Suami Penggantiku Masih Beristri

Suami Penggantiku Masih Beristri
22. Arga Alfath Hardiardjo


__ADS_3

Pagi ini Orion dan Nayla akan pulang dari Jogja menuju Jakarta. Orion bermaksud memberi kejutan kepada Nayla sesampainya di Jakarta.


Dari sebelumi sholat subuh sikap Nayla kepada Orion tidak seperti biasanya. Ia mendiamkan Orion sejak pagi setelah mereka sholat subuh berjama'ah.


Orion tak paham mengapa Nayla mendiamkannya. Lebih tepatnya Orion tak peka akan Nayla yang marah karna tidak boleh mengangkat telponnya dan memilih berbicara dengan sang penelepon di kamar hotel sebelah.


"Dek, ko diem aja. Biasanya bawel," Ucap Orion yang sedang menggunakan kemeja kerjanya.


Nayla mengabaikan ucapan Orion, ia menyibukkan diri dengan aktifitasnya membereskan kasur king sizenya. Walau itu bisa saja dibereskan oleh pihak hotel, tapi Nayla terbiasa melakukannya. Jadi setia kali ia bermalam di hotel akan dengan sendirinya ia membereskan bekas tempat tidurnya.


Karena tak ada jawaban dari Nayla, Orion mendekat dan mendekap tubuh mungil Nayla dari belakang.


"Lepas iih mas," ucap Nayla dengan ketus.


"Kenapa, sayang? Jangan diemin mas, dari sebelum sholat subuh kamu diemin mas."


"Pikir aja sendiri," ketus Nayla dengan melepas dekapan tangan Orion dan berlalu menuju keluar kamar hotel. Nayla akan sarapan di restoran hotel.


Orion menghela nafas berat. Ia menggunakan kaos kaki, dan sepatu yang telah disiapkan Nayla. Lalu , membawa jas, dan tas kerjanya keluar mengikuti Nayla yang sudah lebih dulu keluar.


"Sayang...sayang, bantuin mas nih," panggil Orion yang pura-pura kesusahan membawa barang bawaannya. Jas dan tas terbiasa dibawakan Nayla jika mau makan Tapi karna Nayla yang sedang mendiamkannya, Nayla tak membawakannya. Nayla tak memperdulikkan panggilan Orion ia terus berjalan menuju lift.


Orion yang benar-benar tak paham akan keterdiaman Nayla, langsung menyusul Nayla masuk ke dalam lift sebelum lift tertutup. Orion yang tak peka dengan keterdiaman Nayla, bukannya membujuk Nayla malah sibuk dengan hape di tangannya.


Ting


Saat lift terbuka, Nayla dengan segera berjalan menuju restoran hotel, meninggalkan Orion di belakang yang masih sibuk dengan hapenya. Ketika ia tersadar Nayla sudah di depannya dengan segera ia berjalan berdampingan dengan Nayla. Dan menggenggam tangan Nayla. Nayla ingin melepasnya tapi ia tahan, karna ia tak mau sikapnya kekanan-kanakkan menghadapi hal kecil seperti ini.


Mereka duduk di salah satu pojok restoran yang menghadap ke pantai.


"Dek, kenapa sayang?" Tanya Orion setelah mendudukan dirinya di samping Nayla. Tetapi Nayla memalingkan wajahnya ke arah pantai.


"Mas ga peka, iih," Nayla menjawab dengan ketus


"Ga peka gimana sayang? Mas beneran ga ngerti kenapa adek diemin mas. Sini coba dengerin mas." Orion memegang kedua bahu Nayla dan menghadapkan tubuh Nayla ke hadapannya.


Tubuh Nayla mengikuti pergerakan tangan Orion yang menghadapnya. Tapi wajahnya masih ia arahkan ke sembarang arah. Orion memegang dagu Nayla agar wajahnya menghadap ke wajah Orion.


"Sayang, dengerin mas. Mas ga akan paham dengan maksud keterdiaman kamu. Kalau kamu ga ngomong apa-apa."


"Engga, gapapa." Nayla menjawab dengan ketus


"Gapapa kamu itu kenapa-napa." Nayla memalingkan lagi wajahnya. Lalu Orion menahan wajahnya dengan kedua tangannya menangkup pipi Nayla.


