Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
34. Anugerah Terindah


__ADS_3

Siang ini Orion dan Nayla menuju salah satu rumah sakit ibu dan anak terbaik di Jakarta. Dokter kandungan terbaik yang direkomendasikan Ibu Nayla di Bandung.


Saking senangnya, tanpa sepengetahuan Nayla sebelum ke rumah sakit, Orion menelepon sang mertua, ibu Nayla terlebih dahulu. Ia memberi tahu pemeriksaan dokter keluarga terhadap dirinya, lalu ia menanyakan pendapat mertuanya siapa dokter kandungan terbaik. Ibu Nayla merekomendasikan dokter kandungan terbaik di rumah sakit terbaik di RS P** di Jakarta. Karena beberapa kakak Nayla yang terlahir di Jakarta diatasi oleh dokter terbaik di RS sana.


"Mas kita pergi sekarang?" Nayla bertanya pada Orion yang sudah selesai menelepon ibu Nayla di ruang keluarga.


"Iya,sayang. Kamu sudah siap?"


"Sudah, mas. Kita pake supir aja ya? Jangan mas yang mengemudikan."


"Iya, sayang. Yuk kita keluar." Orion mengenggam tangan Nayla menuju mobil yang sudah disiapkan beserta supirnya.


Selama diperjalanan Orion terus mengenggam tangan Nayla, ia mengecupi punggung tangan Nayla terus. Rumah mereka yang berada di kawasan elit dan strategis tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ke RS P** . Setelah mobil sampai di RS, dan diparkirakan oleh sang supir. Orion dan Nayla masuk ke RS menuju poly kandungan ke ruang dokter yang direkomendasikan ibu Nayla dan sudah membuat janji.


"Selamat siang tuan Orion dan nyonya Nayla?" Sapa dokter Erisa dengan ramah. Ia tau keduanya dari ibu Nayla yang membuat janji pemeriksaan.


"Siang, dok." Jawab Orion dan Nayla bersamaan


"Silahkan duduk." Dokter Erisa mempersilahkan duduk Nayla dan Orion di kursi depan mejanya. "Kapan terakhir nyonya berhalangan?"


"Kurang lebih tiga minggu lalu."


"Ok, mari kita melakukan pemeriksaan ya nyonya." Nayla berbaring di ranjang pemeriksaan dibantu oleh perawat dan dioleskan gel diperutnya.


"Tuan bisa lihat di layar ini ada kantung embrio yang sangat kecil usianya masih 3 minggu." Orion yang sudah ada di samping Nayla melihat ke layar yang di tunjuk dokter.


"Terimakasih terimakasih, sayang menjadi ibu dari anak mas." Orion mengecup kening Nayla yang masih berbaring. Ada air mata di ujung matanya.


"Iya mas alhamdulillah, sudah ada malaikat kecil di perut Nay." Nayla yang terharupun meneteskan air mata kebahagiaan. Perawat membersihkan gel di perut Nayla dan Orion dengan sigap membantu Nayla bangun dari pembaringannya. Mereka duduk di kursi berhadapan dengan dokter lagi.


"Begini tuan, untuk janinnya sehat. Tapi karena usia janin masih trisemester pertama dan sangat rentan, sebaiknya nyonya tidak melakukan pekerjaan yang berat, jangan terlalu kelelahan, dan jangan stres. Apa nyonya mengalami morning sickness seperti pusing, mual, muntah-muntah atau lemas?"


"Saya ga merasakannya, dok. Tapi suami saya yang merasakannya. Apa itu hal wajar, dok?"

__ADS_1


"Wajar nyonya, jadi pa Orion mengalami syndrom couvade atau kehamilan simpatik, ini fenomena sang suami yang mengalami gejala-gejala yang dirasakan oleh istri yang sedang hamil. Beberapa di antaranya adalah mual-mual, muntah, sakit kepala bahkan sakit punggung."


"Saya akan merasakan hal itu sampai kapan, dok?" Tanya Orion kepada dokter


"Untuk pastinya memang tidak ada ahli yang mengatakan sampai kapan, tapi dari beberapa pasien yang pernah merasakan, sindrom ini biasa terjadi di awal semester hingga semester kedua kehamilan."


"Untuk berhubungan intim apakah masih bisa dok?" Orion menanyakan hal ini karena ia tak tahu apakah berpengaruh pada kehamilan Nayla yang masih kecil atau tidak. Saat kehamilan Arga dari istrinya pertama ia sedang di luar negeri dan pulang saat kandungan sang istri lima bulan. Dan tak pernah ada larangan menyetubuhi istrinya


"Mas," Nayla menyentuh tangan Orion karena ia malu Orion menanyakan hal itu dengan pipinya yang memerah


"Tidak apa-apa nyonya Nayla. Itu pertanyaan wajar yang banyak dipertanyakan pasien saya." Dokter menjawab dengan senyum ramah. "Untuk berhubungan intim masih boleh tuan, tapi dalam seminggu hanya satu atau dua kali saja dengan tempo perlahan," jelas sang dokter kepada Orion dan Nayla.


