
Hari ini Fariz disibukkan dengan berbagai meeting, dan tak bisa mengajak Fiana untuk mengikuti kemanapun ia meeting. Hal itu dikarenakan perusahaan amat sibuk dan harus ada yang stay di perusahaan Fariz. Al hasil saat Fariz kembali ke kantor sudah jam pulang, seharian ini Fariz meeting di luar dan tak bertemu Fiananya. Sungguh membuat harinya semakin lelah.
"Dimana kamu sekarang? Apa sudah sampai rumah?" Fariz mengirimkan pesan kepada Fiana
Namun sampai 5 menit tak ada balasan
"Elang ke ruangan saya." Fariz menelepon Elang dari ruangannya
"Iya tuan?"
"Hubungi anak buah yang mengikuti Fiana di mana dia sekarang berada?" Buah jatuh memang tak jauh dari pohonnya. Istilah itu yang menyamakan Fariz dan Orion. Menempatkan anak buahnya untuk mengikuti kegiatan orang-orang tercinta. Semenjak Fiana berada di perusahaannya, Fariz telah menempatkan beberapa anak buah untuk berada di sisi Fiana, tanpa Fiana ketahui. Bukan hanya untuk keselamatan Fiana saja. Tapi juga untuk mengetahui kegiatan Fiana.
"Baik tuan." Elang langsung menghubungi bawahannya yang bertugas mengikuti Fiana. "Ini tuan, anak buah kita memberi sebuah video." Elang memberikan tabnya pada Fariz. Di dalam video Fiana berada di salah satu restoran bersama seorang lelaki sipit berkulit putih glowing dengan hidung yang mancung dan rambut kecoklatan. Dilihat dari wajahnya lelaki tersebut bukan orang Indonesia, lelaki tersebut seperti orang korea. Interaksi keduanya begitu akrab, tertawa bersama sesekali sang lelaki memperlihatkan layar gawainya kepada Fiana.
Tangan Fariz mengepal, "Di restoran mana itu?"
"Tuan dia ad..." Elang akan menjelaskan siapa lelaki yang bersama Fiana
"Di mana? Jawab Elang "
"Di restoran x tuan."
"Sekarang juga ke sana." Faris keluar dahulu diikuti Elang menuju lift. Elang menekan ke parkiran VVIP khusus untuk orang penting di perusahaan.
Ting
Bunyi lift terbuka
__ADS_1
Elang membukakan pintu di kursi kemudi untuk Fariz. Elang dengan segera mengemudikan mobil ke restoran yang dituju.
"Elang apakah kemampuan mengemudimu berkurang? Mengapa lambat sekali." Tanpa menjawab Elang mempercepat kemudinya, bahkan melanggar lalu lin
tas demi sang tuan. Elang telah memberi kode kepada keamanan lalu lintas melalui kode lampu di luar mobilnya yang menandakan mobil penting dan darurat. Salah memang Fariz memanfaatkan kekuasaannya hanya karena rasa cemburu yang membakarnya. (Tidak untuk dicontoh say😅)
Hanya dalam waktu lima belas menit mereka bisa menembus macetnya jalanan ibu kota. Fariz keluar tanpa menunggu Elang membukakan pintu.
Elang dengan segera mengikuti sang tuan dari belakang. Elang yang peka akan sifat tempramental sang tuan langsung menghubungi manager restoran untuk mengosongkan restoran.
Ketika pintu restoran terbuka mata elang Fariz langsung bisa menangkan posisi duduk Fiana dan sang lelaki berwajah glowing. Bertepatan dengan Fariz masuk, orang-orang secara teratur keluar dari restoran.
Fariz mengepalkan kedua tangannya, mengertakkan giginya dengan rahang yang mengeras melihat pemandangan di depannya. Lelaki glowing tersebut mengelus puncak kepala Fiana yang tertutup hijab. Mereka tertawa lepas apalagi Fiana. Tertawa yang dulu hanya untuknya saat ini ia perlihatkan untuk lelaki lain.
Fiana ataupun sang lelaki belum menyadari orang-orang di restoran teratur keluar satu persatu dan restoran mulai terlihat lenggang dan sepi.
Dengan langkah besar Fariz nerjalan ke meja Fiana.
“Aa Fariz..,” Fiana cukup kaget dengan kedatangan Fariz yang tiba-tiba
Fariz menoleh ke arah Fiana dan menatapnya tajam. “Siapa dia?”
“Dia..,”
“Perkenalkan saya Kim Hwan Soek, teman dekat Fiana di Seoul.” Hwan Soek memperkenalkan diri ia tahu cerita barusan dari Fiana ia sengaja memanasi Fariz untuk tahu sendiri orang seperti apa Fariz
“Teman dekat.., hahaha. Baru teman kan? Jangan seenaknya kamu menyentuh wanitaku.”
__ADS_1
“Wanitamu? Anda tidak salah Fiana baru saja bercerita pada saya sampai saat ini dia masih sendiri dan teman terdekat lelakinya hanya saya.” Hwan Soek mengompori Fariz
Fiana memberi kode kepada Hwan Soek dengan memelototkan matanya, namun Hwan Soek malah sengaja mengabaikan peringatan Fiana.
“Aa Fariz, aku mohon jangan mempermalukan diri sendiri di tempat umum ini. Banyak yang liha ki..,” Fiana baru sadar disekelilingnya sudah tak ada pengunjung lain selain dirnya, Fariz, Hwan Soek dan Elang
“Siapa yang mempermalukan siapa Fiana? Kamu yang mempermalukan dirimu, kamu wanitaku tapi masih jalan bersama lelaki glowing bercat rambut ini” Fariz yang kesal sembarang menghina lelaki di hadapannya
“Aku bukan wanitamu aa, aku hanya sekretarismu di kantor. Di luar rumah kita bukan siapa-siapa.”
“Apa kamu bilang? Bukan siapa-siapa.” Fariz mencengkram pergelangan tangan Fiana
“Bro jangan kasar pada wanita.” Hwan soek mencoba melepas tangan Fariz yang berada di pergelangan tangan Fiana namun terhempaskan kasar oleh Fariz
“Jangan mencampuri urusan kita. Tinggalkan kami sekarang atau saya akan membuat wajah mulus glowingmu itu babak belur?”
Hwan Soek yang sangat merawat penamiplannya hingga operasi platik lebih menyayangi wajah glowing nan mulusnya. Ia bergegas merapikan barangnya dan siap pergi meninggalkan keduanya, mata Fariz mencoutkan nyalinya. “Ana aku pergi ya, lain waktu kita lanjutkan lagi.”
“Tidak, tidak akan pernah ada lain waktu. Cepat keluar.” Bentak Fariz. Fiana hanya menghela napas berat di samping Fariz.
“Tenang bro, saya hanya sahabat Fiana bukan kekasihnya.” Sebelum melangkah pergi satu tangan Hwan Soek memegang bahu Fariz mengatakan hal yang membuat Fariz terkejut dan malu. Namun wajah dingin dan datarnya menutupi keterkejutannya, dengan perlahan melepas cengkraman tangan di pergelangan Fiana
“Sakit aa,” Fiana mengelus-ngelus pergelangan tangan yang memerah ulah Fariz
Fariz menyentuh pergelangan tangan Fiana kembali namun dihempas pelan oleh Fiana.
Mulai gemes ga dengan kedua pasangan ini????
__ADS_1
KOMEN aah
JANGAN LUPA 🌹, VOTE dan LIKE nya misstizenku 🥰😍