
“Sayang boleh ya hanya sekali saja. Aku juga nggak mungkin nekad naik wahana itu membahayakan diri dan anak kita.” Kali ini Nayla ingin melihat orang-orang yang menaikai wahana ekstrim di Dufan. Walau sebenarnya Nayla ingin merasakannya namun Nayla tak seegois itu dan wanita yang sedang mengandung juga tak diizinkan menaiki wahana.
“Enggak boleh sayang, meskipun kamu hanya melihat tapi itu tempat umum. Dan hari ini bertepatan tanggal ulang tahun kota Jakarta. Mas nggak bisa mengosongkan arena dufan ditambah yang tak bisa mas reschedule. Klient mas dari Paris jadi tidak mungkin karena menemanimu ke Dufan mas rescchedule meeting penting ini. Beliau juga orang penting tidak mudah mendapatkan jadwal bertemu dengannya.”
“Mas nghak usah khawatir, aku ke sana dengan Eilia dan para keamananmu, nggak apa-apa ko kalau mas meningkatkan keamanan. Please sekali saja mas. Janji hanya sebentar. Mas meeting saja tidak perlu khawatirin aku, toh di sana ramai dan tidak akan ada yang memperhatikanku. Ya mas aku mohon.” Ucap Nayla dengan mata yang sudah berkaca-kaca
“Sayang usia kandungan kamu sudah masuk HPL minggu ini. Bagaimana jika terjadi sesuatu di sana. Mas benar-benar tak tenang.”
“Mas aku mohon dari banyaknya ngidamku hampir tak ada satupun yang kamu turuti. Ini hanya melihat wahana di Dufan, kamu juga tak izinkan? Kamu maunya aku di sana berapa lama? Walau hanya tiga puluh menitpun nggak apa-apa ko mas. Aku mohon.”
“Lima belas menit. Cukup lima belas menit kamu berada di sana. Dan langsung pulang.”
“Terimakasih mas,” Nayla menubruk tubuh atletis Orion memeluk erat Orion karena bahagia atas izin Orion, Orion membalas pelukkan Nayla mengekus lembut punggungnya.
“Janji kamu hati-hati dan baik-baik saja.”
“Iya mas, aku janji.” Nayla melepas pelukan menatap Orion dengan berbinar. Orion cukup berat melepas izin untuk Nayla. Namun benar yang dikatakan Nayla ini hanya permintaannya ke Dufan bukan lagi tempat-tempat wisata ekstrim yang cukup berjarak.
Nayla menaiki mobil yang sama dengan Orion. Orion mengantarkan Nayla dahulu ke Dufan sebelum menuju tempat meeting berlangsung. Orion memastikkan Nayla sampai dnegan selamat. Tentunya diikuti para keamanan jarak dekat, jauh dan jangan lupakan di Dufan yang ramai para keamanan jarak jauh ada yang berjaga di ketinggian memantau gerak gerik para masyarakat yang penuh untuk perayaan pesta ulang tahun Jakarta dengan panggung musik yang telah siap dnegan daftar jajaran para band musik lokal sudah siap digelar. Walau Orion sangat khawatir kali ini Orion menurunkan egonya mengikuti permintaan aneh Nayla pertama kalinya.
“Hanya lima belas menit ya sayang,”
“Iya mas, terhitung di depan wahana ya?”
“Hmm, Eilia jangan meninggalkan Nayla satu detik pun.”Ucap Orion kepada Eilia yang sudah berada di samping Nayla yang keluar dari mobil Orion
“Mas Eilia juga manusia, jika Eilia mah ke kamar mandi masa harus ditahan.”
__ADS_1
“Baik tuan, saya tidak akan meninggalkan nyonya sedetikpun.”
“Eiliaa....,” tegur Nayla kepada Eilia yang menyetujui permintaan berlebihan Orion
“Bagus, kamu tahukan konsekuensinya jika istri dan anakku sedikit saja terluka.”
“Iya tuan.”
“Mas.,”
“Lima belas menit sayang hanya lima belas menit.”
“Iya..,iya aku pergi sekarang. Hati-hati mas. Assalamu’alaikum.” Nayla mencium punggung tangan Orion sebelum ke wahana
“Kamu yang hati-hati, wa’alaikumsalam.” Orion pun meninggalkan Nayla dengan para keamanannya yang cukup banyak bisa dibilang berlebihan. Karena bukan hanya keamanan yang mengikuti Nayla, namun dari jarak jauh keamanan tersebut sudah seperti intel menggunakan pakaian biasa namun mata, telinga dan tubuh mereka siap menerkam jika ada musuh mendekat. Dan di atas wahana ada sebuah helikopter yang memantau gerak-gerik masyarakat yang berbaur dengan peluru jarak jauh, walau bukan peluru mematikkan namun cairan yang ditembakkan seperti peluru bisa membuat sang sasaran tak sadarkan diri atau pingsan.
