
Orion pulang tepat saat makan malam. Ia langsung masuk ke rumah mencari keberadaan Nayla di kamar utama, tapi tak menemukannya. Ia mencari di ruang makan, dapur bahkan gazebo belakangpun tak ada.
Ia masuk ke kediaman pelayan.
"Ada tuan Rion, ada tuan Rion." Para pelayan yang sedang bersantai gaduh melihat Orion yang masuk ke kediaman pelayan.
"Maaf saya mengganggu waktu kalian, apa ada yang melihat istri saya?"
"Nyonya sedang ke roof top, tuan. Tadi saya menemaninya ke sana, tapi ia tak mau ditemani. Jadi saya kembali ke sini." Jawab kepala pelayan
"Baik, terimakasih. Silahkan lanjutkan waktu istirahat kalian."
"Baik, tuan. Terimakasih." Jawab para pelayan dengan serempak.
Orion langsung berlari menuju lift menekan tombol ke lantai 4 dimana roof top berada.
Ting suara lift terbuka.
Terlihat Nayla duduk di sofa ayunan yang ada di rooftop dengan memejamkan mata menikmati angin malam.
"Sayang," Orion memanggil Nayla dengan berjalan mendekatinya.
"Ayah, sudah pulang?"
"Iya, sayang. Kenapa di sini? Angin malam ga baik untuk kamu dan anak kita." Orion berjongkok di hadapan Nayla yang sedang duduk di kursi ayunan dengan menggenggam kedua tangan Nayla mencium punggung tangan Nayla
"Ingin mengirup udara malam, yah. Walau tak sesegar di Bandung tapi suasana malam di roof top ibu suka." Orion menatap mata Nayla ia melihat ada hal yang menganggu pikiran Nayla karena tak biasanya Nayla keluar malam
"Apa ada hal yang mengganggu pikiran ibu?"
"Nggak ada, yah. Ibu hanya ingin di sini saja."
"Kita masuk sekarang, ya. Ibu katanya udah di sini dari tadi, nanti sakit, sayang. Ibu kan baru sembuh dari alerginya. Sudah masuk malam juga, kasian anak kita di dalam sini." Orion mengusel wajahnya ke perut Nayla dan mengecup perut Nayla yang tertutup midi dress tosca.
"Geli, yah. Ya sudah ayo masuk." Nayla menangkup wajah Orion meghentikkan aktifitas Orion yang mengusel perutnya.
Mereka berdua masuk beriringan memasuki lift menuju lantai pertama ke ruang makan. Nayla seperti biasa mengisi piring Orion. Lalu mengisi piringnya. Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, malam ini Nayla tak begitu berselera makan. Ia hanya mengaduk makannya, Orion yang melihat semakin heran dengan sikap Nayla. Siang tadi Nayla masih baik-baik saja, ia mengirimkan beberapa foto kepada Orion.
__ADS_1
"Sayang, kenapa ga dimakan? Nggak suka? Atau nggak enak makan?" Orion menghentikkan makannya, bertanya dengan lembut kepada Nayla.
Nayla menggeleng, "Nggak lapar, yah."
"Makan, sayang bukan hanya kamu saja yang butuh nutrisi tapi anak kita juga."
"Ibu mual, yah."
"Ada yang ibu mau makan?"
"Nggak, yah. Ibu mau istirahat saja."
"Ya sudah kita istirahat, ya tapi sebelumnya ibu minum susu hamil yang akan ayah buat ya?"
Nayla mengangguk, ia masih mengingat jelas ucapan dua pelayan yang berbincang sore tadi saat Nayla ingin menyapa para pelayan dengan masuk ke kediaman pelayan.
Flashback On
"Gin, tuan muda Arga itu anak dari istri tuan Orion yang mana?"
"Lalu, kenapa dengan nyonya Hanum juga bercerai? Apa jangan-jangan nyonya Nayla duri dalam rumah tangga tuan Orion dan nyonya Hanum?" Mira sengaja bertanya seperti itu, karena ia melihat Nayla di balik pintu menuju kediaman pelayan
"Huus...kamu jangan asal bicara. Mau itu benar atau tidak, kita tidak boleh mencampuri urusan tuan dan nyonya kita."
"Aku kan hanya penasaran, Gin. Tuan Orion terlihat sangat mencintai nyonya Nayla, bahkan bukan seperti orang asing. Apa memang sebelum dengan nyonya Hanum mereka ada main di belakang?"
