Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
164. Season 3 - Keputusan Hubungan Keduanya


__ADS_3

“Janji yang mana sayang?”


“Jangan pura-pura deh.” Fiana mendelikkan mata


“Hahaha, iya iya. Kita selesaikan makan dahulu ya. Sambil nonton kita bahas apa yang ingin dibahas tuntas, ok sayangku?”


“Iya..,” Fiana mengikuti saja permintaan sang kekasih. Setelah selesai dengan makan siang, mereka melakukan kewajiban berjamaah, di ruang VVIP terdapat ruang serbaguna yang dilenkapi lemari berisi sajadah, dan mukena. Mereka pun sholat berjamaah.


Fiana mencium tangan Fariz, Fariz mencium kening Fiana. Hal itu sudah mereka lakukan dari awal mereka meresmikan hubungan.


“Yuk kita nonton sayang."


“Tapi aa lima belas menit lagi jam istirahat sudah selesai.”


“Aa sudah meminta izin untuk aa dan kamu, Elang yang mengurus sisa pekerjaan di kantor. Hari ini mari kita nikmati waktu berdua. Anggap saja ini kencan dadakan.”


“Kencan?”


“Iya kencan sayang. Ayo, ada film yang lagi ingin aa tonton.”


Fariz mengulurkan tangan untuk membangunkan Fiana yang masih terduduk di atas sajadah. Tangan Fariz pun disambut Fiana.


“Kenapa sofa lipatnya dibuka aa?”


“Biar lebih nyaman sayang. Kita bisa selonjoran. Tenang saja sayang aa nggak akan macam-macam hanya satu macam saja.” Fariz mengatakan kalimat itu dengan terkekeh


“Nggak lucu aa..,”


“Haha bercanda sayang. Ayo duduk bersandar di kepala ranjang.” Fiana menuruti titah sang kekasih naik ke sofa lipat yang telah dibuka seperti kasur. Fiana naik dari sisi kanan, dan Fariz dari sisi kiri. Mereka menyandarkan kepala ke kepala sofa dengan bersebelahan.


“Aa mau nonton apa?”


“Action.”


“Oh..,”


“Permisi tuan nona.” Sapa pelayan yang masuk setelah mengetuk membawa beberapa cemilan dan minuman

__ADS_1


“Terimakasih mbak.” Ucap Fiana


Sang pelayan menunduk hormat dan tersenyum.


Fariz menggeser tubuhnya agar tak berjarak dengan Fiana. Merangkul Fiana.


“Aa..,”


“Hanya seperti ini sayang. Tanyakan apa yang ingin kamu tanyakan?”


“Masih sama seperti di dalam mobil waktu itu?”


“Pertanyaan yang mana aa lupa. Banyak banget peetanyaanmu.”


“Apa aa masih mencintainya?”


“Enggak lah, aa sadar aa salah menjadikannya pelarian. Karena saat kami menjalani hubungan, kamu masih terukir di hati aa.”


“Kenapa aa tak menemuiku sekakipun?”


Fiana seperti Freya. Fiana, Fariz dan Freya merupakan anak yang cerdas mereka lulus di usia muda karena kecerdasannya mereka menaiki satu kelas di atasnya. Untuk itu di usia 20 tahun Fiana sudah lulus starta satu. dan di usia 23 tahun Freya dan Fariz mereka sudah menginjak S2 untuk Freya dan Fariz. Walau Fariz lebih dulu mengembang S2 karena ia naik kelas dua kelas di atasnya melebihi kelas Freya.


“Jika ia kembali apakah aa akan kembali padanya?"


“Jangan mikir yang enggak-enggak sayang. Jelaslah nggak akan, orang sang pemilik hati aa sudah kembali.” Fariz malah mendekap erat tubuh Fiana. Posisi mereka seperti pelukaan dalam keadaan rebahan.


“Aa jangan gini,”


“Nggak mau pengen gini sayang, aa kangen kamu banget.”


“Perasaan dari tadi barengan terus.”


“Memang barengan tapi nggak bisa berduaan gini.”


“Ya Rabb aa, aku belum halal untukmu aa.”


“Tahu sayang, aa nggak akan macam-macam. Biarkan seperti ini.” Ucap Fariz dengan lirih

__ADS_1


“Terserah aa saja.”


“Terserah tapi menikmati, nyamankan?” Goda Fariz


Fiana memukul dada rata nan bidang Fariz yang hanya menggunakan kemeja. Fariz telah membuka jasnya sebelum duduk di sofa


"Aa belum memberi tahu alasan mengapa memecat Wilona? Aku merasa bersalah aa jika karenaku “ Fiana mengalihkan bahasan


“Pemecatannya tidak ada hubungannumya dengan perpindahan tugasmu sayang. Ia telah melakukan kesalahan fatal yang belum bisa aa beritahukan kepadamu. Untuk itu ia harus menerima konsekuensinya.” Bohong Fariz padahal dirinya memecat Wilona karena dia pusat penyebaran berita tak benar tentang Fiana. Fariz memecat Wilona tanpa pesangon karena ia baru saja masuk ke Perusahaannya


“Syukurlah jika bukan karena aku. Jika karena aku, aku merasa bersalah aa. Dia pasti membutuhkan pekerjaan ini.” Fiana bisa bernapas lega


“Sudah tak perlu memikirkan orang lain yang bahkan tak memikirkanmu. Salah satu kelemahan kamu nih, terlalu peduli orang lain tanpa melihat apakah dia pantas mendapat rasa pedulimu. Tak semua orang yang terlihat baik itu baik sayang. Jangan mudah mempercayai siapapun.”


“Termasuk aa?”


“Terkecuali aa dong.” Fariz malam mengenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fiana walau terhalang kain hijabnya


“Iih dasar.” Fiana memukul dada Fariz kembali walau pelan


“Hahaha. Jadi sekarang kamu tarik kembali tiga puluh hari hubungan tanpa status kita ok? Deal?”


“No deal.”


“Sayang.., kamu janji setelah aku memberi tahu alasannya kenapa berubah pikiran lagi yang.” Protes Fariz


“Aku tetap ingin melihat kesunggihanmu aa. Aku tak mau menuntut apapun padamu, tapi kamu yang memutuskan sikapmu sendiri. Akan banyak hal yang kita hadapi setelah pernikahan. Penurunan ego hal wajib dan harus kita lakukan. Tak ada kata aku atau kamu tapi kita setelah pernikahan aa. Kita adalah dua insan berbeda yang dipersatukan dalam sebuah ikrar janji menerima suka duka bersama. Apakah aa siap dengn baik buruknya aku? Menerima segala kekurangan dan ketidak baikannya aku?”


“Aa akan buktikkan dengan berjalannya waktu. Jika kamu izinkan besok juga aa berani memintamu kepada kedua orangtuamu. Insya allah aa siap dengan baik dan buruknya kamu. Satu paket yang ada padamu adalah kita. Maafkan aa yang sempat cemburu buta.”


“Aa jangan bercanda mau melamar besok. Mari kita berproses sampai kita yakin akan jalan yang akan kita tempuh.”


“Aa nggak bercanda sayang. Tapi jika kamu masih ingin kita meyakinkan dahulu, mari kita serahkan jawabannya kepada Sang Pemilik kita dengan memohon di sepertiga malamnya. Bagaimana sayang?”


“Aku setuju aa, mulai malam ini mari kita memohon kepadanya.”


“Iya sayang.”

__ADS_1


__ADS_2