Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
147. Season 3 - Gengsi


__ADS_3

"Mamaaah...,"teriak Fania yang baru memasuki mansionnya


"Salam dulu sayang bukan teriak."


"Assalamu'alaikum mah,"


"Wa'alaikumsalam, kenapa teriak-teriak?"


"Mamah nggak bilang ke Nia kalau perusahaan baru Nia itu milik ayah Rion dan direkturnya Aa Fariz."


"Masa sih? Beneran mamah nggak tahu loh sayang. Mamah dapet infonya dari internet. Mamah juga nggak ngeuh perusahaan kamu bekerja sekarang salah satu perusahaan milik keluarga Hardiardjo. Tapi kamu nggak usah heran dong sayang. Perusahaan ayah Fariz kan memang banyak jadi mana mamah hafal." Bohong Andara kepada Fiana. "Berbohong demi kebaikan masa depan anakku kan tak masalah." Pikir Andara


"Beneran mamah nggak tahu?"


"Beneran sayang. Emang kenapa coba kalau direkturnya Fariz bukannya kamu senang kan satu kantor dengan Fariz."


"Beda mah itu dulu bukan sekarang."


"Beda darimana sampai sekarang aja masih sibuk nyari info Fariz di majalah bisnis. Jangan gengsian sayang ngaku deh sama mamah. Nyesel loh nanti Fariz nya di embat orang."


"Iih apaan sih mamah." Fania memutar bola matanya. "Fania capek mau istirahat dahulu."


"Ok..,ok.., anak mamah sudah nggak suka Fariz. Kabar terakhir dari ibu Nayla sih dia berniat menjodohkan Fariz loh sayang."


"Bodo amat, toh sekarang Nia sudah tak suka. Nia bisa berkomunikasi dengan aa Fariz biasa aja bahkan Nia ketusin." Walau ucapan dan hati berbanding terbalik. Fiana sedikit kaget dengan niatan Nayla yang akan menjodohkan Fariz, namun dia tak akan goyah untuk tak peduli Fariz lagi


"Ya Rabb Nia jangan kumat deh judes-judesnya gimana ada yang mau sama kamu. Nyesel nanti kalau galak-galak Fariznya berpindah ke lain hati."


"Berpindah ke lain hati gimana? Orang nggak pernah menetap ke hati Nia."


Andara hanya tertawa kecil dengan kepesimisan sang anak gadis bungsunya.


"Sayang mana dirimu yang tak mudah menyerah dan berpikiran positif. Mungkin kali ini do'amu terijabah."


"Impossible mah, aa Fariz sekarang pewaris utama ayah Rion pasti banyak banget perempuan yang memburunya."

__ADS_1


"Tak ada yang tak mungkin sayang jika Allah menghendaki. Berdo'alah. Jangan judes-judes sama aa Fariznya ok?"


"Tergantung sikap dia lah mah. Nia bukan Nia yang dulu bisa aa Fariz atur seenaknya. Yang nurut di perintah apa saja."


"Hey sayang bagaimanapun sekarang kamu bawahannya, ya harus nurut lah. Anggap saja latihan menjadi istrinya."


"Aduh mamah ko makin ngawur iih. Sudah aah Nia mau istirahat."


**


"Queendy apa jadwal saya hari ini?" Keesokan harinya di ruang Fariz


"Maaf tuan bisa panggil saya dengan sebutan sewajarnya. Panggil saya Fania." Fania merasa tak enak karena ada Elang di belakang Fariz


"Lang bisa tinggalkan saya dengannya." Fariz meminta Elang meninggalkan mereka


"Baik tuan, permisi."


"Sebutkan jadwal saya Queendy?"


"Tuan saya mohon,"


Fiana memutar bola matanya. Semua itu tak lepas dari perhatian Fariz, membuatnya gemas. Fariz bangun dari kursi kebesarannya, mendekat pada Fiana yang berdiri di depan mejanya.


"Apa jadwal saya queendy?" Fariz sengaja berada di belakang Fiana menengokkan wajahnya ke tab yang dipegang Fiana dengan berbisik. Posisi mereka seperti berpelukkan di belakang, membuat bulu kuduk Fiana berdiri.


"Ya Allah aa Fariz iih bisa nggak, nggak ngagetin?" Fiana baru sadar Fariz sudah ada di belakangnya dari tadi ia fokus pada tab di tangannya


"Nggak bisa sayang."


Blush pipi Fiana memerah karena sebutan dari Fariz.


"Nggak bisa dibiarin, jangan goyah Fiana. Baru ketemu kamu aja sudah berani begini. Pasti sebelumnya sudah banyak wanita yang dibuatnya GeEr." Batin Fiana. Fiana mundur dengan membalikkan tubuh namun kakinya mengenai kaki Fariz dan hampir terjatuh namun lengan kokoh Fariz menangkapnya.


