
“Maafkan mas sayang, mas lakukan ini semua agar kamu dan anak kita baik – baik saja. Mas tak ingin kejadian melahirkan Fariz dan Freya terjadi lagi hingga mas mengatur pola makan dan hidupmu. Maafkan mas sayang maaf..,” Orion pun ikut menteskan air mata karena merasa sesak dengan apa yang Nayla rasakan. Orion sadar apa yang dilakukannya malah menyakiti dan menyiksa wanita yang sedang mengandung anaknya.
“Biarkan semua mengalir apa adanya mas, aku ingin menikmati kehamilan keduaku dengan nyaman. Tanpa rasa tertekan karena aturanmu.” Hasil dari pemeriksaan terakhir kandungan Nayla cukup sehat namun berat sang bayi tidak normal hal itu diakibatkan Nayla yang stress dan sering tertekan menangisi keadaannya sendiri.
“Iya sayang mas janji mulai saat ini kamu boleh menginginkan apapun. Mas akan berikan, dan soal ranjang mas selalu menahan diri untuk menyentuhmu. Mas selalu ingin menyentuhmu, tidak sedikitpun mas berubaha sayang. Perubahan bentuk tubuhmu bukanlah masalah hal itu terjadi karena kamu mau mengandung anak-anak mas. Mas takut kamu kelelahan.” Orion memegang kedua bahu Nayla dan menatap dalam mata Nayla
“Janji ya mas? Apa yang aku inginkan akan kamu turuti? Tapi kamu yang harus mewujudkannya.”
“Iya janji sayang, selama itu tidak membuatmu dan anak kita berbahaya.”
“Apa aku semakin gemuk mas?”
“Bukan gemuk sayang, tapi sek*si.” Ucap Orion dengan mengedipkan mata. Tubuh Nayla memang tubuh wanita yang tidak mudah gemuk, namun saat mengandung tubuhnya akan terlihat semakin berisi dan mo*ntok terutama di bagian pa*yu*dara dan bok*ong.
Nayla memukul dada Orion pelan. Orion tersenyum dengan tingkah Nayla yang selalu menggemaskan. Tanpa aba-aba Orion me*ncium bibir se*ksi Nayla dengan lembut dan dalam. Menggiring Nayla ke ranjang mereka. Menyalurkan ha*srat dan gair*ahnya yang selalu ditahannya. Masih dengan sentuhan sensual yang lembut dan perlahan karena tak ingin menyakiti calon buah hati di dalam kandungan Nayla. Tengah malam tersebut dipenuhi dengan suara desa*han merdu Nayla di telinga Orion yang selalu dirindukannya. Saling memberi kehangatan dan menyalurkan kerinduan teramat atas drama dua ego manusia yang terselimuti rasa khawatir dan bersalah. Melebur dalam satu kenikmatan syurgawi.
“Terimakasih untuk semua kesabaranmu atas apa yang aku lakukan wanitaku sayang.” Ucap Orion saat mengecup kening Nayla setelah pergulatan nikmat tersebut. Nayla hanya mengangguk dengan tersenyum manis karena sudah kelelahan. Orion merengkuh tubuh Nayla dalam pelukannya. Mereka terlelap dengan suasana hati yang bahagia dan rasa syukur teramat dalam bisa saling memiliki.
**
Tiga hari setelah Orion menyadari kesalahannya tiga hari juga Orion selalu pulang larut malam. Nayla yang overthinking di kehamilan kedua ini menerka-nerka terus apa yang dilakukan Orion. Karena Orion pergi saat masih pagi sekali Nayla belum terbangun dan pulang larut sekali saat Nayla sudah terlelap. Nayla sampai berpikir apakah Orion bersama Lisa seharian karena kerja samanya dengan perusahaan Lisa ataukah ada wanita lain yang bersana Orion hingga larut malam. Dan membuat Orion lupa akan janjinya untuk menuruti keinginan Nayla.
__ADS_1
Tanpa Nayla ketahui Orion sibuk mempersiapkan kejutan untuk Nayla. Orion menghubungi sahabat-sahabat Nayla, keluarga dan karyawan-karywan Nayla yang berada di workshop cabang Bandung dan workshop pusat Jakarta untuk datang ke acara kejutan yang Orion buat tanpa sepengetahuan Nayla lusa nanti. Karena lusa kehamilan Nayla tepat berusia empat bulan.
Orion turun langsung mempersiapkan kejutan untuk Nayla. Mulai dari tempat, tema, dekorasi dan seperti apa kejutan yang akan diberikan sebagai hadiah dari kesabaran Nayla menghadapi dirinya yang terlalu posesif dan sering memaksakan kehendaknya. Walau itu untuk kebaikan Nayla tapi Orion sadar dia telah mengekang Nayla seperti burung yang terikat dalam sangkar.
Malam ketiga Orion pulang larut, dia mendapati Nayla masih terjaga menunggunya di sofa ruang tamu. Padahal sebelumnya berulang kali kepala maid melarang Nayla menunggu Orion dan menyuruh beristirahat. Tapi karena keras kepala Nayla dan Nayla yang tidak tahan akan banyaknya pertanyaan yang bersarang di pikirannya ingin memastikkan langsung kepada Orion.
“Sayang kenapa kamu menunggu mas?”
“Ada yang ingin aku bicarakan mas.”
“Ayo kita bicara di kamar sambil kita beristirahat. Pasti kamu menunggu mas sudah lama.”
