
Setelah mengantar Humaira ke tempat tinggal Dania kini Yulian bergerak menuju kembali ke rumah sakit, karena ia ingin meluruskan masalah Ahtar yang sudah menyebut nama Zuena sebagai alasan yang sungguh membuat Yulian tak masuk di akal.
Cukup memakan waktu kurang lebih dua puluh menit Yulian sampai di rumah sakit, dengan separuh berlari Yulian menuju ke ruangan Ahtar. Namun sesampai di sana ruangan itu sudah kosong.
”Kenapa sudah kosong? Kemana Ahtar dan Hafizha?” tanya Yupian dalam hati.
Yulian bergerak cepat, karena ia tidak mau terlalu banyak makan waktu untuk menyelesaikan masalah yang semakin rumit dihadapi Ahtar, putranya.
“Disini juga terlihat sepi. Apa mereka berdua... pulang?”
Segera Yulian merogoh pinselnya yang berada di dalam saku celana, lalu menekan tombol dan menelepon Arjuna untuk memastikan keberadaan Ahtar dan Hafizha.
“Assalamu'alaikum, Abi.”
“Waalaikumsalam, Juna. Juna, Abi mau bertanya sama kamu, tapi jangan sampai ini di dengar oleh Bundamu.”
Dari seberang Arjuna merasa penasaran dengan pertanyaan yang hendak dajukan oleh Yulian.
“Ahtar dan Hafizha apa pulang ke rumah?” tanya Yulian to the point.
“Sepertinya iya, Abi. Mobil yang dikendarai om Abdullah baru saja masuk ke dalam garasi.” Arjuna melihat dari ruang depan mobil yang biasa dipakai Abdulkah masuk ke dalam garasi.
Yulian mengusap wajahnya gusar, dengan segera ia pun melakukan mobilnya dengan kecepatan sedang, meskipun dalam keadaan sepanik apapun atau bahkan dalam keadaan terburu-buru Yulian tetap saja harus menjaga keamanan di jalan raya.
Sore itu itu untung saja tidak ada ka cetak laku lintas yang bisa saja membuat Yulian terjebak macet. Sehingga tepat pukul 16.21 sore Yulian sampai di rumah.
Khadijah yang berada di ruang tengah telah mendengar suara deru mobil milik Yulian dan seketika itu pula ia mendorong kursi rodanya hendak membukakan pintu untuk menyambut kedatangan Yulian.
“Assalamu'alaikum, Neng.” Yulian mencoba mengulas senyum setelah melihat Khadijah membukakan pintu untuknya.
“Walaikumsalam, Hubby.” Khadijah meraih tangan Yulian dan menyalaminya.
“Hubby, sebenarnya ada apa? Kenapa Ahtar bisa pulang sore ini? Sedangkan yang Neng tahu tadi pagi baru sadar, terus Dia... kenapa hanya diam saja sesampai di rumah?” cecar Khadijah dengan pertanyaan yang bertubi-tubi.
“Ceritanya panjang, Neng.” Yupian mendesah pelan.
“Hubby yang sabar, ya! Neng yakin, Hubby pasti bisa membantu Ahtar menyelesaikan masalah itu dan jika pun terasa berat... Ada Allah SWT yang akan membantu kita.” Khadijah mengangguk, meyakinkan Yulian.
Yulian pun manggut-manggut, karena sudah sore Yulian memutuskan untuk mandi terlebih dahulu dan menyegarkan tubuhnya yang sudah lengket karena keringat yang mengucur di punggungnya.
__ADS_1
Di bawah kucuran air shower Yulian membasahi seluruh tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dan setiap air yang menetes telah memberikan kesegaran yang luar biasa, pikirannya yang tadi merasa penat sejenak kepenatan itu luntur bersama air yang mengalir.
“Neng!” teriak Yulian.
Hening...
“Neng!” teriak Yulian lagi.
“Iya, ada apa Hubby?”
Khadijah yang masih menatap senja sore yang begitu indah dari balkon seketika harus menggeser sedikit kursi rodanya untuk menajamkan telinga saat mendengar Yulian menyebut namanya.
“Hubby lupa tidak bawa handuk, bisa tidak blikan handuknya?”
“Iya, Hubby. Sebentar.” Khadijah pun mengambil handuk yang bertengger di atas jemuran kecil.
Khadijah mengetuk pelan kamar mandi agar Yulian membuka pintunya dan ia bisa memberikan handuk itu. Setelah keluar Yulian hanya meningkatkan handuk di bawah perutnya dan di atas lutut, dengan rambut yang masih basah membuat Khadijah merasa nervous.
Hal itu memang bukan yang pertama kali dilihat Khadijah, tetapi tetap saja bagi Khadijah itu hal yang membuatnya malu dengan pipi kemerahan.
“Neng, mau kemana? Temani Hubby dulu sebentar, belum bermanja-manja loh dari kemaren.” Yulian mencegah Khadijah yang hendak menuju keluar.
“Neng mau itu... lihat Abizzar dulu, tadi kan main sama Garda.” Khadijah memberiakn alasan alininya saja.
“Jangan berbohong sama suami sendiri, karena itu tidak baik. Kenapa tidak mau menemani Hubby sebentar saja di kamar kita, Neng? Apa... Neng tidak merasa rindu jika jarak melanda kebersamaan kita, hmm?”
“Emm... Bukan begitu juga, Hubby. Tapi... Neng merasa malu dengan keadaan Neng yang sekarang, tidak bisa melayani suami dengan layak.” Khadijah menunduk, menyembunyikan kesedihan yang membuatnya hampir meneteskan air mata.
