
Setelah Arga puas bermain di mall. Orion membawa keluarga kecilnya pulang ke kediamannya.
Jam menunjukkan pukul 18.30. Sebelum membersihkan diri Nayla dan Orion melakukan kewajiban berjama’ah. Arga yang biasa ikut berjama’ah untuk kali ini absen karena ia tertidur ketika di perjalanan pulang.
Saat ini Arga tertidur lelap di kamarnya setelah digendong Orion dari mobil.
Setelah melaksanakan kewajiban Orion dan Nayla makan malam bersama tanpa Arga. Setelah itu mereka bersantai di gazebo mini yang biasa mereka gunakan.
Orion rebahan di sofa lipat dengan posisi kepala Orion di paha Nayla. Wajahnya menghadap perut besar Nayla.
"Assalamu’alaikum, anak-anak ayah pada sehat ya. Insya allah sebentar lagi kita tinggal di negeri orang, tumbuh dengan sehat dan nggak buat ibu susah ya." Orion mengecup perut Nayla berulang kali. Nayla pun mengelus surai hitam Orion.
“Wah bu anak-anaknya aktif banget nih, mereka merespon ucapan ayah, sayang.” Bayi -bayi dalam kandungan Nayla bergerak aktif seolah mengerti ucapan Orion
"Sudah yah, geli iih." Nayla meminta Orion menghentikkan kecupan-kecupan di perutnya yang membuat Nayla geli dengan gerakan-gerakan kedua bayinya yang aktif. "Aaaauuuw," Nayla meringis karena semakin Orion mengecup perutnya tendangan kedua bayi semakin aktif.
“Hey anak-anak ayah anteng jangan tendang ibu terlalu keras, ibunya sakit. Ayah tahu kalian mengerti apa yang ayah ucapkan, tapi anteng ya.” Orion menghentikkan kecupan di perut Nayla lalu mengelus lembut perut Nayla. Elusan Orion menenangkan bayi-bayi di kandungan Nayla dengan gerakan yang lebih tenang.
“Sayang masih sakit?”
“Nggak, yah nih anak-anaknya sudah mulai tenang.”
“Nah begini ya anak-anak ayah, anteng.” Orion berucap kembali dengan mengusap perut Nayla.
“Yah...,” panggil Nayla
“Iya, sayang.” Orion menghentikkan aktifitasnya dan mendongakkan wajah
__ADS_1
“Ayah janji mau cerita kepada ibu mengenai siapa yang menjemput ibu kemarin.”
Orion sudah memikirkan matang-matang akan keputusannya untuk jujur kepada Nayla siapa yang menjemput Nayla dan tujuan sebenarnya Orion ke Belanda.
“Maafkan ayah sebelumnya, sayang. Ada yang harus ayah katakan pada ibu. Ibu janji menerima apa yang akan ayah katakan dan memahami posisi ayah yang harus melakukan ini?"
“Insya Allah ibu menerimanya jika itu untuk kebaikan semua, yah.”
“Maafkan ayah yang berbohong kepada ibu jika ayah ke Belanda untuk urusan bisnis, keperluan ayah yang sebenarnya memenuhi permintaan keluarga Belinda terutama pa Herdian yang ingin bertemu ayah."
“Mengapa ayah berbohong jika memang itu mengenai Arga, yah?”
“Ayah tidak mau ibu khawatir dan kepikiran yang bisa membuat ibu dan anak kita stress. Untuk itu ayah tidak memberitahu yang sebenarnya. Maafkan ayah, sayang.”
Posisi Orion bersandar ke kepala ranjang sedangkan Nayla bersandar di dada bidan Orion, Orion menyandarkan kepala di bahu Nayla dengan tangan melingkar ke perut Nayla.
“Terimakasih sayang. Insya allah ke depannya jika ada hal yang perlu didoskusikan ayah tidak akan mengambil keputusan dahulu, sebelum kita bermusyawarah. Tapi bu, ayah telah memutuskan hal besar ini demi kebaikan semua.”
“Keputusan apa, yah? Mengenai Arga kah?”
“Iya, bu.”
“Bagaimana keputusan dari pertemuan dengan keluarga tante Belinda yah?”
“Mereka meminta hak asuh Arga sepenuhnya, dan ayah memberi hak asuh Arga sepenuhnya dengan kesepakatan yang ibu sarankan. Jadi ayah masih memiliki andil besar untuk hidup Arga, walau kelak Arga bukan pewaris tunggal di keluarga ayah. Tapi ayah masih bisa menentukkan masa depan pendidikannya.”
"Apakah kita masih diizinkan bertemu dan tinggal bersama Arga sewaktu-waktu, yah?”
__ADS_1
“Dalam kesepakatan yang ayah berikan, ayah meminta agar kita masih diizinkan bertemu dan bisa tinggal bersama Arga saat Arga ingin bersama kita. Dan Alhamdulillah itu disepakati.”
“Alhamdulillah jika ada isi kesepakatan seperti itu, lalu bagaimana kita memberi pengertian kepada Arga, yah?”
“Pelan-pelan akan ayah beri pengertian agar Arga menerima keluarga Belinda. Jika sudah menerima untuk beberapa waktu Belinda atau Pa Herdian akan berkunjung atau membawa untuk mendekatkan diri dengan Arga agar terbiasa bersama mereka.”
"Yah jujur ibu sangat berat tanpa Arga di hidup kita. Walau kita masih bisa bertemu Arga tapi rasanya beda saat setiap hari ada Arga di rumah."
"Ayah paham, sayang. Tapi bagaimanapun kita harus mengikhlaskannya. Ayah juga berat melepaskan Arga, tapi Arga juga berhak menerima kasih sayang keluarga Belinda. Kita sama-sama berusaha mengikhlaskannya, ya?"
"Iya, yah insya allah ibu akan berusaha mengiklhlaskannya. Ibu juga akan bantu memberi pengertian kepada Arga untuk menerima keluarga tante Belinda."
"Terimakasih, sayang." Orion memeluk Nayla dari belakang. Nayla pun melingkarkan tangannya di tangan Orion yang melingkar ke perutnya. Orion mengecup pipi chabby Nayla dari samping.
"Sama-sama sayang, lalu siapa orang yang menjemput ibu yah?"
"Suruhan pa Herdian, dia pikir ayah tidak akan menerima permintaannya. Dia sengaja menjadikkan ibu tawanannya, untuk itu ayah benar-benar khawatir dengan keadaan ibu."
"Alhamdulillah ibu baik-baik saja dan tidak diperlakukan tidak baik, yah"
"Darimana ayah tau bahwa itu suruhan keluarga tante Belinda?"
"Pa Herdian memberikan tampilan layar saat ibu ada di dalam kamar hotel. Ia meminta persetujuan ayah, dan menjadikan ibu tawanan. Ayah cukup mengenalnya bu, apa yang ingin dia miliki harus menjadi miliknya. Dengan cara apapun. Untuk itu ayah persiapkan surat kesepakatan tertulis dan berkekuatan hukum di sini dan internasional."
Hello maafkan miss telat up nih di real life miss sibuk banget.
sikit ya Part ini?
__ADS_1
Makannya Like, vote & Ramaikan Komen 🤭🥰