
Miss ngemiss KIKE, 🌹, VOTE dan komennya dong 🤭
Miss lagi ngadain giveaway di novel Freya kasih nama couple buat pasangan di sana ya yang unik pemenangnya miss kasih uang jajan sh*opee pa*y 🤭🥰
Sikap kekanan-kanakan Fariz dimulai esok harinya. Tak memberikan Fiana pekerjaan apapun yang berhubungan dengan titelnya. Hanya mengerjai Fiana dengan meminta dibuatkan minuman beberapa kali yang tak pas sesuai seleranya. Meminta memijitinya, melepas dan memasangkan jasnya, memfotocopy dokumen tak penting bahkan memberikan tugas remeh sekretaris ganjennya pada Fiana.
Hal itu berlangsung hingga satu minggu lamanya. Di hari ketujuh bahkan Fariz mempermalukkan dirinya di depan sekretaris yang jelas menaruh hari di kepada Fariz. Wilona merasa terlindungi oleh Fariz namun hal itu membuat batas titik lelah Fiana berada. Fiana sudah menentukkan pilihan dan keputusannya untuk hari esok. Setelah berbagai tingkah Fariz. Yang berakhir dengan dirinya selalu menjadi bahan gunjingan
Para karyawan menjadikannya gunjingan karena mulut lember Wilona yang so tahu dan menuduh Fiana yang tidak-tidak. Fariz ataupun Elang tak mengetahui itu karena tak sampai ke telinga mereka. Namun Fiana sempat bertahan dengan gunjingan -gunjingan yang tak benar. Namun gunjingan terakhir yang dirinya dipermalukkan Fariz dihadapan Wilona, Fiana tak bisa bertahan. Wilona menggosipkan berlebihan dan tak sesuai kenyataan.
Esok hari pagi sekali Fiana sudah berada di ruangannya, agar dirinya bisa menaiki lift tanpa ada karyawan lain. Fiana sudah lelah dengan cemoohan dan tuduhan yang tak benar adanya.
Fiana melihat Fariz memasuki ruangannya. Ia pun mengetuk pintu ruang Fariz
Tok
__ADS_1
Tok
Tok
“Masuk.”
“Pagi tuan. Ada yang ingin saya bicarakan.”
“Ok waktumu satu menit dari sekarang.”
Saya belum menyetujui pengunduran dirimu. Berhenti di situ." Fariz jelas merasa shock Fiana berani mengundurkan diri tanpa persetujuannya
Fiana berbalik. "Saya tak meminta persetujuan anda tuan. Itu pilihan dan keputusan saya. Jika anda meminta saya membayar pinalti saya siap membayarnya." Fiana berbicara dengan tegas dengan sorot mata datar namun syarat dengan luka
"Apa kamu tak terima dengan semua perlakuan saya? Harusnya kamu bersyukur hanya itu hukuman untukmu yang bermain di belakangku. Memberi alasan klise dengan meragukanku tapi kamu sendiri telah bermain di belakangku." Suara Fariz mulai meninggi tak terima dengan ucapan Fiana yang mengundurkan diri tanpa persetujuannya sebagai pimpinan puncak
__ADS_1
"Apa maksudmu aa? Siapa yang bermain di belakang? Siapa?" Siara Fiana juga mulai meninggi, rasa sesak, sakit dan air mata yang hampir beranak pinang di pelupuk mata ditahannya
"Tak usah berkelit, malam itu kamu lebih memilih menghubungi lelaki yang pernah dekat denganmu dibanding menerima panggilan dariku. Mangkir atas kewajibanmu dan tanggung jawabmu di kantor hingga empat hari lamanya."
"Kenapa seolah aku yang bersalah aa? Siapa yang tega meninggalkan wanita di pinggir jalan sepi larut malam dengan hujan deras? Kamu tahu betapa aku takut? Tapi Allah maha baik mengirimkan seseorang secara tak sengaja melewatiku. Bahkan aku masuk rumah Sakitpun kamu tak tahu dan tak mau tahukan?" Kini cairan bening lolos dari mata Fiana membasahi pipinya, Fiana tadinya tak ingin mengatakan atau menjelaskan apapun pada lelaki egois di hadapannya namun ucapan Fariz telah menuduhnya melakukan hal yang tak dilakukannya
Respon Fariz jelas tertegun dengan ucapan Fiana, ucapan Fiana sebuah tamparan keras untuknya yang mendahulukan rasa cemburu dan amarahnya.
Fariz berdiri dari kursi kebesarannya mendekati Fiana. Menyentuh tangan Fiana, namun dihempas kasar oleh Fiana.
"Jangan sentuh aku aa." Tangisnya menyayat hati bagi siapapun yang mendengarnya
"Sayang.., maaf..," Fariz menarik Fiana dalam dekapannya namun Fiana memberontak tapi Fariz malah memeluknya semakin erat. Hingga Fiana berhenti memukulnya barulah Fariz mengelus lembut punggung Fiana. "Maafkan aa sayang. Aa tak tahu kamu masuk rumah sakit, aa cemburu melihatmu bersama lelaki itu. Maaf.., maaf.." Fariz ikut menitikkan air mata di pucuk kepala Fiana yang tingginya hanya sedada Fariz. mencium pucuk kepala Fiana yang tertutup hijab
"Kamu jahat aa.., jahat..," Fiana kembali memukul Fariz. Namun kali ini ini Fariz membiarkannya
__ADS_1
"Iya aa jahat.., pukul aa sepuasmu." Pukulan Fiana di dada bidangnya memang tak berarti apa-apa namun Fariz merasakan sakit sesak bersamaan melihat sang wanita tercintanya menangis karena ulahnya yang dibutakan rasa cemburu.