Yulian terdiam sejenak, memang tidak mudah membuat luka itu hilang dalam sekejap. Namun, menyemangati bukanlah hal yang sulit untuk dilakukan bukan. Dan Yulian pun tidak hentinya terus meyakinkan Khadijah jika suatu saat nanti bisa berjalan seperti dulu lagi.
“Neng, di dunia itu tidak ada yang tidak mungkin. Jika kita tidak memiliki sikap optimis untuk berjuang, kita tidak mendapatkan hasil yang maksimal.”
“Neng, tahu kan, kalau Allah SWT itu maha baik. Dan ketika sudah mengucapkan kalimat Man Jadda wajada , barang siapa yang bersungguh-sungguh pasti berhasil. Dan Allah SWT akan mempermudah segala urusan kita di dunia.”
Khadijah manggut-manggut, tanda ia mengerti dengan ucapan Yulian. Dan rasa semangat kembali ia tanamkan dalam dirinya.
“Baik, Hubby. Neng... akan berusaha untuk kembali berjalan. Tapi... kapan kita akan ke Medan?”
Sejenak Yulian mengehla napas panjang, mengingat masalah Alex yahh belum juga selesai dan kini datang masalah baru lagi tentang Ahtar, Humaira dan Zuena. Jika Yulian mengingat masalah itu rasanya kepala nya itu kembali berdenyut, rasa nyeri menyerang seluruh kepalanya dan membuat Yulian harus meminum obat paramex sebagai pereda nyeri.
__ADS_1
“Berikan Hubby waktu untuk menyelesaikan masalah Alex, karena tidak mungkin kita membiarkan orang itu berkeliaran di sekitar rimah kita dengan niat yang tidak baik. Setelah itu selesai biarkan Hubby menyelesaikan masalah Ahtar.” Yulian mengusap lembut puncak kepala Khadijah.
Khadijah kembali mengangguk, menuruti ucapan Yulian. Dan kini Yulian meminta semua anaknya dan penghuni lain di rumah itu untuk berkumpul di ruangan khusus sholat.
Seperti biasa, Yulian akan menunaikan sholat maghrib berjama'ah dengan seluruh anggota keluarganya. Dan seusai sholat Yulian akan memberikan sedikit nasehat kepada anak, istri dan cucunya.
Seusai sholat maghrib Yulian mengambil duduk di depan dan menatap semua anggota keluarganya. Sedangkan istri, anak, menantu dan yang lainnya duduk membentuk lingkaran, agar Yulian bisa terlihat dengan jelas.
“Kali ini Abi akan membahas tentang... Cinta. Bagaimana rasa cinta itu tercipta dari dalam sanubari kita.”
“Cinta itu berbagai macam bentuk, seperti cinta istri kepada suaminya, cinta suami kepada istrinya, cinta sesama saudaranya, cinta ibu kepada anaknya, cinta anak kepada kedua orang tuanya dan juga cinta... sejatinya.”
“Cinta sejati adalah cinta yang bisa membawa kita ke surga, ke jalan Allah SWT. Dan cinta itu kita bisa dipertemukan kelak di surga nanti.”
“Sampai disini ada yang ingin ditanyakan?”
“InsyaAllah tidak ada, Abi. Juna paham akan hal itu,” ucap Arjuna.
Cahaya, Hafizha, bik Inem dan Abdullah mengangguk saja, tanda mereka mengerti dengan arti cinta, tetapi Hafizha belum mengerti bagaimana cinta sejati itu.
Sedangkan Ahtar, ia hanya diam saja. Ahtar paham jika bahasan itu akan ditujukan kepadanya. Karena masalah yang sudah timbul bahkan Ahtar membawa nama Zuena begutu saja.
“Bunda... baik-baik saja, kan?” bisik Hafizha.
Sedari tadi Khadijah memang terdiam, kalimat yang diucapkan Yulian membuatnya tersadar akan sesuatu hal. Arti cinta sejati yang bisa membawa ke surga terus memutar mutar di otaknya.
“Iya, Nak. Bunda baik-baik saja, kok.” Khadijah menyembunyikan kesedihannya.
Setelah usai para wanita bersiap ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Sedangkan kaum lelaki mereka berada di beberapa tempat, Yulian berada di tempat yang tadi bersama Ahtar, Arjuna dan Abdullah tengah bercanda dengan Garda dan juga Abizzar yang sudah berusia genap satu tahun.
“Abi tidak tahu jalan mana yang sebenarnya kamu ambi ini, Ahtar. Abi tidak mengerti kenapa bisa sikap kenak-kanakan masih ada dalam dirimu.”
“Apa maksud kamu melibatkan Zuena dalam masalahmu dengan Humaira. Apa namun tidak sadar jika kamu sudah melukai... dua hati wanita sekaligus.”
“Dan seharusnya kamu tahu itu bukanlah lelaki yang baik. Menyakiti hati wanita bukanlah tujuan hidup seorang lelaki,”
Hati Ahtar tercubit setelah ia menyedari kesalahan terbesarnya, menyakiti hati Humaira dan juga Zuena.
“Maafkan Ahtar, Abi. Ahtar... tidak bermaksud melakukan hal itu. Tadinya Ahtar ingin membuat Humaira berhenti mengejar Ahtar, tapi ternyata... Ahtar sudah melakukan kesalahan besar itu.”
__ADS_1
”Dan sekarang, Ahtar bingung harus bersikap bagaimana kepada Zuena. Tapi... jujur Ahtar merasakan...”
Bersambung...