Cup

__ADS_1


Kedua bibir mereka bertemu saat Fiana hampir jatuh, Fariz menahannya beruntungnya mereka jatuh ke sofa dengan posisi Fiana di bawah dan kedua bibir mereka bertemu. Awalnya keduanya membelalakan mata. Namun Fariz tak menyiakan kesempatan mencium dalam Fiana. Fiana memukul dada bidang Fariz namun tenaganya kalah dengan cekalan tangan Fariz. Kedua tangan Fiana dicekal Faris dinaikkan ke atas kepala mereka. Fiana tak bisa berontak, saat ******* menjadi lembut Fiana ikut memejamkan mata menikmati apa yang dilakukan Fariz. Ini kedua kalinya untuk mereka. Karena saat Fariz masih di tingkat putih abu mereka pernah tak sengaja saling mengecup dengan keadaan hampir sama akan terjatuh di ruang keluarga rumah Fariz.


Bedanya kali ini mereka berciuman bukan sebuah kecupan. Karena Fariz merasa Fiana tak memberontak lagi ia melepaskan kedua tangannya, menekan tengkuk Fiana, sedangkan Fiana refleks mengalungkan kedua tangan di lehernya. Semakin lah Fariz memperdalam lumatannya, mencari celah memasuki mulut Fiana, Fiana memberi akses. Fariz mengabsen isi mulut Fiana, tak sadar Fiana mengerang suara merdu yang baru pertama kali dikeluarkan dan didengar Fariz hampir saja membuatnya lupa akan batasan. Fariz menindih tubuh Fiana. Namun Fiana mendorong dada Fariz sekuat tenaga. Fariz terdorong walau tak terlalu mundur.


"Maaf Queendy," Fariz menghapus sisa salivar di bibir ranum Fiana. "Jangan biarkan siapapun menyentuhmu, bibirmu semua yang ada di tubuhmu milikku." Fariz bukannya melepas Fiana dalam kungkungannya tapi ia malah menempelkan dahinya di dahi Fiana satu tangan mengelus pucuk kepala Fiana yang tertutup hijab.


Fiana masih mengatur napasnya, kedua tangannya meremas kemeja yang digunakan Fariz. Gelanyar aneh dalam hatinya menyeruak, hangat dan nyaman dengan apa yang dikatakan dan dilakukan Fariz.


Tok


Tok


Tok


Fariz mengubah posisinya di samping Fiana. Merapikan kemeja dirinya, berjalan ke kursi kebesarannya


“Masuk,”


“Ariiiz..,” teriak seorang wanita mungil bermata biru dengan rambut panjang kecoklatan, ia berlari ke arah Fariz yang baru saja akan duduk. Menubruk tubuh Fariz memeluk dan memberi kecupan di pipinya. Fariz yang belum siap terduduk dikursi kebesarannya dengan masih berpelukkan.


Wanita tersebut tidak menyadari dari tadi ada Fiana di sofa ruangan tersebut.


“Lepas Key,” Fariz melepaskan pelukkan Keyla


“Ya ampun kamu nggak kangen sama aku Riz.”Keyla mencebikkan bibirnya. Fiana yang dari tadi masih tertegun dengan sikap dan ucapan Fariz, merasa di angkat ke langit lalu dijatuhkan ke bumi. Fiana bangun menuju mejanya. Baru mendapat harapan sudah dipupuskan kembali. Karena sudah masuk jam istirahat Fiana putuskan keluar kantor untuk makan siang, walau dirinya tak napsu untuk makan. Tapi setidaknya bisa keluar dari ruangan menyesakkan ini, padahal ruangan luas dan berAC. Fariz yang melihat perubahan ekpresi Fiana merasa tak enak.


“Saya permisi keluar tuan.”


“Keyla baru menyadari keberadaan Fiana berbalik. “Eeh siapa Riz?"


“Sekretaris pribadiku.” Fariz tak sungkan mengatakan dengan tegas dan menekan kata pribadiku


“Permisi.” Fiana yang kecewa menghiraukan ucapan Fariz


Jangan gengsian kan jadi gampang salah paham nih, miss sendiri sebel nih sama si aa Fariz nggak tegas mengamggap Fiana apa 😢 Uda aah miss kabur dulu, agak sepi nih 😅😂🤣✌🏼

__ADS_1


Makannya Ayo dukung miss dengan LIKE, VOTE, HADIAH🌹 nya zheyenx 🤗


Senin loh voucher bacanya bisa dipake VOTE. TEKAN TOMBOL LIKE, VOTE, HADIAH 🌹 dan ramaikan komennya 🤭🤗


__ADS_2