kepada Dokter Song dan Perawat Kimberly lalu berjalan cepat-cepat menuju ke ruangan kerja nya yakni Spesialis Umum dengan menggerutu pelan karena kesal dengan nama Song.
"Song lagi , Song lagi..Kenapa hari ini ada banyak banget orang pakai nama Song mending lagu nya enak tapi ini lagu nya nyebelinnnn...!" Gerutu Edgar sambil membuka map kerjanya dengan mengendus sebal pada layar laptopnya.
"Hai...Kenapa Lo kayak Siluman Kerbau Gu Mao Hong di Serial Kera Sakti Sun Go Kong yang mengeluarkan asap dari kedua lubang hidung mu , Edi Salim..?" Tanya Ray melalui video call di Wa nya melalui layar laptopnya sehingga wajah Ray tampak jelas dan besar di sana.
"Dan , Elo kayak Si Sun Go Kong nya yang pagi ini kurang asupan gizi ceramah Biksu Tong mu di rumah mu..!" Balas Edgar mengeram kesal pada godaan Ray sahabatnya itu.
"Lahhhhh, Elo mah gak enak banget deh hari ini tampang Elo..! Gue lagi bete tahu gak sih Elo? Ah malas ngomong sama Elo..! " Kata Ray malah mengomelin Edgar dan menutup video call tanpa say goodbye kepada Edgar yang menjerit karena pesan wa di hp nya itu dari Ray adalah sesuatu yang membuatnya segera menelepon balik Ray yang berada di Jakarta, Indonesia.
__ADS_1
" Ei...Jangan ngambek ya nanti Gue salamin ke Lisa Blackpink tentang Elo yang ngefans berat sama Doi..Tapi, tolong jangan Elo cabut janji Elo mau bantu Gue bisa pedekate ke Irene sepupu Elo itu dan jangan bilang kalau Elo batalin niat Elo untuk menyumbangin dana buat bangsal di rumah sakit Cinta Kasih Tsu Chi yang pernah Elo janjikan kepada Gue beberapa hari yang lalu..!" Kata Edgar dengan nada membujuk kepada Ray.
Bersambung..!!