
Nayla digendong ala bridal masih dalam keadaan tidur nyenyak ke ruangan obgyn. Orion membaringkan Nayla di ranjang pasien. Perawat menyingkap dress tidur Nayla dan menutupi bagian bawah dengan selimut. Saat gel dioleskan Nayla merada dingin dibagian perut dan mengerjapkan mata, melihat bagian atas namun bukan di kamar Arga. Saat menengok ke kanan Orion berdiri di sampingnya. Memastikkan sekeliling membuat Nayla terkejut ia berada di ruangan obgyn karena teelihat dari alat USG dan layat yang berada di ruangan saat ini.
“Mas kenapa aku bisa ada di sini?”
“Mas hanya ingin memastikkan.” Ucap Orion sudah mengganti nama panggilan dirinya namun masih dengan ekpresi datar dan dingin
Sang dokter Elisa pun mengarahkan alat USG ke perut Nayla yang sudah diolesi gel.
“Puji Tuhan tuan, twins akan memiliki adik.”
“Maksud anda Nayla sedang mengandung kembali?”
“Iya tuan bisa lihat di layar ada kantung berukuran kecil, usianya masih 7 minggu.”
Tatapan Orion beralih ke arah Nayla dengan tatapan tajamnya.
“Lalu bagaimana dengan IUD yang masih terpasang apa saat dilepas tidak membahayakan janin yang masih kecil dok?” Orion bertanya kepada dokter Elisa namun tatapannya tak beralih dari Nayla, Nayla menatap ke arah berlainan, tak ingin menatap mata tajam Orion
“Tuan juga bisa lihat di layar sudah tidak ada IUD yang terpasang. Apa nyonya melepasnya tujuh minggu lalu?”
Deg
Jantung Nayla berdegub tak karuan ini diluar dugaan, Nayla tak bisa menjawab pertanyaan yang telah direncanakannya saat pertanyaan ini akan datang, apalagi dengan tatapan tajam Orion yang mengintimidasi.
“Kenapa diam? Kapan IUD nya kamu lepas sayang?” Orion berkata setenang mungkin dengan halus didepan dokter dan perawat, bagaimanapun kemarahannya Orion tetap menjaga harga diri Nayla sebagai istrinya. Orion tidak ingin mempermalukan dan memperlakukan Nayla tidak baik di depan orang lain. Karena jika sampai seperti itu orang lain tidak akan menghargai Nayla sebagai istri seorang Orion. Prinsip ini bukan sebuah pencitraan namun sebuah kewajiban sepasang sejoli yang melengkapi saling menutupi kekurangan.
“Seperti yang dokter bilang IUD nya saya lepas 7 minggu lalu seusia janin yang tumbuh di rahimku mas.” Ucap Nayla dengan setenang mungkin meskipun hatinya takut akan kemarahan Orion. Tatapannya saja membuat Nayla ciut untuk membela diri jika hanya berdua.
“Janin ini tumbuh karena nyonya sudah tidak menggunakan alat kontrasepsi apapun. Dan perku disyukuri keadaan janinnya sehat dan cukup kuat. Apa nyonya merasakan morning sickness?”
__ADS_1
“Alhamdulillah tidak dok, hanya sering menginginkan sesuatu dan rasanya tidak tahan ingin mendapatkannya. Seperti memakan mangga muda.”
“Itu wajar nyonya, itu yang disebut mengidam. Sepertinya kehamilan kedua nyonya lebih banyak ngidamnya ya?”
“Iya, dok sepertinya. Berbeda saat mengandung baby twins, kehamilan saat ini banyak maunya.” Nayla mulai relaks berbicara dengan dokter karena pembawaan dokter Elisa yang menenangkan ibu hamil.
