
Sontak Tristan menggelengkan kepala, karena sudah salah menilai tujuan Arumi yang mencari Yulian. Sedangkan Yulian segera berlari mengambil kunci mobil untuk mencari kedua makanan tersebut. Dan Yulian tidak ingin jika Khadijah kecewa jika tidak segera mendapatkan makanan itu.
Mobil dilakukan dengan kecepatan tinggi, tetapi Yulian tetap berusaha untuk mematuhi rambu-rambu lalu lintas agar tidak terjadi apa yang tidak diinginkan.
”Semoga saja disini masih ada.”
Yulian menghentikan mobilnya di depan sebuah restoran yang menjual makanan haggis dan cranachan. Lalu ia masuk ke dalam untuk menanyakan makanan tersebut, dan untung saja masih ada sisa satu. Jika Yulian tudak bisa bergerak dengan cepat, maka nanti anaknya akan lahir ileran. Dan Yulian tidak mau jika itu terjadi.
Setelah usai membeli haggis dan cranachan, Yulian segera menancapkan pedal gas untuk kembali pulang. Lima belas menit kemudian ia pun sampai dan segera memberikan makanan itu kepada Khadijah.
”Hubby, Hubby sudah pulang. Bagaimana, ada tidak makanan haggis dan cranachan nya?”
”Nih makanlah, Neng. Tapi ... harus sholat isya' dulu, sudah adzan.”
”Siap, bos!”
Yulian mengusap puncak kepala Khadijah dengan lembut. Setelah itu Khadijah menuju ke kamar untuk sholat. Sedangkan Yulian, sejenak ia memantau bagaimana proses acara nanti malam yang akan digelar.
”Bagaimana? Apa sudah beres?” tanya Yulian sambil berdecak pinggang.
”Sudah beres gundulmu itu. Mana ada mengatur dekor lampu secepat itu? Taman yang sudah kamu buat itu cukup luas, bagaimana bisa kita mengatur lampu itu selama satu jam.” Cicit Tristan.
”Ha... ha... ha...”
Yulian tertawa lepas melihat bagaimana ekspresi wajah Tristan yang terlihat cukup lelah dan prustasi. Memang tidak dapat dipungkiri jika mereka sedikit merasakan lelah, tetapi demi menciptakan rumah tangga yang harmonis maka mereka akan melakukan apapun yang akan membuat para istri mereka terpukau.
Yulian yang pada akhirnya ikut terjun membantu, sedikit mengurangi pekerjaan mereka. Bahkan Yulian menuntaskan pekerjaan yang belum terselesaikan dengan begitu cepat. Membuat Tristan dan Abdullah merasa heran dengan kecepatan Yulian dalam mendekor.
”Aku akui kamu memang pintar dalam segala hal, Yulian. Dan aku rasa ... Khadijah dan istri kita semua nanti akan terpukau dengan ini semua.” Ujar Tristan seraya mengacungkan jempol.
”Baguslah. Ya sudah, kita harus bersiap-siap untuk membantu di dapur, setelah itu kota sholat bersama.”
Semuanya menyetujui ucapan Yulian, seketika mereka bergerak menuju ke dapur untuk membantu sebisa mereka di sana. Namun, setiba di dapur mereka hanya membantu membawa makanan menuju ke taman yang sudah mereka hiasi tadi. Dan ketika semua sudah tersusun dengan tapi, mereka melanjutkan kegiatan di ruang sholat.
Empat rakaat pun telah usai dilaksanakan oleh semuanya secara bersama-sama. Setelah itu, para lelaki mengganti pakaian dengan yang cukup simpel.
”Aku akan memakai baju seperti ini. Siapa tahu saja umurku bisa sedikit tertutupi setelah aku memakai pakaian ala remaja.”
Yulian meraih kaos berwana hitam yang dilapisi dengan kemeja kotak-kotak, lalu dipadukan dengan celana levis ala remaja. Bahkan Yulian memakai topi berwarna hitam. Tidak lupa juga dengan gitar yang ia beli bersama Khadijah sepulang dari Pentland.
