
Dengan keberaniannya Yulian mengusap puncak kepala Khadijah yang masih terbalut dengan jilbab panjangnya. Lalu, Yulian membenarkan posisi tidur Khadijah dengan benar dan nyaman. Agar Khadijah semakin terlelap dalam tidurnya. Namun, apa yang dilakukan Yulian telah membuat Khadijah seketika mengerjapkan matanya. Dan mata Khadijah menggeliat kesana kemari, karena kesadarannya belum kembali seutuhnya.
”E ... maaf, aku hanya ingin membenarkan posisi tidurmu saja, tidak bermaksud yang lain.” Khadijah membulatkan matanya dengan sempurna.
Setelah menyadari kehadiran Yulian dalam kamar itu seketika Khadijah terbangun, lalu duduk di muka kasur. Dan itu membuat Yulian merasa tak enak hati sudah mengganggu Khadijah dalam. tidurnya.
”Maaf, saya ketiduran. Kamu ... perlu apa?” tanya Khadijah dengan malu-malu, karena ia menundukkan pandangannya.
”Aku tidak membutuhkan apapun. Hanya saja, aku ingin membenarkan posisi tidurmu. Tapi ... karena aku kamu jadi terganggu. Aku minta maaf!”
Hanya anggukan pelan yang dilakukan Khadijah untuk mengiyakan permintaan maaf Yulian. Dan tepat malam itu sudah pukul dua belas malam, sehingga keheningan telah tercipta dan menemani mereka. Namun, disela keheningan itu Yulian tetap melakukan sholat sunah di sepertiga malam. Baginya hal itu wajib, meskipun dianjurkan sunah dalam agama Islam.
”Emm ... mumpung kamu sudah bangun, maukah kamu melakukan sholat tahajud bersama-sama?”
”Ah iya, boleh. Tapi ... aku mau ganti baju dulu, boleh?” tanya Khadijah yang tidak mengurangi sopan dan santunnya.
”Silahkan! Baju mu sudah aku siapkan di almari, kamu ambil saja sesukamu.” Khadijah mengiyakannya, lalu bergerak menuju almari untuk mengambil baju.
__ADS_1
Beberapa baju gamis sudah berjejer di dalam sana, bahkan Khadijah menemukan baju yang baginya itu terlihat aneh, sangat aneh. Karena ia pun tidak pernah memakai sebelumnya, melihatnya saja ia merasa malu apalagi diminta untuk memakainya.
’Kenapa ada banyak baju gamis dan juga baju ... kurang bahan seperti ini? Apa iya aku harus memakainya malam ini juga? Dan apa ini ... kejutan yang dikatakan olehnya?’ Khadijah bertanya-tanya dalam hatinya.
Sejenak Khadijah mengarahkan pandangannya kepada Yulian yang tengah duduk di bibir kasur dengan pakaian koko dan sarung yang menempel di tubuhnya. Setelah itu, Khadijah kembali menatap baju yang menggantung di almari dengan rapi, salah satu baju pun ia ambil untuk berganti.
’Aku akan menunggu jika waktunya sudah tepat. Dan kubiarkan waktu terus berjalan hingga kutemukan cinta dalam hubungan ini.’ Batin Yulian saat melihat Khadijah pergi ke kamar mandi dengan membawa gamis bermotif bunga-bunga dengan warna yang kalem.
Setelah berganti pakaian Khadijah telah bersiap untuk menjadi seorang makmum dalam menunaikan ibadah di sepertiga malam. Sajadah panjang pun telah dibentangkan oleh Yulian dan Khadijah. Dengan khusu' Yulian membaca takbir untuk memulai sholat tahajud dengan penuh cinta. Cinta terhadap sang pencipta alam semesta, Allah SWT.
’Ya Allah ... Ya Tuhanku, jika Khadijah memang takdirku ... biarkanlah hamba membahagiankannya dalam balutan cinta kasih yang tulus dari dalam hati hamba. Dekatkan kami dalam setiap hubungan yang mendapatkan pahala dari-Mu. Aamiin ya robbal alamin.’ Yulian melanjutkan do'a di sepertiga malamnya.
