
Mobil jenazah telah melaju dengan kecepatan tinggi, malam yang sepi membuat mobil itupun leluasa berada di jalanan hingga akhirnya mobil jenazah itu memasuki pelataran rumah Yulian yang luas.
Tangis pun kembali pecah saat tubuh Yulian telah diangkat dari atas brankar yang berada di dalam mobil jenazah tersebut. Khadijah yang setia menemani jenazah Yulian, kini kembali ikut menangis. Tetangga yang sudah berdatangan ke rumah Yulian merasa terharu dengan pemandangan yang berada di hadapan mereka saat ini.
“Kasihan ya bu Khadijah, masih muda begitu harus menerima cobaan seberat ini.”
Para ibu-ibu yang ada di sana telah membicarakan nasib Khadijah yang harus menerima cobaan dari Tuhan, karena setelah itu Khadijah akan menjanda.
Selang beberapa menit kemudian mobil Ahtar dan Arjuna memasuki pelataran rumah mereka. Setelah itu mereka selaku putra dari Yulian segera turun lalu menyiapkan apa yang harus ada untuk memandikan jenazah Yulian sebelum dibalut dengan kain putih _kain kafan.
“Bunda harus kuat! Jangan seperti ini terus, kita harus ikhlas kan Abi untuk pergi.” Hafizha berusaha memebeikan kekuatan kepada Khadijah yang masih menangis dengan bahunyanyang bergetar hebat.
“Bunda masih tidak mempercayai ini semua, Nak. Baru saja tadi Abi bicara sama kita, bersama sama kita dan baru juga tadi Abi berpamitan hanya ke kantor sebentar, tapi kenyataannya apa? Hiks... hiks.. hiks... ”
“Iya, Hafizha sendiri dan semuanya juga tidak mempercayai akan hal ini, Bun. Tapi mau bagaimana lagi, takdir telah menghentikan Abi untuk terus bersama kita. Doa kan Abi agar tenang di sana,” ucap Hafizha lagi.
Yulian, kini tubuhnya benar-benar terbujur kaku dan terasa dingin. Kisah dalam perjuangannya menitih karir dan bersama keluarga telah usai. Kini, saatnya ia harus memenuhi panggilan Sang Kuasa. Cinta yang bersemayam dalam hatinya untuk Khadijah telah ikut terkubur.
Arjuna dan Ahtar masih sibuk untuk mempersiapkan beberapa hal, setelah usai jenazah Yulian kali diangkat untuk dimandikan di halaman depan.
“Dek, kita harus kuat. Kita harus bisa saling menguatkan satu sama lain, terutama menguatkan Bunda,” ucap Arjuna.
“Iya, Bang. Kita sebagai anak laki-laki dari Abi, kita harus bisa menjaga wanita yang harus kita jaga itu. Ada Bunda, kak Cahaya dan Hafizha.”
Kedua lelaki itu tak hentinya menatap ke arah ketiga perempuan yang sedang duduk bersimouh di ruang tamu. Jelas terlihat tatapan ketuganya kosong, masih tidak mempercayai kenyataan yang menerpa. Semesta kembali merenggut kebahagiaan yang pernah ada.
Arjuna dan Ahtar mempersingakt waktu agar jenazah Yulian segera diurus. Setelah semua siap jenazah Yulian segera dimandikan. Arjuna memangku bagian kepala Yulian, Ahtar memangku bagian badan Yulian dan papa Adhi bagian kaki Yulian.
‘Tak pernah Papa sangka, jika kamu akan pergi secepat ini, Nak. Papa akan doa kan kamu agar tenang di surga.’ Di dalam hati, papa Adhi terus mendo'akan kepergian Yulian.
Setelah acara pandian jenazah Yulian twlah usai, jenazah itupun dibawa masuk dan akan dibalut dengan kain kafan yang panjang dan berwarna putih itu.
Khadijah sejenak menghampiri tubuh yang sudah terbujur kaku itu. Khadijah kembali memeluk, mencium dan membelai rambut serta pipi Yulian yang kebetulan belum dibalut kain kafan. Derai tangis kembali membasahi cadar Khadijah, hingga suara Khadijah pun terdengar parau. Mata yang teduh kini terlihat dengan tatapan yang benar-benar kosong, mata yang begitu sembab.
__ADS_1
Saat mereka hendak membalut tubuh Yulian, tiba-tiba seorang tengah berteriak.
“Tunggu!”
Seketika semua mata tertuju pada sumber suara. yang berada di ambang pintu. Dan orang itu tak lain adalah Alex. Papa Adhi sengaja mengubungi nomor Alex dan menceritakan semua apa yang terjadi.
Melihat kehadiran Alex, Khadijah berlari dan seketika menghamburkan dirinya dalam tubuh gempal Alex. Dan dalam pelukan Alex, Khadijah justru semakin menangis pilu. Membuat hati Alex merasa tertusuk, dada yang tercabik dan merasaka sesak begitu saja.
“Sabar, Nak! Sebagai seorang istri yang baik kamu hanya bisa mendoakan suamimu di saat semesta telah memintanya kembali.” Alex mengusap punggung Khadijah.
