
Setelah jam menunjukkan pukul 11.30 Nayla dan Orion sudah berganti pakaian dengan pakaian baru yang dipesan Orion kepada Dirga setelah pergulatan panas terjadi. Ia dan Nayla bersiap untuk menjemput Arga di sekolahnya.
Saat Orion dan Nayla akan menaiki lift, sekretaris Orion memanggilnya.
"Tuan, maaf ada telepon penting dari investor." Sang sekretaris mengejar Orion yang hendak masuk ke lift.
"Kembali ke ruangan mas dulu saja, mas. Nay tunggu di loby ya," ujar Nayla kepada Orion
"Kenapa harus di loby, kamu ikut mas aja ke ruangan lagi."
"Nay ingin lihat-lihat juga mas, gapapakan?"
"Ya sudah kamu jangan dulu kemana-mana di loby ya, Dirga lagi keluar ga ada yang bisa menemani kamu."
"Iya mas, Nay bukan anak kecil tenang aja mas. Nay tunggu di loby ya."
"Iya hati-hati, sayang." Orion mengelus lembut pipi Nayla sebelum masuk ke lift
"Astaga, tuan Orion kayaknya sayang banget nih sama istrinya yang sekarang. Ga pernah gue liat si tuan lembut begitu." Batin sang sekretaris yang menyaksikan interaksi Orion dan Nayla
'Naylapun turun ke loby. Ia duduk di salah satu sofa single di loby."
"Naylaaa...kamu Naylakan???" Tanya seorang pria yang baru saja lewat sofa yang di duduki Nayla.
"Iya, maaf ya siapa?"
"Masa lupa Nay? Aku Rifan temen SMK satu jurusan beda kelas, aku yang pernah nembak kamu terus ditolak."
"Oh iyaiya saya ingat, kamu kenapa ada di sini?"
"Aku kerja di sini Nay bagian pemasaran. Kamu sendiri kenapa bisa di sini? Kamu juga kerja di sini? Wah bisa dong kita istirahat bareng-bareng. Kamu bag....," Rifan bertanya tanpa jeda, dan belum sempat menyelesaikan pertanyaan Orion datang
"Sayang...," panggil Orion dari belakang Rifan. Rifan menengok ke arah sumber suara
"Pa Orion," ucap Rifan dengan lirih karena terkejut menyebut Nayla dengan panggilan sayang.
"Siapa ini, sayang?" Tanya Orion kepada Nayla dengan wajah yang berubah datar dan tanpa ekpresi dengan rahang mengeras namun tetap berbicara dnegan tenang
"Ini temen Nay ketika SMK mas dia kerja di sini." Nayla menjawab dengan tenang
__ADS_1
"Siapa nama kamu? Bagian apa?" Tanya Orion dengan suara tegasnya
"Euu....saya Rifan, pa. Saya bagian pemasaran pa."
"Ok, silahkan anda kembali bekerja."
"Baik, pa" Rifan pun bergegas berbalik arah menuju lift, baru satu langkah ucapan Orion menghentikkan langkahnya.
"Oh, ya perlu kamu ingat Nayla tidak bekerja di sini, dia istri saya. Jadi hormati dia seperti kamu menghormati saya." Ucap Orion dengan tegas dan dengan suara bariton yang terdengar oleh orang-orang di sekitarnya.
"Mas....," Nayla yang terkejut Orion berkata seperti itu menyentuh lengannya untuk meredam kekesalannya yang terlihat dari ekspresi dan suara baritonnya.
Orion mengenggam tangan Nayla dan menariknya keluar memasuki mobil yang sudah siap di depan loby.
Ketika sudah memasuki mobil, Orion tak berkata apapun.
Mas.., panggil Nayla menoleh ke Orion di kursi belakang kemudi. "Mas ko diam aja? Nay buat salah?" Tanya Nayla dengan lembut dan hati-hati, Nayla begitu perasa sehingga jika orang terdekatnya yang tiba-tiba berubah, ia akan merasa bersalah karena ia selalu menduga ia melakukan kesalahan yang menyakiti orang terdekatnya. Sikapnya yang terlalu perasa, sering dimanfaatkan orang lain.
