Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
146. Season 3 - Kembali Bertemu


__ADS_3

"Pagi tuan, ini data karyawan baru di bagian staff keuangan yang perlu anda tanda tangani." Ucap Elang asisten Fariz di kantor


"Untuk sekretaris belum ada yang mengisi?"


"Untuk kandidat banyak tuan namun yang masuk syarat tak ada satupun."


"Ok aku butuh syarat yang aku berikan."


Fariz membuka map yang diberikan Elang. Mata sipit Fariz terbelalak melihat data pribadi karyawan barunya.


"Apa dia telah kembali ke negara ini." Batin Fariz. Sejak kapan dia bekerja di sini?"


"Baru dua hari lalu tuan, apa ada yang salah tuan."


"Pindahkan dia untuk menjadi sekretarisku. Untuk bagian staff keuangan cari kembali."


"Tapi tuan...,"


"Tidak ada tapi-tapinya, ini perintah Lang."


"Baik tuan."


"Akhirnya kamu kembali gadis kecil, mengapa tak mendatangiku kembali jika sudah ada di negara ini." Fariz bahagia gadis kecil yang menempelinya dari mereka sejak kecil hingga berumur dua puluh tahun kembali di sisinya. Tapi Fariz tak tahu gadis kecilnya tak seperti dahulu kala lagi.


**


"Panggil karyawan bernama Fania." Ucap Elang kepada kepala bagian keuangan.


"Ke ruangan sini tuan?"


"Iya kemana lagi." Jawab Elang dengan datar dan dinginnya


"Suruh Fiana datang ke ruanganku." Perintah sang kepala keuangan kepada bawahnnya melalui telepon


Tok


Tok


Tok


Suara ketukan pintu Fiana.


"Masuk."


"Ada apa ibu memanggil saya?"

__ADS_1


"Kemasi barangmu, kamu dipindahkan ke depan ruangan direktur kami untuk menjadi sekretarisnya." Titah sang kepala keuangan, dirinya pun heran mengapa Elang meminta Fiana menjadi sekretaris tuan besar mereka


"Maaf bu, saya melamar sebagai staff keuangan bukan sekretaris direktur."


"Ini perintah direktur kami nona. Mohon kerjasamanya. Mari ikuti saya." Ucap Elang kepada Fiana


Fiana tak habis pikir baru dua hari di perusahaan barunya sudah menjadi sekretaris direktur. Fiana mengikuti Elang dari belakang menuju lift. Elang menekan tombol lift gedung tertinggi lantai 105.


Ting


Suara lift berhenti, lift terbuka Elang berjalan di depan Fiana. "Silahkan nona masuk direktur kami suah menunggu." Elang membukakan pintu ruangan Fariz


"Baik terimakasih tuan."


"Panggil saya Elang saja nona."


"Baik mas Elang."


Ekhm...,


Suara deheman sang direktur yang duduk di kursi kebesarannya mengarah ke jendela mengintrupsi Elang untuk menghentikkan obrolan bersama calon wanitanya.


"Silahkan nona."


"Terimakasih."


"Selamat pagi tuan, apa benar saya dipindahkan menjadi sekretaris anda?" Tanya Fiana dengan hati-hati


"Benar," Fariz memutar kursi kebesarannya menghadap Fiana


Fiana refleks mundur karena terkejut. "Aa Fariz."


"Hallo queendy." Fariz menyapa Fiana dengan sebutan kesayangannya saat kecil. Fiana menyukai segala sesuatu tantang teddy bear. Untuk itu Fariz menyebutnya the queen of teddy dengan menyingkatnya menjadi queendy. Fariz juga tak kalah terkejut dengan tampilan Fiana yang lebih dewasa dan elegant menggunakan hijab pashmina simple. Fiana memang berhijab sejak meneruskan studinya di negeri ginseng. Namun Fariz tak pernah tahu itu.


"Apa ini perusahaan milik ayah Rion?" Walau telah berpisah tiga tahun tapi detakan jantung Fiana masih sama apalagi dengan wajah Fariz yang semakin terlihat tampan, dewasa, dengan postur tubuh atletis.


"Ya seperti yang kamu lihat aku bawahan ayah. Dan segera mungkin menggantikan ayah."


"Mengapa aa eeh maksud saya mengapa tuan menjadikanku sekretaris? Saya melamar sebagai staff keuangan bukan sekretaris seorang direktur."


"Mengapa kamu terlihat tak senang queendy? Bukankah kamu senang bisa berdekatan dengan saya?"


"Maaf tuan sa...,"


"Jangan panggil tuan queendy saat hanya berdua panggil saya aa saja seperti sebutanmu kepadaku. Saat di depan karyawan kamu boleh memanggilku sebagai atasanmu."