“Jadi tuan harus lebih siap siaga nih dengan banyaknya kemauan nyonya Nayla. Sepertinya baby yang ini lebih banyak cari perhatian ayahnya.” Dokter Elisa yang memang dokter kandungan dan sempat menekuni psikologi oeka terhadap situasi Orion dan Nayla yang kurang baik. Walau tidak tahu masalahnya, tapi dokter Elisa peka ada hal yang sedang terjadi yang menyebabkan Nayla terlihat tegang dari awal ditambah tatapan Orion yang kurang bersahabat terhadap Nayla. Untuk itu dokter Elisa sebisa mungkin mencairkan suasana.
“Jika kandungan dan keadaan saya sehat, saya masih bisa melahirkan normal kan dok?” Nayla bertanya dengan hati-hati tanpa menatap Orion
“Tentu saja nyonya, anda masih bisa melahirkan normal tiga bahkan beberapa anak lagi. Karena anda masih msmpu untuk melakukan itu. Berbeda dengan ibu yang pernah caesar, mereka hanya disarankan maksimal memiliki dua atau tiga anak sesuai dengan kesehatan tubuhnya masing-masing.”
“Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan kan dok akan kesehatan saya dan janinnya?” Nayla sengaja menanyakan beberapa pertanyaan yang membuat Orion khawatir, dan sejak Nayla mengajukan pertanyaan Orion tak berhenti menatap tajam Nayla, walau tak Nayla lihat. Orion sengaja diam saja, dia peka dengan maksud pertanyaan Nayla untuk meyakinkan kekhawatirannya. Namin tetap saja Orion merasa kecewa dengan keputusan Nayla tanpa berdiskusi dan seizinnya melepas IUD.
“Iya nyonya tidak perlu dikhawatirkan.”
“Masih boleh tuan, menyusui saat hamil tidak akan memengaruhi kehamilan atau mengganggu pertumbuhan dan perkembangan si Kakak maupun si Adik. Namun sang ibu jangan khawatir jika mengalami kontraksi ringan di rahim, atau pay*udara terasa sakit namun bisa dikompres dengan air dingin, ASI juga berubah menjadi kolostrum. Rasa kolostrum yang lebih asin dan kurang manis mungkin dapat membuat Si Kakak enggan menyusu. Dan satu lagi sang ibu akan merasa lebih lelah untuk itu menyusui bisa dilakukan dengan keadaan duduk atau berbaring. Tapi hal itu wajar yang dialami ibu hamil yang menyusui. Nyonya harus banyak mengkonsumsi nutrisi bergizi, meminum air putih dan hindari minuman berasa atau mengandung pengawet dan harus banyak beristirahat.”
“Lalu istri saya harus menghentikkan mengASIhi jika terjadi apa dok?” Tanya Orion lagi, walau Orion kecewa kepada Nayla, tapi Orion mau tidak mau menerima anugerah yang telah diberikan Sang pemberi Rezeki, untuk itu Orion harus tahu apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan istri tercinta yang sedang mengandung dan mengASIhi kedua anaknya.
“Pertanyaan bagus tuan, nyonya Nayla harus menghentikkan mengASIhi jika pernah mengalami keguguran atau persalinan prematur sebelumnya, mengalami pendarahan di va*gi*na, sedang mengandung anak kembar dua atau lebih, berat badan tidak sesuai dengan umur kehamilan dan sering mengalami nyeri atau kontraksi rahim. Maka nyonya harus menghentikkan mengASIhi baby twins karena jika tidak akan merangsang kelahiran prematur dan lebih parahnya lagi keguguran.” (info ini diambil dari alodokter)
“Jika kedua anak saya tidak mendapat ASI apakah nutrisinya tercukupi hanya dengan susu formula dan MPASI?”
“Tercukupi tuan, kandungan gizi dalam susu formula dan MPASI yang diberikan sesuai kebutuhan nutri sang bayi akan baik untuk tumbuh kembang mereka. Serta yang paling utama adalah peran dan kehadiran kedua orang tua akan kasih sayang, perhatian keduanya untuk sang buah hati yang sedang tumbuh kembang tidak berkurang.”
