Tahajud Cinta

Tahajud Cinta
Chapter 95 “Tahajud Cinta”


__ADS_3

Maria yang tidak sengaja lewat depan pintu ruangan Ahtar seketika menghentikan langkahnya dan mendengarkan sejenak lantunan ayat yang dibaca Ahtar. Namun Maria segera enyah dari sana, karena Ahtar sudah mulai memegang gagang pintu dan siap untuk membuka pintu itu.


“E... Faruq, itu buat Nyonya Khadijah ya?” tanya Ahtar memastikan.


“Iya, Dok. Kenapa memangnya, Dok?”


“Tidak apa-apa. Biarkan saja saya yang mengantarnya ke ruangan Nyonya Khadijah.”


“Baik, Dok. Silahkan!”


Faruq yang sudah tahu jika Khadijah adalah Bunda Ahtar, ia pun memberikan semangkuk nasi yang halus dengan beberapa sayur dan lauknya. Jam makan siang membuat para pegawai rumah sakit bagian dapur untuk mengantarkan makanan ke semua pasien.


Deg...


“Aku seperti pernah melihat orang itu...?”


Ahtar membalikkan tubuhnya untuk memastikan orang yang baru saja melintas di hadapannya bukanlah Alex. Lelaki bule yang berbadan tinggi, memakai baju serba hitam dengan topo hitam pula.


”Kenapa Dia habis dari arah sana? Jangan-jangan Dia habis menemui Bunda.” Ahtar membelalakkan kedua matanya, rasa khawatir secara tiba-tiba singgah dalam dirinya.


Ahtar separuh berlari saat menuju ke ruanga Khadijah dan memastikan jika Khadijah maupun Hafizha tidak terjadi sesuatu. Dan setiba di sana nafas Ahtar pun terangah-rengah untung saja kuah yang ada di atas nampan tidak tumpah.


Saat berdiri di depan pintu Ahtar mendengar canda tawa Khadijah dengan Hafizha, itu membuat Ahtar sedikit bernafas lega. Karena lelaki bule yang memiliki ciri-ciri hampir sama dengan Alex dapat dipastikan tidak masuk ke dalam ruangan Khadijah dan membuat onar.


“Assalamu'alaikum, Bun... Zha.” Ahtar membuka pintu.


“Wa'alaikumsalam,” jawab Khadijah dan Hafzha secara bersamaan.


“Sudah waktunya makan siang, Bunda harus makan dulu dan setelah itu Bunda harus minum obat.” Ahtar meletakkan nampan yang di bawanya di atas nakas.


“Biar Izha saja Bang yang nyuapin Bunda. Bang Ahtar istirahat saja,” pinta Hafizha.


Ahtar mengiyakan keinginan Hafizha, karena menurut Ahtar dengan cara seperti itulah Hafizha akan semakin dekat dengan Khadijah. Dan itu juga kesempatan bagus untuk Ahtar bisa menghubungi Arjuna untuk menanyakan apa yang dilihatnya tadi.


Rasa bahagia benar-benar membuncah dada Kahdijah, ia mampu merasakan kasih sayang seorang anak terhadap ibunya. Hafizha memiliki sifat baik dan sikapnya pun begitu lembut, seperti Aisyah saja.


‘Biarpun kamu tidak menuruni sifat dan sikap Bunda, tapi Bunda bahagia karena kamu menuruni sifat Aisyah. Dan Aisyah juga pantas mendapatkan hal itu, Dia... wanita yang sangat baik.’ Khadijah bermonolog dalam hati.


Khadijah menikmati setiap kasih sayang yang diberikan Hafizha, dan baru kali pertama Khadijah merasa sedekat itu dengan Hafizha.


‘Mengapa rasanya berbeda? Aku seperti merasakan kasih seorang ibu ... kandung.’ batin Hafizha.


“Alhamdulillah sudah habis. Sekarang Bunda harus minum obatnya dulu.” Hafizha memberikan beberapa butir obat dan segelas air kepada Khadijah.


“Kamu tidak makan siang, Nak?”


“Sebentar lagi Bun, bang Ahtar pasti membawakan pesanan Izha. Kan, bang Ahtar sayang Izha.” Hafizha tersenyum.


“Tring... Tring...”


Ponsel Hafizha berdering, terlihat Yulian hendak melakukan sambungan telepon video dengan Hafizha. Dan Hafizha segera menerima panggilan itu.

__ADS_1


“Halo, assalamu'alaikum Abi...”


“Wa'alaikumsalam. Mana Bunda, Hafizha?”


“Ini Bunda.” Hafizha mengarahkan kameranya ke arah depan, sehingga wajah Khadijah pun tersorot.


“Assalamu'alaikum, Hubby.” Khadijah mengembangkan senyum dibalik cadarnya.


