
Fariz dan Fiana sudah sampai di tujuan yang Fariz masih rahasiakan.
“Sayang, buka penutup matanya.” Pinta Fariz kepada Fiana
“Tuhkan di Raja Ampat. Ini pulau yang mana aa?"
Fariz mengendikkan bahu. "Tunggu saja besok kamu akan tahu saat aa mengajakmu ke suatu tempat."
"Mulai rahasia-rahasiaannya." Fiana memang belum pernah ke pulau-pulau di Raja Ampat, jadi ia tak tahu saat ini ia berada di pulau yang mana
“Ya sudah kita istrirahat dahulu di resort.” Mereka tinggal di resort yang berada di pulau Kri. Pulau Kri merupakan pulau rekomendasi yang terkenal dengan keunikan beragam jenis biota laut, termasuk terumbu karang yang menyuguhkan pemandangan menakjubkan.
Pulau ini dijuluki sebagai dive and snorkeling site favorit di Raja Ampat, juga sebagai pusat kerajaan dunia bawah air Raja Ampat. Terdapat sekitar 374 spesies ikan serta karang-karang indah di Pulau Kri. Mulai dari barakuda, berbagai jenis jacks, batfish, fusilier, sweetlips, butterlyfish, angle fish, kakap, kerapu, kura-kura hijau, dan masih banyak lagi.
Fariz dan Fiana bersantai di kursi santai depan resort yang mengarah langsung dengan pantai
“Aa.”
“Iya sayang.”
“Rencana aa di sini berapa hari?”
“Akan lebih lama dari di Maladewa sayang. Kenapa?"
“Jangan bilang sebentar lagi. Kenapa sih pada sebentar-sebentar? Sayangkan sudah mahal-mahal. Banyak pemandangan indah lagi apalagi di sini banyak pulau-pulau kecil.”
“Aa hanya punya waktu dua minggu berlibur sayang. Kasihan Elang dan ayah harus menghandle urusan kantor.”
“Dua minggu, kalau gitukan masih banyak waktu. Kenapa hanya beberapa hari?”
“Aa akan mengajakmu ke beberapa tempat sayang.”
“Aa nggak sayang uangnya di pakai habis bulan madu ke tempat-tempat yang lumayan merogoh kocek dalam?”
“Sebuah materi bukan segalanya, aa tak menyayangkannya selama untuk orang tersayang. Selagi kita masih berdua. Siapa tahu pulang dari bulan madu sudah bertiga. Dan nggak bisa dengan bebas menikmati waktu berdua.”
__ADS_1
“Jadi maksud aa kalau sudah ada bayi di rahimku aa sudah nggak mau ajak-ajak aku pergi” Fiana memajukan bibirnya salah paham dengan ucapan Fariz
“Bukan begitu sayangku, cantiknya aa. Maksud aa jika nanti kamu mengandung dan anak kita lahir kita tak bisa pergi sebebas ini harus menunggu usianya cukup untuk dibawa pergi. Jika masa mengandungmu mungkin kita masih bisa pergi. Kita lihat situasi dan kondisi saat kamu mengandung ok cantik?”
“Iya, aku kira aa akan membiarkanku kebosanan di rumah saja setelah mengandung anakmu.”
“Ya enggalah sayang. Pekerjaan aa memang menuntut aa ke beberapa negara dan kota tapi aa akan mengajakmu selama tak membahayakan kandunganmu nanti.”
“Janji ya aa sudah komit loh.”
“Iya sayang insya allah aa akan menepatinya.”
Fiana merasa ini sebuah kesempatan untuk menanyakan hal yang masih mengganjal dalam hatinya.
“Apa aa masih berhubungan dengan mantan aa?”
“Pertanyaan random apa itu? Ini waktu honeymoon kita sayang, kenapa bahas orang lain.” Jika waktu awal Fariz akan marah ketika Fiana membahas masa lalunya kali ini Fariz merespon dengan santai. Fariz hanya heran mengapa Fiana tiba-tiba menanyakan sang mantan.
“Tapi masih ada hal-hal yang mengganjal di hatiku aa. Aku ingin mendengar jawabannya dari aa. Agar nanti jika sewaktu-waktu dia kembali aku tahu aa tak mungkin kembali padanya.”
Kamu siapkan pertanyaan sebanyak-banyaknya agar kota selesaikan hari ini. Aa tak mau nanti ada bahasan masa lalu lagi ok? Aa ingin fokus ke masa depan kita dan keluarga kita nantinya jika sudah anak.” Fariz memberi keputusan yang bijak untuk perasaan mengganjal dan kekhawatiran Fiana.