Nayla yang tak tahan dengan gunjingan pelayan, ia mengurungkan niat masuk ke kediaman pelayan dan bergegas pergi ke kamar utama. Saat selesai maghrib ia pergi ke rooftoop untuk menenangkan pikirannya.
Flashback Off
Nayla meminum susu yang telah dibuatkan Orion. Setelah itu Nayla merebahkan tubuh di ranjang dan Orion ikut merebahkan diri di samping Nayla. Orion membawa Nayla ke pelukan. Nayla bersandar di dada bidan Orion.
"Bu, ada apa? Ibu nggak seperti biasanya. Apa ada hal yang mengganggu pikiran ibu?"
"Nggak, yah. Nggak ada apa-apa."
"Sayang, ayah nggak bisa ibu bohongi. Jujur sama ayah kenapa?"
__ADS_1
Nayla menghela napas berat.
"Ibu boleh tanya sesuatu sama ayah?"
"Boleh, tanya saja."
"Kenapa ayah menceraikan tante Hanum?"
Deg
Orion terdiam mendengar pertanyaan Nayla, ia sudah menyangka akan ada pertanyaan ini.
"Kenapa ibu tiba-tiba menanyakan hal ini, sayang?"
"Ibu rasa ayah tahu banyak hal tentang ibu. Tapi banyak hal yang ibu nggak tahu tentang ayah. Apa ibu tak boleh mengetahui masa lalu ayah?"
"Sayang, ibu bisa tahu apapun tentang ayah secara perlahan-lahan. Ayah mengerti jika ibu belum banyak mengetahui ayah, jadi jangan terbebani karena ibu tak banyak mengetahui ayah. Untuk masa lalu, ibu berhak tahu. Hanya saja ayah tak mau berbalik ke belakang, ibu, Arga dan anak-anak kita kelak adalah masa depan ayah, sayang. Bukan masa lalu ayah."
"Jadi ayah nggak mau jawab pertanyaan ibu tadi?" Nayla yang sedang sensitif tertutup rasa cemburu, kesal dan sedih secara bersamaan memaksa Orion menjawab pertanyaan
Orion menghela napas berat
Bukan gitu, sayang. Ayah mengetahui rencana licik Hanum, bu.
Maksudnya?
"Soal kejadian malam itu, dia dan Gilang menjebak ayah dengan perbuatan yang tak pernah ayah lakukan pada Hanum. Sebuah pertanggung jawaban yang ayah berikan sebuah pernikahan itu tujuan utama mereka, mendapat keleluasaan untuk mengembangkan dan memajukkan perusahaan mereka di negeri ini, bu. Ayah yang tak pernah mencintai Hanum, benar-benar marah dengan perbuatan mereka. Tanggung jawab yang ayah berikan dianggap sebuah permainan, Hanum menginjak harga diri ayah sebagai laki-laki. Untuk itu saat ayah tahu kebenarannya, ayah menalak dan menggugat Hanum, dan kamipun bercerai. Ayah mengorbankan hidup dan hati ayah untuk hidup bersama wanita yang tak pernah ayah cintai. Dan mengorbankan perasaan ayah untuk meminang ibu. Jika malam itu tak terjadi, ayah akan meminang ibu saat usia ibu sangat muda. Dan mungkin saat ini kita telah hidup dengan banyak anak yang terlahir dari rahimmu, sayang."
Nayla yang selalu terharu dengan ucapan Orion mengeratkan pelukan di tubuh Orion. Nayla menyembunyikan wajah di dada bidang Orion, Nayla menangis. Hiks..hiks.., Hormon kehamilan Nayla membuat Nayla semakin sensitif.
"Hey, sayang kenapa kamu menangis?" Orion mecoba melepaskan pelukan erat Nayla. Tapi tak bisa lepas Orion tak mau menyakiti Nayla jadi Orion membiarkan Nayla memeluknya erat, ia memberi elusan lembut di surai dan punggung Nayla. "Sayang, apa yang membuat kamu menangis? Apa ada ucapan ayah yang salah? Bu, hati ayah juga sakit jika ibu menangis seperti ini. Bicara sayang, ada apa? Apa yang ibu pikirkan?" Orion berusaha membujuk Nayla untuk jujur padanya dengan kelembutan dan cinta yang ia miliki untuk Nayla
Udah nih miss jelasin kenapa Orion nalak Hanum rencana licik pertama ketahuan meskipun belum tau ya dibalik dalangnya Rio
Nikmatin alurnya dulu ya, miss denger ko saran-saran misstizenku tersayang
Terus suppor miss dengan like dan VOTE nya ya
__ADS_1