
"Emang baby kita ko, ayah aja yang ga mau jauh dari ibu. Sampe-sampe bolos dari Perusahaan dua bulan." Nayla menggoda Orion walau sebenarnya ia juga merasa nyaman selalu berada di sisi Orion. Dan memang tak dipungkiri Orion pun tak bisa jauh dari Nayla. Ia tak bisa melihat Nayla jauh dari pandangannya. Rasa rindu selalu menyiksa Orion sekalipun ia hanya bekerja beberapa jam di ruang kerja. Ia akan mencari Nayla keluar ruang kerja dan sering kali Nayla terjebak dalam ruangan kerjanya hanya untuk menemani aktifitasnya di depan laptop dengan Nayla yang selalu duduk di pangkuannya. Terkadang Nayla yang mudah lelah tertidur dipangkuan Orion dengan kepala bersandar di dada bidang Orion. Orion benar-benar tak bisa lepas dari Naylanya.
"Hahaha, iya sayang ayah ga bisa jauh-jauh dari ibu. Makanya jangan pernah pergi dari sisi ayah ya?"
"Iya, ayah sayang."
"Temani ayah bekerja ya, ga akan lama ko." Orion melepaskan pelukannya ia menuntun Nayla untuk duduk di pangkuan seperti biasa di kursi kebesarannya. Tubuh mungil Nayla tak menghalangi Orion untuk menggerakkan kedua tangan Orion di laptop miliknya.
Sebelum menjadi kebiasaan Orion yang sering meminta Nayla menemani Orion bekerja dalam pangkuan, Nayla sempat menolak duduk di pangkuan Orion. Ia tak ingin mengganggu fokus Orion saat bekerja, tapi Orion keukeuh dengan keinginannya.
Cukup dengan kehadiran Nayla di pangkuan Orion, meskipun Nayla tak melakukan apapun tapi Orion selalu bersemangat menyelesaikan pekerjaan di laptopnya.
Dan sering kali satu tangan Orion yang digunakan mengetik refleks mengelus perut Nayla.
"Anak ayah, anteng di perut ibu, yah. Ibunya lagi menemani ayah kerja." Ucap Orion dengan mengelus lembut perut Nayla
"Iya, ayah," Nayla merespon ucapan Orion seperti anak kecil.
"Ibu ngantuk?"
"Engga, yah. Lebih tepatnya belum, yah." Nayla berucap dengan terkekeh karena memang kenyataan bahwa Nayla sering mengantuk saat beberapa waktu di pangkuan Orion setelah mengatakan engga.
"Kalau lelah kepalanya bersandar di bahu ayah yah, wajah ibu telusupin ke sini?" Orion menunjuk ceruk lehernya
"Ko harus gitu, yah?"
"Entahlah ayah lagi mau wajah ibu di sini." Orion menunjuk lehernya
"Ya sudah kerja lagi, nanti kalau ibu ngantuk ibu bersandar, ya."
"Iya, sayang." Orion melanjutkan pekerjaannya. Baru empat puluh menit berlalu Nayla sudah merasa lelah.
__ADS_1
"Yah, ibu ngantuk."
"Sini, sayang." Kepala Nayla bersandar di bahu Orion dengan wajah menghadap leher Orion. Nayla menikmati aroma leher Orion tak lama ia terlelap. Orion yang masih bekerja sesekali mendekap dan mengelus punggung Nayla.
Lima belas menit kemudian, Orion selesai dengan pekerjaan di laptop miliknya. Ia menutup laptop, mengangkat Nayla ala bridal menuju kamar utama membuka pintu yang terhubung dengan ruang kerja.
Ia menurukan perlahan tubuh Nayla di ranjang king size, menyelimuti Nayla dan ikut merebahkan diri di samping Nayla.
Ia memposisikan kepala tepat di perut Nayla, mencium perut Nayla yang tertutup midi dress, sesekali mengajak berbicara sang calon bayi, dan membacakan sholawat.
"Assalamu'alaikum anak ayah, kamu lelah ya menemani ayah bekerja? Maafkan ayah, yah yang ga bisa jauh dari kamu dan ibu. Sekarang kamu istirahat seperti ibu, ya. Ayah akan menemani kamu dan ibu di sini." Orion bermonolog sendiri ia kembali mencium perut Nayla yang baru menyembul sedikit. Dan memposisikan diri ke bantal tidurnya.
Ia melingkarkan tangannya ke pinggang Nayla dari samping, mengelus perut Nayla dan membacakan sholawat. Ia pun tertidur dengan tangan melingkar di pinggang Nayla.
Jam sudah menunjukkan pukul empat sore hari, Nayla terbangun lebih dahulu. Dengan kepala Orion yang berada di ceruk leher Nayla dan tangan melingkar di pinggangnya. Nayla membangunkan Orion.
