
Lima hari sudah Orion melewati hari sibuk di perusahaannya. Tiba saatnya Orion membawa Nayla dan Arga ke negara x. Orion membawa Nayla dan Arga dengan jet pribadinya, perjalanan menuju negara x cukup sekitar 18 jam. Untuk itu Orion ingin Nayla dan Arga nyaman selama di perjalanan
Untuk hunian mereka akan tinggal di B*v*r*y h***. Hunian termewah di negara x. Dan tidak sembarang orang memiliki rumah di hunian elit tersebut. Orion memilih hunian tersebut agar penjagaan terhadap keluarganya bisa terjaga dan terkendali.
Selama di perjalanan Arga tidak henti-hentinya bertanya banyak hal tentang negara x kepada Nayla ataupun Orion hingga ia kelelahan dan tertidur di salah satu kamar jet pribadi. Nayla dan Orion pun beristirahat di ruang yang berbeda dengan Arga. Seperti biasa Orion tak pernah mengenal tempat, ia menginginkan Nayla. Nayla tak bisa menolak permintaan Orion karena saat Orion memulai Nayla pun akan terbuai karena hormon kehamilannya yang membuat sentuhan-sentuhan Orion semakin sensitif.
Setelah pergulatan yang cukup lama, Nayla ataupun Orion tidak terlelap. Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing. Orion sudah menikirkan matang-matang agar tak sedikitpun Hanum bisa mendekati Nayla. Dan Nayla sendiri sedang memikirkan Arga yang akan segera berpisah dan perasaan yang tiba-tiba sedih. Nayla merasa ini hanya perasaannya yang terlalu sensitif atau ada hal yang akan membuatnya bersedih.
“Kenapa tiba-tiba merasa sangat sesak hati ini, apa yang akan terjadi di negara x? Apa ini hanya kesensitifan kehamilanku saja? Atau memang ada hal yang akan terjadi? Tentang Argakah atau hal lain?” Nayla dalam hati. Nayla merasa dirinya menjadi orang yang overthinking.
“Sayang,” panggil Orion membuyarkan lamunan Nayla
“Iya, yah.”
“Kamu nggak lelah?”
“Enggak yah. Ayah sendiri kenapa nggak istirahat? Ayah sudah mengurusi urusan perusahaan akhir-akhir ini langsung melakukan perjalanan jauh.”
“Ayah nggak lelah, bu. Apa yang ibu pikirkan? Biasanya ibu tertidur setelah ayah menggempur ibu?” Orion terkekeh dengan ucapannya
“Entahlah yah ibu nggak ngantuk. Ibu tetiba merasa sangat sedih, yah.”
“Apa yang ibu pikirkan, sayang?”
“Ibu tidak memikirkan apapun. Hanya tetiba ada perasaan sedih saja, yah. Ibu jadi takut akan terjadi sesuatu.”
“Sayang, mungkin perasaan itu hanya mood hormon kehamilan ibu saja. Kita berdo’a semoga tidak ada apa-apa yang terjadi dan keluarga kecil kita ada dalam lindunganNya, aamiin.”
“Aamiin...aamiin..., yarobbal’alamin, semoga yah. Ayah sering bilang jangan pernah ibu ninggalin ayah. Sekarang ibu yang meminta ayah jangan pernah pergi lama atau jauh dari ibu dan anak-anak ya, yah?”
"Ini pertama kali ayah dengar ibu mengatakan ini loh, sayang. Tanpa ibu minta ayah akan selalu ada di sisi ibu. Jangankan untuk meninggalkan ibu, berjauhan sebentar saja membuat ayah tersiksa, sayang." Orion merengkuh Nayla dalam pelukan mencium kening Nayla dan mengusap punggung polos Nayla.
"Janji, ya yah?"
"Insya allah, iya sayang. Tidak ada yang perlu ibu takutkan, ayah akan selalu ada di sisi ibu."
__ADS_1
“Iya, yah. Ibu percaya, ayah.
“ ya sayang selama di sana ibu nggak apa-apakan hanya seputaran b***l* h**l* selama ayah ke perusahaan. Ayah nggak bisa izinkan ibu keluar dari hunian kita tinggal.”
“Kenapa nggak mengizinkan, yah?”
“Ibu tahu sendiri bagaimana bebasnya negara x. Walau ibu di jaga oleh keamanan yang ayah siapkan tetap saja, ayah tidak merasa aman jika ibu diluar daerah hunian.”
Baiklah, sayang. Lagian ibu juga tidak suka mengexplore daerah yang masih asing. Cukup di hunian nyaman bersama Arga juga sudah cukup, yah.
