Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
155. Season 3 - Fiana Sakit


__ADS_3

Fiana sampai ke mansionnya larut malam, suasana mansion sepi. Lampu telah mati.


“Nona kenapa hujan-hujanan?” Tanya Rina kepala pelayan di ruang tamu yang menunggu kedatangan Fiana


“Enggak hujan-hujanan. Kehujanan bi. Mamah dan papah sidah tidur?”


“Mamah dan papah non ke Singapore baru satu jam lalu ke bandara. Apa tak menghubungi non?”


“Gawaiku mati, sepertinya menghubungi. Aku ke atas dahulu ya bi, aku mau membersihkan tubuh dan beristirahat.”


"Baik non. Selamat beristirahat."


Fiana hanya mengangguk dengan tubuh lemas karena kehujanan dan rasa sesak di hatinya.


**


“Cek CCTV jalan K yang aku lalui bersama Fiana, Lang. Dia pulang menggunakan apa? Aku tunggu sepuluh menit dari sekarang.” Fariz menghubungi Elang sang asisten


“Baik tuan.”


Kurang dari sepuluh menit Elang sudah mendapat rekaman CCTV. Jangan ragukan kemampuan kecepatan dan ketepatan seorang Elang dibawah didikan Orion langsung Elang bisa bergerak cepat tentunya dengan fasilitas dan kekuasaan yang dimiliki kerajaan bisnis Orion sang ayah tuannya.


“Halo tuan sudah saya kirim ke aplikasi pesan anda tuan.” Elang menghubungi Fariz

__ADS_1


“Good job, Lang. Thanks.”


“Sama-sama tuan.”


Setelah Fariz menutup telepon yang menghubungkannya dengan Elang, ia melihat rekaman CCTV yang diberikan Elang. Fariz melihat mobil hitam merk L berhenti tepat di hadapan Fiana, dari interaksinya mereka seperti saling mengenal. Karena sang lelaki kurang jelas, Fariz memperbesar bagian kaca depan. Dengan bantuan aplikasi milik perusahaannya langsung terdeteksi identitas sang lelaki.


Dalam identitas tersebut atas nama Harvey lengkap dengan bisnis dan identitas lengkapnya. Hubungan antara Fiana dan Harvey semasa sekolah. Jelas hal itu membuat tangan Fariz mengepal.


“Kamu lebih memilih menghubungi lelaki yang pernah di dekatmu daripada aku. Baiklah jika itu maumu.” Batin Fariz. Fariz yang memiliki ego tinggi tak akan peduli dengan keadaan Fiana


**


Hatchi...hatchi...


Ketika masuk Rina melihat Fiana masih bergelung di bawah selimut. Ia mendekat.


“Hatchi...hatchi...” Fiana bersin dengan mata tertutup


“Non apakah anda flu?” Rina dengan terpaksa menyentuh kening Fiana


Tubuh Fiana yang menggigil dengan kepala yang pusing tak sanggup membuka matanya.


“Astagfirullah nona anda demam. Sebentar bibi bawa kompres dan termometer dahulu.” Tubuh Fiana memang sensitif, ia tak pernah kehujanan, sekalinya kehujanan bisa langsung demam tinggi bahkan dirawat.

__ADS_1


Rina berlari menuju dapur membawa kompresan dan termometer di kotak P3K yang berada di lantai bawah. Setelah kembali Rina memasukkan Termometer ke tubuh Fiana.


Betapa terkejutnya angka yang ditunjuklan termometer hampir 40°C. Tanpa memberi kompresan Rina langsung menghubungi keamanan di luar untuk menyiapkan mobil ke Rumah sakit membawa Fiana. Fiana di bopong oleh beberapa pelayan wanita.


Rina tak akan membiarkan pelayan atau keamanan lelaki membopong Fiana, karena itu akan membuat sang orang tua Fiana marah besar. Anak perempuannya di sentuh lelaki. Kedua orang tua Fiana memang posesif seperti Orion


Hanya sepuluh menit Fiana sampai di salah satu rumah sakit milik keluarga Orion. Ia dibawa ke ruang VVIP langsung karena Rina sang kepala pelayan memperlihatkan kartu VVIP milik keluarga Fiana. Fiana langsung diberi pelayanan dan perawatan terbaik.


Di kediaman Orion, gawai Fariz dari tadi berbunyi panggilan dari Elang. Namun sang mpunya gawai masih terlelap dalam tidurnya. Hingga beberapa panggilan Fariz terbangun karena merasa terganggu. Ia pun terpaksa mengangkat gawainya.


“Ada apa Lang? Aku akan ke Perusahaan siang.” Suara serak Fariz khas bangun tidur menyambar Elang yang baru akan berbicara


“Saya mau melaporkan keadaan nona Fi..,”


“Tak usah kamu laporkan aku akan mencoba tak peduli padanya. Tak usah mengikuti apapun yang ia lakukan lagi.” Fariz tahu Elang akan melaporkan tentang Fiana


“Tapi tuan..,”


“Berisik Lang aku lelah mau istrihat kembali.”


Tut..,tut..,tut...,


Gawai Fariz dimatikan tanpa mendengar ucapan Elang kembali.

__ADS_1


__ADS_2