"Ayah, bangun, yah..bangun sudah jam empat lebih kita belum ashar loh yah." Nayla membangunkan Orion dengan mengelus lengan kekar yang melingkar di pinggangnya tapi tak ada respon dari Orion. Ia pun membangunkan Orion dengan cara lain mengelus rahang Orion yang menjadi salah satu titik sensitifnya dari awal kehamilan Nayla.
"Jam berapa, bu?" Orion bertanya dengan tangan mengelus pipi chabby Nayla.
"Jam empat lebih sepuluh yah. Yuk kita ashar dulu." Baru saja Nayla akan beranjak Orion menarik tangan Nayla, ia terjatuh ke atas tubuh Orion.
"Kasih ayah kiss dulu, bu." Rengek Orion dengan suara khas bangun tidur, Nayla yang tak mau mengulur waktu mencium sekilas bibir Orion.
"Kurang ibu sayang."
"Lalu, apa lagi ayah, sayang?"
"Ini," Orion menunjuk lehernya. Nayla ingin protes tapi semakin protes semakin mengulur waktu ibadah. Nayla mencium leher Orion, baru akan melepaskan ciumannya. Orion berkata kembali. "Beri ayah tanda kepemilikan, sayang." Orion dengan suara berat menahan gairahnya.
"Gimana caranya, yah." Ucap Nayla dengan polos dengan wajah yang tak berjarak dengan wajah Orion. Meskipun mereka sering melakukan hubungan intim tapi tak pernah sekalipun Nayla memberi tanda kepemilikan di tubuh Orion. Untuk pertama saja ia perlu belajar mengikuti Orion cara memperlakukannya di ranjang.
__ADS_1
"Hahaha," Orion tertawa kecil gemas dengan kepolosan Nayla, tanpa menjawab pertanyaan Nayla Orion membalikkan tubuh Nayla dengan perlahan, ia takut menyakiti bayi mereka di perut Nayla. Orion menindih Nayla.
"Perhatikkan yang ayah lakukan ya, bu." Orion memberi tanda kepemilikan di leher jenjang Nayla dengan sebuah hisapan. Nayla melenguh. Walaupun Orion sering memberi tanda kepemilikan ke Nayla, Nayla tak pernah sekalipun mempelajari caranya. Saat ini kali pertama ia memberi tanda kepemilikan pada Orion
"Ayo ibu lakukan pada ayah, yah." Nayla mengangguk ia memposisikan diri seperti posisi Orion sebelumnya. Memberi tanda kepemilikkan di leher Orion. Orion melenguh karena tangan Nayla tak sengaja menyentuh rahang Orion yang menjadi titik sensitif bagian wajahnya.
Nayla sadar dengan tangan yang menyentuh rahang Orion. Ia melepaskan tangannya dan beranjak mengakhiri permintaan Orion memposisikan duduk di sis ranjang, ia segera beranjak sebelum Orion menerkamnya, ia sedikit berlari masuk ke kamar mandi.
"Bu, jangan lari ibu lagi hamil." Nayla tersadar akan keteledorannya ia berjalan biasa. Tanpa menyahut ucapan Orion ia terus berlalu ke kamar mandi.
"Bu, ko pergi sih. Ibu ga tanggung jawab nih junior ayah ikut bangun." Orion mengusap frustasi wajahnya
Setelah drama tanda kepemilikkan mereka bisa beribadah berjama'ah.
"Yah tumben banget sih minta ibu ngasih tanda kepemilikan di leher ayah?" Nayla bertanya saat selesai berjama'ah
Ayah juga kurang paham bu, rasanya ayah ingin sekali ibu memberi tanda kepemilikan dari ibu, mungkin ayah ngidam bu, haha. Orion tertawa akan keinginannya sendiri yang aneh menurut dirinya. "Bu, ibu harus bertanggung jawab", ucap Orion lagi.
"Tanggung jawab apa, yah?"
"Junior ayah masih bangun," Nayla memutar bola mata aktifitas setelah ibadah berjama'ah pun dilanjutkan beribadah lain yang memuaskan gairah Orion yang terbangun. Mereka melakukannya hingga maghrib menjelang. Dan membersihkan diri bersama. Bukan Orion namanya jika tak memanfaatkan situasi, ia mengulangi aktifitas panas saat mandi bersama.
Serius miss happy sama misstizen yang kritis bahkan ada yang do'ain miss cepet merried nih tangkyuuu looh 🥰 miss aamiin kan dengan aamiin paling serius
do'akan proses miss ya insya allah awal tahun depan miss dipinang cieelaah aamiin... 😚🤭
Banyak pertanyaan juga yang minta masa lalu mamahnya Arga, kenapa Hanum dicerai dan apakah Hanum akan memanfaatkan baby twins untuk menghancurkan kebahagiaan Couple NaRi (Nayla Rion)
Kalian nikmati ceritanya dulu ya, itu semua akan terjawab satu-satu dan akan semakin seru karena oh karena banyak kejutan yang tak kalian kira 🤫😉
Tapi miss minta dukungan KENCENGIN LIKE & VOTE nya guys 🙏🏻😊
__ADS_1