
"Sayang, kamu keluar dulu ya. Biar ibu sama ayah." Ucap Orion ke Arga
Iya, yah. Arga keluar dari kamar Orion dan Nayla. Lalu Orion mengelus perut Nayla.
Sayang, ayah minta maaf ya. Nayla tak menjawab pertanyaan Orion karena fokusnya menahan sakit di perutnya. Orion terus mengelus perut Nayla dengan tangan kanan dan tangan kiri memegang telefon mencari nomor dokter Elsa. Tapi karena panik ia tak menemukannya.
Orion beranjak dari ranjang mencari sweater panjang berhoodie milik Nayla di walk in closet. Setelah menemukan sweater panjang sepaha Nayla ia kembali ke ranjang memakaikan ke tubuh Nayla dengan perlahan. Menutup kepalanya dengan hoodie di sweaternya, agar menutup surai legam hitamnya. Ia menggendong Nayla ala bridal style ke garasi mobil di lantai satu. Ia akan membawa Nayla ke RS terdekat untuk memeriksakan keadaannya.
Supir yang sedia 24 jam di kediaman Orion dengan sigap menghampiri Orion yang baru keluar dari rumah. Sebelumnya ia mendapat panggilan dari tombol darurat yang berbunyi ke ruangan istirahatnya di rumah belakang khusus pelayan, supir dan keamanan yang telah ditekan Orion dari kamarnya.
Orion mendudukkan Nayla perlahan di kursi penumpang dan ia duduk di sebelahnya, dan memeluk Nayla dari belakang. Tubuh Nayla bersandar ke tubuh Orion, dengan tangan Orion yang terus mengelus perut Nayla. Orion benar-benar merasa bersalah dan takut terjadi sesuatu kepada calon anaknya dan Nayla.
"Sayang maaf...maaf...,"berulang kali Orion mengatakan hal yang sama dengan suara bergetar. Nayla yang masih meringis kesakitan mencoba mengendalikan rasa ngilu di perut dan menggenggam satu tangan Orion. Setiap kali Orion berkata maaf Nayla hanya menggelengkan kepala tanpa mengeluarkan satu patah katapun. Naylapun merasakan hal yang sama dengan Orion ia takut gagal menjaga anaknya. Ia juga menyalahkan dirinya sendiri, jika ia tak jail kepada Orion tak akan terjadi hal yang tak diduga.
Hanya butuh waktu lima belas menit mereka sampai di RS xxx ibu dan anak. Orion segera menggendong Nayla ala bridal. Dokter yang sudah ditelefon Dirga sudah siap siaga di depan pintu masuk RS. Mereka diberitahukan akan melayani pasien VVIP yang sangat penting. Orion salah satu pemilik saham terbesar di RS tersebut.
Nayla dibawa ke ruang VVIP, ia diperiksa oleh dokter khusus kandungan. Orion tetap di dalam selama pemeriksaan mengenggam sebelah tangan Nayla yang terbaring.
"Gimana dok dengan keadaan istri dan calon anak kami?" Orion bertanya masih dengan suara bergetar namun tegas.
"Semuanya alhamdulillah baik-baik saja, tuan."
"Kenapa perutnya merasa sakit sekali, dok?"
Apa nyonya melakukan hal berat, tuan? Dokter balik bertanya
"Tidak, dok. Tadi sikut saya tak sengaja mengenal perutnya."
"Iya jadi karena ketidaksengajaan ya. Biasanya di trisemester pertama perut ibu hamil terasa kencang bahkan ngilu. Tapi tidak semua ibu hamil merasakannya, ada yang tak merasakannya sama sekali. Untuk rasa ngilu karena tersikut insya allah tidak mempengaruhi embiro yang sedang tumbuh di rahim nyonya. Sudah kami beri suntikan vitamin yang bisa mengurangi rasa sakitnya juga. Bapak tenang saja, nyonya hanya perlu beristirahat. Jika sore hari sudah membaik, bisa pulang hari ini, untuk sementara waktu mohon tidak melakukan aktifitas yang berat atau membebani pikirannya. Usia bayinya masih rentang sekali." Jelas sang dokter
"Terimakasih, dok." Orion mencium kening Nayla yang tertidur dan menggenggam tangannya.