Fariz berusaha belajar menjadi lelaki yang terbuka dan bijak apalagi kini wanita di hadapannya menjadi istri dan pendampingnya saat ini kelak dan selamanya, aamiinkan misstizenku 🤭
“Terimakasih aa mau memberiku kesempatan untuk menanyakan hal yang mengganjal dihatiku.”
“Iya sayang,” Fariz merangkul Fiana untuk duduk di sofa yang ada di resort yang mereka tempati. “Jawaban dari pertanyaan pertamamu aa sudah tak berhubungan sama sekali setelah dia memilih pergi. Sejak saat itu aa pun tak mau peduli dengan dia yang tak menginginkan aa di sampingnya.”
“Tapi apakah aa menyesal telah melepasnya?"
"Tidak sama sekali, karena kamu kembali sayang."
"Benarkah?"
"Benar kamu tak percaya aa?"
__ADS_1
"Iya aku percaya aa. Oh ya aa apa benar kata Eya aa selalu diam-diam memperhatikan kegiatanku selama studi?"
“Dasar Eya, lihat saja kalau sudah ada yang kamu cintai kartumu aku buka. Gengsi lah ketauan Fiana selama ini nyari tahu diam-diam.” Batin Fariz
“Aa ko melamun? Benarkah?”
“Kalau benar kenapa? Kalau enggak kenapa?”
“Ya ampun ko belibet cuman jawab benar atau enggak? Kumat gengsiannya, apa susahnya jujur.” Fiana melepas rangkulan Fariz beranjak bangun dari sofa,
“Iya sayang aa diam-diam mencari tahu apa yang kamu lakukan melalui keamanan ayah.” Fariz mencekal lengan Fiana yang akan bangun hingga terduduk kembali.
“Nah gitu dong apa susahnya jujur .”
“Iya-iya sayang “ Fariz menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Fiana yang dipeluknya dari belakang, Fiana bersandar di tubuh Fariz posisi mereka duduk memiring. “Apa lagi yang ingin kamu tanyakan?”
“Terus kenapa aa masih menjalin hubungan dengan mantan aa jika aa masih peduli padaku?”
“Karena aa pikir kamu baik-baik saja tanpa aa. Kamu bisa dengan mudah melupakan aa, tak pernah sedikitpun ingin mengetahui kabar aa. Aa tak memiliki keberanian jujur akan perasaan aa dengan sikap kamu yang acuh selama studi Padahal dari dulu kamu selalu mengikuti aa. Pergi saja tak pamit."
“Aa tahu kenapa alasannya aku memilih pergi melanjutkan studi?”
Fariz mengggeleng masih dengan wajah yang ditenggelamkan di ceruk leher Fiana.
"Karena aa mengabaikanku. Aku bertekad bisa hidup tanpa kehadiran aa. Untuk membiasakan diri aku harus menjauh dari aa. Satu-satunya jalan untuk menjauh meneruskan pendidikanku ke luar negeri. Dengan begitu kesibukan yang aku jalani akan lebih mudah melupakanmu."
Fariz dan Fiana memiliki perasaan yang sama. Sama-sama salah paham dan tak jujur akan perasaan masing-masing. Hingga mereka sempat berpisah dan Fariz sempat menjalin kasih dengan sang mantan.
"Maafkan aa sayang. Aa tak jujur akan perasaan aa. Hingga membuatmu memilih menyerah pada aa. Jujur aa risih saat kamu terus membuntuti aa, tapi saat kamu pulang ke kediaman orang tuamu aa rasa ada yang hampa.
Dan itu bukan hanya setiap kamu pulang ke rumahmu tapi saat kamu benar-benar tak kembali ke rumah ayah dan pergi tanpa pamit. Hidup aa benar-benar terasa sepi dan hampa."
"Maafkan aku aa, aku mengambil keputusan sepihak dan tak berpamitan. Karena dengan berpamitan aku tak bisa menahan diri untuk terus mengikuti kemanapun aa berada."
"Sudah berlalu sayang, yang lalu biarlah berlalu. Yang terpenting sekarang kita bisa bersatu dengan restu kedua orang tua kita. Fariz mencium kening lama Fiana
__ADS_1
LIKE, VOTE, KOMEN dan Bungannya zheyenkx 🤗