"Lain kali tidak usah berbicara dengan pria manapun." Ucap Orion masih dengan wajah datar tanpa Ekpresi tapi sudah tidak dengan rahang mengeras, keterdiamannya sejak tadi sedang mengendalikkan kecemburuannya agar tidak marah dengan nada tinggi kepada Nayla.
"Ga sopan mas kalau Nayla tak menjawab sapaan orang lain, lagian Rifan hanya teman semasa SMK mas."
"Iya maaf, mas. Nay ga maksud buat mas marah." Nayla mencoba meredakan emosi Orion dengan mengalah tak menyanggah ucapan Orion cukup dengan meminta maaf ia rasa kemarahan Orion akan reda. Dan Nayla tak menyadari jika kemarahan Orion adalah sebuah kecemburuan.
Tak ada respon dari Orion. Nayla menolehkan wajahnya ke arah luar jendela. Mereka sampai sekolah Arga lebih lama dari seharusnya karena pertemuan tak sengaja dengan Rifan.
"Ayaah...ibu......" Teriak Arga keluar dari pos satpam yang sudah menunggu Nayla dan Orion sejak tadi.
Mobil Orion yang baru memasuki sekolah baru mau melewati pos satpam, berhenti tepat di pos. Orion dan Nayla pun keluar dari mobil.
"Ibu..kenapa lama?? Ayah tadi janji katanya sebelum Aga pulang sudah ada di sini. Tapi Aga malah nunggu lama." Adu Arga pada Nayla dnegan mencebikkan bibir tipisnya dengan pipi chubby yang menggembung
"Maafin ibu dan ayah, ya." Ucap Nayla yang bingung harus mengatakan alasan apa kepada Arga dengan mengelus surai Arga dengan berjongkok menyesuaikan tinggi Arga
"Sudah..sudah..ayo masuk ke mobil." Nayla dan Arga pun menuruti ucapan Orion memasuki mobil terlebih dahulua. Sedangkan Orion menghampiri sang satpam.
"Pa terimakasih sudah menjaga Arga." Ucap Orion dengan memberi sedikit tip untuk sang satpam
"Sama-sama,pa. Aduh pa ini ga usah pa." Ucap sang satpam yang bernama pa Jajang dari name tagnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa terima saja pa. Buat jajan anak, pa" Ujar Orion pada sang satpam
"Terimakasih banyak, pa." Ucap pa Jajang
Di dalam mobil Arga yang sudah duduk dipangkuan Nayla di kursi sebelah kemudi Orion.
Bu, Aga ingin makan es krim.
Kita tunggu ayah dulu ya, boleh atau tidak.
Arga hanya mengangguk. Tak lama Orion pun masuk ke mobil dan menjalankam kemudinya.
"Yah, Aga ingin makan es krim."
"Boleh, kita ke restoran es krim menuju rumah saja ya. Biar bisa langsung pulang."
"Ko cepet-cepet pulang, yah? Aga pengen jalan-jalan dulu sama ibu ayah."
"Memang Aga mau jalan-jalan kemana, sayang?" Tanya Nayla dengan lembut.
"Aga pengen jalan-jalan ke mall."
"Gimana, yah?" Tanya Nayla kepada Orion dengan senyum manisnya, melupakan hal yang terjadi sebelumnya
"Ayah, ikut ibu aja."
"Yeeaah...," teriak Arga dengan girang
"Kita beli es krimnya di resto mall saja ya?" Orion bertanya pada Arga
"Iya, yah Arga mau." Arga menjawab dengan ekpresi lucunya. Nayla yang merasa gemas menguwel-uwel pipi Arga dan mengecup pipinya berulang
"Hahaha Ibu, gelii." Arga yang kegelian terus di kecup Nayla
"Bu, ayah juga mau." Orion yang emosinya teredakan oleh interaksi Arga dan Nayla menggoda Nayla dengan menampilkan senyum penuh cintanya
"Apaan sih, yah." Ucap Nayla dengan tersipu malu karena ada Arga
"Ayah mah selalu aja, pengen kayak Aga. Ibu cuman boleh ngecupin wajah Aga, Aga kan masih kecil. Ayah mah ga boleh, ayah udah gede." Ucap Arga dengan polosnya
__ADS_1