__ADS_1


"Maaf aa Fariz aku di sini untuk menjadi staff keuangan. Aku tak ingin menjadi sekretaris aa."


"Kenapa? Dan sejak kapan kamu tak ingin berdekatan dengan aa?"


"Setelah aku berada di negeri ginseng."


"Apa di sana ada yang menggantikanku?"


"Iya ada lelaki yang bisa menghargaiku sebagai wanita dan aku telah menjalin hubungan dengannya." Fiana sedikit berbohong ia menyindir Fariz yang tak menghargai usahanya selama ini. Fiana memang memiliki sahabat yang sangat baik kepadanya, walau sang sahabat menatap Fiana sebagai wanita.


"Ok itu tak masalah itu hakmu mau menjalin hubungan dengan siapapun. Tapi kamu sudah menandatangani kontrak. Apa kamu tak membaca kontraknya dengan baik?" Fariz kecewa dengan jawaban Fiana, gadis kecil imutnya sudah berubah dan sudah dimiliki lelaki lain


"Saya membacanya," Fiana sama kecewanya dengan Fariz, walau sering ditolak, dan diacuhkan Fariz tapi Fiana tetap merasa sakit hati mendengar jawaban Fariz yang tak peduli dan tak cemburu bahwa dirinya telah memiliki pengganti dirinya.


"Jika kamu membacanya, kamu tahu poin yang isinya bersedia ditempatkan dimanapun sesuai wewenang atasanmu."


"Tapi bukankah poin itu berlaku hanya untuk perpindahan ke cabang lain bukan ke bagian lain."


"Aturanku adalah mutlak Fiana. Saya yang memberi wewenang tugas di sini. Jadi hak saya mau memindahkanmu di manapun."


Fiana menghela napas berat. Bukan tak ingin berdekatan dengan Fariz. Senang, takut, kecewa, kesal dan marah berkecamuk di hatinya. Ada perasaan bahagia bisa melihat sang pujaan hatinya untuk pertama kali setelah perpisahan tiga tahun lamanya. Namun Fiana takut akan goyah untuk tak mengangumi, mencintai dan merasakan sakit kembali karena Fariz. Fiana juga marah dan kesal kepada sang mamah yang merekomendasikan perusahaan yang sudah jelas milik Orion. Tak mungkin mamahnya merekomendasikan perusahaan sembarang kepada dirinya. Padahal sang mamah tahu Fiana tak ingin bekerja di perusahaan yang ada sangkut pautnya dengan keluarganya.


"Baiklah, tuan. Di mana ruangan saya bekerja?"


"Di sebrang saya."


"Maksudnya di ruangan ini?" Tapi tak ada meja kerja di sini."


"Elang bawakan meja kerja bersama kelengkapannya dari ruang depann kemari." Fariz menelepon Elang


"Tuan bukankah ruangan sekretaris terpisah mengapa satu ruangan dengan anda?" Tanya Fiana setelah Fariz menutup telepon dari Elang. Di luar ruangan Elang juga sama herannya dengan Fiana.


"Kembali ke poin pertama Fiana perintah saya adalah mutlak." Ini salah satu cara Fariz mengawasi gerak-gerik Fiana. Dengan satu ruangan Fariz akan tahu apakah benar Fiana telah memiliki kekasih atau tidak. Fariz akan mengetahuinya siapa saja yang menghubungi Fiana.


Tak berselang lama Elang datang bersama beberapa bawahannya membawa meja dan kelengkapan lainnya. Ruangan Fariz memang sangat luas. Untuk itu masih cukup beberapa meja masuk ke ruangannya. Tapi Fariz menjadikan ruangannya hanya untuk dirinya dan Fiana saja.


Elang dan para bawahannya menyusun meja tepat bersebrangan dengan meja Fariz.


Fiana sendiri duduk di sofa, memperhatikkan para karyawan lain yang membenahi ruangan Fariz. Tanpa Fiana sadari Fariz juga duduk di hadapannya memperhatikan dirinya sejak tadi.


"Gadis kecilku semakin terlihat dewasa dan cantik. Aku pastikkan kamu memandangku kembali sebagai lelaki. Sebelum janur kuning melengkung." Batin Fariz


Fiana yang baru sadar diperhatikkan Fariz salah tingkah berpura-pura memainkan gawainya. Fariz tersenyum tipis dengan salah tingkah Fiana. "Dugaanku benar tak semudah itu kamu berpaling queendy." Suara hati Fariz


Miss juga duble up disini JANGAN LUPA LIKE, HADIAH 🌹, VOTE dan ramaikan KOMENNYA misstizenku 🤗🙏🏻

__ADS_1


KENCENGIN LIKE dan BUNGA nya juga di NOVEL adiknya Fariz "Freya's a Thought Woman"🤭🤗🥰


__ADS_2