
"Sayang, lihat aku." Fariz memegang kedua bahu Fiana setelah membukakkan seat belt Fiana
Fiana tak ingin menatap mata Fariz untuk itu ia menundukkan wajah. "Sayang kenapa?" Fariz memegang dagu Fiana untuk menatapnya. Saat wajah mereka berhadapan mata Fiana sudah berkaca-kaca
"Apa yang mengganggu pikiranmu sayang?" Tanya Fariz menatap dalam bola mata milik Fiana
Fiana menggeleng. "Tak ada."
"Tak ada tapi mengapa bersedih? Katakan?"
"Siapa wanita itu?" Tanya Fiana memberanikan diri menatap bola mata Fariz
Fariz menghembuskan napas berat, ia malas untuk membahas masa lalu yang sempat mengacaukan hatinya. Fariz melepas pegangan di dagu Fiana, menegakkan tubuh kembali dan duduk di kursi kemudinya kembali.
"Aa bukan tak ingin memberi tahumu sayang. Aa hanya malas membahas yang telah lalu. Saat ini cukup aa dan kamu tak ada yang lain. Semua orang memiliki masa lalu. Aa sudah tak hidup di masa lalu. Kini aa hanya ingin bersamamu. Biarkan masa lalu tempatnya di sana." Fariz kali ini menggenggam kedua tangan Fiana. "Izinkan aa tak membahas yang telah berlalu, bolehkah?"
Fiana pun mengangguk
__ADS_1
"Terimakasih sayang." Fariz menarik Fiana dalam dekapannya. "Aa pastikkan masa lalu tak akan menjadi penghalang untuk masa depan kita. Aa yakin akan dirimu, karena kamu wanita yang aa inginkan dan butuhkan sekarang, nanti dan insya allah selamanya."
"Terimakasih aa, mau memilihku menjadi calon pasanganmu."
"Sayang kamu bukan pilihan. Tapi kamu memang ditakdirkan untukku."
Fiana mengeratkan pelukkan di tubuh tegap nyaman milik Fariz. Fariz mengecup pucuk kepala Fiana
"Aa." Panggil Fiana. Fiana masih belum puas dengan respon Fariz untuk itu ia akan menguliknya langsung dari mulut Fariz sendiri.
"Jika ia datang kembali apakah aa akan kembali padanya?" Tanya Fiana
Fariz menggeleng terasa gerakannya di pucuk kepala Fiana. "Tidak sayang, aa dahulu bersamanya karena kehilanganmu. Dia selalu berada di sisi aa saat kamu pergi tanpa pamit. Dia menghibur aa, selalu ada saat membutuhkannya. Dengan seiringnya waktu dia menggantikan posisimu.Tapi saat aa ingin serius ia lebih memilih karirnya. Untuk itu aa melepaskannya. Ia tak ingin menikah atau memiliki anak." Karena Fariz tak ingin Fiana salah paham mau tak mau ia mengatakannya. Walau tak ingin membahasnya. Akhirnya Fariz mengalah dan menurunkan egonya.
"Aa masih mencintainya kah?" Fiana berusaha tegar dengan pertanyaan yang dilontarkannya sendiri. Bagaimanapun ia harus tahu perasaan Fariz yang sebenarnya
"Jika dikatakan tidak itu tidak mungkin sayang. Dia menemani hari-hari sulit aa kurang lebih dua tahun. Tapi rasa itu tak sebesar dahulu. Kini hanya ada kamu di hati aa, aa memang tak bisa berjanji menghapus perasaan aa. Tapi aa pastikan prioritas aa hanya kamu dan keluarga kita kelak."
__ADS_1
"Aa yakin ingin meminangku?" Fiana menarik diri dari dekapan Fariz duduk kembali di kursinya menatap keluar kaca
"Kenapa aku harus tak yakin?"
"Aa pernah bersama yang lain. Dan aa sendiri masih belum benar-benar berhenti mencintainya. Apakah aa sadar jika kedatanganku ke sini membuat hati aa goyah hingga langsung berpaling padaku?"
"Aku tak goyah, karena perasaanku awalnya milikmu sayang
"
"Itu sepertinya dahulu aa. Beda saat ini." Fiana menarik napas dalam untuk mengatakan keraguannya. Ya Fiana ragu dengan perasaan Fariz yang telah mengatakan hubungannya dengan wanita itu
"Maksud kamu beda gimana?"
"Aa mungkin tak sadar. Dua tahun bersamanya dia menggantikan posisiku di hati aa. Setelah perpisahan dengannya aa sempat kacau dan saat aku datang kembali di hidup aa, aa dengan mudahnya ingin memilikiku. Apakah aku..., maaf sebelumnya aku harus mengatakan ini." Lagi-lagi Fiana menghela napas dan menarik napas dalam. "Apakah aku ini hanya rumah singgahmu? Bukan tempat untuk menetap?"
"Jangan berpikir yang tidak-tidak Fiana. Saya tadi sudah bilang hanya kamu Fiana. Ini yang saya malas membahas masa lalu. Hanya akan membuat pertengkaran." Intonasi Fariz mulai terasa berbeda karena amarah sudah menguasai hatinya walau masih dengan nada normal namun terdengar menyakitkan di telinga Fiana
__ADS_1