Nayla pun hanya duduk di tempat duduk yang disediakan oleh para bodyguardnya tak jauh dari wahana tornado, baru satu setengah menit Nayla ingin ke wahana Halilintar dan Ontang-Anting. Di setiap wahan ekstrim Nayla habiskan untuk melihat dan merekamnya hanya 1,5 menit. Dari wahana satu ke wahana lain Nayla menggunakan kereta mobil kecil yang berada di dufan. Orion sengaja menyewakan. Karena tahu jarak dari wahana satu ke wahan lain memerlukan waktu, dan tenaga. Sedangkan Orion hanya mengizinkan Nayla total 15 menit di seluruh wahana tanpa dihitung jarak setiap wahan. Tepat di wahan terakhir niagara. Nayla pun pulang menuju mobil yang sudah siap mengantarkannya pulang ke kediamannya.
Saat duduk di mobil Nayla sudah tak tahan dengan kontraksi yang lebih lama.
“Auuw..huh..Ei..,sakit.” Nayla mengelus perut bagian bawahnya
“Nyona apa anda akan melahirkan?” Eilia panik melihat Nayla yang kesakitan
“Aauuw.., mung..kin Ei, aaauuuw...,huh.., Pak kita ke rumah sakit ya.”
Eilia yang oanik bingung harus bagaimana karena pertama kalinya mendapingi orang yang akan melahirkan. Nayla yang sudah berpengalaman lebih tenang dan bisa berpikir jernih. Saat mobil dilajukan Eilia baru teesadar akan kepanikannya yang dari tadi hanya memegang tangan Nayla yang menggenggamnya.
__ADS_1
“Nyonya.., sa ya telefon tuan da hulu.” Ucap Eilia dengan tergagap karena sungguh dirinya gugup melihat Nayla selain panik melihat Nayla yang kesakitan dengan peluh yang mengucur Eilia juga terngiang ucapan Orion. Konsekuensi jika terjadi sesuatu kepada Nayla dan anaknya, Orion tak akan memberikan ampun bahkan mendapat rasa setimpal untuk kesakitan mereka.
“Jangan Ei, mas Rion lagi meeting. Nanti saja jika di rumah sakit.”
“Ta..pi..”
“Aaauuuw...huuh...please Ei., aku minta kamu fokus saja menggenggam tanganku. Sakit sekali Ei.”
Mang Jajang supir Nayla pun tak berani menghubungi Orion karena Nayla melarang. Saat sudah sampai rumah dakit, Nayla di dibawa dengan ranjang menuju ruang VVIP.
Tanpa pikir panjang mang Jajang pun menghubungi Dirga karen Orion tidak mengangkat telefonnya.
“Hallo tuan Dirga, nyonya masuk rumah sakit tuan mau melahirkan.”
“Apa? Kenapa baru menghubungi sekarang?”
“Nyo..,” belum terjawab Dirga sudah mematikkan sambungan
“Shiit, mati kalian tuan Rion akan murka.” Gumam Dirga bermonolog
Dirga masuk ke ruang VVIP sebuah restoran membisikkan apa yang dikatakan mang Jajang. Orion langsung berdiri dari duduknya. Oriin telah selesai meeting dengan hasil kerja sama yang disetujui. Sebelum Dirga masuk Orion sedang menikmati hidangan yang disediakan untuk menyambut klientnya dari Paris.
“Tuan maafkan saya, saya tidak bisa menemani anda menimati hidangan ini. Istri saya akan melahirkan. Sebagai gantinya saya dan istri saya nanti akan datang ke undangan pernikahan anak anda di Paris.”
“Ok tidak masalah Orion, saya senang bisa bekerja sama denganmu, semoga persalinannya dilancarkan dan saya tunggu kehadiranmu dan keluargamua di sana.”
“Baik tuan.” Walau Orion sudah panik dan terkejut Orion masih bisa berpikir jernih untuk tetap menghormati klientnya. Orion pun menuju mobilnya yang sudah siap di depan restoran dengan dikendarai Dirga
__ADS_1
“Cepat Dirga.” Bentak Orion kepada Dirga yang sedang mengemudi. Dirga pun mengemudikan dengan kecepatan tinggi jalanan sudah di blokade atas perintah dirinya.
LIKE, KOMEN, VOTEE hey misstizenku zheyenk 🤭🤗😂🥰