
KENCENGIN LIKE, VOTE & ramaikan KOMENNYA jika miss mau CRAZY UP
Sudah satu minggu hubungan Fariz dan Fiana membaik. Selama jam kantor Fariz juga bisa profesional, ia juga menegur saat Fiana salah. Walau hal itu ia lakukan atas permintaan Fiana. Padahal jika kedalahan kecil Fariz bisa mentoleeansinya. Tapi Fiana memohon jika dirinya melakukan kesalahan perlakukan ia sebagai karyawan semestinya.
Namun setiap jam makan siang Fariz akan berubah ke mode calon suami dan kekasih Fiana.
“Sayang, kemarilah.” Panggil Fariz meminta Fiana duduk di sofa sebelahnya. Fiana sedang membereskan meja Fariz.
Fiana mengikuti perintah Fariz duduk di sebelahnya. Tapi Fiana memilih duduk berjarak dipojok sofa yang sama dengan Fariz. Hal itu malah membuat Fariz kesenangan. Ia merebahkan kepala di pangkuan Fiana.
“Tuan apa yang anda lakukan?"
“Lihatlah jammu? Sudah masuk jam istirahat.”
“Tapi ini di kantor aa.”
“Sayang biarkan sebentar saja seperti ini. Hari ini cukup melelahkan.” Fariz malah menutup mata dengan lengan diatasnya. Karena merasa Fiana tak menolak dan merespon. Ia membuka mata dan menurunkan lengannya
“Elusin yang.” Rengek Fariz
“Enggak mau.”
Fariz berdecak, membawa tangan kanan Fiana ke kepalanya. “Jangan nolak sebentar saja yang.”
Walau tak mau Fiana menuruti permintaan sang kekasih menyebalkanya jika saat bermanja seperti ini. Elusan-elusan lembut membuat Fariz membalikkan wajah ke bagian perut Fiana dan melingkarkan satu tangan ke belakang pinggang Fiana
“Aa jangan seperti ini, nanti kalau ada yang masuk gimana?”
“Ya nggak gimana-gimana sayang. “ Fariz mendongakkan wajah melihat wajah cantik wanitanya
“Aa iih kumat nyebelinnya.”
“Nyebelin tapi suka kan?" Fariz malah terkekeh
“Terserah aa lah, dasar kepedean.”
“Pede itu harus sayang.”
__ADS_1
“Yayaya.” Fiana memutar bola matanya
“Sayang lucu deh kalau di perut kamu ada dede bayinya,”
Cup
Fariz mengecup perut Naynia yang tertutup kemejanya
Jelas bola mata Fiana membelalak
“Aa apa-apaan iih? Jangan macem-macem.”
“Nggak macem-macem cuman satu macem. Bayangin ada dede bayi di perut kamu ini.”
“Aa apaan sih menikah aja belum.”
“Iya setelah menikah lah sayang. Nikah yuk?” Kesepuluh kalinya Fariz mengajak Fiana menikah saat mengobrol santai seperti ini. Namun selalu ditolak
“Mulai deh.”
"Mulai apaan lagi?"
"Mulai bangun kita ke KUA yuk?"
“Aa mulai ngawur.” Fiana malah berjalan dahulu mengabaikan uluran tangan Fariz
“Aa nggak ngawur sayang. Besok kamu ada acara tidak?”
“Memang mau apa?”
“Kencan ala Fariz.”
“Maaf tuan anda dan saya tidak dalam hubungan sepasang kekasih.”
“Nona Fiana, esok ku jadikan kau kekasihku bahkan ratu di kehidupanku. Kamu tak boleh menolak ajakan kencanku ok?”
“Terserah.”
__ADS_1
“Aduh sayang jangan mulai pakai bahasa wanita, aa tuh pusing kalau perempuan sudah bilang terserah. Nggak jelas maksudnya.” Fariz serius dengan ucapannya, ia telah mempersiapkan sesuatu untuk hari esok
“Aa pikir saja.”
“Kamu sensi sekali sayang? PMS ya?”
Fiana memutar bola matanya. Walau ucapan Fariz benar karena PMS Fiana tak mau mengatakan hal yang membuat dirinya malu.
Sebelum Fiana masuk ke kediamannya, Fariz memberikan paper bag berisi sebuah dress cantik berwarna maroon lengkap dengan aksesories perempuannya. Hijab pashmina, sepasang anting aksesories hijab, dan high heels.
“Malam jam tujuh aku akan menjemputmu sayang.”
“Mengapa harus menggunakan ini?”
“Karena besok hari spesial kita.”
“Memang ada acara formal harus menggunakan dresscode segala.”
“Sayang tak bisakah kamu tak ngeyel sehari saja?”
“Baiklah tuan besar.” Fiana berniat membuka handle pintu mobil namun lengannya dicekal dan ditarik tepat sasaran kedua bibir mereka saling bertemu
“Aaaaaaaa...,” teriak Fiana setelah kecupan berakhir
“Nggak usah teriak sayang, gendang telinga aa bisa pecah nih.” Ucap Fariz tanpa berdosa pura-pura menutup kedua telinga dengan kedua tangannya
“Suruh siapa selalu ambil kesempatan.”
“Suruh siapa bibir kamu manis.”
“Susah emang ngomong sama aa mending nggak usah.”
Brak
Fiana yang kesal dengan sikap Fariz yang menyebalkan baginya menutup pintu mobil Fariz dengan kesal, efek Fiana yang sedang PMS juga. Fariz hanya bisa mengelus dadanya, ia mencoba mengerti dan bersabar saat Fiana masuk ke waktu datang bulan. Bahkan tanpa Fiana tahu Fariz menghitung masa subur Fiana. Hitung-hitung latihan untuk mengetahui masa subur Fiana setelah menikah agar tahu waktu yang tepat untuk menghasilkan buah cinta mereka.
Fariz juga tahu sejak dahulu Fiana sama seperti Freya risih dengan hal-hal tabu. Untuk itu Fariz tak menanyakan langsung pada Fiana. Tapi mengamatinya sendiri.
__ADS_1