Lampu telah dinyalakan, sehingga menciptakan sinar cahaya yang begitu indah dari setiap pohon yang sudah dipasang dengan lampu hias tersebut. Perlahan suasana romantis telah terciptakan saat tulisan ”I love you my wife” telah dibentangkan ke atas.
Semua kaum hawa tengah berkumpul dan duduk di kursi yang sudah disediakan. Sedangkan kaum adam, mereka masih sibuk dengan sesi penampilan yang akan mereka tampilkan di depan para istri mereka. Dan kehebohan telah dirasakan Yulian serta yang lainnya.
”Yulian, sebagai pembukaan dalam acara malam ini, bagaimana jika kamu...”
”Membuka acara dengan berpidato.” Celetuk Ahtar.
”Bwahahaha...” Tawa Arjuna lepas begitu saja.
”Dasar dua anak semprul. Masa acara begini membaca pidato.” Umpat Tristan.
”Ya habisnya, acara keluarga begini saja harus susun acara. Dasar para bapak-bapak yang rempong. Iya kan, Bang?”
Arjuna manggut-manggut membenarkan ucapan Ahtar. Dan kali ini setelah para tetua merasa diejek, tetua itupun memberikan hukuman kepada Arjuna dan Ahtar.
Tiba-tiba lampu yang ber gemerlap dengan indah mati begitu saja. Membuat para wanita merasa bingung dengan apa yang terjadi. Akan tetapi, mereka seketika diam dari kehebohan mereka setelah mendengar senar gitar yang dipetik.
[Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu]
__ADS_1
[Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka]
[Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu]
Dari Orang Biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa]
[Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu]
[Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat]
[Rasa ini tak tertahan
Hati ini slalu untukmu]
Dari Orang Biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa]
[Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia..
Tulus padamu]
Lagu mengalun indah dengan petikan gitar yang memiliki nada sebagai pengiring lagu itu, membuat para wanita yang duduk di kursi yang sudah disediakan begitu menikmati penampilan Arjuna dan Ahtar. Dua saudara itu telah membuat dua wanita menjatuhkan hati kepada mereka yang menampilkan dengan sempurna lagi itu. Lagu yang dengan judul "Cinta luar biasa" dari Andmesh Kamelang.
Lagu itu begitu mendunia, apalagi di kalangan remaja yang tengah kasmaran. Dan tatapan Humaira yah ditujukan kepada Ahtar, kembali ditangkap oleh Khadijah. Saat Khadijah memandang haggis dan cranachan yang siap masuk ke dalam mulutnya, tanpa sengaja Khadijah melihat Humaira kembali menatap Ahtar dengan binar mata yang berbeda.
’Apa sebaiknya aku bertanya kepada Humaira dari arti tatapan itu?’
Khadijah merasa bimbang dengan apa yang harus dilakukannya sebagai orang tua, terlebih sebagai wanita yang mengerti bagaimana menjaga marwah agar tidak terjerumus dalam lubang dosa. Meskipun hanya menatap, itu akan menjadi dosa karena zina mata. Dan zina tercipta bukan hanya melakukan sentuhan ataupun hubungan badan tanpa ada pernikahan sakral yang mengikat. Sedangkan zina itu sendiri terbagi menjadi empat.
”Suara itu ... kenapa aku mengenalnya?”
Yulian menggunakan mikrofon untuk mengudarakan suara. Lalu Yulian meminta Khadijah untuk membuka bungkusan dari haggis yang sudah di pesannya tadi. Di mana di dalam bungkusan itu bukan hanya makanan haggis saja, melainkan ada kartu ucapan yang ditulis dengan kata-kata romatis ala Yulian.
Karena merasa penasaran, Khadijah segera mencari kartu seperti yang dibilang Yulian.
__ADS_1
”***Assalamu'alaikum, bidadari duniaku...
