
LIKE
LIKE
LIKE
VOTE
VOTE
RAMIAKAN KOMEN nya misstizenku 🤗😊
Seperti janji Fariz kepada Fiana ia akan membuktikkan keseriusannya. Pagi sekali Fariz sudah berada di kediaman Fiana. Bahkan sang wanita masih bersiap di kamarnya, belum mengetahui keberadaan Fariz. Fariz meminta ibunya untuk tak memberitahu kedatangannya.
“Pagi mah, pah..” Sapa Fiana yang baru turun menyapa kedua orang tuanya di meja makan.
Fariz sendiri sedang ke toilet dahulu.
“Pagi sayang,” Sapa Fariz kepada Fiana yang sudah duduk di sebelah kiri sang papah. Posisi Fariz baru duduk di sebelah Fiana
“Aa kapan datang?” Fiana berbalik ke kursi poisis Fariz duduk, lalu melirik ke kedua orang tuanya sebagai bentuk pertanyaan
“Sudah sejak satu jam lalu kamu bersiap sayang. Fariz menunggumu berdandan. Nggak liat apa sudah berkumis tuh saking lama menunggumu.” Canda sang mamah Andara
“Serius aa?”
Fariz hanya mengangguk dengan senyum mempesonanya
__ADS_1
“Siapkan makanan untuk Fariz sayang. Masa calon istrinya membiarkan calon suami mengambil makanan sendiri.” Sindir sang Papah Eric
Blush pipi Fiana memerah papahnya belum tahu hubungan apa yang akan dijalin Fiana bersama Fariz namun pasti sang mamah yang membocorkannya. Fiana menatap tajam ke arah sang mamah, namun sang mamah menatap sembarang arah sambil menyuapi makanannya ke mulutnya
Fiana pun memasukkan makanan ke piring Fariz. Mereka makan dengan mengobrol ringan. Dan pergi bersama ke Perusahaan.
“Aa ko nggak bilang mau jemput? Tumben pagi banget lagi.”
“Pengen aja sayang. Biar nyampe kantor cepet.”
“Oh itu maksudnya.”
“Nggak gitu juga nanti kamu paham sayang.”
“Aa jangan dibiasain panggil sayang.”
Fiana hanya menghela napas.
Merekapun sampai di loby, kunci mobil telah diberikan petugas valley dan diparkirkan. Karena jam masih pukul 06.15 kantor masih cukup sepi. Fariz berjalan terlebih dahulu atas permintaan Fiana. Fiana dan Fariz berdiri di depan lift berbeda. Lift Fariz terbuka lebih dahulu dengan cekatan Fariz memegang kedua bahu Fiana dari belakang dan mendorongnya ke lift yang sama.
“Aa iih ngapain malah mendorongku ke liftmu?” Baru saja kemarin Fiana meminta Fariz tak memperlakukan dirinya spesial, malah seperti ini jadinya.
“Kamu kan sekretarisku sayang. Jadi ya seperti biasa harus pakai lift yang sama.”
“Bukannya sudah dari satu minggu yang lalu aku dibiarkan menggunakan lift karyawan.” Sindir Fiana. Karena kesal dengan ucapan Fariz yang tak konsisten Fiana berani menyindir Fariz
“Iya aku salah sayang, maaf ya? Mulai saat ini jangan pernah lagi menaiki lift karyawan, walau tak bersamaku kamu pakai lift ini saja.”
__ADS_1
“Bagaimana bisa yang ada jadi bahan omongan lagi. Siapa aku seenaknya menggunakan lift khusus direktur dan komisaris?" Fiana memutar bola matanya
“Karena kamu calon istriku dan sekretaris pribadiku sayang.”
“Tuan ini sudah masuk kantor, silahkan anda memanggil saya dengan panggilan yang sewajarnya.”
Ting
Bersamaan dengan protes Fiana selesai, lift terbuka.
Fiana masuk ke ruangannya, Fariz malah mengikuti Fiana dari belakang.
“Tuan mengapa mengikuti masuk ke ruangan saya?”
“Ini masih jam 6.25 sayang. Masih belum jam masuk kerja.” Fariz dnegan santainya duduk di sofa yang ada di ruangan Fiana. Lagi-lagi Fariz bertingkah menyebalkan.
“Tuan ini sudah di kantor jangan panggil saya seperti itu.” Ucap Fiana yang mulai kesal dengan ucapan dan sikap Fariz
“Memang ini di kantor tapi ini masih di luar jam kerja sayang. Nggak salahkan? Kamu kan hanya meminta saat kita bekerja. Ya ini belum masuk jam kerja.” Jawab Fariz membalikkan ucapan Fiana. Fariz memang tak salah ia masuk ke ruangan bawahannya dan menyebut nama kesayangan di luar jam kerja
“Aa please aku mohon jangan gini.” Fiana berjalan mendekat ke sofa yang diduduki Fariz.
“Apa yang kamu mohon sih sayang? Aa berucap dan bersikap sewajarnya di luar jam kerja loh ini.” Fariz benar-benar membuat Fiana harus mengelus dada. Fariz sendiri yang mengatakan akan berhenti mengatakan panggilan sayang jika sudah masuk Perusahaan tapi ia malah mengeles masih di luar jam kerja.
"Menyebalkan, untung sayang." Batin Fiana sambil mengelus dada dengan tingkah dan ucapan menyebalkan Fariz
“Baiklah terserah aa.” Fiana memutar bola mata, berniat berbalik namun tangannya dicekal
__ADS_1
“Aaargh...,” Fiana jatuh ke pangkuan Fariz, Fiana mendorong tubuhnya yang terlalu dekat dengan wajah Fariz, berniat bangun namun tangan Fariz menahan pinggang Fiana