
Miss ingatkan dari awal ya misstizenku, miss uo banyak nih, kalau belum muncul jadi bekum lolos review, sabar 😊🙏🏻
Karena miss up banyak jadi tolong jangan SKIP LIKE di setiap episodenya LIKE, VOTE, 🌹dan komen dari kalian sangat berarti untuk karya-karya pemula seperti miss 😊🙏🏻
Sudah empat hari Fiana berbaring di rumah sakit X milik keluarga Orion. Selama empat hari juga Fariz tak menghubungi Fiana begitupun sebaliknya. Fiana sendiri ingin mendinginkan pikirannya hingga di hari kedua dirinya di rumah sakit Fiana berniat mengabari Fariz. Namun karena ia melihat story aplikasi pesan Fariz sedang berkumpul dengan para sahabatnya, tertawa bersama menikmati kebersamaan mereka tanpa dirinya yang dikenalkan empat hari lalu.
Fiana mengurungkan niatnya. “Aa benar-benar tak ingin melanjutkan hubungan ini. Jika seperti ini, bagaimana aku bisa tetap bekerja di sana." Pikir Fiana. Fiana juga tak mengabari kantornya bahwa dirinya sakit. Ia pikir biar nanti memberi surat keterangan sakit menyusul.
Drt..drt..
“Fiana bukankah hari esok kamu sudah diizinkan pulang?” Pesan dari Harvey. Hari ketiga Fiana di RS , Harvey menghubungi Fiana dan menanyakan kabarnya. Saat tahu Fiana di RS, Harvey segera menjenguk Fiana.
“Iya Vey, besok aku sudah diperbolehkan pulang.”
“Bolehlah aku menjemputmu?”
“Boleh Vey jika tak merepotkanmu.”
“Tentu saja tidak Fiana, aku senang bisa membantumu.”
“Terimakasih Vey”
“Sama-sama. Hari ini aku tak bisa menjengukmu karena pekerjaanku yang tak ada habisnya.”
__ADS_1
“Tak masalah Vey.”
“Besok aku jemput.
“Baik Vey.”
Fariz sendiri merasa kesal karena tak ada sedikitpun kabar dari Fiana. Tapi ia juga tak mau menghubungi Fiana terlebih dahulu. Rasa amarah dan cemburu telah menguasainya.
Betapa banyak pikiran negatif menghampiri pikirannya tentang Fiana. Mulai dari mangkir dari pekerjaan. Tak profesional, tak bisa membedakkan urusan pribadi dan pekerjaan bahkan berpikir menghabiskan waktu dengan sorang pengusaha muda bernama Harvey itu.
Fariz tak akan tahu keadaan Fiana jika ia tak mau mendengar anak buah Elang melaporkan keadaan Fiana. Elang pun tak bisa apa-apa karena sang tuan tak ingin mendengarnya.
**
"Sudah tak ada yang tertinggal na?" Tanya Harvey pada Fiana yang sudah siap dengan pakaian santainya untuk pulang ke mansionnya
"Ayo kita pulang Na." Panggilan Fiana oleh teman-teman terdekatnya adalah Na
"Iya Vey."
Mobil Harvey telah siap di depan loby RS. Hari ini Harvey meggunakan supir agar dirinya bisa duduk di belakang bersama Fiana.
"Na."
__ADS_1
"Iya."
"Apakah kamu sudah memiliki kekasih?"
Dada Fiana merasa sesak mengingat ucapan Fariz. "Belum."
"Apakah kamu masih belum bisa memberikan aku kesempatan untuk menjadi bagian hidupmu?"
"Vey kamu tahu jawabannya."
"Lelaki seperti apa yang kamu inginkan? Izinkan aku mendapat kesempatan untuk memantaskan diri bersanding denganmu Na."
"Vey kamu lelaki tampan, mapan dan baik hati. Aku pun bukan wanita tanpa cela. Tapi jujur soal perasaan tak bisa dipaksa."
"Apakah di hatimu masih ada lelaki yang sama sampai saat ini?" Harvey memang sahabat Fiana sejak putih abu namun persahabatan mereka renggang karena Harvey mengutarakan perasaannya. Padahal Fiana selalu menceritakan Fariz sang lelaki yang selalu dikaguminya. Untuk itu Harvey sangat mengenal seorang Fariz.
"Iya Vey. Maafkan aku."
"Sampai kapan Na kamu bertahan untuk lelaki yang tak pernah melihatmu sebagai wanita?"
"Walaupun aku bukan takdirnya Vey. Aku tak ingin memaksakan hatiku tergesa memilih yang lain. Itu sama halnya dengan aku menjadikan dia sebuah pelampiasan atas kekecewaanku."
"Baiklah aku terima keputusanmu. Biarkan aku tetap di sisimu sebagai sahabat. Hubungi aku saat kau membutuhkan bantuan. Jangan pernah sungkan Na."
__ADS_1
"Terimakasih Vey untuk pengertian dan bantuanmu."
"Sama-sama Na."