Di bawah langit yang sama dan di bawah atap yang sama, dua insan telah melangitkan do'a yang sama kepada sang Pencipta. Dan setelah usai menunaikan sholat tahajud bersama, Yulian membalikkan tubuhnya lalu menyodorkan tangannya kepada Khadijah. Begitu halnya dengan Khadijah, ia menyambut tangan Yulian lalu mencium punggung tangannya. Setelah itu, Yulian memberikan kewajibannya sebagai seorang suami, mencium kening Khadijah dengan tulus.
”Masih terlalu malam untuk membuka mata. Lebih baik sekarang ... kamu lanjutkan tidurmu. Tenang saja, aku akan tidur di sofa jika kamu belum mengijinkan aku untuk tidur bersamamu dalam satu ranjang.” Seketika Khadijah menatap Yulian yang berdiri di depannya.
Saat Khadijah mengarahkan pandangannya ke wajah Yulian, justru Yulian menundukkan pandangannya. Sehingga dua hidung yang tercipta mancung telah bersentuhan. Dan tatapan di antara keduanya telah mengunci satu sama lain. Suasana sejenak berubah menjadi sunyi, tak ada suara lain yang mampu terdengar.
__ADS_1
’Kenapa seperti ini rasanya?’ batin Khadijah.
’Ada apa dengan jantungku?’ batin Yulian.
’Apa ini ... cinta?’ batin keduanya.
Tanpa disadari keduanya merasakan hal yang sama, degup jantung yang berdetak lebih kencang dan tidak seperti biasanya. Ada rasa yang berdesir hebat menelusuri tubuh keduanya, dan hal itulah yang sering dirasakan dua insan yang saling jatuh cinta. Akan tetapi, tak ada yang mau mengakui akan adanya cinta dalam hati mereka dengan secepat itu. Karena mereka membutuhkan waktu, setelah proses yang panjang untuk menyatukan hubungan dalam pernikahan yang sakral.
"Tidak. Kamu ... boleh tidur di atas ranjang.” Khadijah memalingkan pandangannya.
”Baiklah. Terima kasih, kalau begitu ... segera tidurlah!”
Keduanya merebahkan tubuh di atas ranjang yang sama dan di bawah satu selimut yang sama. Namun, kedua pasangan pengantin baru itu tidak melakukan layaknya seorang pengantin, melainkan mereka seperti anak remaja saja. Malu dan ragu masih memenuhi ego mereka. Bahkan mereka saling memunggungi satu sama lain saat mencari posisi ternyaman untuk melanjutkan tidur dan menuju ke alam mimpi bersama.
'Maafkan aku, Yulian. Aku tidak bermaksud untuk tidak memenuhi kewajibanku di malam pertama kita. Tapi ... aku membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.’ Terbesit masa lalu yang kelam dalam pikiran Khadijah saat ia melakukan hal yang tidak seharusnya karena paksaan Alex.
’Aisyah, aku mohon bersabarlah. Maafkan aku, jika aku belum bisa memenuhi kewajiban suami untuk Khadijah malam ini. Aku hanya butuh waktu untuk membiasakan diri bahwa Dia bukanlah kamu. Do'a kan saja Aisyah, cinta tumbuh dalam hatiku untuk Khadijah.’ batin Yulian saat mengingat Aisyah.
__ADS_1
Setelah keduanya berangan sejenak, rasa kantuk telah mendera dan membuat mereka tidak mampu menahannya lagi. Entah di jam berapa mereka pun terlelap dalam tidur yang nyaman bagi mereka sehingga membawa mereka ke alam mimpi. Bahkan mereka tidak mengingat akan pembatas dalam tidur mereka yaitu, dua guling yang sudah tersedia di hotel itu. Entah kemana perginya dua guling itu terbang. Sehingga membuat Yulian dan Khadijah menyatu untuk saling menghangatkan dingin yang menerpa. Karena malam itu hujan telah kembali mengguyur kota Edinburgh. Sungguh momen yang pas buat pengantin baru seperti mereka.
Tangan Yulian semakin erat merengkuh pinggang Khadijah dan membuat Khadijah masuk ke dalam dekapan Yulian. Rasa nyaman pun telah dirasakan keduanya dalam kehangatan.