
Tes...
Tidak ada yang tidak merasakan perih saat orang yang mereka sayangi tengah mengalami cobaan yang membuatnya merasa diambang kematian. Namun, selagi kematian belum merenggut nyawa Khadijah, Yulian, Cahaya, Arjuna dan Hafizha tiada hentinya melangitkan doa kepada Allah SWT untuk segera menyembuhkan Khadijah dari setiap luka yang menghantam kepala Khadijah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ahtar melakukan diskusi dengan dokter ahli bedah saraf, karena kecelakaan itu membuat kepala Khadijah terbentur hebat. Sehingga banyak darah yang keluar dengan deras. Dan kini membuat Khadijah masih dalam pengawasan, bisa saja Khadijah harus menjalani operasi karena kepalanya yang mengalami benturan.
“Bagaimana, Dokter Jhonson? Apa keadaan Bunda saya... parah?” tanya Ahtar ragu.
“Dokter Ahtar... sepertinya Nyonya Khadijah mengalami cedera di bagian kepalanya, saya harus mengoperasi nya. Jika tidak maka akakamembahayan sistem kerja otak.” Papar dokter Jhonson kepada Ahtar.
“Maksud Dokter... Jhonson?”
“Operasi dilakukan sebagai pencegahan terjadinya infeksi otak, kecacatan saraf dan kelumpuhan.”
Deg...
Ahtar terdiam, kembali mengingat setiap kata demi kata yang dipaparkan oleh dokter Jhonson tentang kondisi Khadijah.
Ahtar tidak tahu bagaimana menyampaikan hal itu kepada keluarganya terutama abinya dan juga Hafizha. Karena Ahtar tahu betul bagaimana rasa cinta itu dibentuk dan diberikan setulus hati Yulian untuk Khadijah.
”Ya Allah, kuatkan hamba dalam menyampaikan berita ini kepada keluarga hamba. Semoga mereka pun juga lapang dada menerima musibah ini. Aamiin ya robbal alamin...”
Dengan mengucapkan basmalah Ahtar memberanikan diri untuk menemui Yulian, Arjuna, Cahaya dan Hafizha yang masih duduk di rumah tunggu menanti kabar tentang kondisi Khadijah.
“Bang Ahtar, bagaimana keadaan Bunda? Bunda pasti tidak mengalami kecelakaan yang parah, kan?” tanya Hafizha tiada henti.
Hening...
“Ahtar, katakan bagaimana kondisi Bunda mu kepada kita semua! Jika dibutuhkan perawatan secara khusus Abi akan melakukannya. Asalkan nyawa Bunda mu bisa selamat.” Yulian memegang lengan Ahtar, menatapnya dengan tatapan penuh harap.
Hati Yulian kembali merasa gelisah, risau tak menentu ketika Ahtar masih tidak angkat bicara sama sekali. Bahkan terlihat jelas bagaimana raut wajah Ahtar yang nampak sendu. Namun, Yulian hanya bisa pasrah saja kepada Allah SWT, karena hanya Allah lah yang selalu memberikan yang terbaik bagi hamba-Nya.
__ADS_1
“Maafkan Ahtar, Abi. Bunda... mengalami cedera dibagian kepala. Dan Bunda... harus menjalani operasi sekarang juga. Jika tidak segera dilakukan... Maka... Bisa saja sistem kerja otak Bunda akan bermasalah, mengalami kecacatan atau bahkan kelumpuhan.”
Hening...
Satu detik...
Dua detik...
Yulian masih berusaha mencerna apa yang dikatakan Ahtar, hingga beberapa detik kemudian Yulian mampu mencerna setiap pemaparan yang dikatakan Ahtar. Benar-benar membuat hati Yulian bergetar hebat, bagaikan petir telah menyambar nya seketika.
“Bang, apa... Bunda... bisa selamat jika dioperasi?” tanya Hafizha penuh kepiluan.
“Dek, bang Ahtar tahu adek mengkhawatirkan keadaanmu Bunda. Tapi adek juga tahu betul bagaimana cara Allah meminta setiap umat-Nya untuk menghadap kepada-Nya. Kematian itu pasti, tapi kita tidak tahu pasti kapan akan terjadi. Meskipun dokter berusaha mengerahkan seluruh tenaganya, jika Allah sudah memanggil nyawa Bunda... maka tetap saja kematian akan terjadi.”
“Tapi, Bang.. Izha tidak mau kehilangan Bunda. Izha sayang sama Bunda, meskipun terlihat jarang sekali Izha mendekat, mencurahkan segala rasa ataupun hal semacamnya yang tidak Izha lakukan bersama Bunda... tapi... Izha merasa begitu nyaman walaupun hanya menatapnya saja.” Hafizha mengungkapkan segala rasa yang tanpa disadari itulah sebuah ikatan antara ibu dan anak.
