Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
BAB 10


__ADS_3

Setelah membaca mushaf akhirnya Yulian mampu mengendalikan amarah yang sempat bergemuruh dalam dirinya. Lalu, ia sejenak berdiam diri seraya mamandang dua pasangan remaja yang tengah dimabuk asmara. Terbesit dalam pikirnya tentang Aisyah yang dulu saat bersamanya. Memadu kasih berdua dengan penuh cinta.


”Kenapa kamu memandangi mereka dengan seperti itu? Sungguh ... kamu pun tahu perilaku remaja itu tak pantas untuk dipandang.” Yulian sontak mereka terkejut ketika Abdullah menepuk pelan bahunya dan melontarkan kata yang menyadarkannya akan hal yang membuatnya berdosa.


”Aku tidak bermaksud memandangi mereka seperti, hanya saja...”


”Hanya saja kamu teringat akan masa lalu bersama Aisyah. Sudahlah Yulian, lupakan Aisyah agar Dia bisa tenang di sana.” Yulian seketika menatap tajam Abdullah yang duduk di sampingnya.


Sungguh tatapan yang dilakukan Yulian kepada Abdullah benar-benar tatapan yang dipenuhi dengan rasa kecewa terhadap Abdullah. Namun, amarah kini tidak bisa mengusai pikiran, hati dan dirinya. Karena dalam hatinya Yulian masih melantunkan dzikir bebeberapa kali, sehingga hatinya tetap merasa damai.


”Aku tahu kamu memang belum bisa melupakan Aisyah. Tapi ... itupun sudah dua tahun yang lalu Yulian, bahkan hampir lebih dari dua tahun Aisyah pergi memenuhi panggilan Allah. Apa kamu tidak pernah berpikir sedikit pun bagaimana Aisyah di sana yang melihat mu seperti ini?”


”Sungguh ... aku merasa kecewa atas sikapmu yang menipu Allah, Yulian.” Yulian mengangkat wajahnya setelah mendengar ucapan Abdullah, sahabat yang begitu mengerti bagaimana dirinya. Karena hampir setiap hari mereka bersama.


Yulian seolah tengah memikirkan perkataan Abdullah, tetapi setelah sekian berpikir ia tidak menemukan jawaban apapun untuk mengerti arti dari perkataan Abdullah. Menipu Allah? Sungguh kalimat itulah yang masih berputar-putar dalam pikirannya.


”Menipu Allah? Apa maksud kamu, Abdullah?”


Yulian akhirnya menyerah, sehingga ia melontarkan pertanyaan kepada Abdullah, agar Abdullah memberikan penjelasan kepadanya. Akan tetapi, Abdullah justru terdiam dalam. kebisuan yang membuat Yulian semakin bertanya-tanya.


”Pikirkanlah baik-baik apa yang sudah kamu lakukan, Yulian. Bagaimana pun juga, Hafizah masih membutuhkan sosok bimbingan dan kasih sayang seorang ibu.” Yulian mengingat akan sesuatu hal yang sudah diminta oleh Aisyah sebelum kematian merenggut nyawanya.


--------

__ADS_1


Sesampai di rumah Yulian tidak lupa mengucap salam sebelum masuk ke dalam rumah. Dan Yulian kembali berjumpa dengan Ahtar serta yang lainnya, tetapi tidak dengan Tristan dan Arumi, karena mereka sudah pulang ke rumahnya.


Rasa canggung antara Yulian dengan anaknya pun pasti akan terjadi. Sehingga mereka. hanya. saling diam tanpa saling menyapa satu sama lain. Tapi tidak dengan Cahaya, menantu Yulian yang baik hati itu.


”Wa'alaikumsalam, Abi.” Yulian tersenyum melihat Cahaya yang menghampirinya dan menyodorkan tangannya untuk mencium punggung tangan Yulian.


”Ya sudah, Abi mau ke kamar dulu!”


Cahaya hanya mengangguk pelan, mengiyakan apa yang dikatakan Yulian. Dan sesampai di kamar Yulian kembali berpikir tentang bagaimana cara ia meminta maaf kepada Ahtar atas apa yang terjadi tadi siang.


Dibawah kucuran air shower Yulian merasa dirinya benar-benar tengah dilanda rasa bimbang. Bayang-bayang tentang pertikaian kata antara dirinya dengan Ahtar terlintas dalam pelupuk mata. Bahkan bayangan itu selama membuatnya kembali merasa marah, tapi bukan karena benci dengan Ahtar. Melainkan marah karena Yulian tidak bisa menjaga api kemarahan yang bergemuruh di dalam jiwanya saat tadi siang.