“Terimakasih informasinya dok.” Nayla pun bersuara setelah penjelasan panjang sang dokter. Nayla dan Orion pun pulang ke kediaman. Seperti biasa kebutuhan vitamin Nayla ditebus oleh pengawal Orion. Selama diperjalanan Nayla hanya diam tak ada penjelasan ataupun kata maaf, karena Nayla cukup merasa bersalah dan tak bisa menatap mata Orion yang masih tidak bersahabat.
“Tak ada yang ingin kamu jelaskan kepada saya?” Akhirnya Orion memulai pembicaraan engan ekpresi datar dinginnya dan kembali memanggil dirinya saya dan Nayla sebutan kamu
__ADS_1
“Maaf.” Hanya satu kata itu yang Nayla ucapkan dengan menunduk
“Apa gunanya kata maaf jika sudah terjadi? Apa kamu masih menghargai saya sebagai suami dan imam kamu? Berani mengambil keputusan besar sendiri.”
Nayla hanya bisa menangis, tak mampu menjawab ucapan Orion karena Nayla memang merasa salah besar. Dan tak tahu jika Orion akan tetap marah dan tidak luluh setelah kehadiran janin di rahimnya.
“Lalu apa yang harus aku lakukan mas? Aku hanya ingin mewujudkan keinginanmu, kamu selalu memikirkan kebaikanku. Tapi aku tak bisa memberikan keinginanmu, jadi hanya ini satu – satunya cara yang bisa aku lakukan untuk mewujudkan keinginanmu dan sebagai baktiku padamu.” Ucap Nayla dengan terisak
“Ya Allah Nayla tapi tidak dengan cara ini, mengorbankan nyawa kamu untuk kedua kalinya. Dengan kamu menjadi ibu yang merawat Fariz, Freya dan saya saja sudah cukup. Apakah saya bilang saya ingin sekali mendapatkan bayi kembali? Bukankah kita sudah membicarakan ini? Kenapa kamu menjadi keras kepala, mengambil keputusan sesuka hati tanpa musyawarah?”
“Maafkan aku mas, Aku nggak mau kamu memiliki anak lain dari wanita lain.”
“Maksud kamu apa? Kamu mencurigaiku mengkhianatimu? Kenapa jadi berpikir kemana-mana?”
Nayla ingin mengatakan bahwa dia mendengar pembicaraan Orion dengan Lisa. Namun Nayla takut Orion semakin marah karena Nayla memasang CCTV beraudio di pena milik Orion.
“Bukan itu maksudku mas. Aku pusing jika kamu terus marah seperti ini. Aku mengaku salah, terus apa yang harus aku lakukan? Apa mas tidak bisa menerima kehadiran anak yang tidak berdosa ini? Apa mas mau aku menggurkannya?” Ucap Nayla dengan terisak dan sesak di dadanya karena Orion tidak pernah semarah dan berbicara cukup keras kepadanya.
“Astagfirullah apa yang ada dalam pikiranmu Nay sampai berpikir seperti itu?” Orion megusap kasar wajahnya. Memang benar yang dikatakan Nayla kemarahannya tidak bisa merubah keadaan. Dan bayi yang dikandung Nayla tidak tahu apapun dan tidak berdosa sama sekali.
“Lalu mau kamu apa mas jika aku sudah meminta maaf dan aku mengaku salah.”
“Aku hanya ingin kamu menghargai aku sebagai pemimpin dan imammu. Jangan pernah sekali lagi kamu mengambil keputusan besar seorang diri, jika sudah seperti ini kamu harus menerima konsekusensinya jika saya akan lebih protektif kepada kamu dan anak-anak kita.”
“Maafkan aku mas, aku janji tidak akan melakukan kesalahan kedua kalinya lagi.”
Miss jadi keasyikan lanjut novel ini nih jadi ga tega ngetamatin. Kumaha Gimana atuh misstizen? Rela nggak novel ini tamat??? 🤭
Kalau nggak rela KENCENGIN LIKE, VOTE, HADIAH BUNGA dan ramaikan KOMENnya atuh 🙏🏻🥰
__ADS_1