Nayla terbangun tepat pukul 8.00.
Ayah, Nayla mengelus pipi Orion yang tertidur di sampingnya menggenggam tangan Nayla. Orion mengerjapkan mata.
"Sayang, masih sakit ga?"
__ADS_1
"Engga, yah. Sudah ga sakit. Kita pulang yuk, yah?"
"Beneran sudah ga sakit?" Orion memastikkan kembali dengan mengelus perut Nayla.
"Iya, yah. Maafin ibu yah, jahil sama ayah, kalau ibu jahil ga akan gini."
"Engga, sayang ini salah ayah. Jangan menyalahkan diri, ya?" Belum sempat Nayla menjawab seorang perawat masuk ke ruangan.
"Selamat pagi, ibu bapak. Ini sarapan untuk ibunya."
"Sus, apa istri saya sudah diperbolehkan pulang?"
"Kita tunggu dulu dokter kandungan visit, ya pak."
"Baik, sus trimakasih."
"Sama-sama, pa saya pamit."
Orion menyuapi sarapan Nayla. Makan sayang, aaaa, Orion menyendokkan makanan ke mulut Nayla.
Ibu pinjem sendoknya, yah
Ibu juga mau menyuapi ayah.
Engga sayang. Ayah ga lapar.
Ya sudah ibu juga ga mau makan kalau ayah ga makan. Mata Nayla sudah berkaca-kaca, ia merasa dirinya sangat sensitif mudah merasa sedih saat penolakan hal kecil dilakukan Orion.
Iya ayah makan. Orion memberikan sendoknya ke tangan Nayla ia menyuapi Orion. Mereka saling menyuapi hingga makanan tak tersisa.
Sayang.., panggil Orion
Iya, yah.
Ayah sudah memutuskan sampai ibu melewati semester pertama kehamilan, ayah akan bekerja di rumah. Dan selama masa itu juga, ayah ga mau ibu sibuk mengurusi wokshop ibu.
Emang boleh ayah ga ke Perusahaan? Loh ko jadi berubah lagi, yah. Ayah bilangkan boleh satu minggu sekali bareng ayah ke sana.
__ADS_1
Sayang dengar ayah, ya? Ayah benar-benar takut kamu dan anak kita kenapa-kenapa. Hanya satu semester sayang. Kita lewati dulu waktu satu semester saja, dokter bilang usia awal kehamilan sangat rentang.
Kenapa kamu gitu? Ga menepati janji kamu. Saya hamil, bukan sakit. Nayla kesal kepada Orion ia tak memanggil sebutan biasa kepada Orion dengan air mata yang sudah menetes dipipi tanpa disadari.
"Hey..hey sayangnya ayah. Kenapa nangis?" Orion bengkit dari duduknya berpindah duduk ke ranjang Nayla akan mendekap tubuh Nayla, tapi Nayla menolak dengan mendorong dada Orion.
"Ga mau, dipeluk kamu. Kamu jahat mas, mau mengurung saya di rumah. Tanpa boleh keluar sama sekali." Nayla berucap dengan tangisnya yang pecah
Orion mencoba menenangkan Nayla dengan mencoba memeluknya kembali, tak ada perlawanan kali ini. Ia mengelus punggung Nayla.
"Sayang, maafkan ayah melakukan hal ini. Tau ga, gimana ayah khawatir sekali ketika perut ibu sakit. Hati ayah sesak sekali melihat ibu kesakitan, ayah benar-benar tidak mau sesuatu terjadi pada ibu dan anak kita. Rasanya dunia ayah hancur ketika melihat ibu kesakitan karena ayah sendiri. Ayah ga mau sesuatu terjadi bu saat ibu diluar sana. Ayah tau ibu wanita kuat dan mandiri. Tapi satu hal yang harus ibu ingat, saat ini dan selamanya ibu sudah tanggung jawab ayah, ibu ga perlu berkerja keras lagi. Ada ayah yang bisa ibu andalkan. Ayah tau ibu ingin membalas jasa kedua orang tua asuh dan angkat ibu. Tapi ini waktunya ibu bahagia dan dimanjakan oleh ayah orang yang sangat mencintai ibu. Ibu tak perlu khawatirkan apapun, ayah juga tak tinggal diam. Beberapa orang-orang yang mampu di bidangnya sudah ayah tempatkan di wokshop pusat di sini dan cabang di Bandung."