"Hey..hey..dek jangan gini. Kita bukan wanita dan pria remaja yang kode-kodean, serius mas ga paham dengan diemnya kamu dek. Kalau ada apa-apa sebaiknya di omongin agar gak terjadi kesalahpahaman gini. Ayoo sayang belajar terbuka. Mas gak mau kalo kita bertengkar cuman karena hal sepele."


"Mas bilang sepele??" Akhirnya Nayla merespon ucapan Orion dengan ekpresi kesal.


"Iya terus apa, bilang dek. Biar mas paham dan bisa memperbaiki kesalahannya kalau memang mas buat salah." Orion menjawab dengan lembut dan penuh pengertian.


Kenapa tadi pagi keliatan panik banget ketika Nay mau angkat telepon? Terus kalau emang rekan bisnis kenapa harus pake di kamar sebelah? Toh Nay juga ga akan ganggu obrolan mas.

__ADS_1


"Ya Allah, dek. Kirain karena apa?" Orion mengelus lembut pipi Nayla yang chubby dengan terkekeh. "


"Mas tuh bukannya panik karena kamu yang akan, rekan bisnis mas yang telepon tadi tuh sensitif banget kalau dijawab orang lain. Pemikirannya jika telepon yang mengangkat bukan mas, artinya mas tak memiliki sopan santun. Biasa sayang rekan mas ini memegang teguh etika. Dan mas juga ga mau mengganggu istirahat kamu saat harus berdiskusi tentang bisnis yang lumayan lama." Orion menjelaskan dengan penuh kebohongan. Sejak tadi di kamar hotel sebelah ia memikirkan bagaimana jika Nayla bertanya. Dan akhirnya itu terjadi.


Ada ya orang kayak gitu? Nayla bertanya dengan polosnya dan cukup mempercayai alasan Orion yang sebenarnya berbohong


"Iya ada, buktinya rekan kerja mas dari negeri xxx itu. Jadi udah ya ga diem-diemin mas lagi??" Orion bertanya dengan tangan memegang dagu Nayla


"Hmm" Nayla memutar bola matanya masih dengan ekpresi ketusnya


"Masa masih jutek sih, senyum sayang." Orion terus mencoba merayu dengan jari telenjuk yang menoel-noel pipi Nayla agar tersenyum. Naylapun tersenyum karena malu dan memeluk lengan kokoh Orion, sedikit menelusupkan wajahnya ke bahu Orion.


Orion tersenyum senang dengan tingkah Nayla yang menurutnya gemas. Ia mengelus kepala Nayla yang berhijab.


****


Pukul 14.00 WIB, Orion dan Nayla sampai di bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Mereka sudah ditunggu oleh supir keluarga Orion.


Mas kita mau kemana?


Ke rumah mamah papah, sayang


Dan ini kali pertama Nayla ke rumah orang tua Orion di Jakarta.


Setelah menempuh perjalanan 1jam lebih dari bandara, akhirnya mereka sampai di pekarangan rumah megah salah satu komplek megah di Jakarta.


Orion membukakan pintu untuk Nayla dan masuk beriringan disambut oleh banyak pelayan.


"Walaikumsalam..." ibu Riani menjawab salam Orion dan Nayla di ruang tamu. Orion dan Nayla menyalami ibu Riani.


"Nah gini dong mantu mamah dibawa kesini Rion. Mamah kangen banget nih. Ibu Riani memeluk Nayla dengan hangat."


"Iya maaf mah, Rion terlalu banyak kerjaan baru sempat kesini."


"Yasudah gimana lagi. Oh ya ada yang ngerengek terus tuh pengen ketemu mantu mamah. Ditahan mulu mau pulang ke rumah kalian."


"Siapa mah yang ngerengek? Dan siapa yang menahan?"


"Fans kecil kamu Nay. Kalau yang menahan biar ga pulang siapa lagi kalau suami bucin kamu itu." Bu Riani menjawab dengan mengarahkan pandangannya ke Orion dengan terkekeh


"Fans kecil???" Dari arah dalam suara anak lelaki meneriaki nama Nayla


"Tante Naylaaaaa." Dengan berlari Arga menghampiri Nayla dan menubruk memeluk pinggang Nayla, karena tinggi Arga yang masih sepinggang Nayla.