"Baik, dokter. Adakah pantangan makanan untuk istri say, dok?" Tanya Orion lagi.


Dokter Elsa menjelaskan makanan apa saja yang baiknya dikonsumsi, dilarang dan dikurangi Nayla. Setelah konsultasi, dokter memberi resep vitamin untuk Nayla. Resep ditebus oleh Dirga. Orion dan Nayla masuk ke dalam mobil Orion yang sudah menanti di depan loby rumah sakit.


"Sayang, kita ke mall terdekat ya?"


"Mau kemananya mas?"


"Mas mau beli apa di sana? Untuk perlengkapan bayi kan calon baby kita masih sangat kecil mas dan belum tau jenis kelaminnya."


"Kita ga akan beli perlengkapan calon bayi kita, sayang. Mas mau beli susu hamil untuk kamu, sayang."


"Ooh, Nay pikir mas mau beli peralatan baby kita." Ucap Nayla dengan terkekeh. Orion yang bahagia mendekap Nayla dan mengecup pucuk kepalanya yang tertutup hijab pashmina.


Tak butuh waktu lama Orion dan Nayla sampai ke mall xxx. Mereka berjalan bergandengan menuju store yang dimaksud. Orion yang tak suka tatapan orang-orang merangkul bahu Nayla dengan posesif. Mereka masuk ke store mom n kids.


"Selamat sore tuan, nyonya." Sapa seorang pegawai store dengan ramah dan menundukkan badannya.


"Sore," hanya Nayla yang merspon sapaan pegawai teesebut. Orion seperti biasa dengan wajah datarnya. Ia tak pernah ramah kepada siapapun kecuali orang terdekat dan keluarganya. Orion membawa trolli dorong dengan tangan kanannya. Ia merangkul Nayla membawanya ke bagian susu ibu hamil.


"Mas mau brand yang mana?"

__ADS_1


"Tadi mas tanya ke ibu dan mamah. Mereka merekomendasikan brand s, x, z."


"Terus mas mau ambil yang mana?" Orion melepas rangkulannya ia mengenggam tangan Nayla dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Orion memasukkan masing-masing brand yang memiliki tiga variant vanilla, choclate dan stawberry masing-masing brand 3 ukuran besar.


"Mas, banyak sekali. Ga salah? Mas ambil ada satu, dua, tiga,,,,enam,,,sembilan,,dua belas.....enam belas. Astagfirullah mas, mas mau Nay habisin semua susu ini?" Nayla menghitung jumlah bungkusan yang diambil Orion


"Tidak apa-apa, sayang. Ini untuk stok selama sembilan bulan kamu mengandung, jadi tak akan bosan dengan rasa yang berbeda dari brand berbeda."


"Tapi ini satu bungkusnya aja mas bawa ukuran yang paling besar mas, ukuran 1000g loh. Emang mas mau sekalian jualan susu hamil?" Nayla menggelengkan kepala dengan sikap Orion yang berlebihan


"Hahaha, ya engga gitu sayang konsepnya."


"Pokonya beli secukupnya mas, jangan sebanyak ini. Cukup satu rasa satu dan satu brand saja."


"Sayang, mas ga mau kamu ataupun anak kita kekurangan asupan gizi."


"Tapi asupan gizi baby kita bukan hanya dari susu saja. Dokter juga tadikan sudah bilang masku tersayang." Ucap Nayla dengan lembut


"Mas mengerti saran dari dokter. Tapi mas juga ga mau membuat kamu tersiksa dengan merasa bosan dengan rasa yang sama, sayang. Izinkan mas memberikan yang terbaik untuk kamu dan anak kita, ya? Mas ga mau seperti Arga dulu yang tak mas perhatikkan semenjak dari kandungan." Nayla merasa bersalah dengan melarang Orion membelikan susu beraneka variant dan brand.


"Maafin Nay mas, bukan maksud Nay mengingatkan masa itu."


"Engga, sayang. Mas hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kamu, Arga dan calon bayi kita."


"Mas selalu memberikan yang terbaik untuk Nay, Arga dan calon bayi kita ko mas. Terimakasih, ya mas."


"Kamu tak perlu berterimakasih sayang. Kehadiran kamu dan calon bayi kita adalah anugerah terindah untuk hidup mas. Kita jaga sama-sama ya, sayang?"


"Iya mas. Orion yang tak peduli dimana mereka berada memeluk Nayla dengan sayang."


"Mas, jangan gini. Malu di tempat umum."


"Engga apa-apa, sayang." Orion mengabaikan pandangan orang yang melewatinya

__ADS_1


"Mas, malu." Orion menuruti permintaan Nayla melepas pelukan, ia kembali mengenggam tangan Nayla menuju kasir.


__ADS_2