Yulian merasa tenang melihat Khadijah dan Hafizha baik-baik saja di saat jarak telah memisahkan mereka. Setidaknya Yukin tidak memiliki rasa was-was dan pikiran negatif tentang Alex yang mengincar keberadaan keluarganya. Namun Yulian salah besar dan ia kalah cepat.


Tidak lama kemudian pintu telah dibuka secara kasar. Masuklah seorang lelaki bule yang berbadan tinggi tegap dengan memakai pakaian serba hitam. Karena merasa terkejut Hafizha seketika itu pula menyorot wajah lelaki itu dengan amat jelas, sehingga Yulian tahu siapa yang datang ke sana.


Sontak Khadijah dibuat terkejut mendapati keberadaan Alex yang sudah berada di depan kedua matanya. Ingin rasanya Khadijah berteriak meminta tolong, tetapi rasanya mulutnya begitu sulit untuk terbuka.


‘Bagaimana ini, kenapa bisa Alex masuk ke sini? Di mana kamu Ahtar, Arjuna...’ pekik Khadijah dengan rasa khawatirnya.


“Siapa Anda? Apa tujuan Anda masuk ke ruangan ini? Dan saya juga tidak mengenal Anda?” tanya Hafizha dengan polosnya.


“Bola mata yang bulat, sama seperti kamu Khadijah. Dan kamu... tidak perlu takut dengan saya, Khadijah.” Alex melangkah dan semakin mendekat saja.


Jantung Khadijah berdebar sangat kencang, rasa takut benar-benar menyelimuti dirinya. Dan dari jarak yang tidak dekat Yulian juga merasakan hal yang sama. Dengan segera Yulian meminta Ahtar dan Arjuna untuk segera masuk ke ruangan Khadijah, sedangkan Yulian sendiri ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi.


“Jangan dekati Bunda saya! Jika saja Anda melukai Bunda Khadijah maka... saya tidak akan membiarkan itu terjadi.” Hafizha dengan lantang mengudatakan suaranya.


Alex pun membalikkan tubuhnya, menatap Hafizha dengan tajam. Namun hal itu tidak membuat Hafizha sama sekali merasa takut. Justru Hafizha menatap balik Alex dengan tatapan tajam.


Khadijah yang melihat bagaimana cara Alex menatap Hafizha, ia seketika merasa takut dan khawatir. Namun ia tahu saat ini tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya duduk saja di atas brankar.


“Tidak, Bunda. Izha akan tetap di sini menjaga Bunda.” Hafizha mengangguk secara pelan untuk meyakinkan Khadijah.


Alex masih menatap tajam Hafizha dan Kahdijah secara bergantian. Rasa amarah yang memuncak masih membuat Alex memiliki dendam terhadap Khadijah, Aisyah dan Yulian.


Khadijah menitihkan air mata karena itu yang bisa dilakukannya saat ini. Dan di saat rasa takut benar-benar menyelimuti dirinya saat itulah Ahtar masuk dengan pakaian dokternya.


“Oh, ada yang berkunjung ternyata. Maaf... Anda siapa? Apa Anda keluarga Nyonya Khadijah?” tanya Ahtar sesopan mungkin.


Ahtar mencoba bersikap biasa saja agar tidak membuat Alex curiga jika dirinya tak lain adalah putra Yulian. Karena jika Alex tahu maka dendam itu akan membuat keluarga Yulian habis di tangan Alex.


Alex mengepalkan tangannya dengan sangat erat, dan hari itu Alex telah menyatakan hal yang membuat Hafizha merasa bingung. Karena Alex mengaku sebagai...


”Saya Alex, kakek sekaligus ayah dari Hafizha.” Alex menatap tajam Ahtar dan mengembangkan senyum smirk.


Hal yang tidak pernah Khadijah dan Ahtar duga. Rahasia yang selama ini dikunci dengan amat rapat kini akan terbongkar dari bibir Alex. Dan hal itu membuat Ahtar hilang kesabaran.


“Hal bodoh apa yang Anda katakan, Pak? Ayah Hafizha itu adalah Yulian Atmajaya dan kakeknya itu adalah Adhi Atmajaya.”


“Tidak sepantasnya Anda mengatakan hal seperti itu, karena rumah sakit memiliki datanya. Pasti Bapak asal bicara, kan? Begini saja, sebaiknya Bapak ke lobi dan cari tahu data keluarga Anda di sana.” Ahtar menarik lengan Alex dengan amat keras.


Hafizha hanya diam tanpa sepatah kata pun. Ia masih tercengang, otaknya berputar memikirkan apa yang dikatakan Alex baru saja. Namun, Hafizha segera menepis hal itu, baginya ucapan Alex hanya angin lewat yang kian akan berlalu, karena Hafizha masih merasa yakin jika Yulian adalah Abinya, Aisyah adalah Umi yah sudah melahirkannya.


”Bunda tidak apa-apa, kan?”