"Argaaa... ya ampun kamu ada disini." Nayla menyahut panggilan Arga dengan tubuh mensejajarkan dengan Arga.


"Ia dari dua minggu lalu Arga di oma dan opa tante. Arga pengen nyusul papah ke Bandung kata eyang kakung di Jogja tempat papah tinggal dekat rumah tante. Tapi tiap kali Arga telepon mau kesana papah bilang nanti aja Arga boleh ke Bandung." Arga menjawab dengan lucunya khas anak lelaki.


"Mas kenapa larang Arga ke Bandung?"'Nayla melirik Orion dengan mendelikkan mata.


"Mas ga larang, kamu kan tau mas sibuk. Yang ada nanti Arga banyak maunya, merepotkan kamu, sayang. Apalagi mas ga ada di samping kalian." Elak Orion. Kalo ada Arga kapan kita buat adeknya, sayang. Hanya di hati Orion tak bisa ia ucapkan pada Nayla.

__ADS_1


"Siapa yang bakal kerepotan mas, yang ada Nay seneng ada Arga jadi di rumah ga sepi. Iya ga ganteng?" Nayla berucap dengan memeluk gemas Arga Alfath Hardiarjo


"Iya tantee Arga ga nakal ko, Arga baik ga akan nyusahin tante.”


"Nak, tante Nay udah bukan tante kamu loh." Ujar ibu Riani mertua Nayla


"Kalau bukan tante Arga terus siapa Arga dong oma?" Arga bertanya pada sang nenek ibu Riani


"Mah, pelan-pelan aja. " Nayla berbicara kepada ibu Riani


"Gapapa, sayang." ibu Riani memberi ketenangan pada Nayla dengan mengelus punggung tangannya.


"Arga tante Nayla itu sekarang mamah kamu. Kamu sekarang punya mamah."


"Beneran tante????"


Nayla menganggukkan kepalanya dengan tersenyum hangat. Orion yang duduk di hadapan mereka hanya memperhatikkan dengan bibir yang melengkung sempurna melihat interaksi ketiganya.


"Asyiiiik, Arga punya mamah." Teriak Arga sambil loncat-loncat dan menubruk tubuh Nayla yang duduk di sofa.


"Arga, jangan peluk-peluk mamah terus." Orion mengeluarkan suaranya berpindah posisi duduk di samping Nayla.


Arga melepaskan pelukkannya, dan mendongak menatap Orion.


"Emang kenapa yah??"


"Ayah juga mau lah dipeluk mamah." Orion menjawab dengan terkekeh sambil memeluk Nayla dari samping.


"Engga, engga boleh yah ini ibu Arga."


Bukannya melepaskan pelukkan Orion malah mengeratkan pelukkan dan menjauhkan Nayla dari tubuh Arga.


"No, no..no Arga." Orion sambil terkekeh. Mata Arga sudah terlihat berkaca-kaca. Nayla melepaskan pelukkan Orion dan memeluk Arga.


"Jangan dengerin ayah, ya. Mamah, mamahnya Arga boleh dipeluk terus."


Arga merenggangkan pelukkan Nayla, mendongak melihat wajah Nayla.


"Boleh Arga panggil tante dengan sebutan ibu??"


"Boleh dong, sayang." Nayla memeluk Arga kembali dan Orion juga ikut memeluk keduanya


Flat ga???


Iyaya??? Aduh maafkan miss ya yang baru update ada halangan di dunia real nih


Missnya ini kan pemula nih masih harus banyak belajar, jadi miss sempet revisi dari awal bab. Jadi kalo yang udah terlanjur baca. Kalo baca ulang lagi kalian pasti liat bedanya ada yang dikurangin dam ditambahin. Tapi alur dan ceritanya masih sama.


Miss harap riders pada suka nih


Kalo suka, kencengin like, vote dan jangan lupa tinggalin komen atuh ya

__ADS_1


__ADS_2