
Sudah tahu belum miss suka bagi-bagi saldo shop*ee p*ay buat kalian yang aktif LIKE, VOTE, 🌹 dan meramaikan komen
Sok ramaikan semua karya miss dengan kencengin Like, vote dan ramaikan komennya.
udah ada yang dapet nih
Miss mah suka tiba-tiba bagiinnya makannya sok araktif misstizenku zheyenx 🤗
“Aa juga nggak tahukan aku selalu dijadikan bahan gunjingan karyawan-karyawan di sini. Mereka pikir aku menggodamu, bahkan menghina hijabku yang tak bersalah. Kamu jahat aa kamu membiarkan aku tersiksa.” Ucap Fiona dengan terisak
__ADS_1
Fariz jelas sangat terkejut, ia tak tahu sama sekali jika Fiona dijadikan bahan gunjingan. “Maaf sayang, aa tak tahu kamu mendapat perlakuan tak baik. Aa janji akan memberikan pelajaran pada mereka yang telah melukaimu. Maaf sayang.” Fariz semakin mendekap erat Fiana dengan memberi kecupan-kecupan di pucuk kepalanya. Fiana pun membalas pelukan hangat Fariz. Fariz bernapas lega balasan pelukan Fiana ia artikan sebagai tanda permintaan maafnya diterima.
Fiana merasa lega bisa mengatakan uneg-uneg hatinya, setelah merasa hatinya agak tenang Fiana mendorong pelang dada Fariz.
“Kamu mau kan memaafkan aa? Aa tahu aa salah karena rasa kecewa atas keraguanmu dan kecemburuan berlebihan aa terhadap temanmu yang bernama Harvey, aa melukaimu. Aa janji hal ini tak akan terulang kembali.” Kali ini Fariz mengangkat dagu Fiana menatap dalam manik mata Fiana
“Tanpa kamu meminta pun aku memaafkanmu. Tapi maafkan aku aa, aku butuh waktu untuk memikirkan hubungan kita ke jenjang lebih serius.” Fiana masih memerlukan waktu, tak semudah itu hubungan pernikahan jika di dalamnya masih ada ego tinggi
“Kenapa kamu berubah pikiran sayang?” Fariz pikir Fiana tak membalas pelukan mau melanjutkan hubungan yang sempat renggang karena keegoisannya namun perkiraannya salah. (Ya iyalah ga mau dengan mudahnya nerima aa Fariz lagi, Fiana punya harga diri dong , wkwkwkw miss yang empsi nulis cerita sendiri 😂)
__ADS_1
“Aku tahu akupun salah aa, aku terlalu mengikuti egoku untuk tak memberimu kabar saat di rumah sakit. Begitupun aa karena sebuah kecemburuan pada sesuatu yang tak benar dan tak ada yang perlu kamu khawatirkan, aa mempertahankan ego aa untuk tak meyakinkan dan membujukku. Bukan karena aku manja ingin kamu membujukku, meyakinkanku. Tapi bukankah sebuah hbungan sakral kelak adalah gerbang kehidupan awal dimana di dalamnya harus saling memiliki kepercayaaan satu sama lain. Dan kita berdua belum bisa saling mempercayai. Kita juga tak bisa saling mempertahankan ego kita aa. Bukankah kita harus menurunkan ego disaat dua kepala bersatu? Ego kita masih sama-sama tinggi aa. Aku mungkin memang anak baru kemarin yang lebih muda dari aa. Tapi aku juga banyak belajar dari kehidupan mamah papah dan ayah ibu aa. Kelanggengan yang bisa mereka pertahankan sampai saat ini ada sebuah komitmen, bisa saling menerima kekurangan atau kelebihan pasangannya, dan paling utama bisa menurunkan ego masing-masing. Kita masih sama-sama terlalu muda. Aku butuh waktu aa untuk meyakinkan diri melangkah ke jenjang lebih serius bersama aa."
Seperti petir di siang bolong mendengar penuturan dan keputusan Fiana. Sebuah tamparan besar untuk sikap arogan dan tingginya ego yang dijungjung tinggi dirinya menghancurkan rasa percaya Fiana, memberi bekas rasa kekecewaan untuk wanita yang telah lama ia cintai. Merasa belum pantas dan bersalah lebih terlalu mengikuti egonya. Hati Fariz berteriak tak ingin melepas sang wanita di hadapannya. Sudah terlalu lama ia pendam rasa untuknya walau sempat tergantikan. Tapi dari lubuk hatinya terdalam, disetiap malam dan detiknya hanya terukir nama queendy si ratu tedy bearnya.
“Tak bisakah kita tetap bersama dan bersama-sama saling memperbaiki diri queendy?” Fariz masih tak bisa menerima keputusan Fiana
Fiana menggeleng. “Aku ingin kita berpikir lebih matang aa, kita butuh waktu untuk saling memperbaiki diri. Aku mohon hargai keputusanku aa.”
Fariz menarik napas dalam, menghelakan napasnya berat. “Jika itu keputusanmu baiklah aa akan menerimanya. Aa juga akan membuktikkan padamu kesungguhan dan keseriusan aa. Aa akan berusaha memperbaiki dan memantaskan diri untuk bisa menjadi imamu. Tapi aa menolak pengunduran dirimu. Kamu tetap bekerja di sini. Jika kamu tak nyaman di ruangan yang sama dengan aa, aa akan membiarkanmu di ruangan sebrang.”
__ADS_1