
Akhirnya Nayla tak bisa menahan suara ringisannya.
“Aaauuuw..., mas...uuhhh..,mas,” terpaksa Nayla memanggil Orion. Orion merasa suara tak asing memanggil namanya dengan suara kesakitan. Dan membuka matanya dan mengedarkan pandangan. Betapa terkejutnya Orion melihat Nayla yang duduk di sofa meringis kesakitan dengan peluh membasahi wajahnya. Mengelus-elus perut besarnya. Orion dengan cepat menghampiri Nayla.
“Sayang apa kamu sudah merasakan kontraksi?”
“Entahlah mas ini kontraksi atau apa, tapi bawah perutku ngilu dan perutku sangat mengeras.” Nayla yang baru pertama kali akan melahirkan tidak tahu rasa yang ia alami apa
Orion mencoba memberi ketenangan dengan mengelus punggung dan pinggang Nayla. Dan berniat beranjak mengambil gawai di nakas. Namun Nayla mencekal lengan Orion.
“Mau kemana mas?” Nayla merasa ketakutan jika Orion pergi darinya
“Mas mau bawa hape dahulu. Mas akan hubungi Dirga.”
Naylapun mengangguk mengizinkan Orion
“Ga bawa bidan di lingkunag sini yang aku pinta kemarin dan bawa helikopter untuk ke sini sekarang.” Sebelum makan malam Orion memerintahkan Dirga mencari bidan yang ada dilingkungan tersebut kalau-kalau ada hal urgent terjadi. Dan feeling Orion benar.
Dirga sudah menempatkan sang bidan di kamar lain dari semalam untuk mengantisipasi hal tidak diinginkan. Lima menit sang bidan dipersilahkan masuk oleh Orion.
“Tolong periksa keadaan istri saya. Apa sudah mengalami bukaan? Atau belum?”
“Baik tuan, bisakah bantu saya membaringkan nyonya di ranjang?”
Orion pun menggendong Nayla ala bridal ke ranjang mereka. Sang bidan yang bernama ibu Endah menyingkap dress tidur Nayla mengecek bukaan di bagian ******** Nayla.
“Masih belum ada bukaan tuan, ini sepertinya hanya kontraksi.”
“Huuh..uugh..., apa rasa ngilu ini wajar bu? Peruta dan payudara saya terasa mengencang.”
“Ini wajar nyonya, memang sepertinya anda akan melahirkan namun proses pembukaan belum berlangsung.”
“Apakah jika saya membawa Nayla dengan helikopter sekarang ke kota tidak masalah untuk kandungannya.”
“Itu lebih baik tuan, dari sentuhan saat saya memeriksanya kandungan nyonya apakah bayinya kembar?”
__ADS_1
“Bayi kami memang kembar bu,”
“Alangkah baiknya melahirkan di rumah sakit fasilitasnya cukup memadai jika ada hal tidak diinginkan terjadi. Kandungan nyonya juga cukup kuat.”
“Apa maksud anda jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi? Bukankah kandungan istri saya kuat?” Rahang Orion mengeras berkata dengan tegas datar dingin dan mengintimidasi. Sang bidan merasa ketakutan dengan tatapan Orion.
“Mas, ibu bidan hanya memisalkan. Kandungan saya baik-baik saja kan bu.” Nayla mengelus lengan kekar Orion untuk tidak emosi
“I..ya tuan maksud saya semisal. Kandungan nyonya baik-baik saja, tidak ada yang harus dikhawatirkan.”
“Syukurlah,”
Orion mengantar sang bidan keluar ointu kamar, sebelum kembali ke dalam Orion meminta Dirga menyiapkan mobil untuk dirinya dan Nayla ke lokasi helikopter turun.
“Sayang ayo mas bantu kamu bersiap kita akan ke kota sekarang menggunakan heli.”
“Iya mas, bisa bantu bawa cardigan dan hijabku di sana.” Orion pun membawakannya Nayla menggunakan dress tidur tanpa lengan ditutupi oleh cardigannya dengan hijab senada
“Mas aku bisa jalan sendiri, aku masih kuat.” Nayla meminta Orion menurunkannya dari gendongan ala bridal.
“Kamu harus beristirahat sebelum sampai di rumah sakit. Simpan energimu untuk melahirkan anak-anak kita sayang. Bukankah kamu mau melahirkan normal.”
Setelah di dalam helikopter Nayla merasakan kontraksi lagi. “Aaauuw..., Uuugh..., Sakit mas..,” Nayla menyentuh bagian bawah perutnya tangan satunya lagi menarik lengan kemeja Orion untuk menyalurkan rasa sakitnya. Orion pun menghadap Nayla, mengalungkan kedua tangan Nayla di lehernya. Kedua tangan Orion memijit lembut pinggang belakang Nayla.
Orion sendiri tidak tega melihat Nayla kesakitan, namun dia tak bisa apa-apa. Ada ketakutan dalam hati Orion melihat Nayla seperti ini. Namun Orion mencoba menenangkan dan mengendalikan diri karena harus menenangkan kepanikan dan ketakutan Nayla juga.
“Mas aku takut,”
“Apa yang kamu takutkan sayang.”
“Entahlah mas,” ucap Nayla dengan mengatur napasnya. Ketakutan tak beralasan Nayla Orion jadikan kesempatan.