”Maafkan Abi, Ahtar. Mungkin benar, Hafizha harus mendapatkan kasih sayang dari ibunya. Tapi ... tidak untuk menikah dengan Abi.” Yulian menghantam tembok dengan tinjuannya beberapa kali.


Tubuh Yulian meluruh dengan tangis yang tidak bisa ditahan olehnya. Masih dibawah kucuran air shower, Yulian menangis tergugu dan sesekali merasakan sesak di dalam dada. Dan saat kehancuran telah menerpa nya, seakan melintas bayangan Aisyah yang menemani nya di kala itu.


Hafizha telah membuka pintu kamar Yulian yang memang tidak dikunci dari dalam. Beberapa kali Hafizha memanggil nama Yulian, tetapi Yulian tidak menyahut panggilan gadis kecil itu. Dan Hafizha hanya mendengar kemericik air shower dari dalam kamar mandi.


”Tok... tok... tok... Abi... Abi...”


Masih tidak ada sahutan dari dalam kamar mandi tersebut. Sehingga Hafizha berlari keluar dan memanggil kakaknya, Ahtar. Yang memang saat itu berada di kamarnya. Di mana kamar Ahtar berada di samping kamar Yulian. Sehingga begitu dekat jarak antara kamar Yulian dengan kamar Ahtar.


Ahtar yang mendapatkan aduan akan hal itu dari bibir polos Hafizha, seketika berlari ke kamar Yulian dan memastikan apa yang terjadi dengan Yulian saat berada di dalam sana.

__ADS_1


”Tok... tok... tok... Abi... Abi...”


”Abi ... tolong buka pintunya! Ini Ahtar dan Hafizha berada di luar menunggu Abi.” Tidak lama kemudian Yulian membuka pintu kamar mandi itu.


”Ada apa, Ahtar ... Hafizha?” tanya Yulian.


Yulian hanya mengenakan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya saat keluar dari kamar mandi, terlihat begitu berontot dengan poster tubuh lelaki dewasa yang masih menjaga kekebalan tubuh, olahraga dan pola makannya, bak atletit ternama yang memiliki otot perut sempurna.


”Abi akan memakai baju dulu.” Ahtar menatap setiap pergerakan Yulian yang berlalu lalang di hadapannya.


”Apa yang terjadi dengan Abi? Kenapa Abi begitu lama di dalam kamar mandi?”


Sejenak Yulian menghembuskan nafas beratnya. Dan perlahan ia bertutur kata secara lembut dengan Ahtar, ”Tidak apa-apa, hanya saja ... Abi tengah memikirkan sesuatu yang memang pantas untuk dilakukan.” Sejenak Yulian terdiam, seakan tidak mampu untuk kembali berkata-kata.


”Memangnya ... apa yang Abi pikirkan?” tanya Ahtar penasaran.


”Sebuah perasaan yang memang tidak akan bisa dipaksakan, sampai kapanpun.” Ahtar tersenyum simpul dan ia pun berpikir bahwa yang tengah dibicarakan oleh Yulian tidak lain adalah perasaannya sendiri.


Ahtar kembali menarih rasa kecewa kepada Yulian, begitu sulit untuk membuat Yulian memikirkan perasaan antara ibu dan seorang anak. Bagaimana bisa Yulian se-egois itu menjadi seorang ayah yang sedari dulu memiliki hati yang baik dan mulia.


”Ahtar tahu, tidak perlu dilanjutkan lagi. Jika Abi memang tidak bisa, setidaknya carilah bunda Khadijah dan pastikan bahwa beliau baik-baik saja tanpa terluka akan hatinya di masa lalu.” Yulian hanya mengerutkan giginya dan mengepalkan tangannya dengan begitu erat.


Ahtar pun memutuskan untuk pergi dari kamar Yulian yang sudah membuatnya meninggalkan rasa kecewa. Akan tetapi, saat ia hendak melangkahkan kakinya menuju ujung pintu tiba-tiba ia mendengar ada suara tubuh yang terjatuh ke lantai.

__ADS_1


”Brukk,”


Seketika Ahtar membalikkan tubuhnya untuk memastikan apa yang terjadi. Dan setelah mengetahui tubuh siapa yang jatuh ke lantai, sesegera mungkin Ahtar menghampiri tubuh itu dengan rasa khawatir yang begitu dalam. Beberapa kali Ahtar menepuk pelan pipi dan menyebut namanya, tetapi nihil. Tidak ada jawaban sama sekali.


__ADS_2