Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
35. Posesifnya Orion


__ADS_3

Malam telah tiba waktunya sepasang insan beristirahat.


Ceklek


Orion masuk ke kamar dengan nampan berisi susu hamil Nayla yang telah diseduhnya.


Nayla yang baru berbaring di ranjangnya mendudukan diri dan bersandar ke kepala ranjang.


"Minum dulu susunya, sayang." Orion menyerahkan segelas susu ke tangan Nayla. Nayla pun meminum susunya hingga tak tersisa. Gelas di simpan di nakas sebelah. Orion membaringkan tubuhnya di samping Nayla ia memposisikan kepalanya tepat di atas paha Nayla dengan wajah menghadap ke perut Nayla.


"Sayang, ayah anteng (tenang) di dalam, ya sayang. Jangan buat ibu kesusahan." Orion mengajak bayi dalam kandungan Nayla dengan mengusel-ngusel wajahnya pelan di perut rata Nayla


"Iya, ayah sayang." Nayla merespon ucapan Orion dengan suara seperti anak kecil sambil mengelus surai Orion.


"Dek, bilang sama ibu. Ibu harus banyak istirahat ga boleh kelelahan apalagi ngurusin workshop online shopnya." Adu Orion pada bayi diperut Nayla, ia membuka atasan Nayla sebatas bawah dadanya untuk mengelus langsung di perut mulus Nayla.


"Ko, ngadu anaknya sih mas?"


"Ayah sudah langsung ngomong ke adek, adek ga mau denger sih."


"Bukan ga mau denger mas. Mas sendiri taukan workshop online shop adek tanggung jawab adek, jadi adek ga bisa lepas gitu aja, suamiku sayang." Ucap Nayla dengan tangan mengelus pipi Orion


"Ayah, sayang. Sekarang kan mau punya anak. Jadi panggilnya seperti itu, ibu. Panggilnya ayah ibu aja walau ga ada Arga."


"Iya, ma..s eeh ayah."


"Pake sayang dong." Orion terkekeh


"Iya, ayah sayang. Jadi ibu masih diizinin ga nih ke workshop?" Nayla bertanya memastikkan izin untuk pergi ke workshop yang telah menjadi workshop pusat di Jakarta tempat tinggalnya saat ini dengan pegawai beberapa pegawai lama yang di pindahkan dari Bandung dan beberapa pegawai baru. Sedangkan di Bandung sebagai workshop cabang masih dengan beberapa pegawai lama dan penambahan pegawai baru.


"Ayah izinin tapi hanya 1x dalam seminggu. Semua sistem operasional nya kan sudah berjalan, sudah ada bagian masing-masing. Ibu cukup mengontrol satu kali dalam satu minggu."


"Satu kali banget, yah? Ya sudah besok ibu ke sana ya?"


"'Iya cukup satu kali aja. Engga, engga boleh besok,bu."


"Lah ko? Katanya boleh satu kali. Minggu ini kan belum ke sana."


"Ibu boleh ke sana setiap hari sabtu ketika ayah libur. Ayah yang temani ibu ke sana."


"Ya ampun yah, sabtu setengah hari loh ya. Udah cuman sekali setengah hari lagi."

__ADS_1


"Iya? Atau engga sama sekali!" Orion berkata tegas mengubah posisinya menjadi duduk di sebelah Nayla dengan kepala bersandar di kepala ranjang


"Ibu akan jawab iya kalau dengan alasan yang jelas. Kenapa ayah larang ibu sampe sebigininya? Ibu kan cuman ke workshop, yah. Ga akan kelelahan." Nayla yang terbiasa mandiri, bekerja keras, tidak biasa dimanjakan meminta alasan kepada Orion. Karena apapun keadaannya ia merasa mampu menjalani rutinitasnya.


"Ayah ga mau kamu sama anak kita kenapa-kenapa sayang tanpa ayah di samping kamu." Ucap Orion dengan wajah menghadap Nayla. "Mas ga mau Hanum mendengar kalau kamu sedang mengandung anak mas dan dia mencoba mencelakai dimana kamu berada, sayang." Dalam hati Orion


"Insya allah ga akan kenapa-kenapa ayah sayang. Ibu nih hamil loh yah bukan sakit." Nayla merespon ucapan Orion dengan menatap Orion.


"Ayah tau sayang. Ayah mohon ibu menurut apa yang ayah bilang ya, masa ibu ga mau nurut sama ayah?" Tegas Orion tapi masih dengan nada selembut mungkin. Karena ia tau Nayla tak pernah bisa dibentak atau dengan nada tinggi


Nayla menghela nafasnya, "Iya iya, yah ibu nurut kata ayah. Tapi ayah ga boleh ngebatasi apapun yang mau ibu lakukan di rumah ya?"