Ahtar merasa tidak sanggup melihat Hafizha menangis tiada hentinya, karena Ahtar yang sangat menyayangi Hafizha, Ahtar memberikan pelukan kepadanya dan berusaha menenangkan isak tangis dari Hafizha.
Ahtar mengangguk, menerima persetujuan dari Yulian. Setelah itu ia melerai pelukannya kepada Hafizha, dengan segera Ahtar meminta dokter ahli bedah saraf untuk mempersiapkan ruang operasi saat itu juga.
Setelah dirasa persiapan sudah siap, brankar yang dijadikan Khadijah untuk berbaring dengan tubuh yang tidak berdaya, Ahtar dan tim medis segera mendorongnya untuk. dipindahkan ke ruang operasi.
“Jika Anda tidak keberatan... ijinkanlah saya untuk membantu jalannya operasi, Dok.” Ahtar menawarkan diri untuk ikut terjun menyelamatkan Khadijah saat menjalani operasi.
“Apa Anda sanggup jika ikut masuk membantu operasi berjalan? Saya hanya takut jika Anda merasa tidak sanggup dan akan menghambat jalannya operasi saja.” Dokter Jhonson mengatakan hal itu dengan sangat tegas, karena keselamatan nyawa pasien lebih penting untuk saat itu.
“Maafkan saya, Dokter Ahtar. Tapi saya rasa... lebih baik Anda menunggu di luar ruangan saja. Percayakan lah kepada kami, jangan lupa bantu kami dengan doa sebanyak-banyaknya.”
Ahtar mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan dokter Jhonson yang memang seharusnya Ahtar berada di luar ruangan menanti dan berdoa untuk keselamatan Khadijah.
Ahtar keluar dari dalam ruang operasi dengan wajah sendu, murung dan juga menahan rasa pedih yang menyayat hatinya.
[“Ahtar, carilah Bunda Khadijah dan jodohkanlah Dia dengan Abi mu, Nak. Umi akan sangat bahagia jika itu bisa terjadi, Umi akan tetap terjaga dan melihat kebahagiaan itu dari atas sana.”]
__ADS_1
Pesan terakhir dari Aisyah kembali terngiang ditelinga Ahtar. Bayangan Aisyah yang sangat berharap jika Ahtar memenuhi keinginan terakhirnya itu membuat hati Ahtar terasa terhunus belati tajam, menusuk hingga ke dasar hati.
‘Umi, bagaimana jika... Bunda tidak selamat nanti? Apa Umi akan marah sama Ahtar yang tidak bisa menjaga Bunda?’
Ahtar mengungkapkan kesedihannya di dalam isak tangis yang ditahan secara terpaksa olehnya. Ahtar merasa jika sebagai anak lelaki ia harus kuat saat bahunya hampir merosot dan membutuhkan sandaran. Namun, kala itu hanya tembok lah yang dijadikan Ahtar sebagai tempat bersandar.
‘Abi tahu betul apa yang saat ini tengah kamu rasakan, Ahtar. Tapi yang namanya takdir kita tidak akan pernah tahu sedikitpun bagaimana jalan kita kedeoannya.' Yulian bermonolog dalam hati.
Yulian menatap Arjuna, Cahaya, Ahtar dan Hafizha secara bergantian. Hatinya nelangsa melihat putra putri dan menantunya merasakan hal yang membuat mereka bersedih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lampu operasi sudah dinyalakan dengan sangat terang setelah semua tim medis sudah siap. Dengan keahlian dokter Jhonson semua tim medis melakukan operasinya dengan sangat menajamkan setiap mata mereka agar tidak ada kesalahan yang akan menghambat jalannya operasi.
“Pisau bedah.”
“Pinset...”
Satu persatu dan tahap demi tahap sudah dilakukan oleh dokter Jhonson dan juga kekompakan dari tim medis, sehingga operasi bisa dijalankan dengan lancar, di mana hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Dan saat berjalannya oprasi, Yulian dan anak-anak nya tidak berhenti merendah kepada Allah dan memohon kepada-Nya agar dipermudah segala urusan Khadijah di dalam ruangan yang amat mencekam.
“Dokter, bagaimana dengan operasinya?” tanya Ahtar dengan segera setelah dokter Jhonson baru keluar dari ruang operasi.
“Iya, bagaiamana dengan operasi dan kondisi istri saya saat ini, Dok?” imbuh Yulian yang ikut penasaran.
“Nyonya Khadijah...”
Bersambung...
Mohon maaf pembaca setia hanya sekedar ingin menginformasikan saja jika saat Ahtar sedang berbincang dengan dokter Jhosnson tolong anggap saja mereka menggunakan bahasa Inggris.
“
__ADS_1