“Iya karena mas sudah tiga hari ini pulang larut.”
Orion dan Nayla masuk ke kamar utama. Namun dari kamera pemantau ruangan Fariz dan Freya. Terdengar suara Freya “Yah..,yayah..,” Freya dan Fariz yang berumur satu tahun dua bulan sudah mulai bisa berbicara walau belum fasih dan mereka sudah bisa berjalan. Karena Orion fokus dengan kehamilan kedua Nayla dan Nayla yang merasa tertekan akan ke posesifan Orion melupakan hari kelahiran keduanya. Orion pun menyiapkan perayaan kedua anaknya bersamaan di hari kejutan untuk Nayla. Walau terlambat namun Orion akan membuat hari itu sebagai hari spesial untuk Nayla dan kedua bayi kembarnya.
“Assalamu’alaikum anak ayah, kenapa ke bangun. Adek haus sayang?” Orion masuk ke ruangan Fariz dan Freya menghampiri box Freya. Menggendong Freya yang terduduk di boxnya.
Cup...cup
Orion mengecup pipi gembul Freya. Freya tertawa geli dengan kecupan-kecupan Orion. Semenjak lahir hingga saat ini Freya memang lebih manja kepada Orion.
__ADS_1
“Anak ayah kita tidur lagi ya,” Orion menurunkan Freya dari gendongannya ke samping Nayla yang sudah masuk ke selimut di ranjang king mereka. Namun Freya malah menangis
“Ooeek...ooeek, ndak mu yah (Nggak mau ayah),” ucap Freya suara balita anak 1 tahun dengan isakan
Orion pun mau tak mau menggendong kembali dan meninabobokannya. Karena Freya menolak meminum susu dsri dotnya. Nayla turun dari ranjang menghampiri Orion yang berdiri meninabobokan Freya.
“Sini yah biar ibu dahulu yang meninabobokan Freya. Biar ayah bisa membersihkan diri dahulu.” Seperti komitmen Nayla dan Orion di depan anaknya sebutan mereka akan berubah ayah dan ibu.
“Freya dengan ibu dahulu ya, ayahnya bau belum mandi.” Orion berusaha memberikan pengertian kepada Freya dengan menciumi tubuh sendiri seolah bau tubuhnya terhirup. Freya dan Fariz memang baru usia satu tahun namun mengerti dengan apa yang dikatakan orang-orang terdekatnya. Memang setiap anak terlahir dan berkembang dengan perkembangan masing-masing, tak bisa disama ratakan. Ada yang satu tahun baru bisa berjalan namun lambat berbicara, ada yang sudah bisa berbicara lambat berjalan. Kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada sang buah hati untuk sama dengan perkembangan anak lainnya dengan melihat sedikit saja ketidaknormalan mengambil kesimpulan perkembangan sang buah hati tidak normal. Padahal semua anak memiliki proses kembangnya masing-masing. Itulah ujian kita sebagai orang tua bersabar mengajari dan menjalani proses tumbuh kembang anak.
Freya pun mau diambil alih oleh Nayla.
“Adek sama ibu ya, ayah mandi dahulu. Ya sayang anak sholehahnya ibu cantiknya ibu, sama ibu ya?” ucap Nayla kepada Freya yang menatap dan tersenyum manis dengan perkataan Nayla, mengangguk dan merentangkan kedua tangan untuk di gendong Nayla. Saat Freya sudah berada di gendongan Nayla wajah Freya menyeludup ke pay*udara Nayla yang tertutup dress tidur busui friendly. Nayla pun membuka bagian samping aplikasi busui untuk segera menyusui Freya.
“Anak ibu haus ya, pelan-pelan sayang,” ucap Nayla kepada Freya yang langsung melahap put*ing Nayla dan men*ghisa*p air susunya. “Anak sholehahnya ibu cantik sekali ini.” Nayla yang gemas sambil menyusui Freya mengelus rambut halus Freya yang sudah mulai tumbuh kembali. Karena baru sekali di gunduli.
Baru 5 menit Freya menyusui, Nayla merasa bagian bawah perutnya ngilu seperti berkontraksi. “Aauuw..,” Nayla meringis dengan lirih tak ingin terdengar Orion. Saat dokter Elisa mengatakan tidak masalah tetap menyusui Nayla membulatkan tekad sampai titik akhir kemampuannya akan tetap memberi ASI eksklusif untuk kedua anaknya.
Nayla pikir kontraksi itu ringan, namun dari tadi hingga Freya tertidur sambil menyusui kontraksi itu terus ada. Nayla berusaha mengabaikannya apalagi saat Orion sudah selesai dengan kegiatan membersihkan dirinya. Dan ada di hadpannya saat ini . Nayla mencoba menahan rasa ngilu dan bersikap biasa saja. Nayla tidak ingin Orion khawatir.
“Sayang ayah pindahkan Freya dahulu.” Orion mengambil alih Freya yang tertidur di pangkuan Nayla. Nayla hanya mengangguk merespon ucapan Orion karena masih menenangkan diri dengan menarik napas mengendalikan rasa ngilu di bagian bawah perutnya.
__ADS_1
Kalau sampai VOTE tembus 500 dan Hadiah 🌹 20.000 miss crazy up sampai 5 episode sok 🤭
Monggo tunjukkan THE POWER OF MISSTIZENKU 🤭🤗🤗