Alex telah mendapatkan kabar tersebut melalui papa Adhi, dan seketika itu Alex mengambil tiket pesawat dengan penerbangan ke Bandara Kualanamu. Tanpa kendala apapun di sana, sehingga Alex bisa segera sampai di kot Medan lagi.
“Tidak, Pa. Seharusnya suami Khadijah tidak meninggalkan Khadijah secepat ini. Kenapa Tuhan kita jahat sama Khadijah, Pa? Hiks... Hiks.. Hiks...”
“Khadijah, kamu tidak boleh mengatakan hal ini. Allah lebih sayang Yulian, dan sudah saatnya Yulian memenuhi panggilan Allah SWT. Dan kita sebagai keluarga Yulian, tugas kita mendoakannya.”
“Ingat lah satu hal Khadijah. Lihat dan tataplah mereka.”
Alex melerai pelukan putrinya itu. Lalu, Alex menghadapkan Khadijah ke arah lima anak Yulian yang ditinggalkan. Dan Alex juga meminta Khadijah untuk menatap mereka semua.
Ya, seketika itu juga memori kebersamaan Khadijah malam itu bersama Yulian kembali memutar. Dan itu adalah kalimat yang terakhir kali Yulian katakan. Malam yang indah _yang ditaburi dengan kemerlip cahaya bintang tekah menjadi saksi perbincangan keduanya.
“Neng, kalau seandainya Hubby telah tiada lebih dulu. Tolong! Jaga anak-anak kita tanpa meninggalkannya. Sayangi mereka seperti Neng menyayangiku dan cintai mereka seperti Neng mencintaiku.”
“Hust. Hubby bicara apa sih, tidak ada yang akan saling meninggalkan satu sama lain. Meskipun kita tahu kematian memang akan datang kapan saja. Tapi, Neng selalu berdoa supaya kita bisa selalu bersama sampai menua.”
“Aamiin. Semoga.”
Percakapan singkat itu kembali memutar dalam ingatan Khadijah. Dan Khadijah berpikir jika malam itu adalah suatu pertanda jika Yulian memang akan pergi meninggalkannya. Namun, sesekali Khadijah menepis rasa takut dan khawatir dengan ucapannya Yulian. Akan tetapi, takdir telah hadir membawa duka dalam keluarga mereka. Harapan dalam angan mereka pun telah lenyap seketika, dan mereka harus membangun kembali harapan selanjutnya tanpa Yulian masuk di dalamnya.
Jenazah Yulian akan dikebumikan esok pagi, sembari menunggu kedatangan Tristan, Arumi dan Humaira malam itu digelar pengajian. Membaca surat yasin dan beberapa surat lainnya.
‘Aku janji, aku akan menjaga mereka... anak-anak kita. Dan aku janji sama kamu, Hubby. Aku akan menyayangi dan mencintai mereka seperti aku menyayangi dan mencintaimu.’
__ADS_1
Khadijah mencoba untuk menerima cobaan itu. Dan ia harus kuat untuk anak-anak nya, terutama untuk Abizzar yang masih kecil.
“Arjuna_Ahtar, Bunda bisa minta tolong sama kalian?” tanya Khadijah dengan suara yang terdengar parau.
“Boleh Bun, minta tolong apa?”
“Tolong, kabari Zuena tentang hal ini. Bagaimana pun juga... Dia perlu tahu. Karena, Abi mu sudah menganggapnya sebagai anaknya sendiri.”
“Tapi Bun,” serkah Ahtar.
Arjuna menepuk pelan bahu Ahtar, lalu ia pun berkata, “Lakukan saja! Jangan buat sedih, siapa tahu dengan kehadiran Zuena Bunda bisa sedikit lega.”
Ahtar tidak bisa mengelak lagi. Dan ia hanya bisa pasrah dengan apa yang diminta oleh Khadijah. Ahtar pun beranjak dari sisi jenazah Yulian, lalu ia menepi di tempat yang cukup sepi. Setelah itu Ahtar merogoh sakunya dan mengambil benda pipih yang ada di dalamnya.
“Haruskah aku menghubunginya? Tidak, tapi... huft.” Ahtar mendesah, terasa berat saja baginya untuk menghubungi Zuena.
Dan... tidak ada pilihan lain lagi.
“Halo. Assalamu'alaikum, Zuena.”
“Iya, halo, Dokter Ahtar. Ada apa Dokter Ahtar menghubungi saya?”
“Saya ... cuma mau memberitahukan kamu kalau... Abi sudah tidak ada. Abi... meninggal.” Ahtar tidak mempungkiri jika dirinya juga memang tengah membutuhkan sandaran di saat seperti ini. Tapi... Ahtar jiga masih waras, ia harus bisa menjaga marwahnya.
Hening...
Dari seberang sana Zuena terdiam, membuat Ahtar juga terdiam. Tidak ada pembicaraan lagi di antara keduanya. Dan sesaat kemudian...
‘Kenapa Dia tidak merespon? Apa Dia sudah tidak peduli lagi dengan ini semua?’ batin Ahtar.
“Aku turut berduka cita atas meninggalnya Abi. Sekarang... aku sudah ada di sini.”
Deg
__ADS_1
Bersambung