Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
110. Saling Mendiamkan


__ADS_3

Sampai Orion pergi Nayla mengacuhkan Orion. Begitu pun Orion. Mereka seperti remaja yang sama sama labil. Tidak ada satupun yang mengalah akan keyakinan masing-masing.


Jauh di lubuk hati Orion dia sangat tersiksa dengan Nayla yang mendiamkan dan mengacuhkannya tidak seperti biasanya. Biasanya Nayla yang mecoba membujuknya dan mengalah. Namun berbeda dengan hari ini. Orion merasa Nayla sedang keras kepala kekeh dengan keinginannya. Membuat Orion tak mendapatkan haknya menyentuh Nayla. Sungguh tersiksa bukan? Itu pun terjadi karena emosi Orion saat perdebatan malam setelah mereka bercinta.


Flashback On


“Mas benar-benar sudah tak mau aku mengandung anakmu? Kamu selalu mengeluarkannya di luar. Padahal aku sudah menggunakan ayudi.”


“Bukannya tidak mau sayang, mas kan sudah pernah bilang. Mas tidak mau hal seperti kelahiran baby twins terjadi lagi. Meskipun itu bisa mencegah namun sebagai ikhtiar mas tak ingin terjadi kebocoran. Alat itu buatan manusia, tak ada yang bisa menjaminnya, jika Allah berkehendak.”


“Itu mas tahu jika Allah berkehendak kenapa mas menolak? Aku paham ketakutan mas, tapi mas berlebihan. Bukankah dari awal kita akan memliki banyak anak. Dan insya allah aku sanggup mas.”


“Kamu bilang berlebihan saat mas tak mau kehilanganmu? Mas lebih baik berpuasa tak menyentuhmu daripada harus kehilanganmu.” Ucap Orion dengan menaikkan nada bicaranya


“Jadi mau mas begitu? Baiklah jangan sentuh aku sampai mas sadar atas apa yang mas katakan.” Nayla berkata dengan ketus


Orion pun mengusap wajahnya kasar. Dia tak bisa menarik lagi perkataannya, Orion tak pernah melihat Nayla seketus saat itu.


Flashback Off


Walau raga Orion berada di ruang kerjanya namun pikirannya melayang memikirkan Nayla dan masa depan keluarganya. Semua pekerjaan Dirga yang menghandle dan beberapa meeting dengan klient terpaksa di reschedule karena Orion tak ingin ada siapapun yang mengganggunya.


Terlintas ide di pikiran Orion.

__ADS_1


“Dirga lakukan rapat penting bersama Elisa, William dan beberapa dokter kandungan terbaik di Indonesia malam ini, bagaimanapun caranya mereka harus datang.”


“Tapi tuan saya harus memeriksa keberadaan dokter Wiliam, jika dia berada di negara x membutuhkan waktu 18-19 jam untuk sampai di Indonesia.”


“Periksalah segera. Dan jangan lupa jika semua terkonfirmasi bisa hadir di rapat malam, bawa berkas riwayat kandungan dan melahirkan Nayla saat di rumah sakit P*M.”


“Baik, tuan.” Dengan segera Dirga mengkonfirmasi jadwal para tenaga ahli obgyn dalam negeri dan negara x. Tidak memerlukan waktu lama Dirga telah mendapatkan jadwal mereka, dan mengirim anak buah yang berada di tempat para dokter berada membawa mereka dengan beberapa jet pribadi miik Orion. Terutama dokter Wiliam yang berada di Singapore.


Malam hari semua dokter obgyn telah berada di salah satu restoran termahal di Jakarta ruang VVIP yang telah di reservasi. Orion datang setelah gerutuan para ahli karena Orion datang terlambat.


“Kalian tahu mengapa saya mengumpulkan kalian di sini?”


“Tidak tuan,” jawab serempak para tenaga ahli


“Dirga berikan salinan rekam medis Nayla kepada mereka.” Orion meminta Dirga membagikan salinan rekam medis Nayla selama mengandung, saat melahirkan dan setelah melahirkan ketika pemasangan ayudi


“Menurut kalian apakah istri saya akan baik – baik saja jika harus mengandung kembali?”


Semua dokter tersebut memberikan pendapatnya bahwa tidak masalah untuk Nayla mengandung kembali. Mereka menyarankan Orion melakukan pengecekkan keseluruhan atas kesehatan Nayla jika masih kurang yakin dari hasil rekam medis yang ada.


Orion hanya menghela napas berat, walau dia telah mendengar penuturan secara medis namun hatinya masih enggan menuruti keinginan dirinya dan Nayla untuk mengandung buah hati mereka kembali.


“Baiklah terimakasih untuk waktu kalian, saya akhiri ini sampai di sini. Saya akan pertimbangkan saran dan masukkan dari kalian. Untuk pembayaran kalian akan segera di transfer melalui Dirga.”

