Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
46. Perkara Pedagang Kaki Lima


__ADS_3

Orion merasa khawatir sejak Nayla mengirimkan foto sebelum pergi. Nayla belum membaca pesan Orion, jam sudah menunjukkan pukul 13.30 Ia pun bergegas ke workshop Nayla, tanpa Dirga. Orion mengendarai mobil sendiri, ia berusaha melakukan panggilan saat di perjalanan menuju workshop. ia hanya membutuhkan waktu dua puluh lima menit sampai di workshop Nayla.


Orion memasuki workshop Nayla, ia tak melihat mobil pa Jajang terparkir, Orion segera turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya.


"Assalamu'alaikum...," salam Orion saat masuk workshop


Walaikumsalam... Karyawan Nayla menjawab serentak salam dari Orion.


"Dimana Nayla, ya?"


"Ibu lagi keluar, pa." Jawab Miranda salah satu karyawati


"Kemana?" Orion bertanya dengan suara tegas, siapapun yang melihat dan mndengar tahu Orion marah. Rahang Orion mengeras tahu Nayla tak ada di workshop,


"Ibu tadi menginginkan makanan di pedagang kaki lima dekat taman kota, pa. Sepertinya ibu, ke sana."


"Kenapa tidak salah satu dari kalian yang membelikannya?" Suara Orion yang bernada agak tinggi dengan tatapan tajam mengintimidasi karyawan Nayla


"Ibu, ingin makan di tempat sana, pa." Heri karyawan Nayla memberanikan diri menjawab pertanyaan Orion


Para karyawan dan karyawati Nayla merasa tegang dan gugup melihat mata tajam Orion yang sesekali memperhatikan mereka saat mencoba menelefon Nayla. Orion mencoba menghubungi telefon Nayla.


"Pa, telefon ibu tertinggal di ruangan." Erinda karyawati lain memberikan hape Nayla yang tergeletak di atas meja kerja."


Orion mengambil hape Nayla di tangan Erinda, ia semakin menatap tajam para karyawan Nayla. Tanpa berkata apapun ia pergi. Orion kesal karena tak ada satu pun karyawan Nayla yang berusaha


mencegah Nayla pergi dari workshop. Walau dia tahu tak ada satupun karyawan Nayla yang mendapat titah darinya.


acl


Orion melajukan mobil ke taman kota tempat para pedagang kaki lima berada, jalanan ibu kota yang macet membuat dirinya semakin kesal. Orion


mengusap frustrasi wajahnya. "Ini yang ayah ga suka, bu. Kenapa ibu keluar dari workshop tanpa memberitahu, ayah." Orion bermonolog dengan tangan mencengkram kemudi. Orion sangat khawatir.ll


45 menit Orion sampai ke taman kota lebih lama dari biasanya yang harusnya hanya 20 menit saja.


Orion mengedarkan pandangan ke segala arah taman kota berjajar pedagang kaki lima. Ia mencari keberadaan Nayla. Orang-orang yang Orion lewati menatap kagum dengan sosok Orion yang tinggi dengan tubuh atletis, dan berparas blasteran.


Orion melihat seorang wanita dengan cardigan panjang soft milo dan hijab pashmina khaki dengan jumpsuit putih seperti yang dikirim Nayla sebelum pergi. Nayla berdiri menghadap pedagang mie ayam yang sedang membuatkan pesanan. Orion mendekati Nayla.


"Bu,," panggil Orion yang sudah di sebelah Nayla dengan suara datar tanpa ekspresi.


Nayla menengok ke samping. "Aa..yah??" Nayla tergagap kaget melihat keberadaan Orion yang sudah di samping. "Ayah ko, ada di sini??" Nayla bertanya dengan ekspresi sebiasa mungkin.


"Ibu lagi apa di sini?" Orion balik bertanya kepada Nayla


"Ibu lagi mau sekali mie ayam di sini, yah. Di sini enak loh yah mie ayamnya. Dulu ibu sama temen-temen pas ke Jakarta makan mie ayam di sini." Nayla menjawab pertanyaan Orion sebiasa mungkin meskipun hatinya takut Orion marah, ia melanggar larangan Orion untuk pergi dari workshop. Sejak tadi wajah Orion tanpa ekpresi dan datar tidak seperti biasanya.