Selamat menikmati cinta yang ku persembahkan dari ketulusan hatiku. Sebelumnya aku memang tidak pernah mengenal bagaimana dirimu yang sebenarnya...
tetapi setelah kulangitkan do'a dalam sholat tahajud ku aku tersadar, mimpi yang sering hadir menghiasi tidurku tak lain wanita itu adalah kamu.
Wanita yang akan kujaga segenap jiwa selama aku masih bernafas dan selama jatung ku masih berdetak. Dan aku tidak tahu ... jika Tuhan tidak mempertemukan kita berdua, mungkin aku akan hidup dalam cahaya yang semakin lama akan sirna.
Dan kehadiranmu telah membuat cahaya itu kembali terang, memberikan kehangatan dalam setiap hembusan nafasku...
Terimakasih cinta... kehadiran mu telah merubah duniaku menjadi berwarna. Dan terimakasih ku karena kamu telah memberikan hadiah terindah dalam rumah tangga kita.
Dan tahajud cintaku tak akan pernah sia-sia... karena ketulusan yang ada membuat Tuhan merubah segalanya.
I Love You My Wife....
Your Husband***...
Setiap kata yang tertulis telah membuat Khadijah menggenang air mata yang siap untuk luruh. Tetapi ia tahan air mata itu saat Yulian mulai mendendangkan lagu romantis untuknya yang diiringi dengan gitar yang ikut dimainkan oleh Yulian sendiri.
***Andai kudapat memilih
Semua wanita yang hidup di dunia
Ku akan memilih
Dia
Tuhan Kau begitu baik
Menghadirkan Dia
Masuk ke dalam hidupku
Saat kumerasa tak sanggup
lagi mencinta
Jika masih bisa ku meminta
Izinkanku untuk menjaganya
Jadikan yang terakhir tuk temani diriku
Menua bersamanya Hu... Hu***
”Oh... begitu so sweet, Yulian.” Ungkap Arumi.
Memang penampilan Yulian yang begitu menghayati lagi itu membuat para wanita yang duduk di hadapannya meluruhkan hati dan terpukau akan penampilan yang belum tentu dapat dilakukan oleh Tristan dan Abdullah.
Hati Khadijah benar-benar meleleh, bahkan kagu itu membuat Khadijah menggenang kembali air mata yang sempat ia tepis kan. Dan kali ini air mata itu tidak bisa ditahan lagi, hingga akhirnya luruh dan membasahi cadar nya.
”Jagan menangis, surat dan penampilan itu aku persembahkan untukmu, Neng. Suka tidak?” tanya Yulian.
Yulian menghentikan penampilan dan berjalan pelan menuju di mana Khadijah tengah duduk menatapnya dengan penuh cinta. Dan tangan Yulian tergerak, ia mengusap lembut air mata Khadijah yang tersisa di ujung pelupuk matanya.
”Terimalah bunga ini, Neng. Anggap saja ini ketulusan yang tak akan pernah berakhir untukmu.”
Yulian kembali melakukan aksi romantisnya yang membuat Khadijah semakin merasa baper saja. Bukan hanya Khadijah, Arumi dan yang lainnya pun merasa ikut terhanyut dalam cinta Yulian.
”Jagan menangis, aku tidak suka jika wanita ku mengeluarkan air mata. Keluarkan air mata bahagia jika itu harus terpaksa dikeluarkan. Sini peluk, biar tidak sedih lagi.”
Pelukan pun dilayangkan kepada Khadijah, membuat para semua wanita merasa iri akan perlakuan romantis Yulian. Dan malam itu adalah malam terindah yang belum usai bagi Khadijah dan Yulian. Karena acara dilanjutkan dengan makan bersama.
__ADS_1
”Kita makan satu porsi berdua ya, Hubby. Mau, kan?”
Yulian mengangguk, lalu Khadijah menyuapi Yulian dari tangan manisnya. Begitu indah, begitu membuat semuanya merasa iri.