__ADS_1


Khadijah menggeleng, ia takut jika Hafizha akan merubah sikapnya jika tahu bahwa Khadijah lah ibu kandung Hafizha.


“Bunda jangan takut, pasti orang tadi salah ruangan. Biarkan bang Ahtar yang mengatasinya.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ahtar menarik Alex sampai di luar ruangan, Arjuna yang baru saja tiba ikut nimbrung di sana.


“Dokter Ahtar, ada apa ini?” tanya Arjuna yang seakan tidak mengenali Ahtar.


Acting yang cukup keren ya Arjuna dan Ahtar.


“Begini Dokter Arjuna, Bapak ini tiba-tiba masuk ke ruangan Nyonya Khadijah dan mengaku jika Beliau adalah ayah sekaligus kakek dari putri Tuan Yulian. Bukankah itu aneh?”


Arjuna manggut-manggut, membenarkan ucapan Ahtar. Dan Arjuna menatap ke arah Alex, dapat dipastikan jika Alex akan mengenalinya dengan ingatan yang cukup jelas. Karena kala itu jauh sebelum Alex dimasukkan ke dalam jeruji besi Arjuna sempat ikut dalam persidangan terakhir.


“Anda bukannya orang itu? Ternyata Anda sudah bebas sekarang, tapi saya patut mencurigai Anda. Lebih baik Anda sekarang pergi jika tidak, maka saya akan menyeret Anda ke kantor polisi lagi atas tuduhan pencemaran nama baik. Bahkan bisa jadi saya akan mengatakan kepada polisi jika Anda hampir membunuh Nyonya Khadijah.” Arjuna memberikan ancaman kepada Alex yang membuat Alex akhirnya pergi.


Setelah Alex sudah tidak terlihat lagi dalam pandangan Arjuna dan Ahtar, akhirnya mereka mampu bernafas lega. Dan mereka merutuki kebodohan yang sudah mereka lakukan telah meninggalkan Khadijah dan Hafizha sendiri di dalam ruangan itu.


Arjuna dan Ahtra masuk ke dalam ruangan Khadijah dan memastikan jika Khadijah maupun Hafizha baik-baik saja.


“Bunda... Hafizha, kalian tidak apa-apa, kan?” tanya Arjuna.


“Tenang saja, bang Juna tidak perlu khawatir. Kami baik-baik saja kok.”


“Alhamdulillah, syukurlah kalian tidak apa-apa.”


Arjuna dan Ahtar memutuskan untuk menghabiskan waktu sore mereka di dalam ruangan itu dan menemani Khadijah serta Hafizha di sana. Secara kebetulan juga Arjuna dan Ahtar sudah tidak ada lagi pasien yang akan konsultasi tentang kandungan ataupun tentang jantung yang mengalami masalah.


Canda dan tawa menemani mereka, membuat Hafizha dan Khadijah lupa akan kejadian tadi siang yang hampir saja membuat jantung Khadijah mencolos.


“Assalamu'alaikum,” ucap salam Yulian setiba di sana.


“Wa'alaikumsalam.” Khadijah, Arjuna, Ahtar dan Hafizha menjawab secara bersamaan.


Arjuna, Ahtar dan Hafizha segera menyalami Yulian yang baru saja tiba. Dan Yulian bersikap sewajarnya saja, menutupi rasa khawatir yang sejenak singgah dalam dirinya. Setelah melihat binar tawa dari Khadijah dan ketiga anaknya membuat Yulian merasa lega. Dan mulai detik itu Yulian kembali memikirkan cara memperketat keamanan dan menangkap Alex yang sudah berkeliaran mendekati keluarganya.


“Neng tidak apa-apa, kan?” tanya Yulian melalui pesan.


Yulian tidak mungkin menanyakan hal itu di depan Hafizha, akan menimbulkan kecurigaan saja nanti. Dan satu cara yang bisa dilakukan yaitu mengirim pesan kepada Khadijah. Bahkan jarak yang begitu dekat Yulian dan Khadijah saling bertukar pesan.


[Jangan khawatir, Hubby akan selalu melindungi Neng dan keluarga kita. Hubby tidak akan membiarkan Alex datang untuk melukai kita semua.] Yulian meyakinkan Khadijah melalui pesan singkat yang dikirimnya


[Baik, Hubby. Neng juga percaya akan hal itu, semoga Allah SWT melindungi kita semua dari mata bahaya.] Khadijah pun membalas pesan Yulian.


Ahtar yang sedari tadi mengobrol bersama Arjuna, Hafizha dan kedua orang tuanya dengan tawa renyah yang menemani mereka semua, kini namanya harus di panggil oleh suster Almira karena ada pasien yang hendak melakukan konsultasi dengannya.


“Siapa pasiennya, Sus? Apa datanya sudah ada sebelumnya?”


“Pasiennya... Maria, Dok.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2