__ADS_1


"Ayah mau ngomong sama ibu sebentar, kita duduk di sana." Orion menunjuk tempat duduk taman yang tak jauh dari pedagang mie ayam, masih dengan ekpresi datar.


"Tapi, yah ibu lagi pesen mie ayamnya."


"Nanti ke sini lagi."


"Mang jadi pesen dua ya,"


Orion menimpali Satu saja.


"Oh ya, satu saja. Saya ke sana dulu ya mang."


Orion menggenggam tangan Nayla. Mereka duduk di salah satu kursi taman yang saling berhadapan dengan meja batu.


Kenapa kamu nggak mengabari saya kalau mau pergi dari workshop? Hape kamu di tinggal di workshop lagi. Orion menatap tajam Nayla dengan nada yang tak bersahabat.


"Ayah, nggak usah marah gini. Kenapa pakai saya kamu. Ini bukan kemauan ibu. Ini anak ayah yang mau banget mie ayam." Nayla benar-benar sensitif ia meneteskan air mata tanpa disadari dengan suara bergetar.


Orion tak menyangka ucapannya yang terbilang wajar membuat Nayla menangis. Ia tersadar jika Nayla lebih sensitif dari sebelum mengandung, jangankan sebuah bentakan. Nada suara yang tak biasa saja, membuat Nayla menangis. Hormon kehamilannya sangat mempengaruhi emosi Nayla. Orion berpindah posisi ke sebelah Nayla.


"Maafkan, ayah sayang. Ayah hanya khawatir. Kenapa ibu nggak bisa dihubungi dan ibu ga mengabari ayah." Orion memeluk Nayla dari samping, Nayla terisak


"ibu hanya ingin mie ayam yah. Ibu nggak mau ayah khawatir, jadi ibu nggak mengabari ayah. Dan hape ibu tertinggal bukan ditinggal." Nayla berbicara terisak.


"Iya maafkan, ayah sayang. Ya sudah kita makan mie ayam yang ibu mau ya." Orion pun menemani Nayla memakan mie ayam. Sebelum makan mie, Nayla sendiri berjalan-jalan mengelilingi taman kota dan hanya mengamati anak-anak yang sedang bermain.


"Aaaa...," Nayla menyuapkan mie ayam ke mulut Orion. Orion menggeleng.


"Ayah ibu mau itu, tunjuk Nayla pada pedagang rujak tumbuk."


"Kita minta koki di rumah buat aja, ya sayang. Makanan di sini tidak terjamin kebersihannya." Orion berbisik di telinga Nayla merasa tidak enak didengar orang


"Nggak mau yah. Ibu cuman mau rujak di sini. Ayah mau anaknya ileran? Maunya rujak di sini, yah." Orion akhirnya mengalah, iya mengikuti permintaan Nayla. Bukan hanya rujak, hsmpir beberapa pedagang yang Nayla lewati, ia menginginksnnya.


Berapa kali juga Orion berdebat dengan Nayla untuk melarangnya. Tapi lagi-lagi Orion mengalah setiap kali Nayla mengatakan ke inginan anak dalam kandungannya. Sampai akhirnya mereka pulang ke rumah kediaman mereka, tanpa kembali ke workshop Nayla.


Selama di perjalanan Orion tidak bersua, dan Nayla sibuk memakan makanan yang ia beli di taman kota. Ia membeli cilok, lumpiah basah, cakue, telur gulung dan beberapa makanan olahan aci lain.


"Sayang,"


"Hmm," Nayla menjawab singkat sambil memakan makanannya.


"Enak?"


"Ayah mau?" Nayla bertanya dengan mengarahkan sumpit berisi lumpiah basah. Orion menggeleng.


"Sudah,yah jangan dilanjut makannya kasian anak kita makanannya nggak sehat. Ibu lihatkan tadi mereka hanya digerobak biasa, debu jalanan bertebaran."

