
Aa buru-buru sekali sih, mau kemana kita? Ini masih pukul 10 loh.”
“Ke pantai yang membuat kamu pasti bahagia.”
“Kemana sih?”
“Ikut saja. Pakai pakaian renangmu, kita snorkeling sayang.”
“Baiklah.” Tanpa menaruh curiga Fiana mengikuti perintah Fariz mengganti pakaiannya dengan pakaian renang
Resort yang mereka tempati sangat dekat dengan pantai dari atas saja sudah terlihat berbagai karang dan biota laut berwarna di permukaan laut yang dangkal.
“Silahkan di pakai tuan perlalatannya.”
“Saya bantu pakaikan nona.”
“Jangan biar saya yang bantu menggunakan peralatannya kepada istri saya.” Fariz menolak bantuan petugas yang akan membantu Fiana tanpa menunggu jawaban Fiana. Keposesifan Fariz mulai kambuh
“Baik tuan.”
“Sini sayang.” Fariz membantu memasangkan peralatan ke tubuh Fiana. “Kamu siap?”
“Siap sekali aa aku tak sabar berenang dengan biota laut yang berwarna cantik di bawah sana.”
“Ayo..,” Fariz dan Fiana mulai memasuki permukaan laut yang kedalamannya dangkal namun penuh dengan karang dan biota laut
“Indah sekali subhanallah wallahu akbar,” Batin Fiana terpana melihat keindahan biota laut yang dilihatnya langsung
__ADS_1
Fariz dan Fiana saling bergandengan, saling menggenggam. Menuju permukaan yang agak dalam, Fiana mulai merasa aneh dengan melihat bayangan ikan lebih besar seperti lumba-lumba. Fiana menarik tangan Fariz untuk naik ke atas membuka selang oksigennya untuk berbicara.
“Aa ikan apa yang di bawah tadi?? Kenapa besar sekali?” Fiana terlihat ketakutan ia melupakan sesuatu. Fiana lupa jika ia menanyakan tentang ikan Hiu pada Fariz
“Itu Ikan Hiu sayang.”
“Aaah aa kenapa nggak bilang ada Hiu sih, aku takut.” Fiana mengalungkan kedua tangan di leher Fariz memelukmya erat
“Tak apa sayang, itu hanya bayi Hiu, tak akan memangsa kita jika tak ada darah. Tenanglah jangan panik. Lihat di bawah samping kirimu mereka berenang dengan santainya mendekati kita.”
“Astavfirullah aa tega banget kamu ngajak berenang bersama mereka.”
“Nggak apa-apa sayang. Lihatlah beberapa dari mereka mengelilingi kita, mereka tak memakan kita. Coba kamu lihat di depan sana, pasangan yang sama seperti kota bahkan menyentuhnya.”
“Benarkan mereka bukan predator? Tapi aku tak mau lama-lama berenang di sini aa, aku mohon.”
“Aa sayang yang tampan dan baik hati aku mohon kita akhiri snorkeling kita, ya please.”
“Cuman gitu saja?”
Fiana menekan tengkuk Fariz mencium dalam bibir suaminya. Fiana paham mau sang suami. Setiap moment Fariz dan Fiana sudah diabadikan oleh photografer yang Fariz sewa tanpa Fiana tahu agar semua terlihat natural.
“Sudaj ayo,”
“Baiklah sayang terimakasih kiss sea nya.” Fariz mengusap bibir basah Fiana mengajaknya menepi dan keluar dari permukaan laut dangkal
“Aku lapar aa,”
__ADS_1
“Kita makan di sana.” Fariz menunjuk restoran dekat pantai, memilih makanan western yang biasa dinikmati mereka.
“Pelan-pelan sayang, tak akan ada yang memintanya.” Fariz menegur halus Fiana yang makan dengan lahap berbagai menu yang dipesannya
“Entahlah aa aku merasa lapar sekali. Rasanya seperti tak makan berapa hari.”
"Iya tapi pelan-pelan sayang. Kamu bisa tersedak."
Uhuk uhuk...
"Tuhkan kata aa juga," Fariz menyodorkan gelas minuman ke arah Fiana
"Aa ingin klepon,"
"Haah apa klepon?"
"Iya klepon."
"Sayang mana ada di sini klepon."
"Aa kan bisa suruh kokinya buatkan."
"Jangan aneh-aneh sayang, nanti saja di Jakarta."
"Aa ini kan Papua pasti kokinya bisa buat makanan tradisional Klepon."
"Huuh kenapa mulai aneh-aneh sih," Batin Fariz. "Baiklah tunggu sebentar."
__ADS_1
Senin please kasih VOTE DAN KOPI nya dong buat KARYA MISS yang JUDULNYA CEO KEJAM PENOREH DAN PENYEMBUH LUKA atau di FREYA'S A TOUGH WOMAN