“Sayang kamu melahirkan caesar saja ya?” Bujuk Orion karena dia merasa takut Nayla tak sanggup melahirkan kedua bayinya dengan normal, cukup rasa sakit sebelum pembukaan Nayla rasakan membuat Orion merasakan kesakitan sesak di ulu hatinya. Ini di tambah harus melahirkan dengan tenaga ekstra untuk dua bayi sekaligus
“Enggak mas aku bisa, aku kuat mas.”
__ADS_1
“Baiklah jika itu mau kamu. Tapi berjanjilah kamu baik-baik saja.”
“Insya allah mas. Uuugh...huuh..,” Nayla mengatur napas lagi untuk mengurangi rasa sakit Orion mengelus perut kencang Nayla. Mengecup kening, mata, hidung, pipi dan bibir Nayla berulang untuk mengalihkan rasa sakit Nayla.
Helikopter sampai di puncak gedung rumah sakit yang dituju. Semua medis yang akan merawat Nayla sudah berada di sana dengan ranjang pasien. Nayla langsung digendong ala bridal ke ranjang tersedia dibawa melalui lift ke ruang persalinan.
Selama perjalanan menuju ruang persalinan Orion tidak melepas genggaman tangannya. Sungguh ini pengalaman pertama untuk Orion menemani wanita yang dicintainya melahirkan karena dahulu saat Belinda melahirkan Arga dia tidak berada di Indonesia. Karena Orion tidak mau melakukan kesalahan kedua kalinya saat mulai memasuki bulan ke sembilan Orion benar-benar bekerja dari rumah itupun hanya 1-2 jam. Sisanya ia menemani setiap aktifitas Nayla. Mulai dari pagi berjalan – jalan ke taman hingga kegiatan dapur. Orion menempeli Nayla selalu.
Setelah memasuki ruang persalinan dokter Elisa mengecek bukaan Nayla. “Masih bukaan dua tuan.” Namun Nayla terus meringis kesakitan Orion menyalurkan ketenangan kepada Nayla dengan mencoum punggung tangan kening dan tidak segan-segan mencium bibir Nayla di depan para medis yang bertugas walau ciuman tanpa *******.
“Apa semua baik-baik saja dok istri saya sangat kesakitan?”
“Itu hal wajar tuan gelombang-gelombang kenikmatan saat akan melahirkan. Untuk mempermudahnya anda bisa mengajak nyonya berjalan-jalan sekitar lorong atau nyonya duduk diatas bola itu dan menggoyangkannya. Untuk mempercepat bukaannya.” Dokter Elisa menunjuk bola besar yang biasa digunakan untuk yoga kehamilan
“Mas aku mau duduk di bola situ,” Orion membantu Nayla turun dari ranjang dan memapahnya untuk duduk diatas bola besar
Nayla menggoyangkan bola besar, Orion yang berdiri di hadapannya melingkarkan kedua tangan Nayla ke pinggangnya. Orion mengelus lembut dari punngung ke pinggul Nayla.
“Sayang tidakkah kamu berubah pikiran?” Orion mencoba membujuk Nayla kembali
“Berubah pikiran untuk apa mas?”
“Melahirkan dengan caesar, mas tidak tega melihatmu kesakitan seperti ini.” Orion yang sejak tadi menahan ketakutan, sesak, dan gelisahnya mengeluarkan air mata di kedua ujung matanya Orion berjongkok mensesjajarkan diri dengan Nayla yang duduk di atas bola.
“Tidak mas, aku yakin bisa melewatinya. Ini sudah kodrat wanita merasakan sakit karena melahirkan. Jangan menangis mas aku akan baik-baik saja. Aku janji sayang. Mas doakan aku dan kedua anak kita baik-baik saja ya?.” Nayla sangat paham ketakutan Orion. Bukan Orion yang menenangkan Nayla, namun Nayla yang meyakinkan dan menenangkan Orion untuk yakin proses kelahirannya berjalan lancar. Nayla menghapus air mata di kedua sudut mata Orion dengan kedua tangannya
“Iya sayang mas mendoakan kalian baik-baik saja. Mas sangat mencintaimu dan kedua anak kita.” Orion mencium kedua punggung tangan Nayla yang berada di genggamannya. Beralih mencium bibir seksi Nayla dan terakhir menempelkan keningnya dengan kening Nayla sehingga mereka menguatkan satu sama lain.
“Aku juga sangat mencintaimu dan kedua anak kita sayang. Mas janji tidak menangis lagi ya kuatkan aku membawa mereka terlahir ke dunia. Melihat kita yang menanti kehadiran mereka.”
“Mas janji sayang.” Orion masih tidak melepaskan keningnya yang saling menempel. Setiap gerak gerik Nayla dan Orion tidak luput dari jepretan salah satu jasa pengabadian moment lahiran ternama di Jakarta. Sang fotographer yang melihat hubungan mesra mereka sampai menitikkan mata karenaterharu. Ada tiga fotograper yang mengambil setiap moment mereka. Ada yang mengambil foto secara candid, merekam dengan jelas pembicaraan dan setiap moment mereka dan satu lagi membantu kebutuhan kedua sang fotographer.
miss double up kan Sok VOTE nya selagi senin VOTE dari voucher Baca yang kalian dapat dan jangan lupa beri miss hadiah bunga 🌹🤭
Miss nggak boongkan double up 🤭
__ADS_1
Mau lagi????
LIKE, VOTE , HADIAH 🌹 dan ramaiakn komennya dong 🤭