__ADS_1


Ayah denger ibu ya, terlepas bersih atau tidak ibu ga bisa menahannya. Rasanya ibu ngiller, yah ibu mau sekali. Ayah tega bikin anaknya ileran? Kalau ayah khawatir ibu sakit karena memakan makanan dari pedagang kaki lima, ya sudah ayah buat lapak khusus buat mereka tuh seperti food court yanv nyaman di mall-mall tanpa harus terkena biaya sewa."


"Ide bagus, sayang. Ayah akan buatkan mereka tempat nyaman, tertutup dan bersih untuk berjualan." Orion mengeluarkan gawai di saku celana hendak nenelefon Dirga, Nayla memastikkan tindakan Orion. Ia hanya sembarang bicara agar Orion diam tidak mendebatnya lagi. Tapi Orion menanggapi dengan serius.


"Ayah serius mau membuatkan mereka food court??" Nayla memastikkan ucapan Orion


"Iya, bu. Jadi jika ibu mau makanan itu lagi kita tinggal memesan lewat aplikasi ibu tidak perlu jauh-jauh ke sana."


"Terus ayah mau buat di mana? Mata pencaharian mereka akan berkurang yah jika mereka di tempatkan di tempat yang jarang pengunjung."


"Tenang sayang, ayah meminta Dirga yang menyiapkan segalanya. Selalu ya istri ayah ini mengkhawatirkan orang lain, tanpa mengkhawatirkan dirinya. Ayah nggak mau ya ini terulang." Orion menggenggam satu tangan Nayla, mengecup punggung tangan Nayla. Lalu menghubungi Dirga.


"Hallo, Dirga."


"Hallo tuan," Dirga menjawab panggilan Orion di sebrang sana.


"Carilah tempat yang strategis untuk dibuatkan sebuah food court untuk para penjual kaki lima yang berada di taman kota, pindahkan mereka ke food court tersebut, tanpa harus membayar sewa."


"Baik, tuan." Orion menutup panggilan pada Dirga


Ayah, makasih ya selalu menuruti keinginan ibu. Nayla menatap penuh haru pada Orion dengan mata berkaca-kaca.


"Untuk kamu sayang, ibu dari anak-anak ayah, ayah akan berusaha memberkan yang terbaik untuk ibu. Sekarang ayah yang meminta sesuatu pada ibu."


"Apa itu, yah?"


"Jangan dilanjut lagi ya makanannya." Mata Orion mengarah pada makanan di pangkuan Nayla


"Ayaah,iih." Nayla memutar bola malas


"Sayang, ayah benar-benar khawatir nanti kamu sakit perut dan tidak ada nutrisi yang masuk pada anak kita."


"Ya Rabb, yah ibu dulu terbiasa ko makanan gini. Insya allah ga akan buat ibu sakit perut." Lagi-lagi Orion kalah mendebat Nayla, ia tak bisa berkata apa-apalagi jika Nayla sudah mulai sensitif mulai berkaca-kaca siap menangis.


Part ringan dulu misstizen...


Miss baca komen banyak yang mempermasalahkan sikap dan umur Nayla ya?


Padahal miss udah jelasin itu visual real seorang wanita berusia 27 tahun yang masih dibilang manja saat berbicara dengan orang yang dia kenal namun dewasa dalam berbagai hal.


Nah tapi miss nih kan orangnya baik ya 🀣🀣🀣 Baik bilang-bilang si miss 🀭 Anda sehat? wkwkwk Canda dikit gapapa kali woi πŸ˜…


Menurut misstizen nih miss revisi bagian awal cerita tetntang usia Nayla, Arga dan Orion atau cukup begini saja ya??


Kalau soal perdebatan perceraian sudah miss bahas ya di beberapa episode kalau Orion memalsukan surat perceraian resminya.


Miss tunggu komen membangunnya ya.

__ADS_1


JANGAN LUPA FOLLOW MISS, LIKE dan berkomentar yang membangun bukan membuat miss tidur yeees maksudnya bikin down 🀭✌🏼


Sesungguhnya miss terhibur dan bersemangat banget kalau komen kalian minta lanjut atau membangun perbaikan ke novel pertama miss 😊 Maacih loh misstizenku 😘 Peyuk online dari miss yang cantiknya sebelas dua belas dengan ayana moon maap βœŒπŸΌπŸ˜…


__ADS_2