Terimakasih, ya sayang. Orion memeluk erat Nayla. Di sana ibu tidak akan bosan, hunian di sana ayah buat seperti kediaman kita di Jakarta dan Bandung. Di belakang ada gazebo dengan kolam ikan, tanaman bunga kesukaan ibu dan satu lagi dapur khusus ibu mengexplore makanan apapu yang mau ibu buat.
“Ayah serius?”
“Iya, sayang.”
“Jadi ibu boleh memasak lagi?”
“Iya boleh sayang, asal ibu tahu waktu dan tidak melakukan hal yang melelahkan.”
"Ayah tidak akan khawatir jika ibu nggak bandel ya?" Orion terkekeh
"Kapan ibu bandel, yah?" Nayla memutar bola mata, merasa kesal dengan ucapan Orion
"Ibu bandel kalau sudah ada maunya, dan nggak bisa ayah tolak."
"Nah kalau itu bukan kemauan ibu dong, yah. Anak-anak kamu yang mau." Nayla mendelikkan mata kesal dengan ucapan Orion. Mood Nayla semakin berubah-rubah saat Orion salah berbicara efek dari hormon kehamilannya.
"Jangan, marah dong sayang. Ayah salah bicara. Maaf yaa? Ayah tahu itu kemauan anak-anak kita." Orion mencubit gemas hidung mungil Nayla
"Nggak mau maafin, sebel ibu sama ayah." Nayla memukul dada bidang Orion. Pukulan yang tak berarti untuk Orion
"Sudah sayang, jelek tuh wajahnya kalau lagi marah." Orion mencium bibir Nayla yang mencebik. Nayla memukul-mukul dada bidang Orion karena sebal mengambil kesemoatan dalam kesempitan. Tubuh keduanya yang masih polos, membuat hasrat Orion bangkit kembali. Ciuman Orion menuntut lebih. Pergulatan merekapun berlangsung kedua kalinya yang membuat Nayla cukup kewalahan dengan hasrat Orion yang tak pernah ada lelahnya. Nayla yang sudah lelah terlelap dengan Orion yang masih belum berhenti dengan aktifitas di kedua mahkota atas Nayla.
Setelah Orion merasa cukup Orion melingkarkan kedua tangan di perut Nayla yang sudah membesar. "Terimakasih cintanya ayah, ayah sangat mencintaimu istriku, ibu dari anak-anakku Nayla Chaira Hardiardjo." Bisik Orion di telinga Nayla dari belakang dengan tangan yang mengusap perut besar Nayla.
__ADS_1
Orion dan Nayla pun terlelap saling memberi kehangatan.
***
Pagi hari Nayla terbangun lebih dahulu. Tidak seperti biasanya, setelah pergulatan dua ronde dengan gempuran luar biasa yang Orion lakukan membuat badan Nayla serasa hancur. Nayla sudah sangat merasa lengket, tapi Nayla cukup lemas untuk terbangun dengan beban berat di perutnya.
"Ayah..., sayang..., bangun. Ibu ingin membersihkan tubuh." Nayla mengusap lembut pipi Orion, membangunkan Orion untuk membantu menggendongnya ke bathub kamar mandi
"Ekhmmm..," Orion hanya bergumam tanpa membuka matanya.
"Sayang, bangun ibu lemas sekali. Bantu ibu." Ucap Nayla dengan lirih. Orion langsung membuka mata mendengar sayup-sayup ucapan Nayla.
"Kenapa, sayang? Ada yang sakit?"
"Enggak yah, ibu mau membersihkan diri, tubuh ibu sangat lengket. Tapi ibu lemas untuk ke kamar mandi."
"Maafkan ayah, ya? Ayah idak bisa mengendalikan diri setiap kali menyentuh ibu. Kita mandi bersama, ya?"
"Hanya mandi, ya yah?"
"Iya, sayang. Ayah janji hanya mandi, pasti ibu sangat lelah."
Nayla hanya mengangguk. Merekapun benar-benar hanya mandi bersama tanpa ada pergulatan kembali. Walau Orion selalu menginginkannya, tapi Orion tak tega melihat Nayla yang cukup kelelahan melayani hasratnya.
***Miss lagi bagi waktu buat up di tiga novel nih.
Suami pengganti ini, "CEO Kejam Penoreh & Penyembuh Luka" dan dilapak orange "Jeratan Pesona Sang Duda***"
Dukung miss di setiap novel miss ya,
Jangan kaget kalau nanti ada kejutan dari miss
Berhubung sebentar lagi ramadhan jadi miss mau minta maaf dulu nih nanti agak telat-telat up. Tapi insya allah tetap Up jika memungkinkan akan double up. Nanti lihat sikon ramadhan ya
Karena real lifenya miss harus membagi waktu antara up, bekerja, usaha, tugas miss sebagai calon istri dan anak bagi orang tua miss
__ADS_1
Untuk itu kasih miss dukungannya dengan like, vote dan ramaikan komen 🤭