__ADS_1


“Terimakasih tuan,” jawab para dokter serempak. Orion pun memilih pulang karena seharian ini dia tidak memberi kabar dan menerima kabar secara langsung dari Nayla. Dia hanya mendapat kabar melalui para anak buahnya yang melapor aktifitas serta keadaan Nayla dan kedua baby twinsnya.


Orion sampai di kediamannya pukul sebelas malam. Saat membuka kamarnya Orion tak mendapati Nayla di sana maupun di walk in closet atau di kamar mandi. Orion pun mencari di kamar khusus baby twins yang terhubung dengan kamar utamanya. Benar saja Nayla tertidur di ranjang samping box kedua baby twinsnya.


Orion memang menyarankan kedua baby twinsnya berada di ruang berbeda dengan mereka agar tetap ada waktu dan tempat untuk kebersamaan mereka. Orion juga meyakinkan Nayla bahwa kedua anaknya akan terpantau dengan adanya kamera pemantau untuk mereka.


Orion juga meyakini bahwa sekalipun mereka masih bayi mereka bisa mendengar dan memahami di bawah alam sadarnya atas apa yang diucapkan atau dilakukan orang dewasa terhadap mereka. Karena jika di perhatikkan saat bayi tak nyaman dalam gendongan seseorang dia terlihat gelisah atau menangis. Itu sebuah isyarat kepada orang tua sang bayi untuk segera mengambilnya dari gendongan orang tersebut. Nah jika dalam hal pemisahan, Orion tak ingin saat mereka bercinta kedua baby twins mendengar suara dari kegiatan bercinta kedua orang tuanya. Walau tak mengerti namun mereka hidup dan mendengar. Untuk itu Orion memisahkan mereka dari kamar utama dengan pantauan langsung mereka. Kamar utama Orion memang di desain kedap suara, namun kamera pemantau dilengkapi dengan audio jadi jika kedua baby twins menangis akan tetap terdengar.


Orion mengangkat tubuh Nayla untuk dipindahkan ke kamar mereka. Saat Nayla sudah berada di gendongannya, Nayla mendongakkan wajah menatap Orion. “Tidurlah mas mau memindahkanmu ke kamar kita.” Nayla pun mengalungkan kedua tangan di leher Orion dan tidur kembali. Orion menurunkan Nayla perlahan ke ranjang king size mereka.


Nayla tidur dengan lelap. Orion mengecup kening Nayla sebelum membersihkan tubuh. Tidak memerlukan waktu lama Orion ikut merebahkan tubuh di samping Nayla. Menatap intens wajah mungil cantik Nayla yang chubby. Damai dan tenang saat Orion menatap wajah polos Nayla yang terlelap dengan damai.


“Maafkan mas ya sayang, mas sangat mencintaimu. Mas tak ingin terjadi sesuatu lagi padamu apalagi sampai kehilanganmu. Lebih baik mas hanya memiliki dua anak dari rahimmu daripada mengorbankan jiwamu untuk mengandung banyak anak dari mas.” Ucap Orion dengan tatapan sendu, Orion bukan tidak peka dengan Nayla yang merajuk karena ucapannya dari perdebatan malam lalu, tapi bentuk keterdiaman Orion ingin Nayla mengerti dan memahami ketakutannya. Sebelumnya Orion juga telah menjelaskan kekhawatiran dan ketakutannya. Namun Nayla keras kepala. Orion hanya mendidik Nayla untuk tidak selalu keinginannya dipenuhi Orion apalagi menyangkut keselamatan Nayla.


Alloha miss tizenku 😊


Maafkan miss ga balas komennya ya, mohon maaf lahir batin yaa 🙏🏻


Miss ternyata keasyikan libur lebaran bareng sanak saudara terdekat 🤭 Tetep yaa pake protokol kesehatan walau dengan sanak saudara sendiri 😊


Btw setelah novel ini maunya misstizen miss nyelesein novel kedua yang "CEO KEJAM PENOREH & PENYEMBUH LUKA" atau cerita baru di app k*b*m karena jujur di sini lamaaa ameet menghasilkan 🤭😅


Saad sih apresiasi untuk penulisnya gitu deh 🤭😅

__ADS_1


Wkwkwk miss mulai perhitungan euy 🤣 Awalnya miss sih fine fine aja tapi pas baca banyak thor thor lain merasakan yg sama Oh iyaya, sad jg nih karya kita diapresiasinya. Kita kan meluangkan waktu ditengah kesibukkan yang masih bekerja kayak miss, berpikir keras untuk menyusun kata, kalimat dan alur tapi apresiasinya oh nooo ya sudahlaah 🤭😅


Pokonya kasih miss saran yaaa Jangan lupa LIKE, VOTE dan Komennya eits satu lagi beri miss HADIAH 🌹😘


__ADS_2