Nayla mendongak menatap mata sipit Orion yang teduh dan sudah ada air mata di ujung pelupuknya. Nayla menyentuh rahang tegas Orion, ia merasa terlalu egois memikirkan cara berbalas budi kepada kedua orang tua asuh dan angkatnya. Tanpa memikirkan perasaan Orion yang tak ia duga selalu memberikan yang terbaik, sampai menempatkan karyawannya di wokshop.
"Maaf yah, ibu egois ga mikirin perasaan ayah. Harusnya ibu ga selalu memikirkan keluarga ibu, ibu egois yah maafin ibu. Ibu bukan istri yang baik buat ayah." Nayla berucap dengan tangis yang semakin pecah tak terbendung. Orion menyeka air mata yang terus turun dari mata Nayla.
"Sayangnya ayah, sudah jangan nangis. Kasian anak kita juga nanti ikut nangis. Ga ada yang harus dimaafkan. Ayah paham sekali perasaan ibu yang selalu ingin membuat semua orang bahagia. Tapi ingat sayang, tidak semua orang harus kamu yang membahagiakannya. Apalagi mereka sebagai orang tua, melihat kamu sehat dan bahagiapun sudah sangat membuat mereka bahagia. Sama halnya dengan orang tua angkat ibu, saat ayah bilang ibu hamil betapa bahagianya ibu. Ia akan segera datang ke sini bersama ayah setelah urusan di Singapura selesai."
"Terimakasih mas menerima segala hal tentang ibu dan selalu mengerti ibu. Maafkan ibu yang belum bisa menjadi istri yang baik untuk mas." Nayla yang sangat merasa terharu dengan setiap ucapan Orion memeluk tubuh atletis Orion dengan erat. Tanpa banyak berbicara, ia hanya cukup meluapkan kebahagiannya dengan memeluk Orion. Semua ucapan yang satu frekuensi dengan tindakan Orion dari awal pernikahan hingga kini berputar di otaknya. "Aku janji mas, akan menjadi ibu yang baik untuk anak-anakmu dan menjadi istri yang baik untukmu. Aku tak akan pernah meninggalkanmu apapun yang terjadi di depan nanti." Janji Nayla dalam hati.
Orion membalas pelukkan Nayla dengan erat.
Makin makin penisirin ga???? Sama siapa ibu angkat dan asuh Nayla??? Eh Nayla tuh anak siapa sih sebenarnya????
Ditambah nih yaa misstizen banyak yang mempermasalhkan umur Nayla dan Orion. Miss pyungsang aaah jelasinnya 🤭😅
Satu pesan dari miss kesel, baper, boleh jadi miss berhasil membuat cerita ini dapet feelnya gitu.
Miss ingatkan jika ada hal yang ga masuk akal kan udah bilang miss mag bukan penulis handal berkonsep kayak thor thor keren lain. Kalau ga masu akal ya namanya haluable gitu.
Terus nih ya miss ko diceritanya ada hal-hal kecil kayak perut ke sikut, sering menjelaskan kebersamaan couple Nari dan arga dengan detail, dan akan banyak lagi hal kecil dalam keseharian. Why miss???? Ga keren iih hahaha 🤣🤣 Suara hati misstizen
Sekalipun miss haluable tapi miss banyak menyisipkan hal hal kecil yang terjadi di sekitar miss tentunye dari orang-orang terdekat miss yg sudah berumah tangga dan sedikit cerita-cerita miss dengan sang mantaaan miss sisipkan juga. Jujur romantis menurut miss tuh jal-hal kecil yang dilakukan pasangan tuh romantis sist 🤭
So cerita ini lebih ke santai ke kehidupan sehari-hari tapi banyak hal ga masuk akalnya nanti coz ini haluable + kenyataan + keinginan jadilah cerita miss 😅
Nikmati ajalah ya alurnya, kan kan miss curcor lagiii 🤭😅
__ADS_1
jangan lupa aah VOTE dong kasian iih miss kebangun-bangun inget misstizen yang minta up mulu
Kencengin juga like dan tinggalin komennya yees 😊🥰🙏🏻