"Ayah harus tau dulu dong, apa yang mau ibu lakukan?"


"Ayah kan baru mendatangi bunga-bunga dan tanaman baru di halaman belakang, ibu mau ikut mengurusnya. Bolehkan, yah? Ibu ga mau bosen di rumah aja." Tanya Nayla dengan senyum semanis mungkin


"Boleh, tapi hanya membantu hal-hal ringan aja, kayak menyirami saja. Biar yang lainnya mang Jajang dan Bi Surni yang urus."


Iya, yah. Satu lagi jangan larang ibu untuk tetap memasak makanan untuk ayah dan Arga, ya??


"Iya, boleh. Tapi itu juga dibantu Bi Mirna ya, jangan semuanya ibu yang kelola."


"Ya Allah, yah," Nayla memutar bola mata


"Iya siap tuan besar." Nayla menjawab terkekeh dengan tangan kanan diangkat ke kepala seperti hormat


"Ini baru istri ayah yang penurut." Orion mengelus surai hitam legam Nayla dan memeluknya erat.


Tok...tok...tok...


"Ayah...ibu...," suara Arga yang mengetuk pintu. Nayla akan beranjak dari ranjang untuk membuka pintu Orion menahannya.


"Biar ayah aja, sayang." Orion berdiri menuju pintu


"Iya, yah."


Setelah pintu di buka Arga menubruk kaki Orion.


"Aga ingin tidur sama ayah ibu." Belum sempat bertanya kenapa. Nayla sudah merespon ucapan Arga.


"Boleh, sini sayang." Ucap Nayla dengan melambai tangannya menyuruh Arga ke ranjang kingnya

__ADS_1


Arga berlari dan naik keranjang dengan loncatan kecil.


Arga jangan loncat, nanti kena adek bayinya. Orion memperingati Arga dengan nada agak meninggi khawatir mengenai perut Nayla.


"Maaf, yah ibu." Arga duduk di sebelah Nayla dan memeluk Nayla


"Engga apa-apa, sayang. Engga kena ibu ko, yah." Ucap Nayla dengan mengelus lembut punggung Arga dengan tatapan teduh ke mata Orion menenangkan kekhawatirannya. Orion menganggukkan kepalanya dan berbaring di sebelah kiri Arga.


"Lain kali hati-hati ya, sayang. Nanti kalau kena ibu adek juga sakit." Orion mengelus surai Arga


"Iya, yah."


"Sudah, yah. Kita tidur yuk," Nayla menghentikkan Orion yang ingin meneruskan nasihatnya


****


Kumandang adzan subuh pun terdengar, Arga dan Nayla terbangun terlebih dahulu.


"Yah, bangun." Nayla mengelus lengan Orion yang berada di sisi Arga. Nayla berulang kali membangunkan Orion tapi tak juga bangun.


"Aga kita gelitikin ayah yuk, biar bangun," Nayla memberi ide kepada Arga


"Ayo, bu." Arga yang sudah turun dari ranjang menggelitik Orion dari sebelah kiri, Nayla di sebelah kanan Orion masih di atas ranjang yang sama dengan Orion.


"Ayah, yah bangun." Ucap Arga dan Nayla berbarengan. Orion yang merasa kegelian terbangun dan ketawa kegelian.


"Ampun..ampun...berhenti Aga..berhenti sayang..," Merekapun menghentikkan gelitikannya.


Aga dan Nayla tertawa bersama.


Kalian, ya. Aga bantu ayah gelitikin ibu, ready. Orion dan Arga menggelitik Nayla bersamaan di atas ranjang.


Ayaaah....Agaaa...stop...ampuun...stop dong..hahaha... Nayla cekikikan karna kegelian. Arga yang lelah terus tertawa dari tadi menghentikkan gelitikannya. Berbeda dengan Orion ia masih menggelitik Nayla dan ketika Nayla mencoba mendorong tubuh besar Orion, tanpa sengaja sikut Orion menyiku perut Nayla.


Aaauuuuww.... sakit yah. Ringis Nayla lirih namun mengkhawatirkan. Orion dengan sigap mendekap tubuh Nayla


"Maaf..maaf sayang apa yang kena?" Orion bertanya dengan memegang kedua bahu Nayla dan melihat ke tangan Nayla yang menyentuh perutnya.


Ringisan Nayla berubah menjadi tangisan kecil,


"Ibu...kenapa?" Arga bertanya sudah dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Sayang, kamu keluar dulu ya. Biar ibu sama ayah." Ucap Orion ke Arga


__ADS_2